Brexit Rugikan Irlandia dan Inggris
Tiga tahun setelah Inggris resmi mengeluarkan diri dari Uni Eropa atau Brexit, Irlandia berusaha memperluas pasarnya. Irlandia ingin mencari negara-negara sebagai mitra dagang baru agar tidak lagi sepenuhnya bergantung pada Inggris. Hal itu dikemukakan Dubes Irlandia untuk Indonesia Padraig Francis dalam wawancara khusus dengan Kompas, Senin (27/3) di Jakarta. Inggris menjadi anggota Uni Eropa (UE) sejak tahun 1973. Namun, sejumlah pihak tidak yakin dengan keanggotaan tersebut. Di satu sisi, pasar tunggal UE menguntungkan, tetapi di sisi lain, mereka tidak menyukai keharusan Inggris tunduk kepada hukum UE. Melalui referendum tahun 2016, sebanyak 51,89 % warga Inggris memilih keluar dari UE. Persiapan keluar dimulai sejak 2017 hingga pada akhirnya Brexit resmi terjadi per 31 Januari 2021.
”Disrupsi ekonomi bagi Irlandia besar sekali karena selama ini Inggris mitra dagang nomor satu kami,” kata Francis. Inggris juga merupakan pusat distribusi barang dan jasa dari Irlandia maupun komoditas dari Eropa yang hendak diserbarluaskan ke Irlandia. Francis menjelaskan, muncul tarif-tarif baru untuk ekspor dan impor dengan segala jenis birokrasi yang mengiringi. Orang-orang menjadi tidak bebas bergerak. Para pengusaha sangat terpukul. Salah satu jalan keluar yang mereka ambil ialah mencari pasar-pasar baru. Selain semakin memperkuat pasar di daratan Eropa, Irlandia melirik negara-negara di Asia sebagai mitra potensial. Di Inggris, dampak Brexit juga merugikan. Kepala Badan Pertanggungjawaban Anggaran (OBR) Richard Hughes ketika diwawancara BBC mengungkapkan, perekonomian Inggris terkontraksi 4 % akibat Brexit. Ini sama parahnya dengan kontraksi ekonomi akibat pandemi Covid-19. (Yoga)
Postingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023