;
Tags

Mata Uang

( 132 )

DHE SDA Parkir, Nilai Tukar Rupiah Terjaga

KT1 01 Aug 2023 Investor Daily (H)

JAKARTA,ID-Beleid tentang kewajiban memarkirkan hasil devisa hasil ekspor Sumber Daya Alam yakni PP Nomor 36 Tahun 2023 secara resmi berlaku hari ini, 1 Agustus 2023. Menteri Koordinasi Perekonomian Airlangga Hartarto beberapa waktu lalu menjelaskan bahwa potensi optimalisasi DHE SDA sangat besar. Melansir data tahun 2022 saja, data DHE dari 4 sektor yang wajib DHE (Pertambangan, Perkebunan, Kehutanan, Perikanan) Totalnya mencapai US$203,0 miliar setahun atau sebesar 69,5% dari total ekspor. "Dengan adanya ketentuan 30% DHE SDA wajib disimpan di SKI, maka setidaknya terdapat potensi ketersediaan likuiditas valas dalam negeri (hasil dari penempatan DHE SDA) sebesar US$ 60,9 miliar," kata Menko Airlangga. Potensi terkumpulnya dana sebesar US$ 60,9 miliar setara dnegan Rp918.29 triliun memang memberikan optimisme akan terjadi penguatan dinilai tukar plus menurunkan ketergantungan pada mata uang asing. Bertambahnya dana yang disimpan, di dalam negeri, diproyeksikan dapat membantu mengurangi resiko volatilitas ekonomi. Parkirnya devisa hasil ekspor sumber daya alam tersebut juga diyakini akan meningkatkan investasi dalam negeri. (Yetede)

Menimbang Wacana Redenominasi Rupiah

KT3 07 Jul 2023 Kompas

Setelah berulang kali timbul dan tenggelam, wacana BI dan pemerintah tentang redenominasi rupiah kembali mencuat. Menjawab pertanyaan wartawan pada Kamis (22/6) Gubernur BI Perry Warjiyo menjelaskan, sejatinya BI sudah siap melaksanakan redenominasi rupiah. Desain dan tahapan redenominasi rupiah sudah disiapkan. Namun, keputusan redenominasi rupiah harus menunggu waktu yang tepat. Menurut Perry, ada tiga faktor yang harus terpenuhi sebelum melakukan redenominasi. Ketiganya yakni kondisi makroekonomi yang stabil, stabilitas sistem keuangan yang terjaga, dan kondisi sosial politik yang kondusif. Saat ini kondisi ekonomi makro memang bertumbuh. Stabilitas sistem keuangan pun relatif terjaga. Namun, ketidakpastian global masih tinggi. Hal ini berpotensi menimbulkan gejolak perekonomian domestik. Apalagi tahun depan Indonesia akan melaksanakan pemilihan umum. ”Ini berbagai pertimbangan utama kami,” ujar Perry.

Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Mohammad Faisal mengatakan, ide dasar redenominasi adalah pemotongan jumlah digit mata uang agar lebih ringkas. Rupiah, seperti juga mata uang Vietnam, dan beberapa mata uang negara Afrika, adalah mata uang yang digit bilangannya tergolong banyak. Adapun mata uang dengan digit bilangan sedikit antara lain dollar AS, dollar Singapura, dan pound sterling Inggris. Jumlah digit bilangan itu, ujar Faisal, diasosiasikan dengan kekuatan dan pengaruh mata uang itu di dunia. ”Jadi, wacana redenominasi rupiah itu bisa juga diartikan sebagai upaya untuk meningkatkan kepercayaan diri warga Indonesia dan dunia akan kekuatan mata uang rupiah,” ujarnya. (Yoga)


Dampak Tren Dedolarisasi

KT1 26 Jun 2023 Tempo

Tren dedolarisasi menjadi semakin ramai dibicarakan di khalayak umum dan pemangku kebijakan. Kata "dedolarisasi" mengacu pada fenomena negara-negara di dunia untuk mengurangi ketergantungannya pada dolar Amerika Serikat, mata uang Amerika, untuk berbagai kegunaan, seperti alat penyimpan kekayaan, alat tukar, dan alat penghitung (store of value), kemudian beralih ke mata uang lain.Seruan dedolarisasi oleh pemimpin negara-negara berkembang dan maju cukup wajar karena beban dari sistem keuangan global yang didominasi dolar Amerika kian tinggi. Dominasi dolar Amerika menyebabkan ketidakseimbangan global pada neraca pembayaran secara terus-menerus, dan Amerika harus terus menjalankan kebijakan defisit fiskal serta neraca berjalan untuk "memasok" dolarnya. Adapun negara-negara dengan kemampuan produksi yang besar, seperti Jerman dan Cina, harus mengakumulasi surplus neraca berjalan sementara untuk menstimulasi ekspor.

Ketidakseimbangan global yang berlarut-larut ini mengandung beberapa masalah. Pertama, ketergantungan pada dolar menyebabkan model pembangunan global bergantung pada dana murah hasil quantitative easing dan tingkat utang yang kian tinggi. Kedua, "dilema Triffin". Pada 1960, ekonom Robert Triffin mengungkap masalah mendasar dalam sistem moneter internasional: jika Amerika menghentikan defisit neraca pembayaran, komunitas internasional akan kehilangan sumber tambahan cadangan terbesarnya. Dilema ini sering kali menyebabkan kebijakan moneter bank sentral Amerika, The Fed, kurang efektif bagi ekonomi Negeri Abang Sam dan global. Ketiga, bagi negara berkembang seperti Indonesia, yang memiliki neraca berjalan (current account) defisit akibat kebutuhan investasi yang besar, hegemoni dolar menyebabkan ketergantungan pada aliran modal asing yang kian bergejolak (volatile). Perkembangan-perkembangan baru, antara lain krisis debt ceiling (batas utang) di Amerika, hubungan Amerika yang memburuk dengan negara-negara lain, sikap Cina dan Rusia yang kian membangkang pada dominasi Amerika, serta masih tingginya inflasi global, menyebabkan berbagai pihak menilai hari-hari dominasi dolar akan segera berakhir. (Yetede)

Resesi Global Mengancam, Rupiah Harus Dijaga

KT1 24 Jun 2023 Investor Daily (H)

JAKARTA,ID-Ancaman resesi global seiring dengan kenaikan suku bunga acuan sejumlah negara membuat nilai tukar rupiah terhadap dolar AS cenderung melemah. Sementara itu, otoritas moneter menyatakan nilai tukar rupiah masih terkendala sejalan dengan kebijakan stabilitas yang ditempuh bank Indonesia (BI). Dolar AS menguat terhadap sejumlah mata uang utama lainnya pada akhir perdagangan Kamis (Jumat, 23/06/2023 pagi WIB), ditengah spekulasi pengetatan lebih lanjut oleh Federal Reserve dan kekhawatiran tentang perlambatan ekonomi, serta serentetan kenaikan kenaikan suku bunga oleh beberapa bank sentral. indeks dolar AS, yang mengukur greenback terhadap enam mata uang utama saingannya, naik 0,30% menjadi 102,3849 pada akhir perdagangan. Sementara itu, pada penutupan perdagangan Jumat (23/06/2023), rupiah mengalami pelemahan sebesar0,39% atau 58 poin menjadi Rp 14.998 per dolar AS dari sebelumnya Rp 14.940 per dolar AS. Sepanjang hari, rupiah bergerak dari Rp 14.978 per dolar AS hingga Rp 15.007 per dolar AS. (Yetede)

Resesi Global Mengancam, Rupiah Harus Dijaga

KT1 24 Jun 2023 Investor Daily (H)

JAKARTA,ID-Ancaman resesi global seiring dengan kenaikan suku bunga acuan sejumlah negara membuat nilai tukar rupiah terhadap dolar AS cenderung melemah. Sementara itu, otoritas moneter menyatakan nilai tukar rupiah masih terkendala sejalan dengan kebijakan stabilitas yang ditempuh bank Indonesia (BI). Dolar AS menguat terhadap sejumlah mata uang utama lainnya pada akhir perdagangan Kamis (Jumat, 23/06/2023 pagi WIB), ditengah spekulasi pengetatan lebih lanjut oleh Federal Reserve dan kekhawatiran tentang perlambatan ekonomi, serta serentetan kenaikan kenaikan suku bunga oleh beberapa bank sentral. indeks dolar AS, yang mengukur greenback terhadap enam mata uang utama saingannya, naik 0,30% menjadi 102,3849 pada akhir perdagangan. Sementara itu, pada penutupan perdagangan Jumat (23/06/2023), rupiah mengalami pelemahan sebesar0,39% atau 58 poin menjadi Rp 14.998 per dolar AS dari sebelumnya Rp 14.940 per dolar AS. Sepanjang hari, rupiah bergerak dari Rp 14.978 per dolar AS hingga Rp 15.007 per dolar AS. (Yetede)

Resesi Global Mengancam, Rupiah Harus Dijaga

KT1 24 Jun 2023 Investor Daily (H)

JAKARTA,ID-Ancaman resesi global seiring dengan kenaikan suku bunga acuan sejumlah negara membuat nilai tukar rupiah terhadap dolar AS cenderung melemah. Sementara itu, otoritas moneter menyatakan nilai tukar rupiah masih terkendala sejalan dengan kebijakan stabilitas yang ditempuh bank Indonesia (BI). Dolar AS menguat terhadap sejumlah mata uang utama lainnya pada akhir perdagangan Kamis (Jumat, 23/06/2023 pagi WIB), ditengah spekulasi pengetatan lebih lanjut oleh Federal Reserve dan kekhawatiran tentang perlambatan ekonomi, serta serentetan kenaikan kenaikan suku bunga oleh beberapa bank sentral. indeks dolar AS, yang mengukur greenback terhadap enam mata uang utama saingannya, naik 0,30% menjadi 102,3849 pada akhir perdagangan. Sementara itu, pada penutupan perdagangan Jumat (23/06/2023), rupiah mengalami pelemahan sebesar0,39% atau 58 poin menjadi Rp 14.998 per dolar AS dari sebelumnya Rp 14.940 per dolar AS. Sepanjang hari, rupiah bergerak dari Rp 14.978 per dolar AS hingga Rp 15.007 per dolar AS. (Yetede)

Resesi Mendera Zona Euro, Terus Kontraksi di Sisa Tahun

KT1 10 Jun 2023 Investor Daily (H)

JAKARTA,ID-Ekonomi zona uero memasuki teritori resesi teknikal pada kuartal pertama tahun ini. Dalam kalangan ekonom tidak optimistis tentang prospeknya dalam bulan-bulan kedepan. Badan statistik Uni Eropa (UE) atau Eurostat, dalam laporannya pada Kamis (08/06/2023) waktu setempat menyatakan, produk domestik bruto (PDB) blok beranggotakan 20 negara itu kontraksi -0,1% di kuartal pertama 2023. Jerman pun seacara teknikal mengalami resesi karena ekonominya juga kontraksi pada triwulan terakhir 2022. Resesi teknikal juga dialami sekarang oleh zona uero, karena ekonominya kontraksi 0,1% pada kuartal terakhir 2022. KINERJA PDB negatif selama dua kuartal berturut-turut secara luas diartikan sebagai resesi teknikal. "Berita pada PDB menyusut pada kuartal pertama berarti zona uero telah jatuh ke dalam resesi teknikal. Kami menduga bahwa ekonomi akan berkontraksi lebih lanjut selama sisa tahun ini," ujar Andrew Kenningham, Kepala Ekonomi Eropa di Capital Economics, dalam catatan risetnya Kamis, seperti dikutip CNBC. Konsumsi rumah tangga di zona uero juga turun 0,3% pada kuartal pertama. Hal ini menyoroti tekanan yang dihadapi konsumen ditengah inflasi dan suku bunga yang terus naik. (Yetede)

UANG RECEH, BERNILAI PENTING DAN PENYELAMAT DI KALA SULIT

KT3 10 Jun 2023 Kompas

Pemilik warung itu tidak menerima pelanggannya yang bernama Yudha (27) membayar bungkusan makanan berisi sayur, tempe, telur dadar, dengan uang receh pecahan Rp 100, Rp 200, dan Rp 500 senilai total Rp 20.000. ”Orang itu hanya menerima koin Rp 500 dan Rp 1.000, yang Rp 100 dan Rp 200 enggak mau terima karena dibilang tidak laku. Bungkusan makanan itu akhirnya dikembalikan. “Enggak apa-apa biarin cari tempat makan lain yang mau terima. Biar dia tahu uang receh ini berharga dan berlaku,” katanya kesal. Adrian (34) mengalami hal yang sama saat berbelanja di salah satu toko kelontong di Palmerah Selatan, Jakpus, Senin (5/6). Uang receh senilai Rp 12.000 miliknya langsung ditolak oleh penjual karena dia bilang tidak laku. Seenaknya mengatur dan menolak uang yang sah ini. BI dan negara belum menarik uang ini. Uang ini masih berlaku,” ujar Adrian. ”Kami ini pejuang uang receh. Kami kumpulkan dan gunakan jika uang sudah tipis. Uang darurat yang sangat menolong di waktu tertentu, tapi malah ditolak. Uang receh itu sangat berarti untuk menyambung hidup. Saya tersinggung dengan penolak pembayaran menggunakan uang receh karena ini uang negara yang sah,” lanjutnya.

Alo (25), pedagang warung makan, dan Syukur (34), pedagang toko kelontong, sepakat mengatakan, uang receh Rp 100 dan Rp 200 tidak laku, karena mereka menjual produk dengan harga genap atau bulat untuk memudahkan transaksi, misalnya Rp 1.500, Rp 2.000, Rp 2.500 dan seterusnya. ”Karena pelanggan kadang tidak terima dikasih kembalian uang receh seratusan dua ratusan. Biar enggak repot harganya dibuletin. Enggak pakai uang itu karena susah nyarinya, peredarannya sedikit, enggak kayak uang Rp 1.000 ke atas. Kami repot untuk memenuhi dan mencari uang pecahannya,” kata Syukur. Kepala Departemen Pengelolaan Uang BI Marlison Hakim mengatakan, berdasarkan hasil survei BI terkait preferensi penggunaan instrumen pembayaran di masyarakat tahun 2022, sekitar 40 % responden masih memerlukan uang rupiah logam pecahan Rp 100 dan Rp 200 dalam transaksi jual beli secara tunai. BI berkewajiban menyediakan uang tunai dalam jumlah yang cukup, sesuai kebutuhan, dan kualitas layak edar, sesuai dengan amanat UU No 7 Tahun 2011 tentang Mata Uang. Sebagian kalangan mungkin menganggap uang pecahan Rp 100 dan Rp 200 tidak bernilai. Namun, di mata Yudha, Adrian, dan sebagian warga lain, uang receh yang mereka kumpulkan adalah penyelamat untuk menyambung hidup di kala terdesak dan berharga bagi mereka yang sangat membutuhkan. (Yoga)


Digital Rupiah & Redenominasi

HR1 22 May 2023 Bisnis Indonesia

Bank Indonesia telah meluncurkan White Paper pengembangan CBDC (Central Bank Digital Currency) Indonesia atau Digital Rupiah pada 30/11/2022 dan menamakannya Proyek Garuda: Menavigasi Arsitektur Digital Rupiah. Terdapat tagline yang mengesankan dalam White Paper ini, yaitu “Untuk NKRI yang berdaulat”. Digital Rupiah yang dirancang oleh BI berprinsip end to end dalam bentuk Wholesale-CBDC (w-Digital Rupiah) dan Retail-CBDC (r-Digital Rupiah). BI menyatakan bahwa Digital Rupiah dapat diakses melalui dua metode yaitu, melalui akun dan/atau token. w-Digital Rupiah diakses melalui verifikasi berbasis token, sementara r-Digital Rupiah melalui verifikasi berbasis akun dan/atau token. Adapun konfigurasi desain Digital Rupiah terdiri dari lima komponen utama, antara lain penerbitan, distribusi dan pencatatan transaksi, akses, ruang lingkup & keterhubungan, dan infrastruktur & teknologi. Khusus untuk pilihan platform teknologi Digital Rupiah, BI membuat opsi model hybrid, yaitu penggabungan platform terdistribusi dan tersentralisasi. Platform distribusi mengaplikasikan DLT (Distributed Ledger Technology) dengan keunggulan di sisi teknik kriptografi, data berbagi, teknik desentralisasi dan kemampuan program. Sedangkan teknik sentralisasi memiliki keunggulan kontrol atas skalabilitas, risiko, dan mitigasi keamanan (BI 2022, Buterin 2014). Apakah rancangan Digital Rupiah dapat dijalankan dalam Proyek Garuda? Tentunya berbagai prasyarat perlu dipertimbangkan, antara lain perlunya penetapan atas Rancangan Undang-Undang (RUU) Pelaporan Keuangan, RUU Pasar Modal, RUU BI, RUU Perbankan, dan RUU Perubahan Harga Rupiah (Redenominasi).

Identitas negara yang berdaulat dapat dilihat dari mata uangnya, bila kita perhatikan dari perspektif kesetaraan digit mata uang antarnegara, misalnya terhadap US$, maka kesetaraannya jomplang, yaitu 1 berbanding 10.000. Ketidaksetaraan ini dapat disetarakan dengan mengimplementasikan Redenominasi rupiah. Redenominasi rupiah adalah sebagai sarana penyederhanaan atau simplifikasi digit mata uang ke dalam digit yang lebih kecil, tanpa mengurangi nilai beli uang dimaksud. Simplifikasi digit mata uang akan membawa konsekuensi langsung, seperti berkurangnya digit/angka perhitungan akuntansi yang memudahkan perbankan dalam penghitungan satuan mata uang. Dari berbagai redenominasi yang pernah dilakukan oleh berbagai negara, maka umumnya nilai tengah penyederhanaan mata uang dibagi dengan seribu atau menghilangkan tiga digit angka nol dari mata uangnya. Kunci keberhasilan redenominasi yang terpenting adalah tingkat inflasi yang rendah, pertumbuhan ekonomi yang stabil, jaminan harga stabilitas dan sosialisasi yang baik kepada masyarakat. Dalam implementasi redenominasi, umumnya terdapat motif yang melatar-belakanginya, yaitu motif karena terjadinya hiperinflasi atau motif dari keinginan pemerintah (Mosley 2005).

Polisi Bongkar Uang Palsu Rp 5,85 Miliar

KT3 20 May 2023 Kompas

Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Metro Jaya mengungkap kasus peredaran mata uang asing palsu senilai 392.200 dollar AS atau Rp 5,85 miliar. Polisi masih menyelidiki kasus asal pembuatan uang palsu itu. Direktur Reserse Kriminal Khusus Polda Metro Jaya, Kombes Auliansyah Lubis mengatakan, tim Subdirektorat II Fiskal Moneter dan Devisa menangkap 12 pelaku tindak pidana peredaran uang dollar AS palsu. ”Pengungkapan kasus pertama, kami menyita 30 lak atau 2.822 lembar uang pecahan 100 dollar AS, pada Jumat(28/4). Lalu, pada pengungkapan kedua ada 10 lak atau 1.000 lembar uang pecahan 100 dollar AS, Selasa (9/5). Total ada 392.200 dollar AS,” kata Auliansyah, Jumat (19/5).

Dalam aksinya, para tersangka mengincar atau menjual uang dollar AS palsu secara person to person atau perorangan. Tersangka menganggap cara ini lebih aman daripada menjual melalui media sosial atau secara daring. Bagi orang awam, sulit membedakan uang dollar AS itu asli atau palsu. Jika uang asing itu beredar, kata Auliansyah, akan merugikan secara individual bahkan perlahan bisa menimbulkan inflasi dan lambat laun mengacaukan ekonomi. Di TKP pertama, lanjut Auliansyah, pihaknya menangkap tiga pelaku berinisial MZ (46), ASA (48), dan RDP (29), di RM Padang Sederhana, Jalan Panjang, Kelapa Dua, Kebon Jeruk, Jakbar. Di lokasi itu, ketiga pelaku membawa 1.934 dollar AS. (Yoga)