Mata Uang
( 132 )Tekanan Berkepanjangan Nilai Tukar Rupiah
Nilai tukar rupiah diperkirakan terus melemah. Sejumlah ekonom menyebutkan kurs rupiah terhadap dolar Amerika Serikat akan menembus 16 ribu pada akhir tahun ini. Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios), Bhima Yudhistira, mengatakan rupiah berpotensi bergerak di rentang 16.100-16.500 per dolar AS pada akhir tahun. Ia mengatakan rupiah sulit bisa menguat dibawah 15 ribu per dolar AS, sesuai dengan asumsi pemerintah dalam APBN 2022 atau belanja 2023. "Ini fenomena superdollar karena investor global mencari aset aman setelaha ancaman resesi menguat," kata Bhima kepada Tempo, kemarin. Sinyal resesi, menurut dia, salah satunya terlihat dari pelemahan Baltic Dry Index atau index kargo global yang anjlok 57% dalam setahun terakhir. Situasi tersebut masih akan ditambah dengan kenaikan bertahap The Fed, yang diperkirakan bisa terjadi tiga kali pada 2023 untuk menjinakkan inflasi di Amerika. (Yetede)
Prinsip Koeksistensi Digital Rupiah
Pascapenerbitan whitepaper Digital Rupiah 30 November lalu, salah satu pertanyaan yang sering mengemuka adalah bagaimana nasib uang lainnya baik uang bank sentral (kertas dan logam) dan uang privat (uang elektronik dan deposit) ke depan? Akankah musnah atau tetap bernyawa?. Jawaban atas pertanyaan tersebut sebenarnya sudah cukup jelas dijawab dalam whitepaper, bahwa Digital Rupiah menjadi komplemen dan hidup secara berdampingan (coexistence) dengan bentuk uang lainnya baik uang bank sentral maupun uang privat. Pertanyaannya, lantas bagaimana mewujudkan prinsip komplemen dan koeksistensi tersebut dalam desain Digital Rupiah yang dirancang? Komplemen dan koeksistensi hanya akan terwujud jika Digital Rupiah dapat dengan mudah saling mengonversi dengan berbagai bentuk uang lainnya, tidak hanya rupiah kertas dan logam, tapi juga saldo uang elektronik, deposit, atau bahkan dengan CBDC negara lainnya. Dalam peta jalan Digital Rupiah, BI juga secara eksplisit menyebutkan bagaimana tahapan keterhubungan Digital Rupiah dengan infrastruktur pendukungnya sesuai usecase di setiap tahapan. Misal, keterhubungan dengan RTGS di tahap awal untuk mewujudkan koeksistensi dengan rekening giro bank di bank sentral dan seterusnya hingga tahapan akhir yg menghubungkan Digital Rupiah dengan seluruh infrastruktur sistem pembayaran eksisting.
Mewaspadai Potensi Bitcoin Merosot Hingga US$ 10.000
Jelang
halving day
bitcoin pada 2020 silam, banyak pengamat memprediksi harga mata uang kripto ini berpotensi akan mencapai US$ 100.000 per BTC. Tapi alih-alih menuju US$ 100.000, saat ini harga bitcoin justru
nyungsep
ke bawah level US$ 20.000 per BTC.
Per pukul 21.15 WIB kemarin, harga bitcoin ada di level US$ 16.505,47 per BTC. Harga bitcoin mulai terus turun menjauhi US$ 20.000 sejak 9 November lalu. Robert T. Kiyosaki bahkan memprediksi harga bitcoin dapat mencapai US$ 10.000 per BTC.
Kendati begitu, para analis menilai harga kripto tidak akan jatuh hingga menyentuh level US$ 10.000.
Bank Sentral Australia Masih Bimbang untuk Berhenti Naikkan Suku Bunga
Gubernur Reserve Bank of Australia (RBA) Philip Lowe menyampaikan dalam pidato pada Selasa (1/11) di Tasmania, bahwa suku bunga kemungkinan masih perlu untuk terus dinaikkan guna menjinakkan laju inflasi. Ia mengatakan, pihaknya siap untuk menaikkan lebih tinggi atau berhenti sejenak jika perlu. RBA pada Selasa menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 2,85%, tertinggi dalam 9 tahun, dan mengarah pada pengetatan ke 275 basis poin sejak Mei 2022. RBA mengurangi penaikannya jadi 25 bps pada Oktober, menyusul empat kali penaikan sebesar 50 basis poin, sekaligus menjadi yang pertama dari bank sentral utama dunia yang memperlambat langkahnya. Menurut Lowe, dewan gubernur menyadari suku bunga telah meningkat tajam dalam waktu singkat dan dipadu dengan inflasi tinggi untuk menekan anggaran rumah tangga.
Dia juga menekankan, prospek global turut menjadi lasan untuk berhati-hati dengan kenaikan suku bunga mengingat perang Rusia-Ukraina, serta melonjaknya biaya hidup dan ekonomi dunia yang lebih terfragmentasi. Dengan kondisi tersebut, RBA harus berjalan di jalur sempit antara mengekang inflasi tanpa mendorong ekonomi ke dalam resesi. RBA juga sudah memangkas perkiraannya untuk pertumbuhan domestik tahun depan menyusul memburuknya ekonomi global dan tekanan terhadap keuangan rumah tangga. “Dengan inflasi yang diperkirakan mencapai puncaknya sekitar 8% pada kuartal ini, kenaikan suku bunga lebih lanjut kemungkinan akan diperlukan. Meskipun dewan tidak berada di jalur yang telah ditentukan sebelumnya,” ujar Lowe, yang dilansir Reuters. Ditambahkan oleh Lowe, jika perlu melangkah menuju penaikan yang lebih besar lagi guna mengamankan kembalinya inflasi ke target maka kami akan melakukannya. “Demikian pula, jika situasi mengharuskan kita untuk tetap stabil untuk sementara waktu, kami akan melakukannya,” kata dia. (Yoga)
BI Jajaki Kerja Sama LCS dengan Singapura & Korea
Bank Indonesia (BI) masih akan memperluas kerja sama penggunaan mata uang lokal dalam kegiatan perdagangan dan investasi antarnegara alias
local currenct settlement
(LCS). Terutama kerja sama dengan negara lain di kawasan Asia. Dalam buku Kajian Stabilitas Keuangan Semester I-2022 edisi Oktober 2022 disebutkan, bahwa BI telah melakukan penjajakan dengan negara Singapura dan Korea Selatan. Namun, BI belum memastikan kapan kerja sama dengan kedua negara tersebut akan dimulai.
BERJIBAKU JAGA RUPIAH
Bank Indonesia terus berjibaku menjaga stabilitas rupiah seiring dengan tren penguatan dolar Amerika Serikat (AS) dan aliran keluar modal asing (capital outflow) yang kian deras. Maklum, pelemahan mata uang Garuda bakal berimpak besar. Tak hanya di pasar keuangan, melainkan juga pada ekonomi secara makro. Dolar AS yang terus menguat mendorong kenaikan biaya produksi akibat importasi bahan baku dan penolong yang makin mahal. Ongkos produksi yang tinggi akan bermuara pada terkereknya harga jual barang di tingkat konsumen sehingga memicu lesatan inflasi yang saat ini tengah diperangi oleh Bank Indonesia (BI). Sementara itu, implementasi Local Currency Settlement (LCS) atau penggunaan mata uang lokal dalam setiap transaksi, belum terlalu signifikan mengingat jumlah negara yang menjalin kemitraan dengan Indonesia masih terbatas. Alhasil, dolar AS mendominasi setiap transaksi. Perihal kondisi tersebut, Wakil Ketua Umum Gabungan Pelaksana Konstruksi Nasional Indonesia (Gapensi) Didi Iskandar Aulia, mengatakan pelemahan rupiah kian menambah beban seluruh pebisnis yang mendatangkan bahan baku dari luar negeri.
Dia mengatakan, komponen pelemahan rupiah berdampak terhadap naiknya harga bahan baku baja yang masih impor hingga 10%. Namun, seiring dengan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) maka kenaikan ongkos produksi mencapai 15%—20%. Kondisi tersebut sesungguhnya disadari betul oleh pemangku kebijakan. Bank sentral telah melakukan serangkaian aksi untuk mempertebal proteksi rupiah. Salah satunya dengan melakukan intervensi di pasar Surat Berharga Negara (SBN). “Stabilisasi rupiah memang tidak hanya lewat intervensi spot, juga lewat intervensi DNDF, dan pembelian/penjualan SBN,” kata Direktur Kebijakan Ekonomi dan Moneter BI Wahyu Agung Nugroho, kepada Bisnis.
Ultra Dollar Tanda Resesi Global
Tanda resesi yang semakin kuat membuat pesona dollar AS kian berpijar dan menimbulkan fenomena ultra dollar. Ini nampak dari dollar indeks mencapai level tertinggi dalam 20 tahun terakhir. Kemarin posisi dollar indeks ada di 113,55. Posisi dollar AS kian diuntungkan karena ketidakpastian ekonomi global membuat investor bergegas mencari dana yang lebih aman dalam hal ini dollar AS. Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menjelaskan pelemahan ekonomi akan terasa di tahun depan. Bahkan dia menyebut perlambatan ekonomi di beberapa negara sudah terjadi sejak kuartal II. "China, Amerika Serikat, Jerman mengalami koreksi kemudian kita juga lihat Inggris dan negara-negara yang sekarang mengalami koreksi dari sisi pertumbuhan ekonomi di kuartal kedua. Ini kemungkinan berlanjut di kuartal ketiga ini dan sampai dengan akhir tahun," kata dia. Bahkan Sri melihat pelemahan bisa berlanjut di berbagai negara dan akan semakin dalam. "Sehingga prediksi mengenai pertumbuhan tahun depan termasuk kemungkinan terjadi resesi mulai muncul," kata dia.
Pamor Dollar AS Naik Dikerek Spekulasi Kenaikan Bunga Fed
Pamor dollar Amerika Serikat kembali meningkat. Laju inflasi AS yang lebih tinggi dari proyeksi analis membuat pelaku pasar berasumsi The Fed akan menaikkan bunga lebih tinggi.
Akibatnya, sejumlah mata uang tertekan terhadap dollar AS. Salah satunya yen. Kemarin, mata uang ini sempat mencapai level terendah dalam 24 tahun di ¥ 144 per dollar AS. Di pukul 20.51 WIB kemarin, yen kembali menguat dan bertengger di level ¥ 142,87 per dollar AS.
Analis DCFX Futures Lukman Leong sepakat mengatakan, potensi kenaikan suku bunga AS menjadi salah satu penyebab dollar AS kembali naik pamor. Meski bukan di posisi puncak, kemarin indeks dollar AS berada di 109,51, turun 0,28% dari hari sebelumnya. Namun naik 18,29% secara tahunan. Artinya, sepanjang tahun ini, dollar AS cenderung naik terhadap rata-rata mata uang berbagai negara.
Tertekan BBM dan Data Amerika
Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) akan membuat kurs rupiah kembali melemah pada perdagangan awal pekan ini. Akhir pekan lalu, kurs spot rupiah melemah tipis 0,09% jadi Rp 14.896 per dollar Amerika Serikat (AS). Sementara kurs rupiah Jisdor melemah 0,11% jadi Rp 14.900.
Research & Education Coordinator Valbury Asia Futures Nanang Wahyudin menjelaskan, dengan rilis data tenaga kerja AS yang jauh lebih buruk dari proyeksi, sejatinya rupiah masih ada kesempatan menguat. Non farm payroll AS di Agustus cuma sebesar 315.000. Angka ini lebih rendah dari realisasi bulan sebelumnya, 526.000.
Ekonom Bank Mandiri Reny Eka Puteri juga berpendapat, data eksternal masih akan menekan rupiah pada Senin (5/9). Dia menjelaskan, kebijakan The Fed yang tetap hawkish masih menopang dollar AS.
The Fed menyatakan masih akan menaikkan suku bunga acuan. "Rupiah akan berada di kisaran Rp 14.850-14.935 per dollar AS pada Senin," tutur Reny.
Krisis Pasokan Energi di Eropa Membuat Euro Tak Berdaya
Kejayaan mata uang euro makin memudar. Kini, nilai tukar euro justru sudah lebih rendah ketimbang dollar Amerika Serikat (AS).
Per pukul 20.33 WIB kemarin, euro dihargai US$ 0,9944 per euro. Sehari sebelumnya, kurs euro tutup di US$ 0,9943 per euro, yang merupakan nilai tukar terlemahnya sekitar 20 tahun terakhir.
Bila dihitung dalam rupiah, kurs euro sekarang cuma setara Rp 14.736,54 per euro. Bandingkan dengan dollar AS yang mencapai Rp 14.838 per dollar AS.
Nilai tukar euro merosot akibat kekhawatiran pasar akan terjadinya krisis energi di benua biru tersebut. Terhentinya pasokan gas Rusia ke Eropa dinilai bisa membuat ekonomi Eropa resesi.
Presiden Komisioner HFX International Berjangka Sutopo Widodo mengatakan, harga gas alam di Eropa Senin lalu naik lebih dari 13% ke level tertinggi enam bulan terakhir. Ini terjadi setelah Rusia berencana menghentikan aliran gas lewat pipa Nord Stream.
Kekhawatiran terhadap langkah The Fed menaikkan suku bunga secara agresif juga muncul menjelang pidato Gubernur The Fed Jerome Powell di simposium Jackson Hole pekan ini.
Pilihan Editor
-
Evaluasi Bantuan Langsung Tunai BBM
11 Oct 2022 -
Alarm Inflasi Mengancam Sektor Retail
11 Oct 2022 -
Cuaca Ekstrem Masih Berlanjut Sepekan Lagi
10 Oct 2022









