Mata Uang
( 132 )Uang Beredar Tumbuh 3,3 Persen
NILAI TUKAR MATA UANG : PENGUATAN RUPIAH BAKAL BERLANJUT
Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat berpeluang menguat pada Senin (20/11) seiring dengan peningkatan spekulasi The Fed telah selesai menaikkan suku bunga.
Pada penutupan Jumat (17/11), Bloomberg mencatat nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup menguat 0,40% atau 62 poin sehingga parkir di posisi Rp15.492 per dolar AS. Sebaliknya, indeks dolar AS yang mengukur kekuatan greenback di hadapan mata uang utama juga menguat 0,17% atau 0,18 poin ke 104,53 pada hari yang sama pukul 15.20 WIB. Direktur PT Laba Forexindo Berjangka Ibrahim Assuaibi mengatakan bahwa nilai tukar mata uang Garuda akan bergerak fluktuatif tetapi berpeluang ditutup menguat pada rentang Rp15.460 per dolar AS Rp15.540 per dolar AS pada awal pekan depan.
Data tersebut memicu meningkatnya spekulasi bahwa The Fed telah selesai menaikkan suku bunga, dan kemungkinan mulai memangkas suku bunga pada pertengahan tahun 2024.“Risalah pertemuan The Fed bulan Oktober akan dirilis minggu depan, dan juga akan memberikan lebih banyak petunjuk mengenai prospek bank sentral,” katanya dalam riset, Jumat (17/11).
Ibrahim melanjutkan indikator perekonomian lainnya pada Oktober masih menunjukkan pelemahan yang konsisten pada perekonomian China, terutama ketika perekonomian China tergelincir ke dalam wilayah disinfl asi.Menurutnya, fokus pasar kini tertuju pada Bank Rakyat Tiongkok (PBOC), yang akan memutuskan suku bunga acuan pinjaman utama pada Senin (20/11).
Dari sentimen domestik, lanjutnya, Indonesia akan menghadapi tahun politik pada 2024. Ada banyak keraguan menyelimuti investor untuk melakukan investasi karena adanya potensi ketidakstabilan yang ditimbulkan dari gejolak politik.“Pasar yakin bahwa perekonomian Indonesia tidak akan terhambat karena adanya Pemilihan Umum [Pemilu] pada 2024 nanti. Sebaliknya, Indonesia adalah tempat yang nyaman untuk melakukan investasi,” jelasnya.
Sementara itu, Kepala Departemen Komunikasi Bank Indonesia (BI) Erwin Haryono menyatakan aliran masuk modal asing sebesar Rp7,33 triliun di pasar keuangan domestik pada pekan ketiga November 2023.“Berdasarkan data transaksi 13–16 November 2023, nonresiden di pasar keuangan domestik tercatat beli neto Rp7,33 triliun,” katanya dalam keterangan resmi, Jumat (17/11).
Selain itu, tercatat juga asing beli neto sebesar Rp3,97 triliun di Sekuritas Rupiah BI (SRBI).Berdasarkan data setelmen hingga 16 November 2023, Erwin mengatakan bahwa nonresiden beli neto sebesar Rp56,21 triliun di pasar SBN, jual neto Rp18,09 triliun di pasar saham, dan beli neto Rp21,02 triliun di SRBI.
Dalam kesempatan berbeda, Gubernur BI Perry Warjiyo menyatakan BI dan Monetary Authority of Singapore (MAS) telah menandatangani Letter of Intent(LOI) terkait dengan kerangka kerja penyelesaian transaksi dalam mata uang lokal (local currency settlement) yang akan diimplementasikan pada 2024.
Setelah diimplementasikan pada 2024, Perry mengatakan kerangka itu akan memfasilitasi penyelesaian transaksi pembayaran lintas negara, termasuk pembayaran dengan QR, perdagangan, dan investasi antara Indonesia dan Singapura dengan mata uang lokal masing-masing.
PENERAPAN RUPIAH DIGITAL : RISIKO INSTABILITAS BIKIN WASWAS
Bank Indonesia tengah mengkaji adanya risiko dari penerapan mata uang digital bank sentral alias central bank digital currency yang menurut International Monetary Fund berpotensi menimbulkan instabilitas moneter.
IMF dalam Implications of Central Bank Digital Currencies for Monetary Policy Transmission yang dipublikasikan kemarin, mencatat dampak central bank digital currency (CBDC) terhadap transmisi kebijakan moneter diperkirakan relatif kecil pada kondisi normal.Hanya saja, dampak itu bisa lebih signifikan di lingkungan dengan suku bunga rendah atau tekanan pasar keuangan. Atas dasar itu bank sentral perlu mempertimbangkan fitur desain yang bersifat kehati-hatian seperti batasan kepemilikan dan transaksi, serta menjaga stabilitas suku bunga acuan.Fitur-fitur tersebut akan membatasi potensi perpindahan simpanan ritel atau uang tunai ke CBDC dan dengan demikian akan memastikan bahwa CBDC tidak memiliki dampak signifi kan terhadap transmisi kebijakan moneter.“Kita assessment itu semuanya, masukan-masukan juga kita perhatikan,” kata Deputi Gubernur BI Filianingsih Hendarta kepada wartawan di Kompleks Parlemen, Rabu (15/11).
Consultative paper menjelaskan desain pengembangan Rupiah Digital tahap immediate state, yaitu wholesale Rupiah Digital cash ledger, yang meliputi pengenalan teknologi dan fungsi dasar, seperti penerbitan, pemusnahan, dan transfer dana. Dampak dari penerbitan Rupiah Digital pada sistem pembayaran, stabilitas keuangan, dan moneter juga dibahas di dalam consultative paper tersebut.
Dana Moneter Internasional (International Monetary Fund/IMF) dalam Central Bank Digital Currency Virtual Handbook menyatakan bahwa tujuan kebijakan dan ukuran keberhasilan CBDC harus ditetapkan secara jelas. Pengkajian dan pengembangan CBDC membutuhkan keputusan yang kompleks dalam lingkungan digital yang berubah dengan cepat.
Dalam laporan tersebut, IMF menyoroti beberapa dampak dari pengembangan CBDC. Perubahan lingkungan makro ekonomi yang disebabkan oleh CBDC diperkirakan bisa memperkuat saluran transmisi kebijakan moneter jika CBDC dirancang dengan tepat.Ekonom Makroekonomi dan Pasar Keuangan LPEM FEB Universitas Indonesia Teuku Riefky menuturkan adanya CBDC berpotensi menjadikan transmisi kebijakan moneter lebih teramplifikasi.
Menurut Teuku, hal yang perlu diperhatikan saat ini yakni desain dari CBDC agar dapat dikembangkan karena skema tersebut sangat beragam. “Ada CBDC retail, CBDC wholesale, ada CBDC yang menjangkau keseluruhan, jadi tidak dibedakan wholesale dan ritelnya,” katanya.
MEMPERTEBAL TAMENG RUPIAH
Pelemahan rupiah yang terjadi bulan lalu betul-betul memukul sendi-sendi ekonomi nasional, utamanya pasar keuangan. Pemangku kebijakan pun berjibaku menjaga stabilitas mata uang Garuda.Otoritas terkait juga telah unjuk gigi dalam melakukan intervensi agar rupiah tak terus kalah melawan dolar Amerika Serikat (AS). Dalam konteks ini, Bank Indonesia (BI) terpantau amat aktif melakukan stabilitas.Aksi otoritas moneter cukup gesit terutama melalui intervensi di pasar valuta asing. Hasilnya tak bisa dibilang gagal, meski tak dapat pula dikatakan sukses.Buktinya, pada perdagangan kemarin, Selasa (7/11), nilai tukar rupiah terhadap dolar AS ditutup melemah melemah 0,62% atau 97 poin ke level Rp15.636. Pemerintah dan BI pun perlu menguatkan kuda-kuda untuk menopang mata uang Garuda.Di sisi lain, masifnya intervensi di pasar valuta asing menguras cadangan devisa yang per akhir bulan lalu parkir di angka US$133,1 miliar, terendah sepanjang warsa ini.
Adapun, instrumen tambahan yang disediakan BI yakni Sekuritas Valas BI (SVBI) dan Sukuk Valas BI (SUVBI) baru diimplementasikan 21 November 2023.
Kepala Departemen Pengelolaan Moneter BI Edi Susianto, menegaskan bahwa posisi cadangan devisa masih sangat aman meski berada pada tingkat yang rendah setidaknya pada tahun ini.Posisi cadangan devisa tersebut setara dengan pembiayaan 6,1 bulan impor atau 5,9 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor.
Atas dasar itulah pemerintah melakukan evaluasi terhadap implementasi DHE SDA yang telah diterapkan sejak tiga bulan lalu. Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Susiwijono Moegiarso, mengatakan ada beberapa poin yang menjadi bahan evaluasi dari kebijakan DHE.Beberapa di antaranya yakni pemasukan DHE ke rekening khusus, penempatan DHE pada instrumen yang ditetapkan, evaluasi atas komoditas, pemanfaatan instrumen, serta integrasi sistem informasi.
Sementara itu, kalangan pelaku usaha mendukung evaluasi DHE itu menyusul realisasi yang masih jauh dari potensi.Ketua Komite Tetap Kebijakan Publik Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Chandra Wahjudi, mengatakan pemerintah juga perlu mengkaji adanya insentif tambahan bagi dunia usaha.
Di sisi lain, tekanan cadangan devisa pada sisa tahun ini diprediksi lebih berat. Pasalnya, Bank Sentral AS Federal Reserve (The Fed) masih memiliki ruang untuk menaikkan suku bunga acuan pada pertemuan terakhir tahun ini.
Kalangan ekonom pun tak menampik cadangan devisa berisiko terus menyusut apabila pemerintah dan BI tidak mengoptimalisasi instrumen yang ada.Ekonom Makroekonomi dan Pasar Keuangan LPEM FEB Universitas Indonesia Teuku Riefky, tekanan cadangan devisa muncul dari penurunan ekspor akibat pelemahan komoditas. Kemudian, implementasi DHE SDA dan SRBI masih belum optimal, sementara pada saat bersamaan bank sentral negara maju menerapkan kebijakan higher for longer.
Greenback Masih Tetap Jadi Safe Haven Favorit
Upaya Ekstra untuk Menahan Rupiah
Kurs Rupiah Ambrol, Industri Terancam Tekor
Dunia usaha sedang dalam kondisi sulit. Bertubi-tubi masalah menghadang dunia usaha jelang akhir tahun ini. Bukan saja pelemahan daya beli masyarakat, para pebisnis dari berbagai sektor usaha kini menghadapi banyak tantangan lain yang tak kalah beratnya. Selain tren pelemahan rupiah yang terus berlanjut, fenomena El Nino hingga kebijakan pembatasan impor produk lewat e-commerce adalah sejumlah persoalan yang menghadang kinerja dunia usaha. Ada banyak sektor bisnis yang mewaspadai tren pelemahan mata uang Garuda ini. Salah satunya sektor otomotif. Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) menyatakan, pelemahan rupiah bisa berdampak naiknya harga jual produk mobil. Pasalnya, sebagian komponen mobil masih diimpor dari negara prinsipal. Gaikindo berharap, tren pelemahan rupiah tidak berlangsung lama. "Ketika rupiah kembali ke level normal, maka tidak perlu ada kenaikan harga jual mobil di Indonesia," ujar Ketua I Gaikindo Jongkie Sugiarto, Selasa (10/10). Ketua Bidang Komersial Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (AISI), Sigit Kumala mengatakan, pabrikan motor masih mengevaluasi dampak pelemahan rupiah sebelum menentukan kebijakan harga jual produk. Secara umum, AISI masih optimistis penjualan motor bisa mencapai 6 juta unit sampai akhir 2023. Industri elektronik juga terdampak pelamahan rupiah. Pasalnya, sekitar 50% biaya produksi elektronik dipengaruhi pergerakan kurs dollar AS. Dengan kata lain, masih ada beberapa komponen produk elektronik yang diimpor. Menaikkan harga jual produk menjadi alternatif pilihan, selain melakukan efisiensi. "Produsen dengan rasio ekspor tinggi, biasanya dapat menahan kenaikan harga produk di pasar domestik," ujar Sekjen Gabungan Pengusaha Elektronik (Gabel), Daniel Suhardiman, Rabu (11/11). Bukan saja manufaktur, sektor perkebunan juga terdampak pelemahan rupiah. "Harga pupuk lebih mahal karena sebagian besar pupuk masih diimpor," ujar Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Eddy Martono, kemarin. Direktur Eksekutif Indef Tauhid Ahmad bilang, El Nino juga berpotensi mendongkrak harga bahan baku pangan. Namun, biasanya produsen makanan dan minuman cenderung berhati-hati menyesuaikan harga jual produk. Terlebih daya beli masyarakat sedang lemah.
Otot Rupiah Melemah Menjelang Pemilu
Otot rupiah mengendor menjelang pesta demokrasi Indonesia. Dalam sebulan rupiah melemah 0,72% dari Rp 15.219 per dollar Amerika Serikat menjadi Rp 15.330 per USD. Jika dihitung selama setahun, rupiah turun 3,28% dari Rp 14.842 per dollar AS. Namun kurs sekarang lebih baik dibanding posisi rupiah di awal tahun ini, yaitu Rp 15.573.
Ekonom Senior KB Valbury Sekuritas, Fikri C. Permana menilai, rupiah akan cenderung lebih stabil menjelang pemilihan umum (Pemilu). Rupiah akan lebih bergejolak seusai pemilu. Pergerakan itu mencerminkan harapan pasar terhadap pemerintahan baru dan kabinet.
Ambil contoh pada Pemilu April 2019. Menjelang bulan pencoblosan, rupiah melemah terbatas ke kisaran Rp 14.229 hingga Rp 14.257. Pada bulan berikutnya, rupiah melemah cukup tajam hingga menjadi Rp 14.525 per dollar AS. Setelah itu, rupiah melandai hingga menutup tahun 2019 di level Rp 13.866.
Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede mengamati nilai tukar rupiah cenderung melemah di sela Pemilu legislatif dan Presiden dalam empat gelaran terakhir. Kecuali pada pemilu 2009, di mana rupiah justru mencatatkan tren penguatan.
Josua menilai pelemahan rupiah pada periode itu dipengaruhi dinamika politik hingga ketidakpastian di pasar keuangan domestik yang meningkat. "Antara lain terkait penentuan calon presiden dan calon wakil presiden. Utamanya pada 2004 dan 2014," jelasnya, Senin (11/9).
Rupiah bersama mata uang Asia lain berpotensi menguat terhadap dollar AS, terutama ketika Fed sudah memberikan sinyal mempertahankan suku bunga. Selain itu implementasi instrumen penempatan valas Devisa Hasil Ekspor (DHE) juga diperkirakan akan membuat rupiah cenderung lebih stabil ke depan.
Direktur PT Laba Foreindo Berjangka, Ibrahim Assuaibi menambahkan, meski Fed masih akan menaikkan suku bunga acuan di kuartal keempat 2023, stabilitas nilai tukar rupiah diperkirakan tetap terjaga sejalan persepsi positif investor terhadap prospek perekonomian Indonesia dan inflasi yang rendah.
Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, Budi Frensidy cukup yakin rupiah bisa menuju Rp 15.000 di akhir tahun, didorong efek kebijakan DHE dan lancarnya pemilu pada Februari mendatang.
Indonesia Bentuk Satgas Dorong LCT
Indonesia membentuk Satuan Tugas (Satgas) Nasional untuk mendorong peningkatan penggunaan mata uang lokal dalam transaksi Indonesia dengan negara mitra (local currency transaction/LCT). ”Bank Indonesia meyakini bahwa Satgas Nasional LCT akan menjadi wadah koordinasi yang semakin memperkuat sinergi kebijakan antar-instansi,” kata Gubernur BI Perry Warjiyo, Selasa (5/9/2023). (Yoga)
Bangkit dari Stagnasi, Ekonomi Zona Euro Tumbuh Moderat
FRANKFURT,ID-Perekonomian zona euro tumbuh moderat pada kuartal II 2023. Blok mata uang tunggal Eropa ini keluar dari stagnasi di kuartal sebelumnya, yang disebabkan suku bunga tinggi, walaupun Bank Sentral Eropa (ECB) melakukan itu untuk memerangi inflasi. tetapi kebijakan itu membuat kelompok rumah tangga dan bisnis membutuhkan dana lebih untuk berhutang, berinvestasi, dan berbelanja. Menurut laporan Badan Statistik Eropa, Eurostat, yang dirilis pada Senin (31/7/2023), 20 negara dalam blok mata uang tunggal Eropa berpenduduk total 346 juta mengalami pertumbuhan 0,3% untuk periode April hingga Juni 2023. Angka ini memperlihatkan peningkatan dari pertumbuhan dari pertumbuhan nol di kuartal I-2023 dan penurunan tipis di kuartal IV-2022. Revisi data telah menaikkan angka untuk kuartal pertama dari kontraksi 0,1% sehingga menghapus dua kuartal berturut-turut penurunan. Sementara itu, inflasi di zona euro melanjutkan penurunannya secara bertahap, dari 5,5% pada Juni 2023 menjadi 5,3% pada Juli 2023. (Yetede)
Pilihan Editor
-
Credit Suisse Tepis Krisis Perbankan
17 Mar 2023 -
Tren Thrifting Matikan Industri TPT
13 Mar 2023 -
Proyek MRT East-West Dikebut
24 Jan 2023









