;
Tags

Mata Uang

( 132 )

Uang Beredar Tumbuh 3,3 Persen

KT3 26 Dec 2023 Kompas
Uang beredar dalam arti luas (M2) pada November 2023 tumbuh positif. Posisi M2 pada November 2023 tercatat Rp 8.573,6 triliun atau tumbuh 3,3 persen secara tahunan, relatif stabil dibandingkan dengan bulan sebelumnya. Perkembangan tersebut didorong pertumbuhan uang beredar dalam arti sempit (M1) sebesar 2 persen dan uang kuasi 4,9 persen. Demikian disampaikan Kepala Departemen Komunikasi Bank Indonesia Erwin Haryono, akhir pekan lalu. (Yoga)

NILAI TUKAR MATA UANG : PENGUATAN RUPIAH BAKAL BERLANJUT

HR1 18 Nov 2023 Bisnis Indonesia

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat berpeluang menguat pada Senin (20/11) seiring dengan peningkatan spekulasi The Fed telah selesai menaikkan suku bunga. Pada penutupan Jumat (17/11), Bloomberg mencatat nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup menguat 0,40% atau 62 poin sehingga parkir di posisi Rp15.492 per dolar AS. Sebaliknya, indeks dolar AS yang mengukur kekuatan greenback di hadapan mata uang utama juga menguat 0,17% atau 0,18 poin ke 104,53 pada hari yang sama pukul 15.20 WIB. Direktur PT Laba Forexindo Berjangka Ibrahim Assuaibi mengatakan bahwa nilai tukar mata uang Garuda akan bergerak fluktuatif tetapi berpeluang ditutup menguat pada rentang Rp15.460 per dolar AS Rp15.540 per dolar AS pada awal pekan depan. Data tersebut memicu meningkatnya spekulasi bahwa The Fed telah selesai menaikkan suku bunga, dan kemungkinan mulai memangkas suku bunga pada pertengahan tahun 2024.“Risalah pertemuan The Fed bulan Oktober akan dirilis minggu depan, dan juga akan memberikan lebih banyak petunjuk mengenai prospek bank sentral,” katanya dalam riset, Jumat (17/11). Ibrahim melanjutkan indikator perekonomian lainnya pada Oktober masih menunjukkan pelemahan yang konsisten pada perekonomian China, terutama ketika perekonomian China tergelincir ke dalam wilayah disinfl asi.Menurutnya, fokus pasar kini tertuju pada Bank Rakyat Tiongkok (PBOC), yang akan memutuskan suku bunga acuan pinjaman utama pada Senin (20/11). Dari sentimen domestik, lanjutnya, Indonesia akan menghadapi tahun politik pada 2024. Ada banyak keraguan menyelimuti investor untuk melakukan investasi karena adanya potensi ketidakstabilan yang ditimbulkan dari gejolak politik.“Pasar yakin bahwa perekonomian Indonesia tidak akan terhambat karena adanya Pemilihan Umum [Pemilu] pada 2024 nanti. Sebaliknya, Indonesia adalah tempat yang nyaman untuk melakukan investasi,” jelasnya. Sementara itu, Kepala Departemen Komunikasi Bank Indonesia (BI) Erwin Haryono menyatakan aliran masuk modal asing sebesar Rp7,33 triliun di pasar keuangan domestik pada pekan ketiga November 2023.“Berdasarkan data transaksi 13–16 November 2023, nonresiden di pasar keuangan domestik tercatat beli neto Rp7,33 triliun,” katanya dalam keterangan resmi, Jumat (17/11). Selain itu, tercatat juga asing beli neto sebesar Rp3,97 triliun di Sekuritas Rupiah BI (SRBI).Berdasarkan data setelmen hingga 16 November 2023, Erwin mengatakan bahwa nonresiden beli neto sebesar Rp56,21 triliun di pasar SBN, jual neto Rp18,09 triliun di pasar saham, dan beli neto Rp21,02 triliun di SRBI. Dalam kesempatan berbeda, Gubernur BI Perry Warjiyo menyatakan BI dan Monetary Authority of Singapore (MAS) telah menandatangani Letter of Intent(LOI) terkait dengan kerangka kerja penyelesaian transaksi dalam mata uang lokal (local currency settlement) yang akan diimplementasikan pada 2024. Setelah diimplementasikan pada 2024, Perry mengatakan kerangka itu akan memfasilitasi penyelesaian transaksi pembayaran lintas negara, termasuk pembayaran dengan QR, perdagangan, dan investasi antara Indonesia dan Singapura dengan mata uang lokal masing-masing.

PENERAPAN RUPIAH DIGITAL : RISIKO INSTABILITAS BIKIN WASWAS

HR1 16 Nov 2023 Bisnis Indonesia

Bank Indonesia tengah mengkaji adanya risiko dari penerapan mata uang digital bank sentral alias central bank digital currency yang menurut International Monetary Fund berpotensi menimbulkan instabilitas moneter. IMF dalam Implications of Central Bank Digital Currencies for Monetary Policy Transmission yang dipublikasikan kemarin, mencatat dampak central bank digital currency (CBDC) terhadap transmisi kebijakan moneter diperkirakan relatif kecil pada kondisi normal.Hanya saja, dampak itu bisa lebih signifikan di lingkungan dengan suku bunga rendah atau tekanan pasar keuangan. Atas dasar itu bank sentral perlu mempertimbangkan fitur desain yang bersifat kehati-hatian seperti batasan kepemilikan dan transaksi, serta menjaga stabilitas suku bunga acuan.Fitur-fitur tersebut akan membatasi potensi perpindahan simpanan ritel atau uang tunai ke CBDC dan dengan demikian akan memastikan bahwa CBDC tidak memiliki dampak signifi kan terhadap transmisi kebijakan moneter.“Kita assessment itu semuanya, masukan-masukan juga kita perhatikan,” kata Deputi Gubernur BI Filianingsih Hendarta kepada wartawan di Kompleks Parlemen, Rabu (15/11). Consultative paper menjelaskan desain pengembangan Rupiah Digital tahap immediate state, yaitu wholesale Rupiah Digital cash ledger, yang meliputi pengenalan teknologi dan fungsi dasar, seperti penerbitan, pemusnahan, dan transfer dana. Dampak dari penerbitan Rupiah Digital pada sistem pembayaran, stabilitas keuangan, dan moneter juga dibahas di dalam consultative paper tersebut. Dana Moneter Internasional (International Monetary Fund/IMF) dalam Central Bank Digital Currency Virtual Handbook menyatakan bahwa tujuan kebijakan dan ukuran keberhasilan CBDC harus ditetapkan secara jelas. Pengkajian dan pengembangan CBDC membutuhkan keputusan yang kompleks dalam lingkungan digital yang berubah dengan cepat. Dalam laporan tersebut, IMF menyoroti beberapa dampak dari pengembangan CBDC. Perubahan lingkungan makro ekonomi yang disebabkan oleh CBDC diperkirakan bisa memperkuat saluran transmisi kebijakan moneter jika CBDC dirancang dengan tepat.Ekonom Makroekonomi dan Pasar Keuangan LPEM FEB Universitas Indonesia Teuku Riefky menuturkan adanya CBDC berpotensi menjadikan transmisi kebijakan moneter lebih teramplifikasi. Menurut Teuku, hal yang perlu diperhatikan saat ini yakni desain dari CBDC agar dapat dikembangkan karena skema tersebut sangat beragam. “Ada CBDC retail, CBDC wholesale, ada CBDC yang menjangkau keseluruhan, jadi tidak dibedakan wholesale dan ritelnya,” katanya.

MEMPERTEBAL TAMENG RUPIAH

HR1 08 Nov 2023 Bisnis Indonesia (H)

Pelemahan rupiah yang terjadi bulan lalu betul-betul memukul sendi-sendi ekonomi nasional, utamanya pasar keuangan. Pemangku kebijakan pun berjibaku menjaga stabilitas mata uang Garuda.Otoritas terkait juga telah unjuk gigi dalam melakukan intervensi agar rupiah tak terus kalah melawan dolar Amerika Serikat (AS). Dalam konteks ini, Bank Indonesia (BI) terpantau amat aktif melakukan stabilitas.Aksi otoritas moneter cukup gesit terutama melalui intervensi di pasar valuta asing. Hasilnya tak bisa dibilang gagal, meski tak dapat pula dikatakan sukses.Buktinya, pada perdagangan kemarin, Selasa (7/11), nilai tukar rupiah terhadap dolar AS ditutup melemah melemah 0,62% atau 97 poin ke level Rp15.636. Pemerintah dan BI pun perlu menguatkan kuda-kuda untuk menopang mata uang Garuda.Di sisi lain, masifnya intervensi di pasar valuta asing menguras cadangan devisa yang per akhir bulan lalu parkir di angka US$133,1 miliar, terendah sepanjang warsa ini. Adapun, instrumen tambahan yang disediakan BI yakni Sekuritas Valas BI (SVBI) dan Sukuk Valas BI (SUVBI) baru diimplementasikan 21 November 2023. Kepala Departemen Pengelolaan Moneter BI Edi Susianto, menegaskan bahwa posisi cadangan devisa masih sangat aman meski berada pada tingkat yang rendah setidaknya pada tahun ini.Posisi cadangan devisa tersebut setara dengan pembiayaan 6,1 bulan impor atau 5,9 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor. Atas dasar itulah pemerintah melakukan evaluasi terhadap implementasi DHE SDA yang telah diterapkan sejak tiga bulan lalu. Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Susiwijono Moegiarso, mengatakan ada beberapa poin yang menjadi bahan evaluasi dari kebijakan DHE.Beberapa di antaranya yakni pemasukan DHE ke rekening khusus, penempatan DHE pada instrumen yang ditetapkan, evaluasi atas komoditas, pemanfaatan instrumen, serta integrasi sistem informasi. Sementara itu, kalangan pelaku usaha mendukung evaluasi DHE itu menyusul realisasi yang masih jauh dari potensi.Ketua Komite Tetap Kebijakan Publik Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Chandra Wahjudi, mengatakan pemerintah juga perlu mengkaji adanya insentif tambahan bagi dunia usaha. Di sisi lain, tekanan cadangan devisa pada sisa tahun ini diprediksi lebih berat. Pasalnya, Bank Sentral AS Federal Reserve (The Fed) masih memiliki ruang untuk menaikkan suku bunga acuan pada pertemuan terakhir tahun ini. Kalangan ekonom pun tak menampik cadangan devisa berisiko terus menyusut apabila pemerintah dan BI tidak mengoptimalisasi instrumen yang ada.Ekonom Makroekonomi dan Pasar Keuangan LPEM FEB Universitas Indonesia Teuku Riefky, tekanan cadangan devisa muncul dari penurunan ekspor akibat pelemahan komoditas. Kemudian, implementasi DHE SDA dan SRBI masih belum optimal, sementara pada saat bersamaan bank sentral negara maju menerapkan kebijakan higher for longer.

Greenback Masih Tetap Jadi Safe Haven Favorit

HR1 02 Nov 2023 Kontan (H)
Instrumen lindung nilai atau safe haven menjadi perburuan investor di tengah kondisi ekonomi dan geopolitik yang penuh ketidakpastian, serta tren kenaikan suku bunga akibat inflasi. Dollar Amerika Serikat (AS) dan emas tetap menjadi instrumen safe haven primadona. Sebagai gambaran, dalam sebulan terakhir hingga 1 November 2023, harga emas di pasar spot naik 4,5% ke posisi US$ 1.991,8 per ons troi. Sementara harga emas batangan Antam naik sebesar 9,45% dalam sebulan menjadi Rp 1,12 juta per gram. Presiden Komisioner HFX International Berjangka, Sutopo Widodo mengatakan, indeks dollar AS mendekati level tertinggi dalam 11 bulan karena investor mengantisipasi kebijakan moneter baru Bank Sentral AS atau The Federal Reserve (Fed) pada rapat 31 Oktober-1 November 2023 waktu AS. Fed diperkirakan mempertahankan suku bunga. Tetapi akan mempertahankan biaya pinjaman di level tinggi untuk beberapa waktu karena perekonomian AS tetap tangguh. Jumlah lowongan pekerjaan meningkat 56.000 dari bulan sebelumnya menjadi 9,55 juta pada September 2023, level tertinggi dalam empat bulan dan melampaui konsensus pasar sebesar 9,25 juta. Purchasing Manager Index (PMI) Manufaktur AS Global S&P di level 50 pada Oktober 2023, naik dari level 49,8 pada September 2023. Emas menjadi lindung nilai di tengah ketidakpastian geopolitik. Namun menurut Sutopo harganya terlampau mahal, sehingga tak terlalu menarik lagi bagi pembeli luar negeri yang mengkonversi emas dengan dollar. Pengamat Komoditas dan Mata Uang, Lukman Leong menilai harga emas spot masih bertengger di US$ 2.000 ons troi pada akhir tahun. Berarti tidak akan jauh dari harga sekarang. Sementara emas batangan lebih cocok untuk investor tradisional. Dia melihat dollar   lebih prospektif daripada emas karena berpeluang meningkat lagi sekitar 5% hingga akhir tahun.

Upaya Ekstra untuk Menahan Rupiah

HR1 20 Oct 2023 Kontan (H)
Bank Indonesia (BI) kewalahan meredam penguatan dolar Amerika Serikat (AS). Secara mengejutkan, bank sentral mengerek suku bunga dalam Rapat Dewan Gubernur Oktober 2023. Suku bunga acuan BI 7-Day Reverse Repo Rate (BI7DRR) naik 25 basis poin (bps) ke level 6% pada Kamis (19/10). BI juga bersiap merilis instrumen Sekuritas Valas Bank Indonesia (SVBI) dan Sukuk Valas Bank Indonesia (SUVBI) pada November mendatang. Mengutip Bloomberg, kemarin, kurs rupiah di pasar spot secara harian melemah 0,54% ke level Rp 15.815 per dollar AS. Sementara rupiah Jisdor BI melemah 0,68% ke level Rp 15.838 per dollar AS. Senior Economist KB Valbury Sekuritas, Fikri C. Permana melihat, pelemahan rupiah disebabkan sentimen risk off di pasar global yang telah membuat Indeks Dollar AS lebih perkasa. Permintaan dollar terus meningkat akhir-akhir ini akibat perang Israel-Palestina mengalami eskalasi yang menyebabkan banyak investor masuk ke instrumen dollar AS untuk mencari perlindungan, termasuk perpindahan dari US Treasury. Fikri berujar, langkah BI dilatarbelakangi pula oleh belum efektifnya instrumen maupun kebijakan yang telah diterbitkan BI sebelumnya seperti Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dan peraturan Devisa Hasil Ekspor (DHE). Alhasil, menaikkan suku bunga menjadi pilihan terakhir BI. Pengamat Mata Uang, Lukman Leong mencermati, pelemahan kurs rupiah terjadi karena sentimen eksternal yang dipicu kekhawatiran pasar akan prospek kenaikan suku bunga Bank Sentral AS alias Federal Reserve The Fed. Ketakutan itu telah membawa imbal hasil obligasi AS tenor 10 tahun mendekati level 5%, tertinggi sejak 2007. Sedangkan Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede menilai, hingga akhir Oktober 2023, kurs rupiah masih akan berada dalam tekanan terutama karena banyaknya tekanan global. Joshua memperkirakan nilai tukar rupiah sampai akhir Oktober 2023 dapat berada di rentang 15.700 hingga 15.900 per dollar AS. Sedang menurut Lukman, rupiah hampir pasti menyentuh Rp 16.000 per dollar AS.

Kurs Rupiah Ambrol, Industri Terancam Tekor

HR1 12 Oct 2023 Kontan

Dunia usaha sedang dalam kondisi sulit. Bertubi-tubi masalah menghadang dunia usaha  jelang akhir tahun ini. Bukan saja pelemahan daya beli masyarakat, para pebisnis dari berbagai sektor usaha kini  menghadapi banyak tantangan lain yang tak kalah beratnya. Selain tren pelemahan rupiah yang terus berlanjut, fenomena El Nino hingga kebijakan pembatasan impor produk lewat e-commerce adalah sejumlah persoalan yang menghadang kinerja dunia usaha. Ada banyak sektor bisnis yang mewaspadai tren pelemahan mata uang Garuda ini. Salah satunya sektor otomotif. Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) menyatakan, pelemahan rupiah bisa berdampak naiknya harga jual produk mobil. Pasalnya, sebagian komponen mobil masih diimpor dari negara prinsipal. Gaikindo berharap, tren pelemahan rupiah tidak berlangsung lama. "Ketika rupiah kembali ke level normal, maka tidak perlu ada kenaikan harga jual mobil di Indonesia," ujar Ketua I Gaikindo Jongkie Sugiarto, Selasa (10/10). Ketua Bidang Komersial Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (AISI), Sigit Kumala mengatakan, pabrikan motor masih mengevaluasi dampak pelemahan rupiah sebelum menentukan kebijakan harga jual produk. Secara umum, AISI masih optimistis penjualan motor bisa mencapai 6 juta unit sampai akhir 2023. Industri elektronik juga terdampak pelamahan rupiah. Pasalnya, sekitar 50% biaya produksi elektronik dipengaruhi pergerakan kurs dollar AS. Dengan kata lain, masih ada beberapa komponen produk elektronik yang diimpor. Menaikkan harga jual produk menjadi alternatif pilihan, selain melakukan efisiensi. "Produsen dengan rasio ekspor tinggi, biasanya dapat menahan kenaikan harga produk di pasar domestik," ujar Sekjen Gabungan Pengusaha Elektronik (Gabel), Daniel Suhardiman, Rabu (11/11). Bukan saja manufaktur, sektor perkebunan juga terdampak pelemahan rupiah. "Harga pupuk lebih mahal karena sebagian besar pupuk masih diimpor," ujar Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Eddy Martono, kemarin. Direktur Eksekutif Indef Tauhid Ahmad bilang, El Nino juga berpotensi mendongkrak harga bahan baku pangan. Namun, biasanya produsen makanan dan minuman cenderung berhati-hati menyesuaikan harga jual produk. Terlebih daya beli masyarakat sedang lemah.

Otot Rupiah Melemah Menjelang Pemilu

HR1 12 Sep 2023 Kontan (H)

Otot rupiah mengendor menjelang pesta demokrasi Indonesia. Dalam sebulan rupiah melemah 0,72% dari Rp 15.219 per dollar Amerika Serikat menjadi Rp 15.330 per USD. Jika dihitung selama setahun, rupiah turun 3,28% dari Rp 14.842 per dollar AS. Namun kurs sekarang lebih baik dibanding posisi rupiah di awal tahun ini, yaitu Rp 15.573. Ekonom Senior KB Valbury Sekuritas, Fikri C. Permana menilai, rupiah akan cenderung lebih stabil menjelang pemilihan umum (Pemilu). Rupiah akan lebih bergejolak seusai pemilu. Pergerakan itu mencerminkan harapan pasar terhadap pemerintahan baru dan kabinet. Ambil contoh pada Pemilu April 2019. Menjelang bulan pencoblosan, rupiah melemah terbatas ke kisaran Rp 14.229 hingga Rp 14.257. Pada bulan berikutnya, rupiah melemah cukup tajam hingga menjadi Rp 14.525 per dollar AS. Setelah itu, rupiah melandai hingga menutup tahun 2019 di level Rp 13.866.   Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede mengamati nilai tukar rupiah cenderung melemah di sela Pemilu legislatif dan Presiden dalam empat gelaran terakhir. Kecuali pada pemilu 2009, di mana rupiah justru mencatatkan tren penguatan. Josua menilai pelemahan rupiah pada periode itu dipengaruhi dinamika politik hingga ketidakpastian di pasar keuangan domestik yang meningkat. "Antara lain terkait penentuan calon presiden dan calon wakil presiden. Utamanya pada 2004 dan 2014," jelasnya, Senin (11/9). Rupiah bersama mata uang Asia lain berpotensi menguat terhadap dollar AS, terutama ketika Fed sudah memberikan sinyal mempertahankan suku bunga. Selain itu implementasi instrumen penempatan valas Devisa Hasil Ekspor (DHE) juga diperkirakan akan membuat rupiah cenderung lebih stabil ke depan. Direktur PT Laba Foreindo Berjangka, Ibrahim Assuaibi menambahkan, meski Fed masih akan menaikkan suku bunga acuan di kuartal keempat 2023, stabilitas nilai tukar rupiah diperkirakan tetap terjaga sejalan persepsi positif investor terhadap prospek perekonomian Indonesia dan inflasi yang rendah. Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, Budi Frensidy cukup yakin rupiah bisa menuju Rp 15.000 di akhir tahun, didorong efek kebijakan DHE dan lancarnya pemilu pada Februari mendatang.

Indonesia Bentuk Satgas Dorong LCT

KT3 06 Sep 2023 Kompas

Indonesia membentuk Satuan Tugas (Satgas) Nasional untuk mendorong peningkatan penggunaan mata uang lokal dalam transaksi Indonesia dengan negara mitra (local currency transaction/LCT). ”Bank Indonesia meyakini bahwa Satgas Nasional LCT akan menjadi wadah koordinasi yang semakin memperkuat sinergi kebijakan antar-instansi,” kata Gubernur BI Perry Warjiyo, Selasa (5/9/2023). (Yoga)

Bangkit dari Stagnasi, Ekonomi Zona Euro Tumbuh Moderat

KT1 01 Aug 2023 Investor Daily

FRANKFURT,ID-Perekonomian zona euro tumbuh moderat pada kuartal II 2023. Blok mata uang tunggal Eropa ini keluar dari stagnasi di kuartal sebelumnya, yang disebabkan suku bunga tinggi, walaupun Bank Sentral Eropa (ECB) melakukan itu untuk memerangi inflasi. tetapi kebijakan itu membuat kelompok rumah tangga dan bisnis membutuhkan dana lebih untuk berhutang, berinvestasi, dan berbelanja. Menurut laporan Badan Statistik Eropa, Eurostat, yang dirilis pada Senin (31/7/2023), 20 negara dalam blok mata uang tunggal Eropa berpenduduk total 346 juta mengalami pertumbuhan 0,3% untuk periode April hingga Juni 2023. Angka ini memperlihatkan peningkatan dari pertumbuhan dari pertumbuhan nol di kuartal I-2023 dan penurunan tipis di kuartal IV-2022. Revisi data telah menaikkan angka untuk kuartal pertama  dari kontraksi  0,1% sehingga menghapus dua kuartal berturut-turut penurunan. Sementara itu, inflasi di zona euro melanjutkan penurunannya secara bertahap, dari 5,5% pada Juni 2023 menjadi 5,3% pada Juli 2023. (Yetede)