Mata Uang
( 132 )PELEMAHAN RUPIAH : Bank Masih Sanggup Mitigasi
Perbankan dinilai masih mampu memitigasi risiko atas tren pelemahan rupiah yang terjadi sejak awal tahun. Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Dian Ediana Rae mengatakan bahwa sejauh ini tren pelemahan rupiah terjadi di tengah penguatan dolar AS. Penguatan dolar AS terjadi terhadap seluruh mata uang secara global tercermin dari Dollar Index yang mencatatkan tren kenaikan sejak akhir Maret 2024. Beberapa faktor yang memengaruhinya antara lain kebijakan suku bunga high for longer yang masih berlanjut di tengah kuatnya perekonomian AS. Namun, di saat yang bersamaan, laju infl asi AS yang masih cukup jauh dari target 2%.
OJK menilai bahwa risiko yang dihadapi industri perbankan nasional akibat penguatan dolar AS masih dapat dimitigasi dengan baik. Berdasarkan hasil uji ketahanan atau stress test yang dilakukan OJK, pelemahan nilai tukar rupiah saat ini relatif tidak signifikan berpengaruh langsung terhadap permodalan bank. Alasannya, posisi devisa neto (PDN) perbankan Indonesia masih jauh di bawah threshold. Sementara, secara umum dalam posisi PDN ‘long’ aset valuta asing (valas) lebih besar dari kewajiban valas.
Sementara, porsi dana pihak ketiga (DPK) dalam bentuk valas yang saat ini sekitar 15% dari total DPK perbankan, masih bisa tumbuh cukup baik secara tahunan.
Meski begitu, OJK tetap melakukan stress test secara rutin terhadap perbankan dengan menggunakan beberapa variabel skenario makroekonomi serta mempertimbangkan faktor risiko utama yaitu risiko kredit dan risiko pasar. OJK pun terus melakukan pengawasan secara optimal untuk memastikan bahwa berbagai risiko akibat pelemahan nilai tukar maupun suku bunga yang relatif tinggi terhadap masing-masing bank termitigasi dengan baik.
Data Ekonomi AS Loyo, Mata Uang Regional Rebound
Arah Rupiah Masih Sideways
PERTARUHAN STABILITAS RUPIAH
Pemangku kebijakan dan pelaku ekonomi kembali waspada. Menguatnya ekspektasi soal pelonggaran moneter Bank Sentral Amerika Serikat (AS) Federal Reserve (The Fed) yang baru dieksekusi pada paruh kedua tahun ini membawa kabar tak menyenangkan. Stabilitas pasar keuangan dan rupiah pun terguncang, lantaran hingga medio tahun ini kans pemangku kebijakan untuk menampung modal asing terbatas. Hari ini, Rabu (31/1) waktu AS, The Fed menggelar Federal Open Market Committee (FOMC) perdana 2024. Sayangnya, ekspektasi pelaku pasar beralih dari sebelumnya memprediksi pelonggaran menjadi bertahan di zona ketat.
Tentu situasi ini akan mendesak investor untuk memarkir modalnya di Negeri Paman Sam lebih lama, sehingga negara berkembang termasuk Indonesia belum mendapatkan limpahan modal. Alhasil, penguatan rupiah masih penuh tanda tanya.Selain dari AS, tekanan rupiah juga bersumber dari China yang menyerukan kebijakan penghentian pinjaman saham tertentu dalam rangka menghindari short selling. Tujuannya, membatasi penurunan saham di Negeri Panda.
Bank sentral pun memahami adanya guncangan yang diprediksi langgeng hingga pergantian semester tahun ini. Sejumlah siasat pun disiapkan untuk mengamankan gerak Garuda.
Gubernur BI Perry Warjiyo, mengatakan intervensi valas akan terus dilakukan serta menyerap SBN yang dijual oleh investor asing sehingga meminimalkan tekanan rupiah.
Sejatinya, BI telah memiliki banyak instrumen operasi moneter untuk mengamankan rupiah. Misalnya Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), Sekuritas Valas Bank Indonesia (SVBI), dan Sukuk Valas Bank Indonesia (SUVBI). Serapan investor terhadap produk tersebut pun tak bisa dibilang mengecewakan.
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, hanya mengatakan bahwa pergerakan rupiah lebih dipengaruhi faktor global, terutama arah The Fed.
Efek pelemahan rupiah tak bisa dianggap remeh. Gejolak kurs bisa berdampak negatif bagi aktivitas pelaku usaha, terutama yang memiliki ketergantungan pada bahan baku impor dan utang valas.
Kalangan pebisnis pun menyarankan pemerintah untuk melakukan improvisasi agar upaya menciptakan stabilitas rupiah tak bergantung pada strategi klasik serta lebih kebal dari tekanan eksternal. Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta W. Kamdani, mengatakan instrumen kebijakan pendukung stabilitas moneter lain seperti SBN perlu dimaksimalkan guna memberikan dukungan yang positif terhadap stabilitas moneter nasional.
Sementara itu, kalangan ekonom memandang pemerintah dan BI patut menciptakan stimulus yang bisa merangsang gairah ekonomi terutama di sektor riil, salah satunya relaksasi BI 7-Day Reverse Repo Rate. Ekonom Center of Reform on Economics (Core) Indonesia Yusuf Rendy Manilet, mengatakan penyesuaian suku bunga perlu disegerakan apabila instrumen moneter lainnya kurang efektif mengamankan rupiah. Direktur Eksekutif Segara Institut Piter Abdullah, menambahkan yang diperlukan adalah memfungsikan sistem keuangan sebagai penggerak ekonomi.
Awas, Rupiah Terkena Serangan Sentimen Ganas
Dolar AS Makin Perkasa, Mata Uang Global Tertekan
Transaksi Mata Uang Lokal Menanjak Lebih dari 50%
Meningkat 2% ULN Masih Terkendali
Meningkat 2% ULN Masih Terkendali
2024, Rupiah Bakal Kian Perkasa
Ditengah ketidakpastian global yang terus berlangsung, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) tercatat mengalami apresiasi 0,8% secara year to date (ytd) yakni dalam rentang akhir 2022 hingga Rabu (27/12/2023). Stabilitas nilai tukar rupiah terhadap dolar AS itu diperkirakan berlanjut pada tahun depan, bahkan kurs rupiah berpeluang menjadi kian perkasa. Disamping kebijakan stabilitas yang dilakukan bank Indonesia (BI), berlanjutnya apresiasi nilai tukar rupiah didorong oleh aliran masuk portfolio asing, imbal hasil aset keuangan domestik yang menarik, serta prospek ekonomi yang positif. Dua faktor lain yang juga diyakini bakal memberi dampak positif adalah persepsi perilaku pasar atas sentimen davish kebijakan The Fed, serta pemilu bisa berlangsung damai. Berdasarkan data yang dihimpun B-Universe Research, kondisi kurs rupiah pada tahun ini jauh lebih baik jika dibandingkan dengan kurs mata uang sejumlah negara seperti rupee India yang mengalami depresiasi sebesar 0,7%, yuan Cina (-2,8%), dong Vietnam (-3,1%), ringgit Malaysia (-5,1%) dan yen Jepang (-8,8%). Bahkan, pada periode tersebut, kurs lira Turki terhadap dolar AS terjun bebas hingga 57,3%. (Yetede)
Pilihan Editor
-
Credit Suisse Tepis Krisis Perbankan
17 Mar 2023 -
PARIWISATA, Visa Kedatangan Perlu Diperketat
15 Mar 2023 -
Ratusan Ribu Pekerja Inggris Mogok
17 Mar 2023








