;
Tags

Mata Uang

( 132 )

PELEMAHAN RUPIAH : Bank Masih Sanggup Mitigasi

HR1 20 Apr 2024 Bisnis Indonesia

Perbankan dinilai masih mampu memitigasi risiko atas tren pelemahan rupiah yang terjadi sejak awal tahun. Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Dian Ediana Rae mengatakan bahwa sejauh ini tren pelemahan rupiah terjadi di tengah penguatan dolar AS. Penguatan dolar AS terjadi terhadap seluruh mata uang secara global tercermin dari Dollar Index yang mencatatkan tren kenaikan sejak akhir Maret 2024. Beberapa faktor yang memengaruhinya antara lain kebijakan suku bunga high for longer yang masih berlanjut di tengah kuatnya perekonomian AS. Namun, di saat yang bersamaan, laju infl asi AS yang masih cukup jauh dari target 2%. 

OJK menilai bahwa risiko yang dihadapi industri perbankan nasional akibat penguatan dolar AS masih dapat dimitigasi dengan baik. Berdasarkan hasil uji ketahanan atau stress test yang dilakukan OJK, pelemahan nilai tukar rupiah saat ini relatif tidak signifikan berpengaruh langsung terhadap permodalan bank. Alasannya, posisi devisa neto (PDN) perbankan Indonesia masih jauh di bawah threshold. Sementara, secara umum dalam posisi PDN ‘long’ aset valuta asing (valas) lebih besar dari kewajiban valas. Sementara, porsi dana pihak ketiga (DPK) dalam bentuk valas yang saat ini sekitar 15% dari total DPK perbankan, masih bisa tumbuh cukup baik secara tahunan. Meski begitu, OJK tetap melakukan stress test secara rutin terhadap perbankan dengan menggunakan beberapa variabel skenario makroekonomi serta mempertimbangkan faktor risiko utama yaitu risiko kredit dan risiko pasar. OJK pun terus melakukan pengawasan secara optimal untuk memastikan bahwa berbagai risiko akibat pelemahan nilai tukar maupun suku bunga yang relatif tinggi terhadap masing-masing bank termitigasi dengan baik.

Data Ekonomi AS Loyo, Mata Uang Regional Rebound

HR1 04 Mar 2024 Kontan
Dolar Amerika Serikat (AS) cenderung tertekan sebulan terakhir. Data ekonomi AS yang kurang baik mendorong sejumlah mata uang regional rebound. Pada Jumat (1/3), AS mengumumkan bahwa data PMI Manufaktur ISM jatuh ke level 47,8 pada Februari 2024 dari 49,1 pada Januari 2024. Realisasi itu juga jauh dari proyeksi pasar di level 49,5. Alhasil, indeks dolar memperpanjang penurunannya hingga turun di bawah 104. Berdasarkan data Bloomberg, mayoritas mata uang regional menguat dalam sebulan terakhir. Penguatan terbesar dialami JPY dengan kenaikan 2,45%, disusul THB sebesar 1,45%, TWD 0,88%. Pengamat Komoditas dan Mata Uang, Lukman Leong mengatakan, terjadinya penurunan data ekonomi di AS tidak mengherankan, karena suku bunga yang berada di level tinggi mulai terdampak ke perekonomian AS. Karena itu, Lukman menilai, hal ini bisa menjadi awal dari tanda the Fed bakal mulai dovish. Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede menambahkan, potensi pemotongan suku bunga AS sebesar 75-100 basis poin juga akan mendorong mata uang regional. Menurutnya, mata uang rupiah (IDR) dan rupee India (INR) berpotensi menjadi mata uang kawasan Asia yang relatif kuat. Menurut Josua, faktor tersebut akan mendorong semakin atraktifnya aset-aset dalam IDR dan INR. Sehingga, investor asing berpotensi masuk pasar keuangan Indonesia dan India. Hingga akhir tahun, Josua memproyeksikan kurs rupiah akan berada di level Rp 15.100–Rp 15.300 per dollar AS. Lalu, Lukman menilai, mata uang regional yang menarik dicermati adalah dollar Singapura dengan target di akhir tahun 1,31-1,33.

Arah Rupiah Masih Sideways

HR1 12 Feb 2024 Kontan
Rupiah diprediksi bergerak sideways di awal pekan ini, seiring minimnya data ekonomi. Pada Rabu lalu (7/2), di pasar spot rupiah menguat 0,60% ke US$ 15.635 per dolar Amerika Serikat (AS) dan di rupiah Jisdor Bank Indonesia (BI) menguat 0,31% ke Rp 15.685 per dolar AS. Fikri C. Permana, Senior Economist KB Valbury Sekuritas melihatf menguatnya rupiah didorong revisi penurunan inflasi AS. Ini menyebabkan ada ekspektasi penurunan fed rate jadi lebih cepat. Terlihat dari kenaikan probabilitas penurunan fed rate di Maret menjadi 19% dari 17%. Lalu di Mei juga meningkat dari 54% menjadi 57%. Pada Senin (12/2), Fikri memperkirakan, rupiah cenderung sideways dengan kecenderungan sedikit menguat seiring penurunan USD Index. Sebab belum ada data ekonomi yang signifikan dapat menggerakan rupiah. "Investor masih menunggu data inflasi AS dan sejumlah data dari dalam negeri pada Selasa," tambahnya. Pengamat komoditas dan mata uang Lukman Leong berpendapat, rupiah justru diperkirakan masih bisa tertekan oleh faktor internal pilpres tahun 2024. Walau demikian, koreksi pada dolar AS setelah revisi ke bawah pada inflasi AS bisa mendukung rupiah.

PERTARUHAN STABILITAS RUPIAH

HR1 31 Jan 2024 Bisnis Indonesia (H)

Pemangku kebijakan dan pelaku ekonomi kembali waspada. Menguatnya ekspektasi soal pelonggaran moneter Bank Sentral Amerika Serikat (AS) Federal Reserve (The Fed) yang baru dieksekusi pada paruh kedua tahun ini membawa kabar tak menyenangkan. Stabilitas pasar keuangan dan rupiah pun terguncang, lantaran hingga medio tahun ini kans pemangku kebijakan untuk menampung modal asing terbatas. Hari ini, Rabu (31/1) waktu AS, The Fed menggelar Federal Open Market Committee (FOMC) perdana 2024. Sayangnya, ekspektasi pelaku pasar beralih dari sebelumnya memprediksi pelonggaran menjadi bertahan di zona ketat. Tentu situasi ini akan mendesak investor untuk memarkir modalnya di Negeri Paman Sam lebih lama, sehingga negara berkembang termasuk Indonesia belum mendapatkan limpahan modal. Alhasil, penguatan rupiah masih penuh tanda tanya.Selain dari AS, tekanan rupiah juga bersumber dari China yang menyerukan kebijakan penghentian pinjaman saham tertentu dalam rangka menghindari short selling. Tujuannya, membatasi penurunan saham di Negeri Panda. Bank sentral pun memahami adanya guncangan yang diprediksi langgeng hingga pergantian semester tahun ini. Sejumlah siasat pun disiapkan untuk mengamankan gerak Garuda. Gubernur BI Perry Warjiyo, mengatakan intervensi valas akan terus dilakukan serta menyerap SBN yang dijual oleh investor asing sehingga meminimalkan tekanan rupiah. Sejatinya, BI telah memiliki banyak instrumen operasi moneter untuk mengamankan rupiah. Misalnya Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), Sekuritas Valas Bank Indonesia (SVBI), dan Sukuk Valas Bank Indonesia (SUVBI). Serapan investor terhadap produk tersebut pun tak bisa dibilang mengecewakan. Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, hanya mengatakan bahwa pergerakan rupiah lebih dipengaruhi faktor global, terutama arah The Fed. Efek pelemahan rupiah tak bisa dianggap remeh. Gejolak kurs bisa berdampak negatif bagi aktivitas pelaku usaha, terutama yang memiliki ketergantungan pada bahan baku impor dan utang valas. Kalangan pebisnis pun menyarankan pemerintah untuk melakukan improvisasi agar upaya menciptakan stabilitas rupiah tak bergantung pada strategi klasik serta lebih kebal dari tekanan eksternal. Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta W. Kamdani, mengatakan instrumen kebijakan pendukung stabilitas moneter lain seperti SBN perlu dimaksimalkan guna memberikan dukungan yang positif terhadap stabilitas moneter nasional. Sementara itu, kalangan ekonom memandang pemerintah dan BI patut menciptakan stimulus yang bisa merangsang gairah ekonomi terutama di sektor riil, salah satunya relaksasi BI 7-Day Reverse Repo Rate. Ekonom Center of Reform on Economics (Core) Indonesia Yusuf Rendy Manilet, mengatakan penyesuaian suku bunga perlu disegerakan apabila instrumen moneter lainnya kurang efektif mengamankan rupiah. Direktur Eksekutif Segara Institut Piter Abdullah, menambahkan yang diperlukan adalah memfungsikan sistem keuangan sebagai penggerak ekonomi.

Awas, Rupiah Terkena Serangan Sentimen Ganas

HR1 29 Jan 2024 Kontan (H)
Nilai tukar rupiah terus melemah menuju level psikologis Rp 16.000 per dolar Amerika Serikat (AS). Narasi suku bunga acuan AS akan bertahan lebih lama di level tinggi menimbulkan tekanan pada mata uang global, termasuk mata uang Garuda. Dikutip dari Bloomberg, rupiah berada di posisi Rp 15.615 per dolar AS pada awal pekan lalu terjun bebas hingga hingga menembus level terendah Rp 15.826 dalam sepekan pada Kamis (25/1). Pada perdagangan Jumat (26/1), rupiah di pasar spot naik tipis ke posisi Rp 15.825. Dalam sepekan, rupiah sudah turun 1,34%. Sejak awal tahun, rupiah sudah terkoreksi 2,76% terhadap dolar AS. Pengamat Komoditas dan Mata Uang, Lukman Leong mengatakan, ekspektasi suku bunga acuan AS bakal dipangkas pada bulan Maret 2024 mulai runtuh. Ini tercermin dari probabilitas The Federal Reserve memotong suku bunga pada Maret turun hingga ke bawah 50%. Sementara itu, stimulus China yang diharapkan berdampak positif untuk pasar Asia, belum mampu mengangkat rupiah. "Nilai tukar rupiah sangat mudah menembus level harga Rp 16.000 per dolar AS apabila Bank Indonesia (BI) tidak rutin intervensi," ujar Lukman, Minggu (28/1). Research And Development Handal Semesta Berjangka, Alwi Assegaf melihat, rupiah tidak bisa berbuat banyak. Pasalnya, indeks dolar AS baru-baru ini mencapai level tertinggi enam pekan terakhir. Pemicunya adalah sentimen yang menguatkan aset safe haven seperti dolar AS dan ekspektasi The Fed memangkas suku bunga di awal tahun ini yang perlahan memudar. Penguatan dolar AS juga berkat dorongan dari kenaikan yield US Treasury tenor 10 tahun yang kini berada di atas 4%. Tingginya imbal hasil (yield) obligasi AS dapat menarik lebih banyak dana investasi ke negari Paman Sam sehingga yang berdampak pada penguatan dolar AS.Pergerakan USD/IDR secara teknikal sudah overbought, sehingga memberi peluang rupiah bakal menguat. Hanya saja, Alwi mengamati, level 16.000 mungkin bakal menjadi area psikologis rupiah pada akhir kuartal I-2024, seiring narasi suku bunga tinggi masih membayangi pasar.

Dolar AS Makin Perkasa, Mata Uang Global Tertekan

HR1 25 Jan 2024 Kontan
Dolar Amerika Serikat (AS) diproyeksi akan semakin perkasa di tahun ini terhadap mata uang global. Ini seiring dengan realisasi data ekonomi AS yang lebih baik dan sikap hawkish The Federal Reserve (The Fed) sehingga mendorong penguatan indeks dolar. Presiden Komisioner HFX International Berjangka Sutopo Widodo mengatakan, indeks dolar stabil di sekitar 103,5 pada Rabu (24/1), mendekati level tertinggi dalam enam minggu. Sebelumnya, Presiden Fed San Francisco, Mary Daly menyatakan, ia yakin perekonomian dan kebijakan moneter AS berada dalam posisi yang baik dan terlalu dini untuk berpikir penurunan suku bunga akan segera terjadi. 

Anggota Dewan Gubernur Fed Christopher Waller juga mengatakan bahwa para pengambil kebijakan akan mengambil kebijakan dengan hati-hati dan perlahan. Pada saat yang sama, penjualan ritel pada Desember 2024 lebih kuat dari perkiraan. Lalu indeks sentimen konsumen sesuai hasil survei Universitas Michigan melonjak menjadi 78,8 pada Januari 2024 atau tertinggi sejak Juli 2021. Alhasil, sejumlah mata uang utama masih tertekan dalam sebulan terakhir. Melansir Bloomberg, EUR/USD turun 0,83% ke 1,091; AUD/USD turun 2,72% ke 0,664; dan USD/JPY naik 3,21% ke 146,92. Hanya GBP/USD yang naik sebesar 0,50% ke posisi 1,274. 

Pengamat Mata Uang dan Komoditas, Lukman Leong melihat GBP masih bisa bertahan didukung oleh data inflasi yang lebih tinggi dari perkiraan minggu lalu. Hanya saja ke depan akan bergantung pada data-data ekonomi AS. Lukman memperkirakan, EUR/USD di akhir tahun di 1,0500, GBP/USD di 1,230 dan  AUD/USD ke 0,6100.

Transaksi Mata Uang Lokal Menanjak Lebih dari 50%

HR1 23 Jan 2024 Kontan
Rata-rata nilai transaksi penggunaan mata uang lokal atau local currency transaction (LCT) terus bertambah. Bank Indonesia (BI) menyebutkan, di sepanjang tahun 2023, rata-rata nilai transaksi LCT mencapai ekuivalen US$ 6,3 miliar. Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti mengungkapkan, posisi tersebut meningkat dibandingkan dengan akhir tahun 2022. "Posisi di Desember 2023 naik sebesar 52,8% dibandingkan dengan tahun 2022," ujar dia, belum lama ini. Destry menambahkan, jumlah pelaku LCT juga meningkat. 

Pada akhir tahun 2023, jumlah pelaku sebanyak 2.598 pelaku, meningkat dari 1.741  pelaku pada akhir tahun 2022. Sedangkan dari komposisinya, mayoritas penggunaan LCt adalah pelaku dari negara Malaysia. Kerja sama LCT antara Bank Indonesia dan Bank of Korea merupakan yang teranyar dan telah disepakati sejak Desember 2023 yang berlaku mulai tahun 2024. 

Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan, salah satu yang diuntungkan dari kerja sama kedua negara ini adalah sektor perdagangan. Pasalnya, perbankan di Indonesia dan Korea Selatan dapat melakukan kuotasi nilai tukar secara langsung, sehingga risiko nilai tukar dan biaya yang timbul dari transaksi tersebut dapat berkurang. 

Sebelumnya, Indonesia telah membentuk Satuan Tugas (Satgas) Nasional untuk mendorong peningkatan LCT yang melibatkan BI serta beberapa kementerian, seperti Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Kementerian Keuangan, dan Kementerian Luar Negeri.

Meningkat 2% ULN Masih Terkendali

KT1 16 Jan 2024 Investor Daily
Bank Indonesia (BI) mencatat Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia pada November 2023 sebesar US$ 400,9 miliar, atau tumbuh 2,0% (yoy), lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan bulan sebelumnya yang sebesar 0,7% (yoy). Perkembangan ULN terutama disebabkan oleh transaksi ULN sektor publik. Kepala Departeman Komunikasi BI Erwin Haryono mengatakan, posisi ULN pada November 2023 juga dipengaruhi oleh faktor pelemahan mata uang dolar AS terhadap mayoritas mata uang global yang berdampak pada  meningkatnya angka statistik ULN Indonesia valuta lainnya dalam satuan dolar AS.  Posisi ULN pemerintah di bulan November 2023 sebesar US$ 192,6 miliar atau tumbuh 6,0% (yoy), meningkat dari pertumbuhan bulan sebelumnya 3,0% (yoy). ULN pemerintah tetap terkendali dan terkelola secara terukur dan akuntabel. Perkembangan ULN terutama disebabkan peningkatan penempatan  investasi portfolio di pasar Surat Berharga Negara  (SBN) domestik dan internasional, dalam bentuk sukuk global, seiring sentimen positif kepercayaan  pelaku pasar sejalan dengan mulai meredanya ketidakpastian pasar keuangan global. (Yetede)

Meningkat 2% ULN Masih Terkendali

KT1 16 Jan 2024 Investor Daily
Bank Indonesia (BI) mencatat Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia pada November 2023 sebesar US$ 400,9 miliar, atau tumbuh 2,0% (yoy), lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan bulan sebelumnya yang sebesar 0,7% (yoy). Perkembangan ULN terutama disebabkan oleh transaksi ULN sektor publik. Kepala Departeman Komunikasi BI Erwin Haryono mengatakan, posisi ULN pada November 2023 juga dipengaruhi oleh faktor pelemahan mata uang dolar AS terhadap mayoritas mata uang global yang berdampak pada  meningkatnya angka statistik ULN Indonesia valuta lainnya dalam satuan dolar AS.  Posisi ULN pemerintah di bulan November 2023 sebesar US$ 192,6 miliar atau tumbuh 6,0% (yoy), meningkat dari pertumbuhan bulan sebelumnya 3,0% (yoy). ULN pemerintah tetap terkendali dan terkelola secara terukur dan akuntabel. Perkembangan ULN terutama disebabkan peningkatan penempatan  investasi portfolio di pasar Surat Berharga Negara  (SBN) domestik dan internasional, dalam bentuk sukuk global, seiring sentimen positif kepercayaan  pelaku pasar sejalan dengan mulai meredanya ketidakpastian pasar keuangan global. (Yetede)

2024, Rupiah Bakal Kian Perkasa

KT1 28 Dec 2023 Investor Daily (H)

Ditengah ketidakpastian global yang terus berlangsung, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) tercatat mengalami apresiasi 0,8% secara year to date (ytd) yakni dalam rentang akhir 2022 hingga Rabu (27/12/2023). Stabilitas nilai tukar rupiah terhadap dolar AS itu diperkirakan berlanjut pada tahun depan, bahkan kurs rupiah berpeluang menjadi kian perkasa. Disamping kebijakan stabilitas  yang dilakukan bank Indonesia (BI), berlanjutnya apresiasi nilai tukar rupiah didorong oleh aliran masuk portfolio asing, imbal hasil aset keuangan domestik yang menarik, serta prospek ekonomi yang positif. Dua faktor lain yang juga diyakini bakal memberi dampak positif  adalah persepsi perilaku pasar atas sentimen davish kebijakan The Fed, serta pemilu bisa berlangsung damai. Berdasarkan data yang dihimpun B-Universe Research, kondisi kurs rupiah pada tahun ini jauh lebih baik jika dibandingkan  dengan kurs mata uang sejumlah negara seperti rupee India yang mengalami depresiasi sebesar 0,7%, yuan Cina (-2,8%), dong Vietnam (-3,1%), ringgit Malaysia (-5,1%) dan yen Jepang (-8,8%). Bahkan, pada periode tersebut, kurs lira Turki terhadap dolar AS terjun bebas hingga 57,3%. (Yetede)