Data Ekonomi AS Loyo, Mata Uang Regional Rebound
Dolar Amerika Serikat (AS) cenderung tertekan sebulan terakhir. Data ekonomi AS yang kurang baik mendorong sejumlah mata uang regional rebound. Pada Jumat (1/3), AS mengumumkan bahwa data PMI Manufaktur ISM jatuh ke level 47,8 pada Februari 2024 dari 49,1 pada Januari 2024. Realisasi itu juga jauh dari proyeksi pasar di level 49,5. Alhasil, indeks dolar memperpanjang penurunannya hingga turun di bawah 104. Berdasarkan data Bloomberg, mayoritas mata uang regional menguat dalam sebulan terakhir. Penguatan terbesar dialami JPY dengan kenaikan 2,45%, disusul THB sebesar 1,45%, TWD 0,88%. Pengamat Komoditas dan Mata Uang, Lukman Leong mengatakan, terjadinya penurunan data ekonomi di AS tidak mengherankan, karena suku bunga yang berada di level tinggi mulai terdampak ke perekonomian AS. Karena itu, Lukman menilai, hal ini bisa menjadi awal dari tanda the Fed bakal mulai dovish. Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede menambahkan, potensi pemotongan suku bunga AS sebesar 75-100 basis poin juga akan mendorong mata uang regional. Menurutnya, mata uang rupiah (IDR) dan rupee India (INR) berpotensi menjadi mata uang kawasan Asia yang relatif kuat. Menurut Josua, faktor tersebut akan mendorong semakin atraktifnya aset-aset dalam IDR dan INR. Sehingga, investor asing berpotensi masuk pasar keuangan Indonesia dan India. Hingga akhir tahun, Josua memproyeksikan kurs rupiah akan berada di level Rp 15.100–Rp 15.300 per dollar AS. Lalu, Lukman menilai, mata uang regional yang menarik dicermati adalah dollar Singapura dengan target di akhir tahun 1,31-1,33.
Postingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023