Mata Uang
( 132 )Indonesia Lanjutkan ”Dedolarisasi”
Indonesia meneruskan upaya mengurangi ketergantungan terhadap mata uang dollar AS atau ”dedolarisasi”. Hal ini tecermin dari rencana BI menjalin kerja sama dengan Bank Sentral Korsel untuk merealisasikan penyelesaian transaksi perdagangan dan investasi menggunakan mata uang lokal kedua negara masing-masing pada Mei mendatang. Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan, Indonesia sudah menggagas diversifikasi penggunaan mata uang selain USD untuk penyelesaian transaksi perdagangan dan investasi. Sejak 2017, Indonesia telah menjalin kerja sama penyelesaian transaksi perdagangan dan investasi (local currency transaction/LCT) menggunakan mata uang lokal dengan Malaysia, Thailand, Jepang, dan China. ”Ini dedolarisasi. Kami diversifikasi penggunaan mata uang selain dollar AS untuk penyelesaian transaksi antar negara. Indonesia sudah menggagas dan melakukan itu,” ujar Perry, Selasa (18/4).
Selain Korsel, lanjut Perry, pihaknya juga akan menambah jumlah negara dalam kerja sama LCT ini dengan negara-negara di Asia Tenggara. Tak hanya kerja sama LCT, kerja sama dengan negara-negara Asia Tenggara antara lain juga dilakukan dalam bentuk sistem pembayaran lintas negara QRIS atau Standar Respons Cepat Indonesia dan fast payment antarnegara. Hal ini merupakan bagian dari kesepakatan pengembangan ASEAN Payment Connectivity. Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti menambahkan, dunia usaha menyambut baik inisiatif LCT. Ini tecermin dari jumlah pelaku usaha yang terlibat dalam LCT yang kini telah mencapai 2.014, meningkat pesat dari tahun lalu sebanyak 1.740. Pada Januari dan Februari 2023, transaksi dari empat negara yang sudah bekerja sama dengan Indonesia, yakni Malaysia, Thailand, Jepang, dan China, tercatat menggunakan mata uang lokal setara dengan 957 juta USD. (Yoga)
Penukaran Uang Kertas Makin Gencar
Penukaran uang kertas terus meningkat menjelang Idul Fitri 1444 Hijriah. Selain di kota-kota besar, Bank Indonesia juga menggencarkan pelayanan penukaran uang di wilayah terpencil dan kepulauan. ”Tahun ini, kami melakukan penukaran uang di berbagai tempat. Khusus hari libur, kami buka di Gelora Bung Karno,” kata Kepala Departemen Pengelolaan Uang BI Marlison Hakim di area Parkir Timur Senayan, Jakarta, Minggu (9/4/2023). (Yoga)
ASEAN Ikut Tinggalkan Dollar AS
Tren meninggalkan dollar AS sebagai sarana transaksi meluas ke ASEAN, seperti sejumlah negara di kawasan lain yang memprioritaskan penggunaan mata uang internal untuk transaksi bilateral. Menlu Retno LP Marsudi mengatakan, Indonesia berusaha terus mewujudkan tema kepemimpinannya di ASEAN, yaitu ”ASEAN Matters: Epicentrum of Growth”. ”Untuk pilar Epicentrum of Growth, beberapa prioritas sedang dibahas dalam tiga bulan terakhir,” ujarnya, Rabu (5/4) di Jakarta.
Bentuknya, antara lain, penguatan stabilitas keuangan kawasan melalui penggunaan mata uang negara ASEAN dalam transaksi perdagangan dan konektivitas mekanisme pembayaran di kawasan ASEAN. ”Dalam pertemuan Menkeu dan Bank Sentral ASEAN disepakati komitmen negara ASEAN menggunakan mata uang lokal dan perluasan konektivitas mekanisme pembayaran (regional payment connectivity) guna memperkuat stabilitas keuangan di kawasan,” ujar Retno. (Yoga)
Dana Asing Masuk Lagi, Rupiah Kembali Bertaji
Otot mata uang Garuda kian kuat di hadapan dollar AS. Dalam tiga hari berturut-turut, rupiah bertahan di bawah level Rp 15.000 per dollar AS. Kemarin (4/4), rupiah ditutup di Rp 14.899 per dollar AS, level terkuat sejak 6 Februari 2023.
Chief Analyst DCFX Futures Lukman Leong mengatakan, penguatan rupiah didukung optimisme investor terhadap fundamental ekonomi dalam negeri. Tak hanya itu, imbal hasil surat berharga negara (SBN) dalam negeri yang termasuk tinggi dibandingkan regional menjadi daya tarik investor asing.
Jika dibanding negara kawasan Asia, yield SBN tenor 10 tahun merupakan ketiga tertinggi, setelah Pakistan dan India. Selasa (4/4), yield SUN tenor 10 tahun di level 6,75%.
Investor juga menaruh harapan pada revisi PP Nomor 1 Tahun 2019 terkait kebijakan Devisa Hasil Ekspor (DHE). Ditambah lagi, surplus neraca perdagangan masih besar di tengah harga komoditas yang relatif tinggi. "Investor berpikir revisi DHE bisa memupuk fundamental rupiah," terang Lukman.
Ekonom Bank Permata Josua Pardede juga sepemikiran. Kebijakan memperketat DHE akan membuat dana hasil ekspor diparkir lebih lama di dalam negeri. Harapannya, hal ini akan terus mendorong penguatan rupiah.
Pilihan Valas Saat Ekonomi Gamang
Kebijakan The Fed yang mulai dovish tidak memudarkan pamor dollar Amerika Serikat (AS) sebagai mata uang pilihan. Para analis justru melihat dollar AS masih jadi safe haven menarik.
Memang, pasca The Fed menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 bps, indeks dollar AS sempat bergerak ke bawah 103. Tapi kemarin (24/3), indeks dollar AS kembali naik ke level 103,16.
Chief Analyst DCFX Futures Lukman Leong berpendapat, keputusan The Fed menaikkan suku bunga acuan sesuai proyeksi. Yang mengejutkan justru keputusan The Fed memangkas suku bunga di tahun ini.
Kebijakan suku bunga bank sentral melunak akibat kolapsnya beberapa bank. Ada Silicon Valley Bank, Signature Bank, Silvergate Bank dan First Republic Bank yang mengalami kekurangan likuiditas.
Kondisi yang sama juga dialami bank yang berbasis di Eropa, Credit Suisse. Ini menunjukkan perbankan di Eropa tidak immune. "Ini yang membuat dollar AS dinilai menarik, karena status dollar AS yang masih menjadi safe haven bagi investor," ujar Lukman.
Masih ada sejumlah valas lain yang menurut analis menarik untuk investasi. Salah satunya mata uang Swiss, franc. Mata uang berkode CHF ini menarik setelah bank sentral Swiss menaikkan suku bunga 50 bps pekan ini. "Walau ada kejatuhan Credit Suisse, saya melihat hal ini tidak akan mengurangi daya tarik CHF," ujar Lukman.
Lukman juga menilai dollar Singapura menarik. Mata uang berkode SGD ini menjadi mata uang paling kuat secara tahunan melawan dollar AS. Dollar AS melemah 1,76% secara tahunan terhadap dollar Singapura.
Senior Economist KB Valbury Sekuritas Fikri C. Permana melihat, euro bisa menjadi hard currencies yang menarik sebagai pilihan investasi. Pasalnya, ada ekspektasi European Central Bank (ECB) masih akan meningkatkan suku bunga lebih tinggi daripada The Federal Reserve.
Untuk safe haven di Asia, menurut Fikri, yen, yuan dan won Korea bisa dicermati. Alasannya, negara-negara Asia tidak memiliki kaitan dengan bank-bank AS ataupun Eropa yang sedang kolaps. Tapi perlu diingat, yuan dan won jarang diperdagangkan di pasar valas.
MENEKAN KETERGANTUNGAN DOLAR AS : LCS DIPERLUAS KE ASEAN
Bank Indonesia akan memperluas kerja sama penggunaan mata uang lokal dalam transaksi perdagangan secara bilateral atau local currency settlement ke seluruh negara Asean dalam rangka menekan ketergantungan terhadap dolar AS sekaligus menjaga stabilitas rupiah. Perluasan itu menjadi salah satu misi utama yang akan dieksekusi oleh bank sentral sejalan dengan posisi Indonesia yang memegang Keketuaan Asean 2023 atau Asean Chairmanship 2023. Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Dody Budi Waluyo, mengatakan keketuaan Asean merupakan posisi strategis bagi Indonesia yang dapat dijadikan momentum untuk menguatkan ketahanan ekonomi nasional, termasuk di pasar uang. “LCS kita dorong di kawasan, dengan integrasi penggunaan mata uang lokal,” katanya dalam agenda Asean dan Signifikansinya Bagi Perekonomian Indonesia, Senin (13/3). Saat ini, tercatat ada empat negara yang telah melakukan kerja sama penggunaan mata uang lokal dalam transaksi perdagangan dengan Indonesia. Keempatnya adalah China, Jepang, Thailand, dan Malaysia. LCS menjadi instrumen tambahan yang dioptimalisasi oleh otoritas moneter dalam rangka menjaga stabilitas rupiah seiring dengan terus menguatnya dolar Amerika Serikat (AS) dan derasnya aliran keluar modal asing (capital outflow). Maklum, pelemahan mata uang Garuda berimpak cukup besar, tak hanya di pasar keuangan juga pada ekonomi secara makro. Dolar AS yang terus menguat mendorong kenaikan biaya produksi akibat importasi bahan baku dan penolong yang makin mahal. Sementara itu, dalam implementasinya tidak seluruh pelaku usaha atau eksportir bersedia untuk menerapkan LCS dalam setiap transaksi perdagangan. Musababnya, pebisnis terlebih dahulu memperhatikan kondisi pasar uang.
Kekuatan Mata Uang Dollar Amerika Serikat Tergantung Bunga The Fed
Kekuatan mata uang dollar Amerika Serikat (AS) terhadap mata uang dunia belakangan melemah. Ini tercermin dari penurunan indeks dollar AS yang mencapai posisi terendah dalam enam bulan terakhir.
Sepekan terakhir, indeks dollar AS masih melanjutkan pelemahan. Kemarin, Jumat (27/1), indeks yang mengukur kekuatan dollar AS terhadap enam mata uang utama dunia ini berada di posisi 101,92, turun 0,21% dari awal pekan sebelumnya.
Analis Global Kapital Investama Alwi Assegaf mengatakan, sejumlah data ekonomi AS sebenarnya tercatat melebihi ekspektasi pasar, seperti data pesanan barang tahan lama, penjualan, rumah, dan data ketenagakerjaan AS.
Menurut Alwi, pasar sebenarnya tinggal menunggu validasi dari bank sentral AS, The Fed. Pasar belum mengapresiasi data-data tersebut karena masih ada kekhawatiran terjadinya resesi.
Alwi memaparkan, penurunan indeks dollar AS juga disebabkan adanya sinyal pelemahan sektor jasa maupun manufaktur. Sehingga, ekspektasi pasar terhadap agresivitas kenaikan suku bunga The Fed menjadi turun.
Rupiah Bisa Terbang, Tapi Tidak Dalam Jangka Panjang
Posisi rupiah makin kuat di tahun ini. Fundamental ekonomi yang solid dan tren bunga The Fed yang menurun menopang penguatan mata uang Garuda. Dalam dua hari terakhir, rupiah bergerak di bawah Rp 15.000 per dollar Amerika Serikat (AS). Selasa (24/1), kurs spot rupiah sempat menguat hingga Rp 14.888 per dollar AS.
Analis Global Kapital Investama Alwi Assegaf mengatakan, indeks dollar AS memang tengah turun. Kemarin, indeks dollar AS berada di level 101,65, turun 0,22% dari hari sebelumnya. Ini level terendah dalam periode delapan bulan terakhir.
Alhasil, hampir semua mata uang Asia menguat tahun ini. Alwi menyebut, pelemahan dollar AS berkorelasi dengan ekspektasi pasar jika The Fed akan mengurangi agresivitasnya dalam menaikkan suku bunga. Pada rapat Federal Open Market Committee (FOMC) pekan depan, bank sentral AS diperkirakan hanya menaikkan bunga 25 bps.
FedWatch juga memperkirakan tingkat suku bunga AS mencapai puncaknya di level 4,75%-5% pada Juni 2023. Proyeksi ini lebih rendah daripada perkiraan suku bunga dari The Fed, di atas 5%-5,25%.
Risiko Penerbitan Rupiah Digital
Beberapa waktu lalu pemerintah bersama Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) telah menyepakati penerbitan Undang-Undang Pengembangan dan Penguatan Sistem Keuangan (P2SK). Undang-undang (UU) yang disusun secara omnibus ini menyatukan 15 UU yang berkaitan dengan seluruh ekosistem sistem keuangan di Indonesia termasuk di dalamnya tentang pengaturan mata uang rupiah. Dalam UU P2SK, jenis mata uang rupiah tidak hanya uang kertas dan uang logam sebagaimana terdapat dalam UU No. 7/2011 tentang Mata uang. Pemerintah bersama DPR telah bersepakat untuk menambah jenis mata uang rupiah yang baru dalam bentuk mata uang digital. Terbitnya jenis mata uang rupiah digital ini menandai era baru dari mata uang rupiah. Di tengah digitalisasi ekonomi yang mengubah pola pikir dan pola perilaku ekonomi masyarakat, penerbitan rupiah digital merupakan suatu keniscayaan. Bahkan saat ini sudah marak muncul mata uang bayangan (shadow currencies) yang perlahan mulai menggantikan peran dan fungsi uang fisik yang diterbitkan oleh negara. Namun, sepertinya jalan cerita penerbitan uang rupiah digital ini masih akan sangat panjang dan berliku. Di dalam UU P2SK tidak dijelaskan secara jelas dan perinci apa yang dimaksud dengan rupiah digital tersebut. Sebagaimana kita ketahui bersama, dunia digital ibarat hutan belantara yang belum terjamah manusia. Salah memahami arah dan mengambil jalan maka risikonya akan sangat fatal, tersesat dan tidak tahu jalan pulang. Apalagi jika memasuki hutan belantara tersebut pada tengah malam dan tanpa alat penerangan, sudah pasti hasilnya kita akan tersesat makin dalam. Oleh karena itu, pemerintah bersama Bank Indonesia (BI) sebagai bank sentral harus segera mengeluarkan peraturan turunan dari UU P2SK tersebut yang membahas secara jelas apa yang dimaksud dengan rupiah digital tersebut dan bagaimana mengatur dan mengelolanya supaya tidak menjadi senjata makan tuan.
Bersama Menjaga Rupiah
Tanpa kolaborasi dengan pemerintah, Bank Indonesia (BI) tak akan sanggup berjibaku menjaga stabilitas nilai tukar rupiah terhadap dollar AS. Dalam perdagangan Selasa lalu, rupiah ditutup melemah 29 poin dari sehari sebelumnya menjadi 15.675 per dollar AS. Jika dihitung sejak awal 2022, rupiah sudah terbenam 9,75%. Ekonom perperkirakan, pada tahun depan, rupiah terus melemah ke level 16 ribu per dollar AS. Pelemehan terus-menerus ini membikin cemas. Bagi pemerintah, pelemahan kurs akan menambah beban pembayaran utang luar negeri dan menipisnya pendapatan negara. Proyek-proyek infrastruktur yang mengandalkan pinjaman asing dengan bahan baku impor juga mangkrak, sedangkan bagi sektor swasta, pelemahan ini membuat biaya impor melambung, harga jual naik dan daya beli konsumen turun. (Yetede)
Pilihan Editor
-
Emiten Baja Terpapar Pembangunan IKN
24 Jan 2023 -
Cuaca Ekstrem Masih Berlanjut Sepekan Lagi
10 Oct 2022









