Mata Uang
( 132 )Aparat Pajak Mengincar Trasnsaksi Kripto
Direktur Jenderal Pajak terus mendalami semua potensi penerimaan baru dari transaksi dan perkembangan ekonomi digital. Salah satu yang jadi incaran saat ini adalah transaksi perdagangan mata uang digital atau cryptocurrency yang saat ini tengah naik daun.
Dalam hitungan Asosiasi Pedagang Aset Kripto Indonesia (Aspakrindo), tahun lalu rata-rata volume transaksi aset kripto di Indonesia mencapai Rp 40 triliun per bulan atau setara Rp 480 triliun sepanjang tahun 2020. Potensi transaksi yang besar inilah yang diendus pemerintah untuk bisa menambah penerimaan negara.
Kepala Badan Pengawasan Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) Sidharta Utama kepada KONTAN (19/4) menjelaskan rencana pemungutan pajak kripto masih tahap pembahasan bersama Kementerian Keuangan. Saat ini ada 13 pedagang aset kripto yang terdaftar di Bappebti.
Ketua Umum Aspakrindo Teguh Kurniawan Harmanda mengatakan, Bappebti memang sudah menyosialisasikan terkait pajak kripto. Aspakrindo pun mengajukan skema PPh Final untuk transaksi mata uang digital tersebut. Adapun tarif yang diajukan sebesar 0,05%.
Angka tersebut lebih rendah dibandingkan pungutan PPh Final di bursa saham yang berlaku saat ini sebesar 0,1%. Alasan Teguh, perdagangan kripto di Indonesia terbilang masih baru. Jika tarif PPh Final atas aset kripto 0,1% akan menjadi beban investor bagi dalam negeri.
Susul Tiongkok & India, Inggris Akan Buat Mata Uang Digital Britcoin
Inggris menyusul Tiongkok dan India untuk mengembangkan mata uang digital sendiri, bernama britcoin. Ini berbeda dengan mata uang kripto seperti bitcoin dan dogecoin.
Pemerintah Inggris berencana membuat mata uang digital bernama britcoin. Tiongkok dan India lebih dulu mengembangkan Central Bank Digital Currency (CBDC). Menteri Keuangan Inggris Rishi Sunak meminta bank sentral Inggris atau Bank of England (BoE) untuk mempertimbangkan pembuatan britcoin. Tujuannya, mengatasi tantangan yang ditimbulkan oleh mata uang kripto (cryptocurrency) seperti bitcoin dan dogecoin.
Pemerintah Inggris pun sudah meluncurkan gugus tugas di departemen keuangan dan BoE. "Tujuannya, mengoordinasikan pekerjaan terkait eksplorasi mata uang digital," kata Sunak dikutip dari Reuters, Senin (19/4). Sebelumnya, Gubernur BoE Andrew Bailey menilai bahwa cryptocurrency seperti bitcoin gagal bertindak sebagai penyimpan nilai yang stabil atau cara efisien untuk bertransaksi. Alhasil, bitcoin dianggap tidak cocok untuk dijadikan sebagai mata uang. Oleh karena itu, muncul wacana membuat britcoin. BoE mengatakan bahwa britcoin tidak akan menggantikan uang tunai fisik atau rekening bank yang ada.
Mata uang digital yang dikembangkan oleh bank sentral Tiongkok, India, dan Inggris itu berbeda dengan cryptocurrency. CBDC diterbitkan dan dikendalikan oleh bank sentral. Ketika bank sentral menambah jumlah uang yang beredar, maka nilainya akan menurun. Artinya, daya beli pemegang mata uang fiat juga berkurang.
(Oleh - HR1)
Wow, Kurs Bitcoin Menuju Rp 1 Miliar
Berdasarkan data Indodax, Kamis (15/4) per pukul 21.23 WIB, nilai tukar bitcoin sudah mencapai Rp 935 juta per btc. Menurut Co-founder Cryptowatch Christoper Tahir, kenaikan harga bitcoin saat ini murni karena permintaan naik.
Menurut Research & Education Coordinator Valbury Asia Futures Nanang Wahyudin, peralihan dana dari emas yang sempat jadi safe haven ke bitcoin masih terlihat. Akhir tahun lalu, JP Morgan juga melaporkan terjadi perpindahan dana mencapai US$ 7 miliar dari ETF emas ke bitcoin.
Selain itu, peminat aset kripto sendiri juga meningkat. Menurut Nanang, investor milenial lebih menyukai berinvestasi di aset kripto. Alasannya, fluktuasi harga aset kripto cukup menarik dan bisa menghasilkan gain cukup besar.
Sentimen tersebut mendorong nilai tukar bitcoin sejak awal tahun lalu. Menurut data Coinbase, harga bitcoin sudah naik 125,26% tahun ini.
Menurut Christoper, saat ini harga bitcoin sedang mencari titilikeseimbangan. Sehingga ada potensi koreksi terbatas sebelum harga kembali melanjutkan kenaikan. Kapitalisasi pasar bitcoin saat ini sudah mencapai USS 1,17 triliun. Jumlah tersebut setara dengan 52. 52,47% dari total kapitalisasi pasar mata uang kripto saat ini, yang sekitar USS 2,23 triliun.
IPO Penjual Kripto Sukses
Sejarah tercatat di bursa Amerika Serikat (AS). Coinbase Global Inc, perusahaan perantara jual beli kripto terbesar di AS melakukan debut di pasar saham. Dalam debutnya, valuasi Coinbase Global Inc mencapai USS 86 miliar pada Rabu (14/4) waktu setempat.
Saham Coinbase dibuka pada harga US$ 381 per saham, naik 52,4% dari harga referensi US$ 250 per saham yang ditetapkan pada hari sebelumnya. Valuasi Coinbase ini cukup fantastis. Sebagai perbandingan, pemilik Bursa Efek New York, Intercontinental Exchange Inc, memiliki kapitalisasi pasar US$ 66 miliar.
Bank Indonesia Peringatkan Risiko Investasi Mata Uang Kripto
BI memperingatkan mata utang kripto tak memiliki underlying asset sehingga memiliki risiko tinggi untuk investasi. Mata uang kripto juga tak boleh digunakan sebagai alat pembayaran di Indonesia.
Mata uang kripto atau cryptocurrency tengah menjadi primadona investasi, terutama di kalangan generasi muda. Bank Indonesia memperingatkan investor berhati-hati saat berinvestasi menggunakan mata uang tersebut. "Kami mewanti-wanti risikonya karena tidak ada underlying asset," kata Direktur Eksekutif Kepala Departemen Komunikasi BI Erwin Haryono dalam Media Briefing Kesiapan Sistem Pembayaran pada Ramadan dan Hari Raya Idul Fitri 1442H, Rabu (14/4).
Asisten Gubernur Kepala Departemen Kebijakan Sistem Pembayaran BI Filianingsih Hendarta menjelaskan, terdapat dua hal yang harus diperhatikan dalam berinvestasi yakni imbal hasil dan risiko. "Biasanya kalau imbal hasilnya tinggi, risikonya juga tinggi," ujar Filianingsih dalam kesempatan yang sama.
Melansir dari Coindeks.com, harga bitcoin pada perdagangan hari ini, Rabu (14/4) berada pada kisaran US$ 60.432 hingga US$ 64.516 per koin. Angkanya dalam rupiah sekitar Rp 884,2 juta sampai Rp 944 juta per koin. Bitcoin merupakan mata uang kripto terbesar di dunia. Kenaikan harganya otomatis mendorong uang kripto lainnya. Ether dalam 24 jam terakhir sudah naik lebih 9% ke US$ 2.380,31 per koin. Lalu, ripple melonjak hampir 24% menjadi US$ 1,94 per koin.
(Oleh - HR1)
Regulator Harus Pelajari Perkembangan Fintech dan Mata Uang Kripto
Komisaris Bursa Efek Indonesia Pandu Sjahrir berbicara mengenai perkembangan fintech dan prediksinya soal teknologi blockchain dan mata uang kripto.
Pandemi Covid-19 memunculkan adaptasi baru. Masyarakat menjadi semakin dekat dengan teknologi, khususnya sebagai alat pembayaran. Perusahaan teknologi keuangan atau financial technology (fintech) pun terus tumbuh dengan mengembangkan layanan baru. Pertarungan ketat di bisnis ini pun terbilang sengit. Di antara pemain utamanya yakni GoPay, OVO, ShopeePay, DANA, dan LinkAja.
“Otoritas harus bekerja sama dengan asosiasi fintech untuk membuat sistem investasi yang baik tapi juga penggunaannya terarah,” kata Komisaris Bursa Efek Indonesia Pandu Sjahrir dalam wawancara Bicara Data dengan Katadata.co.id, Rabu (7/4)
Selain membahas soal fintech, Pandu berbicara soal perkembangan dan maraknya pemakaian crytocurrency secara global. Indonesia masih jauh tertinggal dibandingkan negara maju lainnya dalam memakai mata uang kripto. Tapi pria kelahiran Boston, 17 Mei 1979, itu yakin dalam sepuluh tahun ke depan kondisinya akan berubah. “Ini seperti booming internet,” kata Pandu yang juga menjabat Komisaris Utama SEA Group.
(Oleh - HR1)
Ada Tesla - Goldman, Kapitalisasi Bitcoin dan Uang Kripto Rp 29.000 T
Bank asal Amerika Serikat (AS) Goldman Sachs dan Morgan Stanley berencana menawarkan investasi mata uang kripto (cryptocurrency), seperti bitcoin. Kapitalisasi pasarnya pun melonjak menjadi US$ 2 triliun atau sekitar Rp 29 kuadriliun per Senin (5/4).
CoinGecko dan Blockfolio menilai itu terjadi karena permintaan dari investor institusional dan ritel. Pada perdagangan Senin sore, kapitalisasi pasarnya pun mencapai US$ 2,02 triliun atau Rp 29.320 triliun.
Mata uang kripto lain yang harganya melonjak yakni ethereum. Harga cryptocurrency ini menyentuh rekor baru, yakni US$ 2.103 atau Rp 30,5 juta per koin. Kapitalisasi pasarnya pun mencapai US$ 244 miliar atau Rp 3.542 triliun.
Bitcoin telah meningkat lebih dari 100% sejak awal tahun, sementara ethereum naik hampir 190%. Keduanya secara besar-besaran mengungguli kelas aset tradisional, didukung oleh masuknya perusahaan arus utama dan investor besar, termasuk Tesla Inc dan BNY Mellon.
Powell Sebut Kripto Belum Terlalu Bermanfaat
WASHINGTON – Gubernur The Federal Reserve (The Fed) Jerome Powell menyebut mata uang kripto tetap merupakan penyimpan valuasi yang tidak stabil. Sehingga bank sentral Amerika Serikat (AS) tersebut tidak akan buru-buru memperkenalkan kompetitornya. “(Kripto) sangat volatile sehingga belum terlalu bermanfaat untuk menyimpan valuasi dan tidak dijamin oleh apapun,” ujar Powell, dalam diskusi panel virtual tentang perbankan digital yang digelar oleh Bank for International Settlements (BIS), seperti dilansir CNBC, Senin (22/3).
Powell berbicara pada saat harga bitcoin, selaku mata uang kripto terbesar, turun di Coinbase tapi masih diperdagangkan di kisaran US$ 57.000 per koinnya. Harga mata uang kripto tersebut melonjak dalam tujuh bulan terakhir. Setelah transaksinya meningkat dan semakin diterima oleh industri finansial global. Selama beberapa tahun terakhir, The Fed mengembangkan sistem pembayaran sendiri. Yang dapat memfasilitasi transfer uang lebih cepat. Tapi produk finalnya kemungkinan baru keluar dalam dua tahun ke depan. Menurut Powell, Kongres kemungkinan harus mengesahkan dulu legislasi terkait sebelum The Fed dapat mengembangkan mata uang digital sendiri. Walau begitu, Powell menekankan bahwa pandemi Covid-19 telah menunjukkan pentingnya pengembangan sistem pembayaran yang lebih baik. Agar dana tunai dapat lebih cepat sampai kepada semua yang membutuhkan
(Oleh - HR1)
Bitcoin, Mata Uang DIgital yang Mengancam Bank Sentral
Mata uang digital Bitcoin (BTC) yang diciptakan oleh individu / komunitas yang menamakan diri Satoshi Nakamoto' pada tahun 2009.
Berdasarkan paper berjudul “Bitcoin A Peer-to-Peer Electeonic Caah System” yang ditulis Satoshi Nakamoto, Ia merupakan versi peer-to-peer dari uang elektronik yang memungkinkan pembayaran online dilakukan secara langsung dari satu pihak ke pihak lain tanpa melalui institusi keuangan.
Secara teknis, Bitcoin memanfaatkan Blockchain. Blockchain mendesentrallsasikan basis data ke seluruh jaringan yang tergabung dengannya. Data yang disebarkan, telah terlebih dahulu dienkripsi. Ketika data baru ditambah, seluruh komputer yang terlibat dalam jaringan berkewajiban memverifikasi data. Secera sederhana Blockchain adalah antitesa dari model database Clien-Server.
Bitcoin melawan praktik dominasi institusi keuangan konvensional, berikut perusahaan pihak ketiganya, atas transaksi online. Institusi keuangan yang jadi penengah tersebut dianggap Nakamoto meningkatkan biaya transaksi yang harus ditanggung oleh nasabah.
BI: Penerbitan Mata Uang Digital Banking untuk Memitigasi Shadow Banking
JAKARTA, investor.id– Bank Indonesia (BI) menyebutkan, tiap bank sentral memiliki motivasi yang berbeda dalam menerbitkan mata uang digital atau central bank digital currency (CBDC). Bagi negara berkembang seperti Indonesia, penerbitan CBDC lebih dipengaruhi oleh faktor untuk memperoleh efisiensi sistem pembayaran domestik dan keuangan inklusif serta memitigasi praktik perbankan bayangan (shadow banking).
“Sedangkan motivasi penerbitan CBDC negara maju didorong kebutuhan untuk mendukung keamanan pembayaran dan stabilitas keuangan, memitigasi private digital currency, dan merespons penggunaan uang kartal menjadi key driver utama negara-negara tersebut dalam melakukan eksplorasi,” ujar Kepala Departemen Komunikasi BI Erwin Haryono dalam jawaban tertulis atas pertanyaan Investor Daily, Kamis (25/2) malam. Jawaban Erwin itu diberikan atas pertanyaan dan pemintaan penjelasan lebih jauh terkait pernyataan Gubernur BI Perry Warjiyo yang menyebutkan, bank sentral tengah menyiapkan pembentukan mata uang rupiah digital yang disebut central bank digital currency. Ini dilakukan menyusul maraknya penggunaan mata uang kripto atau cryptocurrency, salah satunya Bitcoin.
Shadow banking atau sering juga sering disebut dengan “bank bawah tanah” merupakan istilah umum untuk menggambarkan kegiatan keuangan yang terjadi di antara lembaga keuangan nonbank, namun di luar ruang lingkup regulator. Artinya, kegiatan shadow banking ini terhindar atau lepas dari pengawasan otoritas perbankan.
Terkait dengan rencana penerbitan implementasi CBDC ini, kata Erwin, BI telah melakukan kajian atau asesmen untuk melihat potensi dan manfaat CBDC dikaitkan dengan kondisi di Indonesia. Kajian ini juga meliputi implikasi atas perbedaan desain dan arsitektur CBDC yang akan dipilih, beserta mitigasi risikonya.
(Oleh - HR1)
Pilihan Editor
-
Upaya Menegakkan Jurnalisme Berkeadilan
01 Aug 2022 -
Hati-hati Rekor Inflasi
02 Aug 2022 -
Kegagalan Sistem Pangan Indonesia
06 Aug 2022









