Awas, Rupiah Terkena Serangan Sentimen Ganas
Nilai tukar rupiah terus melemah menuju level psikologis Rp 16.000 per dolar Amerika Serikat (AS). Narasi suku bunga acuan AS akan bertahan lebih lama di level tinggi menimbulkan tekanan pada mata uang global, termasuk mata uang Garuda. Dikutip dari Bloomberg, rupiah berada di posisi Rp 15.615 per dolar AS pada awal pekan lalu terjun bebas hingga hingga menembus level terendah Rp 15.826 dalam sepekan pada Kamis (25/1). Pada perdagangan Jumat (26/1), rupiah di pasar spot naik tipis ke posisi Rp 15.825. Dalam sepekan, rupiah sudah turun 1,34%. Sejak awal tahun, rupiah sudah terkoreksi 2,76% terhadap dolar AS. Pengamat Komoditas dan Mata Uang, Lukman Leong mengatakan, ekspektasi suku bunga acuan AS bakal dipangkas pada bulan Maret 2024 mulai runtuh. Ini tercermin dari probabilitas The Federal Reserve memotong suku bunga pada Maret turun hingga ke bawah 50%. Sementara itu, stimulus China yang diharapkan berdampak positif untuk pasar Asia, belum mampu mengangkat rupiah. "Nilai tukar rupiah sangat mudah menembus level harga Rp 16.000 per dolar AS apabila Bank Indonesia (BI) tidak rutin intervensi," ujar Lukman, Minggu (28/1). Research And Development Handal Semesta Berjangka, Alwi Assegaf melihat, rupiah tidak bisa berbuat banyak. Pasalnya, indeks dolar AS baru-baru ini mencapai level tertinggi enam pekan terakhir. Pemicunya adalah sentimen yang menguatkan aset safe haven seperti dolar AS dan ekspektasi The Fed memangkas suku bunga di awal tahun ini yang perlahan memudar. Penguatan dolar AS juga berkat dorongan dari kenaikan yield US Treasury tenor 10 tahun yang kini berada di atas 4%. Tingginya imbal hasil (yield) obligasi AS dapat menarik lebih banyak dana investasi ke negari Paman Sam sehingga yang berdampak pada penguatan dolar AS.Pergerakan USD/IDR secara teknikal sudah overbought, sehingga memberi peluang rupiah bakal menguat. Hanya saja, Alwi mengamati, level 16.000 mungkin bakal menjadi area psikologis rupiah pada akhir kuartal I-2024, seiring narasi suku bunga tinggi masih membayangi pasar.
Postingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023