Mata Uang
( 133 )Modal Awal untuk Mempertahankan Stabilitas Rupiah
Dana Moneter Internasional atau International Monetary Fund (IMF) memproyeksikan current account atau neraca transaksi berjalan Indonesia bergerak surplus hingga tahun 2029. Di saat yang sama, sejumlah ekonom memperkirakan rupiah berpotensi bergerak ke bawah Rp 16.000 per dolar AS tahun ini, dengan catatan The Fed memangkas suku bunga dan harga minyak global stabil. Pada tahun ini, IMF memprediksi neraca transaksi berjalan masih defisit 0,2% dari produk domestik bruto (PDB). Adapun pada 2025 berpotensi berbalik surplus sebesar 0,3% dari PDB. Adapun pada 2026 hingga 2029, neraca transaksi berjalan Indonesia diperkirakan surplus 0,5% PDB, kemudian surplus naik lagi menjadi 0,6% PDB pada 2029. Meski neraca transaksi berjalan diperkirakan positif, IMF melihat neraca pembayaran Indonesia (NPI) justru mencatatkan defisit hingga 2029. Defisit ini bahkan diperkirakan semakin melebar. Ekonom Bank Danamon Hosianna Evalia Situmorang berpendapat, ke depan perekonomian diharapkan bisa tumbuh semakin besar. Sejalan dengan itu, arus investasi asing yang masuk, juga ekspor dan impor kemungkinan meningkat.
Dengan pertumbuhan ekspor dan impor, posisi neraca transaksi berjalan berpotensi meningkat. Dia memperkirakan nilai tukar rupiah selama tiga tahun ke depan berkisar Rp 15.300 hingga Rp 16.000 per dolar AS. Meski begitu, pelemahan rupiah bukan berarti menjadi negatif. Hal ini lantaran fundamental makroekonomi domestik terus membaik. Pada Jumat (9/8) pekan lalu, nilai tukar rupiah berada di level Rp 15.914 per dolar AS. Angka ini sudah menguat 2% dalam sepekan terakhir. Namun sejak awal tahun atau year-to-date (ytd), posisi rupiah masih melemah 2,85% terhadap dolar AS. Sedangkan Staf Bidang Ekonomi, Industri dan Global Markets Bank Maybank Indonesia, Myrdal Gunarto justru melihat neraca transaksi berjalan Indonesia masih mencatatkan defisit dalam lima hingga enam tahun ke depan. Di sisi lain, investasi juga tetap menarik sehingga masih harus terus membayar dividen, serta membayar imbal hasil obligasi, terutama kepada investor asing. Faktor inilah yang akan menyebabkan neraca transaksi berjalan masih defisit. Apabila Bank Sentral AS (The Fed) menurunkan suku bunga lebih dari 25 basis poin (bps) pada 2024, maka nilai tukar rupiah menguat di kisaran Rp 15.700 per dolar AS. Kemudian, apabila The Fed menurunkan suku bunga 25 bps pada 2025, maka nilai tukar rupiah berpotensi menguat ke level Rp 15.500 per dolar AS. Jika pada 2027 The Fed tidak mengubah kebijakan suku bunganya, dan harga minyak global stabil, maka rupiah masih bergerak stabil di Rp 15.500 per dolar AS.
Yen Terangkat Prospek Bunga
Kurs Rupiah Masih Bergerak Dalam Mode Wsspada
Rupiah Masih Akan Melemah
Mata Uang Asia Primadona Saat Dolar AS Perkasa
Dolar Amerika Serikat (AS) semakin bertaji pasca The Federal Reserve (The Fed) memberikan sinyal pemangkasan suku bunga tidak akan dilakukan terburu-buru. Proyeksi Fed juga menunjukkan kemungkinan pemangkasan hanya satu kali di 2024, lebih sedikit dibandingkan ekspektasi pasar yang sebanyak dua kali. Penguatan dolar AS ini membuat mata uang Asia kian tertekan. Sebulan terakhir, rupiah menjadi mata uang Asia berkinerja terburuk dengan penurunan sebesar 2,36%. Menyusul won Korea (KRW) yang turun 1,86% dan baht Thailand (THB) yang terkoreksi 1,5%. Pengamat Komoditas dan Mata Uang Lukman Leong menuturkan, dolar AS ibarat safe haven dengan citarasa emerging currency. Artinya valuta ini aman, tapi berimbal hasil tinggi. Sedangkan China, juga memiliki kemampuan mengatur nilai tukar dan senantiasa menjaga volatilitas mata uangnya. Dengan begitu, dia menilai, bagi investor yang defensif maka kedua mata uang tersebut akan memiliki performa atau kinerja yang lebih baik beberapa bulan ke depan, kendati bukan berarti akan menguat terhadap dolar AS.
Sementara treasury bank asal Eropa di Singapura mengatakan, selain dolar Singapura sebagai "safe haven" Asia, saat ini rupee India menjadi favorit. Ada beberapa faktor. Yakni, India masuk Bloomberg Bond Index, banyak modal Amerika Serikat di negeri itu dan sebagai alternatif perusahaan global menempatkan basis produksi. Menurut Lukman, jika prospek pemangkasan suku bunga The Fed sudah mulai menguat, maka mata uang emerging market seperti ringgit Malaysia (MYR), rupiah (IDR) dan peso Filipina (PHP) yang selama ini tertekan oleh kebijakan The Fed, justru akan menguat lebih signifikan. "Juga akan terjadi dengan yen Jepang (JPY)," ujar Lukman, Rabu (19/6). Data penjualan ritel AS yang lebih lemah dari perkiraan menghidupkan kembali harapan penurunan suku bunga dalam waktu dekat. Situasi ini mendorong dolar AS sedikit terkoreksi. Prediksi Lukman, pada akhir tahun 2024, CNY akan berada pada kisaran 7,15-7,20 per dolar AS. Kemarin (19/6) pairing USD/CNY berada di 7,25.
Sedangkan SGD diproyeksikan berada di kisaran 1,335-1,345 per dolar AS pada akhir tahun ini. Pasangan USD/SGD kemarin naik 0,03% ke 1,3504. Sementara Direktur Laba Forexindo Berjangka, Ibrahim Assuaibi mengatakan, mata uang Asia yang bisa dikoleksi di tengah menguatnya dolar AS yaitu SGD dan IDR. Menurut jajak pendapat Reuters, BI diperkirakan akan mempertahankan suku bunga pada rapat dewan gubernur (RDG) pekan ini. Namun, dengan pelemahan nilai tukar rupiah dan ketidakpastian mengenai transisi politik dan prospek fiskal yang sedang berlangsung, beberapa analis juga melihat potensi kenaikan suku bunga oleh BI. "Kenaikan suku bunga diperlukan untuk memenuhi janji BI dalam menggunakan kebijakan moneter untuk menahan volatilitas rupiah," kata Fakhrul Fulvian, ekonom di Trimegah Securities, seperti dikutip Reuters, Rabu (19/6).
Rupiah Tertekan, Ruang Fiskal Makin Sempit
Pemerintah perlu mencermati tren pelemahan rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Jika rupiah semakin terpuruk, konsekuensinya anggaran belanja membengkak dan ruang fiskal pemerintah semakin sempit. Di saat yang sama, pemerintahan transisi sedang membutuhkan anggaran besar untuk memenuhi janji-janji politik. Berdasarkan data Bank Indonesia, rupiah kemarin ditutup di level Rp 16.297 per dolar AS. Angka ini sudah melorot 10% dalam setahun terakhir (year-on-year/yoy). Sudah mafhum, setiap pelemahan nilai tukar rupiah akan menyumbang defisit APBN, karena belanja negara jauh lebih tinggi ketimbang potensi pendapatannya. Mengacu sensitivitas ekonomi makro terhadap APBN, setiap rupiah melemah Rp 100 per dolar AS, maka belanja negara akan meningkat Rp 10,2 triliun. Ekonom Center of Reform on Economic (Core) Indonesia Yusuf Rendy Manilet menghitung, jika rupiah melemah dan menyentuh Rp 16.300 per dolar AS, maka mengakibatkan peningkatan belanja subsidi dan pembayaran utang hingga Rp 30 triliun.
"Ini berarti pemerintah harus menyediakan tambahan anggaran Rp 30 triliun untuk menutupi peningkatan biaya yang disebabkan pelemahan nilai tukar tersebut," tutur dia, kemarin. Jika kenaikan beban bunga utang tidak diimbangi dengan peningkatan penerimaan atau meredam pengeluaran lain, maka defisit APBN akan meningkat. Kondisi itu kian menekan anggaran karena penerimaan negara dari pajak juga masih seret. Kondisi pasar dan pengelolaan fiskal Indonesia juga disorot lembaga keuangan internasional Morgan Stanley, yang menurunkan rekomendasi saham-saham Indonesia menjadi underweight. "Kami melihat ketidakpastian dalam arah kebijakan fiskal Indonesia di masa mendatang, serta pelemahan rupiah di tengah tingginya suku bunga AS dan prospek dolar AS yang kuat," kata Morgan Stanley. Direktur Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan, Suminto, Selasa (11/6) mengatakan, risiko pelemahan rupiah terhadap beban dan pengelolaan utang pemerintah akan tetap terkelola dengan baik.
Rupiah Menguat Temporer
Masih Potensi Fluktuatif
Mata Uang Utama Berpotensi Menguat
Keperkasaan dolar Amerika Serikat (AS) yang masih dominan menekan laju sejumlah mata uang utama. Namun diperkirakan laju mata uang utama lainnya akan kembali naik seiring pemangkasan suku bunga the Fed. Pengamat Komoditas dan Mata Uang Lukman Leong mengatakan, sejumlah data ekonomi AS, seperti Non-Farm Payroll, dan Jobless Claim berada di bawah ekspektasi. Namun, dolar AS juga didukung oleh pernyataan hawkish dari pejabat-pejabat The Fed pada pertemuan FOMC. Di sisi lain, dengan inflasi AS yang lebih tinggi membuat investor meyakini penurunan suku bunga Fed akan lebih lambat dibandingkan sejumlah bank sentral lainnya.
Bank of England (BoE) dan European Central Bank (ECB) diperkirakan akan menurunkan suku bunga pada Juni. Sedangkan Reserve Bank of Australia (RBA) diprediksi akan mulai menurunkan suku bunga tahun depan. Founder Kepointrading.com Alwi Assegaf bilang, dengan ekspektasi adanya pemangkasan suku bunga The Fed, maka prospek mata uang utama tersebut akan kembali naik. Alwi memperkirakan pada semester I 2024 mata uang utama masih akan bergerak di kisaran angka saat ini. GPB diperkirakan bergerak dengan support 1,2400 dan resistance 1,2650.
Bijak Menyikapi Melemahnya Rupiah
You will continue to suffer if you have an emotional reaction to everything that is said to you. True power is sitting back and observing things with magic. True power is restraint. If words control you that means everyone else can control you. Breathe and allow things to pass. Warren Buffet. Apa yang dikatakan oleh Warren Buffet ini relevan dengan perkembangan saat ini. Di tengah meningkatnya ketidakpastian, bermunculan komentar pengamat mengenai prediksi nilai tukar rupiah ke depan. Sebagian pengamat memperkirakan pelemahan rupiah akan berlanjut hingga ke level di atas Rp16.200, antara lain karena faktor The Fed menunda penurunan suku bunga dan memanasnya geopolitik.Terdapat pula pandangan pengamat yang mengaitkan pelemahan rupiah dengan program pemerintah mendatang yang akan membebani anggaran fiskal. Pandangan ini tentu saja memengaruhi ekspektasi masyarakat. Padahal, argumen yang disampaikan tidak sepenuhnya benar. Misalnya, terkait dengan anggaran fiskal, Kementerian Keuangan tentu akan menjaga dan mencari keseimbangan anggaran sehingga program kerja pemerintah mendatang tidak akan membebani anggaran fiskal.
Setidaknya terdapat tiga alasan kenapa kita tidak perlu khawatir terhadap kondisi rupiah saat ini. Pertama, pelemahan mata uang adalah fenomena global. Dengan kata lain, rupiah tidak sendirian melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Kedua, ekonomi Indonesia memiliki ketahanan yang kuat. Di tahun ini, ekonomi Indonesia diperkirakan tumbuh pada kisaran 4,7%—5,5%. Prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia ini lebih baik dibandingkan beberapa negara maju dan berkembang lainnya di dunia. Inflasi IHK diperkirakan terjaga di kisaran 2,5%±1% pada 2024. Ketiga, Bank Indonesia masih memiliki ruang kebijakan yang cukup untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Pada Rapat Dewan Gubernur pada 23—24 April 2024, Bank Indonesia menaikkan BI Rate sebesar 25 bps menjadi 6,25%.
Kebijakan tersebut diperkuat dengan sinergi yang erat antara Bank Indonesia dengan pemerintah pusat, pemerintah daerah, lembaga dan otoritas di Indonesia khususnya untuk mengendalikan inflasi di dalam negeri. Melihat berbagai faktor di atas, diyakini bahwa sinergi antara otoritas moneter dan otoritas fiskal akan dapat menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Keyakinan tersebut juga didukung oleh figur pemimpin dari Bank Indonesia dan Kementerian Keuangan yang memiliki leadership yang kuat. Dalam hal ini, Gubernur Perry Warjiyo dan Menteri Keuangan Sri Mulyani telah banyak ‘makan asam garam’ karena telah melewati berbagai krisis sebelumnya. Dua tokoh ini memiliki know how yang dapat membawa Indonesia mengarungi ketidakpastian global dengan selamat. Saat ini, Indonesia sudah memiliki kerja sama local currency transaction dengan beberapa negara, yaitu Malaysia, Singapura, Thailand, Jepang, China, Korea Selatan, dan India. Selain itu, pelaku usaha hendaknya melakukan lindung nilai atau hedging sehingga dapat terhindar dari risiko volatilitas nilai tukar.
Pilihan Editor
-
Parkir Devisa Perlu Diiringi Insentif
15 Jul 2023 -
Transisi Energi Membutuhkan Biaya Besar
13 Jul 2023 -
Izin Satu Pintu Diuji Coba
13 Jul 2023 -
Ekspansi Nikel Picu Deforestasi 25.000 Hektar
14 Jul 2023 -
Masih Kokoh Berkat Proyek IKN
13 Jul 2023









