Bijak Menyikapi Melemahnya Rupiah
You will continue to suffer if you have an emotional reaction to everything that is said to you. True power is sitting back and observing things with magic. True power is restraint. If words control you that means everyone else can control you. Breathe and allow things to pass. Warren Buffet. Apa yang dikatakan oleh Warren Buffet ini relevan dengan perkembangan saat ini. Di tengah meningkatnya ketidakpastian, bermunculan komentar pengamat mengenai prediksi nilai tukar rupiah ke depan. Sebagian pengamat memperkirakan pelemahan rupiah akan berlanjut hingga ke level di atas Rp16.200, antara lain karena faktor The Fed menunda penurunan suku bunga dan memanasnya geopolitik.Terdapat pula pandangan pengamat yang mengaitkan pelemahan rupiah dengan program pemerintah mendatang yang akan membebani anggaran fiskal. Pandangan ini tentu saja memengaruhi ekspektasi masyarakat. Padahal, argumen yang disampaikan tidak sepenuhnya benar. Misalnya, terkait dengan anggaran fiskal, Kementerian Keuangan tentu akan menjaga dan mencari keseimbangan anggaran sehingga program kerja pemerintah mendatang tidak akan membebani anggaran fiskal.
Setidaknya terdapat tiga alasan kenapa kita tidak perlu khawatir terhadap kondisi rupiah saat ini. Pertama, pelemahan mata uang adalah fenomena global. Dengan kata lain, rupiah tidak sendirian melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Kedua, ekonomi Indonesia memiliki ketahanan yang kuat. Di tahun ini, ekonomi Indonesia diperkirakan tumbuh pada kisaran 4,7%—5,5%. Prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia ini lebih baik dibandingkan beberapa negara maju dan berkembang lainnya di dunia. Inflasi IHK diperkirakan terjaga di kisaran 2,5%±1% pada 2024. Ketiga, Bank Indonesia masih memiliki ruang kebijakan yang cukup untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Pada Rapat Dewan Gubernur pada 23—24 April 2024, Bank Indonesia menaikkan BI Rate sebesar 25 bps menjadi 6,25%.
Kebijakan tersebut diperkuat dengan sinergi yang erat antara Bank Indonesia dengan pemerintah pusat, pemerintah daerah, lembaga dan otoritas di Indonesia khususnya untuk mengendalikan inflasi di dalam negeri. Melihat berbagai faktor di atas, diyakini bahwa sinergi antara otoritas moneter dan otoritas fiskal akan dapat menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Keyakinan tersebut juga didukung oleh figur pemimpin dari Bank Indonesia dan Kementerian Keuangan yang memiliki leadership yang kuat. Dalam hal ini, Gubernur Perry Warjiyo dan Menteri Keuangan Sri Mulyani telah banyak ‘makan asam garam’ karena telah melewati berbagai krisis sebelumnya. Dua tokoh ini memiliki know how yang dapat membawa Indonesia mengarungi ketidakpastian global dengan selamat. Saat ini, Indonesia sudah memiliki kerja sama local currency transaction dengan beberapa negara, yaitu Malaysia, Singapura, Thailand, Jepang, China, Korea Selatan, dan India. Selain itu, pelaku usaha hendaknya melakukan lindung nilai atau hedging sehingga dapat terhindar dari risiko volatilitas nilai tukar.
Postingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023