Mata Uang Asia Primadona Saat Dolar AS Perkasa
Dolar Amerika Serikat (AS) semakin bertaji pasca The Federal Reserve (The Fed) memberikan sinyal pemangkasan suku bunga tidak akan dilakukan terburu-buru. Proyeksi Fed juga menunjukkan kemungkinan pemangkasan hanya satu kali di 2024, lebih sedikit dibandingkan ekspektasi pasar yang sebanyak dua kali. Penguatan dolar AS ini membuat mata uang Asia kian tertekan. Sebulan terakhir, rupiah menjadi mata uang Asia berkinerja terburuk dengan penurunan sebesar 2,36%. Menyusul won Korea (KRW) yang turun 1,86% dan baht Thailand (THB) yang terkoreksi 1,5%. Pengamat Komoditas dan Mata Uang Lukman Leong menuturkan, dolar AS ibarat safe haven dengan citarasa emerging currency. Artinya valuta ini aman, tapi berimbal hasil tinggi. Sedangkan China, juga memiliki kemampuan mengatur nilai tukar dan senantiasa menjaga volatilitas mata uangnya. Dengan begitu, dia menilai, bagi investor yang defensif maka kedua mata uang tersebut akan memiliki performa atau kinerja yang lebih baik beberapa bulan ke depan, kendati bukan berarti akan menguat terhadap dolar AS.
Sementara treasury bank asal Eropa di Singapura mengatakan, selain dolar Singapura sebagai "safe haven" Asia, saat ini rupee India menjadi favorit. Ada beberapa faktor. Yakni, India masuk Bloomberg Bond Index, banyak modal Amerika Serikat di negeri itu dan sebagai alternatif perusahaan global menempatkan basis produksi. Menurut Lukman, jika prospek pemangkasan suku bunga The Fed sudah mulai menguat, maka mata uang emerging market seperti ringgit Malaysia (MYR), rupiah (IDR) dan peso Filipina (PHP) yang selama ini tertekan oleh kebijakan The Fed, justru akan menguat lebih signifikan. "Juga akan terjadi dengan yen Jepang (JPY)," ujar Lukman, Rabu (19/6). Data penjualan ritel AS yang lebih lemah dari perkiraan menghidupkan kembali harapan penurunan suku bunga dalam waktu dekat. Situasi ini mendorong dolar AS sedikit terkoreksi. Prediksi Lukman, pada akhir tahun 2024, CNY akan berada pada kisaran 7,15-7,20 per dolar AS. Kemarin (19/6) pairing USD/CNY berada di 7,25.
Sedangkan SGD diproyeksikan berada di kisaran 1,335-1,345 per dolar AS pada akhir tahun ini. Pasangan USD/SGD kemarin naik 0,03% ke 1,3504. Sementara Direktur Laba Forexindo Berjangka, Ibrahim Assuaibi mengatakan, mata uang Asia yang bisa dikoleksi di tengah menguatnya dolar AS yaitu SGD dan IDR. Menurut jajak pendapat Reuters, BI diperkirakan akan mempertahankan suku bunga pada rapat dewan gubernur (RDG) pekan ini. Namun, dengan pelemahan nilai tukar rupiah dan ketidakpastian mengenai transisi politik dan prospek fiskal yang sedang berlangsung, beberapa analis juga melihat potensi kenaikan suku bunga oleh BI. "Kenaikan suku bunga diperlukan untuk memenuhi janji BI dalam menggunakan kebijakan moneter untuk menahan volatilitas rupiah," kata Fakhrul Fulvian, ekonom di Trimegah Securities, seperti dikutip Reuters, Rabu (19/6).
Postingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023