Arah Rupiah Masih Sideways
Rupiah diprediksi bergerak sideways di awal pekan ini, seiring minimnya data ekonomi. Pada Rabu lalu (7/2), di pasar spot rupiah menguat 0,60% ke US$ 15.635 per dolar Amerika Serikat (AS) dan di rupiah Jisdor Bank Indonesia (BI) menguat 0,31% ke Rp 15.685 per dolar AS. Fikri C. Permana, Senior Economist KB Valbury Sekuritas melihatf menguatnya rupiah didorong revisi penurunan inflasi AS. Ini menyebabkan ada ekspektasi penurunan fed rate jadi lebih cepat. Terlihat dari kenaikan probabilitas penurunan fed rate di Maret menjadi 19% dari 17%. Lalu di Mei juga meningkat dari 54% menjadi 57%. Pada Senin (12/2), Fikri memperkirakan, rupiah cenderung sideways dengan kecenderungan sedikit menguat seiring penurunan USD Index. Sebab belum ada data ekonomi yang signifikan dapat menggerakan rupiah. "Investor masih menunggu data inflasi AS dan sejumlah data dari dalam negeri pada Selasa," tambahnya. Pengamat komoditas dan mata uang Lukman Leong berpendapat, rupiah justru diperkirakan masih bisa tertekan oleh faktor internal pilpres tahun 2024. Walau demikian, koreksi pada dolar AS setelah revisi ke bawah pada inflasi AS bisa mendukung rupiah.
Tags :
#Mata UangPostingan Terkait
Eskalasi Konflik Amerika Serikat – Iran
03 Feb 2026
Prospek Perbaikan Ekonomi di Paruh Kedua Tahun
30 Jun 2025
Peluang Bisnis PT Garuda Indonesia
26 Jun 2025
Waspadai Dampak Perang pada Anggaran Negara
24 Jun 2025
Pasar Dalam Tekanan
23 Jun 2025
Harga Energi Naik-Turun, Investor Perlu Cermat
21 Jun 2025
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023