MEMPERTEBAL TAMENG RUPIAH
Pelemahan rupiah yang terjadi bulan lalu betul-betul memukul sendi-sendi ekonomi nasional, utamanya pasar keuangan. Pemangku kebijakan pun berjibaku menjaga stabilitas mata uang Garuda.Otoritas terkait juga telah unjuk gigi dalam melakukan intervensi agar rupiah tak terus kalah melawan dolar Amerika Serikat (AS). Dalam konteks ini, Bank Indonesia (BI) terpantau amat aktif melakukan stabilitas.Aksi otoritas moneter cukup gesit terutama melalui intervensi di pasar valuta asing. Hasilnya tak bisa dibilang gagal, meski tak dapat pula dikatakan sukses.Buktinya, pada perdagangan kemarin, Selasa (7/11), nilai tukar rupiah terhadap dolar AS ditutup melemah melemah 0,62% atau 97 poin ke level Rp15.636. Pemerintah dan BI pun perlu menguatkan kuda-kuda untuk menopang mata uang Garuda.Di sisi lain, masifnya intervensi di pasar valuta asing menguras cadangan devisa yang per akhir bulan lalu parkir di angka US$133,1 miliar, terendah sepanjang warsa ini.
Adapun, instrumen tambahan yang disediakan BI yakni Sekuritas Valas BI (SVBI) dan Sukuk Valas BI (SUVBI) baru diimplementasikan 21 November 2023.
Kepala Departemen Pengelolaan Moneter BI Edi Susianto, menegaskan bahwa posisi cadangan devisa masih sangat aman meski berada pada tingkat yang rendah setidaknya pada tahun ini.Posisi cadangan devisa tersebut setara dengan pembiayaan 6,1 bulan impor atau 5,9 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor.
Atas dasar itulah pemerintah melakukan evaluasi terhadap implementasi DHE SDA yang telah diterapkan sejak tiga bulan lalu. Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Susiwijono Moegiarso, mengatakan ada beberapa poin yang menjadi bahan evaluasi dari kebijakan DHE.Beberapa di antaranya yakni pemasukan DHE ke rekening khusus, penempatan DHE pada instrumen yang ditetapkan, evaluasi atas komoditas, pemanfaatan instrumen, serta integrasi sistem informasi.
Sementara itu, kalangan pelaku usaha mendukung evaluasi DHE itu menyusul realisasi yang masih jauh dari potensi.Ketua Komite Tetap Kebijakan Publik Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Chandra Wahjudi, mengatakan pemerintah juga perlu mengkaji adanya insentif tambahan bagi dunia usaha.
Di sisi lain, tekanan cadangan devisa pada sisa tahun ini diprediksi lebih berat. Pasalnya, Bank Sentral AS Federal Reserve (The Fed) masih memiliki ruang untuk menaikkan suku bunga acuan pada pertemuan terakhir tahun ini.
Kalangan ekonom pun tak menampik cadangan devisa berisiko terus menyusut apabila pemerintah dan BI tidak mengoptimalisasi instrumen yang ada.Ekonom Makroekonomi dan Pasar Keuangan LPEM FEB Universitas Indonesia Teuku Riefky, tekanan cadangan devisa muncul dari penurunan ekspor akibat pelemahan komoditas. Kemudian, implementasi DHE SDA dan SRBI masih belum optimal, sementara pada saat bersamaan bank sentral negara maju menerapkan kebijakan higher for longer.
Postingan Terkait
Potensi Tekanan Tambahan pada Target Pajak
Perang Global Picu Lonjakan Utang
Arus Modal Asing Bersiap Masuk
Waspadai Dampak Perang pada Anggaran Negara
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023