Portofolio
( 322 )BUKA Fokus Benahi Strategi Bisnis
Ekspansi Bisnis Diperkuat Melalui Akuisisi
Kinerja PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE) diproyeksi bakal tumbuh. Ini seiring akuisisi saham PT Suryamas Dutamakmur Tbk (SMDM) yang akan menambah lahan untuk ekspansi. Kinerja BSDE pada kuartal III-2024 juga cukup baik. Pendapatan sebesar Rp 2,7 triliun atau meningkat 17,8% secara tahunan alias year-on-year (yoy), tetapi secara kuartalan (qoq) terkoreksi 23,8%. Secara kumulatif pendapatan sembilan bulan 2024 BSDE sebesar Rp 10,1 triliun, meningkat 37,7% yoy. Aqil Triyadi, Analis Panin Sekuritas mencermati, penurunan secara kuartalan disebabkan oleh musim serah terima produk komersial yang lebih rendah pada kuartal III. Kemudian kenaikan recurring income seperti sewa, hotel, pengelolaan gedung, jalan tol, dan lainnya sebesar 3,3% yoy menjadi Rp 1,3 triliun. Sementara segmen komersial berkontribusi 36% dan penjualan tanah 8%. Analis Sucor Sekuritas, Niko Pandowo menambahkan, kinerja BSDE ditopang peningkatan marketing sales di kuartal III sebesar 2% yoy menjadi Rp 2 triliun. Pertumbuhan ini didorong kontribusi kuat dari penjualan ruko yang mencapai Rp 566 miliar, naik 59% yoy.
"Serta membantu mengimbangi kinerja yang kurang baik di segmen perumahan yang hanya Rp 1,2 triliun atau terkoreksi 15% yoy," tulis Niko dalam riset 4 November 2024.
Kinerja kuartal III-2024 juga mendapat dorongan dari beberapa peluncuran properti yaitu ruko Northridge Ultimate di BSD Fase 3 dengan tingkat penyerapan 67% dan pendapatan sebesar Rp 213 miliar. Lalu, The Kaia "Yara" di Grand Wisata Bekasi dengan tingkat penyerapan 47% yang menyumbang Rp 118 miliar. Serta Townville di Grand City Balikpapan dengan tingkat penyerapan 50% yang menambah Rp 52 miliar.
Head of Investment
Reswara Gian Investa, Kiswoyo Adi Joe menilai, SMDM memiliki lahan kosong yang besar, hal ini bisa dimanfaatkan BSDE untuk memperluas wilayah pembangunan properti. "Kinerja SMDM bisa berkontribusi 10% - 20% di tahun depan," kata Kiswoyo, (6/11).
Pemangkasan bunga acuan juga menjadi katalis positif bagi emiten properti, termasuk BSDE. Kiswoyo memproyeksi laba BSDE akan tumbuh di atas 25% di akhir 2024. Sementara Nico memprediksi pendapatan BSDE pada akhir tahun sebesar Rp 12,19 triliun.
Kawasan Industri Catatkan Laba Besar
Emiten properti kawasan industri terus membukukan kinerja positif hingga akhir kuartal III-2024. Terbaru, PT Surya Semesta Internusa Tbk (SSIA) melaporkan kinerja pendapatannya mencapai Rp 3,86 triliun sepanjang Januari-September 2024.
Pendapatan SSIA itu naik 27,85% secara tahunan dari Rp 3,76 triliun di periode sama tahun 2023. Alhasil, SSIA berhasil membalikkan kerugian Rp 23,69 miliar pada periode Januari-September 2023 jadi laba bersih Rp 228,41 miliar di sembilan bulan 2024.
Vice President of Investor Relations & Corporate Communications
Surya Semesta Internusa, Erlin Budiman bilang, pertumbuhan pendapatan pada periode yang berakhir 30 September 2024, terutama didorong melonjaknya pendapatan segmen konstruksi sebesar 26,7% secara tahunan menjadi Rp 532,9 miliar.
Laba bersih emiten pengembang kota Deltamas, PT Puradelta Lestari Tbk (DMAS) juga berhasil melesat 84,7% secara tahunan menjadi Rp 1,12 triliun per kuartal III-2024. Laba ini ditopang pendapatan usaha DMAS Rp 1,68 triliun hingga kuartal III-2024, naik 71,79% secara tahunan.
Direktur Puradelta Lestari, Tondy Suwanto menjelaskan, segmen industri menjadi penyumbang utama pundi-pundi pendapatan Rp 1,5 triliun atau sekitar 91,1% dari pendapatan usaha DMAS. "Hingga saat ini, sektor data center masih menjadi primadona di segmen industri," jelas Tondy.
Sementara itu, PT Jababeka Tbk (KIJA) membukukan pendapatan total Rp 3,367 triliun di periode Januari-September 2024, naik 47% secara tahunan. Dus, hingga akhir September 2024, KIJA mencatat laba bersih Rp 769,69 miliar, meningkat dari Rp 231,9 miliar pada periode yang sama tahun 2023.
Senior Market Chartist
Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta Utama melihat, kinerja emiten kawasan industri per kuartal III-2024 dipengaruhi sentimen positif terkait investasi di sektor industri.
Pemerintah juga baru memperpanjang fasilitas tax holiday
industri pionir hingga Desember 2025. Kebijakan ini dinilai mampu menarik investasi ke dalam negeri. Ini terlihat dari proporsi investasi penanaman modal asing yang masuk dari pemberian insentif
tax holiday
mencapai 25% dari realisasi investasi.
Harga Emas Dongkrak Laba BRMS
Kinerja Reksadana Saham Masih Lemah
Tren Kenaikan Harga Komoditas Dorong Pertumbuhan
Ekspansi Gerai Jadi Senjata Baru AMRT
Tekanan Penurunan Margin pada Laba Emiten
Beban Utang Jadi Tantangan bagi BUMN Karya
Wajah Baru ACES Jadi Harapan Bisnis
Pilihan Editor
-
Paradoks Ekonomi Biru
09 Aug 2022 -
ANCAMAN KRISIS : RI Pacu Diversifikasi Pangan
10 Aug 2022









