;
Tags

Portofolio

( 322 )

AI dan Digitalisasi Jadi Pendorong Pertumbuhan

HR1 09 Dec 2024 Kontan

Sektor telekomunikasi diproyeksi bisa memulihkan pertumbuhan kinerja pada tahun depan dengan sejumlah strategi bisnis. Ini termasuk fokus ke pita lebar tetap atau kerap dikenal dengan fixed broadband (BB). Analis BRI Danareksa Sekuritas, Niko Margonis dalam riset 2 Desember 2024 mengatakan, para emiten telekomunikasi seperti PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM), PT XL Axiata Tbk (EXCL), dan PT Indosat Tbk (ISAT) dapat memanfaatkan pasar captive dan infrastruktur yang ada untuk mengamankan trafik pengguna. Dengan strategi ini Niko bilang para emiten tersebut dapat menghasilkan pendapatan tambahan, dan memperoleh kenaikan pendapatan hingga 6% secara tahunan atau year on year (yoy). Sementara terkait penggabungan EXCL dan PT Smartfren Telecom Tbk (FREN) diharapkan menciptakan situasi oligopoli yang dapat mendukung pertumbuhan ARPU seluler yang lebih baik. Sebab persaingan di sektor seluler menjadi lebih sempit. Niko memperkirakan penggunaan artificial intelligence (AI) juga akan semakin signifikan, sehingga memicu efek berantai seiring meningkatnya kesadaran terhadap produktivitas software as a service (SaaS) dari tahun anggaran 2024 hingga 2025. Saat ini ISAT mengambil posisi terdepan dalam teknologi AI. Emiten ini juga berkomitmen mengalokasikan belanja modal sebesar US$ 2 miliar- US$ 3 miliar melalui kemitraan dengan BDx. 

Analis Kiwoom Sekuritas Indonesia, Sukarno Alatas mengatakan, tren kenaikan produk fixed broadband dan margin yang tinggi menjadi katalis pendorong kinerja di sektor ini. Analis Ciptadana Sekuritas, Gani, dalam riset 19 November 2024 menjelaskan, sektor ini telah menghadapi tahun yang penuh tantangan pada 2024 dengan tren pendapatan seluler yang lemah di seluruh industri. "Karena daya beli yang lemah, dan persaingan yang lebih ketat," jelas Gani. Namun tahun depan diperkirakan sektor ini bakal pulih dengan sejumlah strategi. TLKM misalnya, menaikkan tarif Telkomsel di T-Lite dengan peningkatan tarif rata-rata 5%-6%. EXCL dan ISAT juga telah menaikkan harga di awal September sekitar 5%. Gani, Sukarno, dan Niko kompak mempertahankan peringkat overweight untuk sektor ini. Gani merekomendasikan ISAT sebagai pilihan utama dengan target harga Rp 2.240 per saham. Ia juga merekomendasikan EXCL dengan target harga Rp 2.150.

Anak Usaha Jadi Penopang Utama Kinerja Induk

HR1 06 Dec 2024 Kontan
Mayoritas anak usaha emiten tambang dan energi mencatatkan kinerja positif hingga kuartal III-2024, yang turut menopang performa induk usahanya. Misalnya, PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) berhasil meningkatkan pendapatan sebesar 231,30% (yoy) menjadi US$ 108,47 juta, didukung kenaikan produksi dan harga jual emas. Menurut Agus Projosasmito, Direktur Utama BRMS, peningkatan kinerja ini juga membantu menjaga pendapatan konsolidasi induknya, PT Bumi Resources Tbk (BUMI), yang menghadapi penurunan penjualan batubara.

Sementara itu, PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) mencatatkan kenaikan laba bersih sebesar 1.044,26% (yoy) menjadi US$ 717,11 juta, dengan kontribusi signifikan terhadap induknya, PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC). Laba bersih dari AMMN ke MEDC mencapai US$ 129 juta.

Menurut Miftahul Khaer dari Kiwoom Sekuritas, solidnya kinerja anak usaha didukung diversifikasi dan ekspansi induk usaha. Analis Arinda Izzaty Hafiya dari Pilarmas Investindo Sekuritas menambahkan bahwa kenaikan harga komoditas, terutama emas, juga menjadi katalis utama. Contohnya, PT Petrosea Tbk (PTRO), yang walaupun labanya menyusut, tetap agresif memperluas kontrak baru.

Dalam hal rekomendasi saham, Muhamad Heru Mustofa dari Phintraco Sekuritas merekomendasikan trading buy untuk AMMN dengan target Rp 9.950–Rp 10.200 dan buy on support untuk BRMS pada Rp 446–Rp 450. Selain itu, Rizal Nur Rafly dari Panin Sekuritas menjagokan ADMR dengan target harga Rp 1.800.

Kinerja gemilang anak usaha ini mencerminkan strategi diversifikasi dan optimalisasi segmen non-inti yang berhasil dilakukan emiten induk di tengah volatilitas industri tambang dan energi.

Pakuwon Jati Tetap Kokoh di Tengah Tantangan

HR1 05 Dec 2024 Kontan
Portofolio bisnis PT Pakuwon Jati Tbk (PWON) yang beragam, mencakup residensial, pusat perbelanjaan, hotel, dan perkantoran, berhasil menopang kinerja perusahaan meskipun industri properti menghadapi tekanan akibat tingginya suku bunga. Menurut Nurwachidah, Analis Phintraco Sekuritas, ragam bisnis ini menjaga stabilitas pendapatan PWON, yang mencatatkan pertumbuhan pendapatan 4,74% yoy menjadi Rp 4,79 triliun pada Januari-September 2024, dengan laba bersih naik 14,7% yoy menjadi Rp 1,96 triliun.

PWON juga memperlihatkan kinerja solid di segmen pendapatan berulang, yang menyumbang 31,35% dari total pendapatan. Tingkat okupansi pusat perbelanjaan PWON mencapai rata-rata 94%, sedangkan perkantoran 75%. PWON terus memperkuat bisnisnya dengan ekspansi landbank dan pengembangan proyek-proyek baru seperti Pakuwon Residences Bekasi.

Menurut Rudy Setiawan, Research Analyst MNC Sekuritas, insentif pemerintah seperti perpanjangan PPNDTP 100% dan penghapusan BPHTB hingga 2025, serta suku bunga rendah, menjadi katalis positif bagi industri properti, termasuk PWON. PWON, yang banyak menawarkan produk kelas atas, diproyeksikan meraih pertumbuhan marketing sales lebih dari 5% di 2025.

Kiswoyo Adi Joe, Head of Investment Nawasena Abhipraya Investama, melihat potensi kuat PWON di segmen pendapatan berulang, yang mendukung kinerja solid perusahaan ke depan. Ia merekomendasikan pembelian saham PWON dengan target harga Rp 600 per saham, yang juga didukung oleh rekomendasi Nurwachidah dan Rudy Setiawan. Proyeksi pendapatan PWON pada 2024 diperkirakan tumbuh sekitar 7% menjadi Rp 7,34 triliun, didukung insentif pemerintah dan prospek suku bunga rendah.

Efisiensi Distribusi Jadi Andalan Pertumbuhan

HR1 03 Dec 2024 Kontan
Kinerja PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) diperkirakan akan didorong oleh peningkatan impor liquefied natural gas (LNG) untuk mengimbangi penurunan produksi gas pipa domestik. PGAS berencana mengimpor sekitar 40-50 kargo LNG pada 2025, yang akan berkontribusi pada defisit perdagangan gas yang diperkirakan mencapai US$ 2 miliar. Peningkatan biaya distribusi LNG ini memungkinkan PGAS mengenakan biaya yang lebih tinggi, meskipun ada potensi risiko intervensi pemerintah.

Ryan Winipta, analis Indo Premier Sekuritas, menyoroti potensi pendapatan dan volume distribusi yang kuat dari PGAS, berkat tambahan kargo LNG pada kuartal IV-2024, yang dapat mengimbangi penurunan dari gas pipa. Namun, risiko tetap ada pada penurunan pendapatan dari bisnis transmisi dan Saka Energi.

Rizal Rafly, analis Panin Sekuritas, mengungkapkan bahwa PGAS juga berperan dalam Proyek Strategis Nasional (PSN) dan mendukung transisi energi menuju target net zero emission 2060. Analis memberikan rekomendasi berbeda untuk PGAS, dengan Arnanto Januri dari JP Morgan Sekuritas mempertahankan peringkat netral dan target harga Rp 1.370 per saham, Ryan menyarankan hold dengan target harga Rp 1.500 per saham, sementara Rizal Rafly merekomendasikan beli dengan target harga Rp 1.900 per saham.

Prospek Emiten Nikel di Tengah Ancaman Harga

HR1 29 Nov 2024 Kontan
Kinerja PT Vale Indonesia Tbk (INCO) diperkirakan tertekan tahun ini akibat penurunan harga nikel dunia yang mencapai US$ 15.883 per ton, turun 6,14% dari akhir 2023. Arinda Izzaty, Analis Pilarmas Investindo Sekuritas, menyebut lemahnya permintaan global dari sektor baja tahan karat dan kendaraan listrik, serta kelebihan pasokan dari Indonesia, menjadi faktor utama tekanan harga nikel. Ia memproyeksikan support di level US$ 15.490 dan resistance di US$ 16.525 per ton.

Sementara itu, Miftahul Khaer dari Kiwoom Sekuritas Indonesia melihat potensi stabilisasi harga di kisaran US$ 14.000 - US$ 15.000 per ton jika produsen besar menyesuaikan produksi. Meski demikian, turunnya harga nikel memengaruhi margin keuntungan INCO, terutama karena nikel matte adalah sumber utama pendapatannya.

Namun, prospek jangka panjang INCO tetap positif. Hasan Barakwan dari Maybank Sekuritas Indonesia merevisi turun proyeksi laba bersih INCO untuk 2024 dan 2025, masing-masing menjadi US$ 56 juta dan US$ 73 juta. Ia tetap mempertahankan rekomendasi beli, mengapresiasi inisiatif INCO menjual bijih nikel sebagai strategi diversifikasi yang membantu mengurangi dampak melemahnya harga nikel.

Arinda juga optimistis bahwa kebijakan stimulus ekonomi China dan dukungan pemerintah Indonesia melalui insentif hilirisasi dan pengembangan ekosistem kendaraan listrik akan mendorong permintaan nikel. Ia merekomendasikan beli saham INCO dengan target harga Rp 4.850. Miftahul menyarankan strategi buy on weakness dengan target Rp 3.850, sementara Maybank Sekuritas menargetkan Rp 4.600 per saham, meskipun telah direvisi turun dari Rp 5.100.

Diversifikasi produk dan peluang dari transisi energi bersih menjadi kunci daya saing dan ketahanan INCO di tengah tantangan pasar saat ini.

Efisiensi, Jawaban di Tengah Konsumsi Lesu

HR1 28 Nov 2024 Kontan
Kinerja PT HM Sampoerna Tbk (HMSP) pada kuartal III-2024 mencatatkan penurunan laba bersih sebesar 15,8% (yoy) menjadi Rp 5,22 triliun, meskipun pendapatan naik tipis 1,3% menjadi Rp 88,46 triliun. Analis Eka Rahmah dari Binaartha Sekuritas menjelaskan, penurunan ini disebabkan oleh daya beli konsumen yang melemah dan peralihan konsumen ke produk alternatif yang lebih murah. Pangsa pasar HMSP juga turun menjadi 27,9% dari 29% pada tahun sebelumnya.

Menurut Oktavianus Audi, VP Marketing Kiwoom Sekuritas Indonesia, kenaikan cukai rokok sebesar 10% pada awal 2024 dan lonjakan pembayaran cukai sebesar 17,8% (yoy) memberikan tekanan signifikan pada laba HMSP. Namun, keputusan pemerintah untuk tidak menaikkan cukai rokok di 2025 memberikan peluang HMSP untuk menerapkan strategi efisiensi dan menjaga stabilitas harga.

Analis Maybank Sekuritas, Willy Goutama, mencatat bahwa efisiensi operasional HMSP berhasil meningkatkan margin laba kuartalan menjadi 6,2% dari 3,7% di kuartal sebelumnya. Pendapatan kuartalan HMSP juga meningkat 7% menjadi Rp 30,6 triliun, didukung oleh permintaan yang lebih tinggi untuk tembakau dan cengkeh. Namun, Willy menggarisbawahi bahwa persaingan dari produsen rokok lapis II dan III semakin ketat.

Proyeksi kinerja HMSP di akhir 2024 tetap menghadapi tantangan. Eka Rahmah memprediksi pendapatan HMSP mencapai Rp 117,8 triliun dengan laba bersih Rp 7,6 triliun. Willy Goutama memperkirakan laba bersih sebesar Rp 7,15 triliun, turun dari Rp 8 triliun pada 2023, sementara Oktavianus Audi memprediksi laba bersih Rp 7,12 triliun dengan pendapatan Rp 117,2 triliun..

Meskipun prospek HMSP masih menghadapi tantangan daya beli masyarakat yang lemah dan persaingan ketat, stabilitas cukai rokok di tahun depan memberikan peluang untuk perbaikan kinerja melalui efisiensi operasional.

Harga Pulih, Emiten Kembali Moncer

HR1 25 Nov 2024 Kontan
Prospek kinerja emiten sawit tetap menjanjikan, didukung oleh harga minyak sawit mentah (CPO) yang stabil dan kebijakan pemerintah, seperti penerapan program B40 pada awal 2025. Program ini, yang meningkatkan campuran biodiesel berbasis sawit hingga 40%, diharapkan dapat meningkatkan permintaan domestik dan mendorong harga CPO.

Arinda Izzaty, Analis Pilarmas Investindo Sekuritas, menyebut program B40 dan rencana B50 pada 2026 akan menjadi katalis positif bagi emiten CPO. Emiten yang berfokus pada pasar domestik seperti PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) dan PT London Sumatra Indonesia Tbk (LSIP) dinilai unggul. Ia menyarankan buy dengan target harga AALI Rp 7.380 dan LSIP Rp 1.330 per saham.

Arinda juga menyoroti tantangan sektor sawit, termasuk regulasi ketat lingkungan dari Uni Eropa, proteksionisme perdagangan dari Presiden AS Donald Trump, serta dampak suku bunga global. Namun, ia optimistis permintaan tinggi dari India, China, dan pasar domestik akan menjadi pendorong utama.

Yasmin Soulisa, Analis Ciptadana Sekuritas, juga melihat potensi kenaikan konsumsi sawit hingga 16 juta ton dengan penerapan B40. Ia mencatat harga rata-rata CPO global pada 2024 sekitar RM 4.041 per ton dan memproyeksikan harga stabil di RM 4.100 per ton pada 2025. Kenaikan permintaan menjelang Tahun Baru Cina dan Idul Fitri menjadi katalis tambahan bagi harga CPO.

Kombinasi dukungan kebijakan domestik, efisiensi operasional, serta tingginya permintaan domestik dan internasional menjadikan sektor sawit tetap menarik untuk investasi, meski ada tantangan global.

Kompetisi Panas Pasca Merger di Sektor Bisnis

HR1 22 Nov 2024 Kontan
PT XL Axiata Tbk (EXCL) berpotensi memperkuat posisinya di industri telekomunikasi melalui merger dengan PT Smartfren Telecom Tbk (FREN) dan akuisisi pelanggan Link Net (LINK). Merger ini diharapkan menciptakan perusahaan dengan basis pelanggan hingga 100 juta dan spektrum 152 MHz, mendekati Telkomsel, menurut Gani, analis Ciptadana Sekuritas. Langkah tersebut akan meningkatkan daya saing EXCL terhadap Telkom Indonesia (TLKM) dan Indosat Ooredoo Hutchison (ISAT).

Akuisisi 750.000 pelanggan Link Net pada September 2024 memperkuat penetrasi layanan fixed broadband (FBB) XL, mendukung pertumbuhan internet fiber. Selain itu, EXCL menaikkan tarif data pada Agustus–September sebesar 5%, yang mulai mencerminkan peningkatan pendapatan rata-rata per pengguna (ARPU) di Oktober. Meski ARPU kuartal ketiga menurun ke Rp 41.000 per bulan, ARPU gabungan sepanjang tahun meningkat ke Rp 43.000, menunjukkan prospek yang positif.

Menurut Nicolas Santoso, analis Verdhana Sekuritas, layanan seluler tetap menjadi kontributor utama pendapatan EXCL, mencapai Rp 24,1 triliun selama Januari–September 2024. Namun, daya beli yang lemah, persaingan ketat, dan isu ISP ilegal seperti RT/RW Net menekan kinerja EXCL di kuartal ketiga. Etta Rusdiana dari Maybank Sekuritas optimistis laba bersih EXCL akan membaik pada kuartal IV-2024, terutama dari pelanggan FBB.

Etta memproyeksikan pendapatan EXCL sebesar Rp 34,3 triliun dan laba bersih Rp 2,28 triliun pada 2024, dengan target harga saham Rp 3.200. Nicolas menargetkan Rp 2.600, sementara Gani menurunkan target menjadi Rp 3.000. Dengan langkah strategis seperti merger dan akuisisi, EXCL diharapkan mampu meningkatkan profitabilitas dan daya saing di pasar telekomunikasi.

Sinar Harapan di Emiten Semen

HR1 18 Nov 2024 Kontan
Program pembangunan 3 juta rumah per tahun yang diusung Presiden Prabowo Subianto diperkirakan membawa dampak positif signifikan pada sektor semen. Menurut Analis CGS CIMB Sekuritas, Bob Setiadi, jika program ini berhasil, permintaan semen domestik dapat meningkat hingga 7% pada 2025, atau sekitar 4,6 juta ton tambahan per tahun. Hal ini menjadi peluang bagi emiten semen untuk meningkatkan volume penjualan mereka, seperti PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (INTP) dan PT Semen Indonesia Tbk (SMGR).

Peningkatan ini akan membantu mengatasi backlog perumahan nasional yang diperkirakan mencapai 10 juta unit. Selain itu, program ini juga dapat memberikan manfaat ekonomi luas, termasuk menciptakan hingga 14 juta lapangan kerja baru, khususnya di daerah pedesaan dan perkotaan. Pemerintah juga sedang mempertimbangkan insentif seperti penghapusan pajak properti untuk mendukung keberhasilan program ini.

Meski prospeknya menjanjikan, pelaksanaan program tersebut tetap menghadapi tantangan, termasuk risiko oversupply di pasar semen domestik yang dapat menekan harga jual rata-rata (ASP). Produsen besar merespons dengan meluncurkan merek untuk pasar tier 2, meskipun strategi ini berpotensi menurunkan margin keuntungan.

Analis Sucor Sekuritas, Yoga Ahmad Gifari, menyoroti INTP sebagai emiten pilihan utama berkat potensi dividen tinggi dan penguatan posisinya di Jawa Tengah dan Jawa Timur melalui akuisisi Grobogan. Ia juga merekomendasikan SMGR karena valuasi yang menarik (EV/EBITDA 5x) dan proyeksi pertumbuhan pendapatan sebesar 12% CAGR selama lima tahun ke depan.

Nafan Aji Gusta, Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, menilai harga saham emiten semen saat ini masih sideways, tetapi rencana pembangunan rumah skala besar ini dapat menjadi katalis positif untuk sektor semen di masa depan. Yoga merekomendasikan buy untuk INTP dengan target harga Rp 8.900 dan SMGR di Rp 5.400 per saham.

Pilkada, Natal, dan Tahun Baru, Pengaruhi Pasar

HR1 11 Nov 2024 Kontan
Emiten barang konsumsi diprediksi akan mencatatkan kinerja positif pada kuartal IV 2024, didorong oleh momentum Natal, Tahun Baru, dan pilkada serentak. Nafan Aji Gusta, Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, menilai pilkada sering diiringi peningkatan belanja pemerintah, memperkuat daya beli masyarakat dan mendorong pertumbuhan sektor konsumsi. Hal ini dapat membawa pertumbuhan ekonomi ke 5%, menunjukkan resiliensi perekonomian Indonesia.

Andhika Audrey, Analis Panin Sekuritas, menyebut PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP) akan mendapatkan dampak positif dari pilkada, meskipun kuartal IV biasanya dikenal sebagai low seasonality. Penjualan ICBP diperkirakan tetap solid.

Selain itu, Putu Chantika Putri dari Ciptadana Sekuritas optimistis terhadap PT Mayora Indah Tbk (MYOR), yang tidak hanya diuntungkan oleh penjualan lokal tetapi juga ekspor, terutama ke China menjelang Tahun Baru Imlek. Kinerja MYOR juga akan didukung oleh peluncuran produk baru dan strategi pemasaran yang bijaksana.

James Stanley Widjaja, Analis Buana Capital, menilai PT Cisarua Mountain Dairy Tbk (CMRY) masih menunjukkan kinerja kuat berkat inovasi produk yang konsisten. Emiten ini diyakini akan tetap bertumbuh di akhir tahun.

Namun, sektor ini masih menghadapi tantangan, seperti suku bunga yang meski telah dipangkas, tetap relatif tinggi. Abdul Azis Setyo Wibowo dari Kiwoom Sekuritas mencatat, fluktuasi nilai tukar juga bisa membebani keuangan emiten melalui kenaikan biaya bahan baku.

Kendati demikian, Azis optimistis momentum pilkada, Natal, dan Tahun Baru akan menjadi katalis positif. Ia merekomendasikan saham sektor konsumsi, dengan ICBP dan CMRY sebagai pilihan utama.