;
Tags

Portofolio

( 322 )

Awan Gelap Saham Gudang Garam

HR1 22 Jan 2025 Kontan
Saham PT Gudang Garam Tbk (GGRM) terus mengalami penurunan, dengan pelemahan sebesar 9,04% sejak awal tahun 2025 dan 41,45% dalam satu tahun terakhir. Penurunan ini sejalan dengan kinerja keuangan yang lesu akibat lemahnya daya beli masyarakat, persaingan dari produsen rokok kecil yang diuntungkan tarif cukai lebih rendah, dan tidak adanya diversifikasi produk ke rokok bebas asap, seperti yang dilakukan pesaingnya, PT HM Sampoerna Tbk (HMSP) dan Bentoel Internasional Investama.

Menurut Willy Goutama, analis Maybank Sekuritas, pendapatan GGRM pada tahun 2025 diprediksi akan turun menjadi Rp 88,4 triliun dari Rp 98,99 triliun pada tahun 2024. Namun, laba bersih diperkirakan tumbuh menjadi Rp 1,4 triliun dari Rp 1,18 triliun di tahun sebelumnya. Ia juga menyarankan GGRM untuk meningkatkan skor Environmental, Social, and Governance (ESG) yang masih rendah di level 13, jauh di bawah rata-rata perusahaan sejenis.

Abdul Azis Setyo Wibowo, analis Kiwoom Sekuritas Indonesia, menilai lemahnya daya beli masyarakat dan tingginya tarif cukai rokok menjadi faktor utama penurunan kinerja GGRM. Investasi GGRM di bisnis infrastruktur, seperti bandara, belum memberikan dampak positif signifikan.

Sementara itu, Nafan Aji Gusta, Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, melihat peluang perbaikan kinerja GGRM dengan stabilnya data keyakinan konsumen dan absennya peningkatan tarif cukai pada tahun 2025. Namun, Nafan menyatakan GGRM masih membutuhkan katalis positif yang signifikan.

Rekomendasi analis terhadap saham GGRM bervariasi. Maybank Sekuritas menyarankan sell dengan target harga Rp 8.000, sementara Nafan dan Natalia Sutanto dari BRI Danareksa Sekuritas merekomendasikan hold dengan target harga masing-masing Rp 11.600 dan Rp 17.500.

BUMN Karya Dibawah Tekanan Berat

HR1 20 Jan 2025 Kontan
Kinerja emiten BUMN Karya pada 2025 menghadapi tantangan berat, terutama karena berkurangnya alokasi anggaran pemerintah untuk infrastruktur dan semakin ketatnya persaingan dengan perusahaan jasa konstruksi swasta. Presiden Prabowo Subianto menegaskan akan memberikan sebagian besar proyek infrastruktur kepada swasta karena dinilai lebih efisien dan efektif.

Meski begitu, emiten BUMN Karya seperti PT Wijaya Karya Tbk (WIKA) dan PT Adhi Karya Tbk (ADHI) menyatakan siap menjalin kerja sama dengan pihak swasta. Sekretaris Perusahaan WIKA, Mahendra Vijaya, menyatakan pihaknya akan tetap fokus pada proyek infrastruktur. Sementara Corporate Secretary ADHI, Rozi Sparta, optimistis dapat memanfaatkan pengalaman mereka dalam proyek berbasis Kerja Sama Pemerintah dengan Badan Usaha (KPBU), dengan target pertumbuhan kontrak baru sebesar 30%-40% pada 2025.

Namun, analis seperti Andhika Cipta Labora dari Kanaka Hita Solvera menilai bahwa keterlibatan swasta dalam proyek strategis dapat mengurangi kontrak BUMN Karya dan menekan laba mereka. Selain itu, menurut Sukarno Alatas, Head of Research Kiwoom Sekuritas, sentimen negatif terhadap emiten BUMN Karya masih dominan akibat restrukturisasi utang, proyek yang tertunda, dan proses hukum yang belum selesai.

Di sisi lain, pemulihan ekonomi, kejelasan regulasi, efisiensi biaya, dan kelancaran restrukturisasi utang dapat menjadi katalis positif untuk emiten BUMN Karya. Meski demikian, Sukarno merekomendasikan pendekatan wait and see untuk saham BUMN Karya. Bagi investor yang sudah masuk, ia menyarankan untuk hold saham PTPP, ADHI, dan WIKA, dengan target harga masing-masing Rp 370, Rp 230, dan Rp 270 per saham.

Sinyal Positif Penurunan Suku Bunga

HR1 17 Jan 2025 Kontan
Prospek PT Ciputra Development Tbk (CTRA) di tahun 2025 diproyeksikan positif seiring dengan pemangkasan suku bunga acuan dan insentif fiskal pemerintah, seperti Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah (PPN DTP). Analis Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menjelaskan bahwa penurunan suku bunga BI hingga level 5,5% akan meningkatkan daya beli masyarakat melalui fasilitas kredit pemilikan rumah (KPR) dan apartemen (KPA), yang mendorong pendapatan berulang (recurring income) dan marketing sales. Pada 2024, CTRA mencatatkan marketing sales Rp 11,02 triliun, pertumbuhan 8% year-on-year (yoy), tertinggi dalam sejarah perusahaan.

Axell Ebenhaezer dari NH Korindo Sekuritas menyoroti kontribusi insentif pajak pemerintah pada 2024, yang membebaskan sekitar 26,3% dari total marketing sales CTRA dari PPN, serta peluncuran proyek-proyek baru seperti CitraLand Gresik dan klaster di wilayah strategis lainnya. Axell juga menyebut program tiga juta rumah Presiden Prabowo Subianto sebagai pendorong tambahan bagi sektor properti.

Namun, risiko masih ada, seperti daya beli masyarakat yang lesu atau ketidakpastian suku bunga acuan. Analis BRI Danareksa Sekuritas, Ismail Fakhri Suweleh, menekankan bahwa CTRA konsisten membagikan dividen, bahkan selama pandemi, berkat kemampuannya memonetisasi aset. Portofolio produk CTRA yang terdiversifikasi, khususnya rumah tapak di kisaran harga Rp 1-5 miliar, membuatnya unggul di pasar properti Jakarta Raya.

Ketatnya Persaingan Jadi Ujian Baru

HR1 18 Dec 2024 Kontan
PT Telkom Indonesia (TLKM) berencana menaikkan harga seluler secara bertahap untuk meningkatkan pendapatan dan average revenue per user (ARPU) yang mengalami penurunan. Aditya Prayoga, Analis Phitraco Sekuritas, menyebut langkah ini dapat memperbaiki margin keuntungan dan rasio profitabilitas TLKM, serta mengurangi risiko perang harga antar-operator. Namun, potensi penurunan jumlah pelanggan tetap menjadi risiko, terutama bagi pelanggan dengan pendapatan rendah yang sensitif terhadap kenaikan harga.

Sukarno Alatas, Kepala Riset Kiwoom Sekuritas Indonesia, menilai kebijakan kenaikan harga ini strategis untuk mengurangi tekanan persaingan harga dan memperbaiki struktur biaya. Meski pangsa pasar mungkin menyusut, pelanggan yang mengutamakan kualitas layanan bisa tetap setia, sehingga kebijakan ini berpotensi meningkatkan kinerja TLKM jika diterapkan secara tepat.

Di sisi lain, Kevin Jonathan Panjaitan, Analis Bahana Sekuritas, menurunkan rating TLKM dari "buy" menjadi "hold" dengan target harga Rp 3.100 per saham, akibat penurunan harga saham TLKM sebesar 34,34% sejak awal tahun. Penurunan ini dipengaruhi oleh kinerja keuangan yang stagnan dan keluarnya investor asing, yang memegang 77% saham TLKM yang diperdagangkan secara publik.

Hingga September 2024, pendapatan TLKM hanya tumbuh 0,9% YoY, dengan penurunan pendapatan SMS, telepon tetap, dan seluler sebesar 27% YoY. ARPU turun dari Rp 47.800 menjadi Rp 44.500, dan laba bersih anjlok 9,4% YoY akibat peningkatan biaya, termasuk program pensiun dini.

Meski demikian, Aditya menargetkan harga TLKM mencapai Rp 3.440 per saham, sementara Sukarno memproyeksikan Rp 3.200 per saham. Hal ini menunjukkan potensi perbaikan jika kebijakan kenaikan harga berhasil diimplementasikan tanpa kehilangan terlalu banyak pelanggan.

Data Ekonomi Lokal Membatasi Pergerakan

HR1 17 Dec 2024 Kontan
Rupiah ditutup menguat tipis pada perdagangan awal pekan ini. Berdasarkan data Bloomberg, Senin (16/12), rupiah naik tipis 0,04% ke Rp 16.002 per dolar Amerika Serikat (AS) dari akhir pekan lalu. Rupiah di Jisdor Bank Indonesia (BI) ditutup melemah 0,20% di level Rp 16.019 per dolar Amerika Serikat (AS).

Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede menjelaskan, kekhawatiran terhadap arah pemulihan ekonomi Tiongkok terus berlanjut menyebabkan sebagian besar mata uang Asia, termasuk rupiah melemah.

"Namun pelemahan rupiah tertahan rilis surplus neraca dagang Indonesia yang meningkat dari US$ 2,48 miliar menjadi US$ 4,42 miliar per November 2024," kata Josua, Senin (16/12).

Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong menimpali, penjualan ritel China justru menunjukkan hasil yang lebih lemah. Pada perdagangan Selasa (17/12), Lukman memprediksi, rupiah masih belum bisa lepas dari tekanan dolar AS. Lukman memperkirakan rupiah bekisar Rp 15.950–Rp 16.050 per dolar AS.

Josua memproyeksi, rupiah mampu menguat dalam rentang Rp 15.950 sampai Rp 16.050 per dolar AS.

Harapan pada Program Makan Gratis

HR1 16 Dec 2024 Kontan
Kinerja sektor unggas diprediksi akan tetap positif di tahun 2025, didorong oleh program makan bergizi gratis dan perbaikan harga di pasar. Abdul Azis Setyo Wibowo, Analis Kiwoom Sekuritas Indonesia, menilai program ini akan meningkatkan permintaan daging ayam, membantu mengurangi oversupply, serta mendorong kenaikan harga anak ayam umur sehari (DOC) dan ayam hidup (livebird). Selain itu, program swasembada pangan juga berpotensi menstabilkan harga, mengurangi biaya, dan meningkatkan margin.

Namun, risiko tetap ada, seperti potensi kenaikan harga pakan akibat fluktuasi harga komoditas global dan kemungkinan penurunan daya beli masyarakat. Nafan Aji, Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, menyoroti bahwa tekanan harga pakan masih dapat dikelola jika kenaikannya bersifat moderat.

Victor Stefano, Analis BRI Danareksa Sekuritas, memperkirakan oversupply ayam broiler akan berkurang pada 2025, dari 600.000 ekor pada 2024 menjadi 397.000 ekor. Hal ini didorong oleh penurunan kuota impor grand parent stock sebesar 15% pada 2024 serta pertumbuhan permintaan yang sejalan dengan pertumbuhan PDB nasional. Program makan bergizi gratis yang akan diluncurkan pada Januari 2025 oleh Badan Gizi Nasional juga akan membantu menyerap kelebihan pasokan ayam, membuka pasar baru, dan memungkinkan emiten menjual dengan margin yang lebih baik.

Victor memperkirakan harga jagung dan bungkil kedelai masing-masing naik 5,3% dan 5,4% secara tahunan (yoy) pada 2025. Meski margin pakan cenderung lebih rendah, margin di bisnis peternakan komersial dan pembibitan diproyeksikan lebih tinggi, sehingga mempertahankan prospek sektor unggas yang positif.

Ketatnya Persaingan Membayangi Kinerja Perusahaan

HR1 13 Dec 2024 Kontan
Merger antara PT XL Axiata Tbk (EXCL), PT Smartfren Telecom Tbk (FREN), dan PT Smart Telecom diperkirakan akan mengubah lanskap industri telekomunikasi dan bisnis menara. Grup Sinarmas berinvestasi besar dalam merger ini dengan dana sebesar US$ 475 juta (Rp 7,52 triliun). Namun, konsolidasi ini juga menjadi tantangan bagi emiten menara seperti PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG), yang menghadapi potensi pengurangan tenant karena tumpang tindih (overlapping) penyewa.

Menurut analis Mirae Asset Sekuritas, Daniel Widjaja, bisnis utama menara TBIG hanya tumbuh tipis, dengan pendapatan kumulatif dari layanan telko mencapai Rp 4,71 triliun hingga September 2024, meningkat 0,1% secara tahunan. Namun, segmen fiber TBIG justru menunjukkan pertumbuhan signifikan, dengan pendapatan melonjak 70,6% yoy menjadi Rp 411 miliar, didorong oleh perluasan layanan fiber to the tower (FTTT) dan fiber to the home (FTTH).

Analis Samuel Sekuritas, Jason Sebastian, menilai TBIG masih memiliki peluang untuk bertumbuh melalui persaingan operator telekomunikasi yang berupaya memperluas jaringan ke wilayah-wilayah terpencil. Ia menekankan bahwa kebijakan pemerintah untuk memperluas jaringan di Indonesia bagian Timur dapat mendukung pertumbuhan TBIG.

Di sisi lain, Analis Indo Premier Sekuritas, Jovent Muliadi, menyebut relokasi pasca merger Indosat Ooredoo Hutchison (IOH) membuka peluang bagi TBIG untuk mempercepat kinerja. Jovent merekomendasikan pembelian saham TBIG dengan target harga Rp 2.300, sedangkan Daniel dan Jason lebih konservatif dengan rekomendasi "hold" pada harga Rp 1.900–Rp 1.920 per saham.

Meski demikian, TBIG menghadapi tantangan, termasuk perlambatan pertumbuhan operator telekomunikasi, risiko regulasi, dan tekanan harga, yang dapat memengaruhi kinerja jangka panjangnya.

Sinarmas Alokasikan Dana Investasi Besar

HR1 13 Dec 2024 Kontan
Merger antara PT XL Axiata Tbk (EXCL), PT Smartfren Telecom Tbk (FREN), dan PT Smart Telecom memerlukan kontribusi besar dari Grup Sinarmas. Grup ini akan menginvestasikan US$ 475 juta (sekitar Rp 7,52 triliun) untuk membeli 13,1% saham Axiata di PT XLSmart Telecom Sejahtera Tbk, demi menyamakan porsi kepemilikan dengan Axiata sebesar 34,8%. Pembayaran akan dilakukan dalam dua tahap: US$ 400 juta saat penyelesaian penyertaan dan US$ 75 juta pada peringatan satu tahun XLSmart berdiri.

Menurut Indra Sentanu, dari Chairman’s Office Corporate Finance Sinarmas Telecommunication and Technology, pendanaan untuk akuisisi saham XLSmart akan berasal dari sumber internal Grup Sinarmas.

Paulus Jimmy, Deputy Head of Research Sucor Sekuritas, menilai akuisisi saham tambahan ini dilakukan dengan harga premium, yakni Rp 3.150 per saham EXCL, 39,38% lebih tinggi dari harga pasar saat ini (Rp 2.260). Jimmy optimis bahwa merger ini akan meningkatkan kinerja dan profitabilitas EXCL dalam jangka panjang, dengan rekomendasi beli saham EXCL dan target harga Rp 3.500 per saham.

Namun, bagi pemegang saham FREN, merger ini membawa dampak signifikan karena saham FREN akan delisting dari Bursa Efek Indonesia (BEI). Antony Susilo, Direktur Keuangan Smartfren Telecom, menjelaskan bahwa pemegang saham FREN memiliki dua opsi:

1. Mengonversi saham FREN ke saham EXCL dengan rasio 94 saham FREN untuk 1 saham EXCL.
2. Menjual saham FREN kepada entitas merger dengan harga Rp 25 per saham.

Bagi pemegang saham EXCL yang tidak setuju dengan merger, saham mereka akan dibeli di harga Rp 2.350 per saham. Proses konversi dan pembelian saham akan dilakukan setelah mendapatkan persetujuan dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Bursa Efek Indonesia (BEI), dan pemegang saham.

Merger EXCL dan Sinar Mas Membentuk Raksasa Baru

HR1 12 Dec 2024 Kontan
Merger antara PT XL Axiata Tbk (EXCL), PT Smartfren Telecom Tbk (FREN), dan PT Smart Telecom telah resmi disepakati dengan nilai gabungan pra-sinergi mencapai Rp 104 triliun atau US$ 6,5 miliar. Entitas baru bernama PT XLSmart Telecom Sejahtera Tbk (XLSmart) ini akan efektif beroperasi pada 15 April 2025, dengan Axiata Group Berhad dan Sinar Mas sebagai pemegang saham pengendali bersama, masing-masing memegang 34,8% saham.

Vivek Sood, Grup CEO Axiata, menyatakan bahwa merger ini diharapkan menghasilkan sinergi biaya signifikan, dengan estimasi manfaat sebelum pajak sebesar US$ 300–400 juta. XLSmart diproyeksikan memiliki 94,51 juta pelanggan, pangsa pasar 27%, dan pendapatan proforma Rp 45,4 triliun dengan EBITDA lebih dari Rp 22,4 triliun.

Niko Margaronis, Research Analyst BRI Danareksa Sekuritas, menilai merger ini memberikan keuntungan seperti peningkatan kapasitas spektrum, optimalisasi titik menara, dan peluang ekspansi di luar Jawa. Namun, dalam jangka pendek, dampaknya terhadap harga saham EXCL dan FREN masih terbatas.

Jimmy Paulus, Deputi Head of Research Sucor Sekuritas, menilai merger ini akan mendukung pertumbuhan jangka panjang XL Axiata dengan skala ekonomi yang lebih besar dan efisiensi operasional. Sucor Sekuritas tetap optimistis terhadap prospek EXCL dan XLSmart. Meskipun dampak bagi pemegang saham minoritas EXCL masih terbatas dalam waktu dekat, merger ini diyakini akan meningkatkan profitabilitas di masa depan.

Strategi Layanan Terpadu untuk Semua Segmen

HR1 10 Dec 2024 Kontan

Rencana strategis PT Siloam International Hospital Tbk (SILO) dalam lima tahun ke depan yang bertajuk Siloam Generasi Baru digadang-gadang menjadi katalis bagi peningkatan kinerja. Analis Buana Capital, James Stanley dalam riset 29 November 2024 mengatakan, SILO menekankan empat pola dasar baru yang masing-masing disesuaikan dengan kebutuhan segmen pasien tertentu. Yakni premium specialist yang menyasar layanan premium dengan ekspertis berpengalaman tinggi. Ada enam unit RS yang disiapkan untuk itu. Kemudian premium generalist menyasar layanan premium full suite dengan level umum di sembilan RS. Value seeker sebanyak 13 RS yang fokus menciptakan solusi kesehatan dengan biaya terjangkau dan community generalist yang menciptakan aksesibilitas, berfokus pada layanan berkualitas di 13 RS. Selain itu SILO juga membangun empat RS baru dan perluasan empat RS yang dijadwalkan selesai pada tahun anggaran 2025-2026. Proyek ini akan menambah total 1.074 tempat tidur dalam dua tahun ke depan. Erni Marsella, Analis Ciptadana Sekuritas menambahkan, program program Siloam Generasi Baru fokus\ dalam upaya memperkuat retensi dan perekrutan tenaga medis melalui pendekatan berbasis pilar people first. 

Selain itu, emiten rumah sakit in telah mengalami perubahan kepemilikan saham mayoritas. Dengan demikian harapannya SILO memiliki kemampuan meningkatkan leverage -nya yang rendah pada sembilan bulan tahun ini. Peningkatan ini juga menjadi bentuk upaya dan komitmen SILO untuk mengakuisisi rumah sakit dari First Reit. Adapun laba kuartal ketiga 2024 SILO turun 10% menjadi Rp 321 miliar yoy. Sementara pendapatannya naik tipis sekitar 5% yoy menjadi Rp 3,10 triliun. Secara kumulatif, hingga September 2023 SILO mencetak laba Rp 635 miliar atau turun 26,1% yoy. Sedangkan pendapatan naik 10,6% yoy menjadi Rp 9,12 triliun. Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas, Muhammad Nafan Aji Gusta Utama mengatakan, rencana selama lima tahun ke depan tersebut membuktikan komitmen dan upaya perusahaan untuk berkembang.