Tags
Portofolio
( 322 )CPO Rebound Bawa Harapan Baru
HR1
19 Jun 2025 Kontan
PT Perusahaan Perkebunan London Sumatra Indonesia Tbk (LSIP) mencatat kinerja solid pada kuartal I-2025 meskipun harga kelapa sawit (CPO) cenderung fluktuatif. LSIP membukukan laba bersih Rp 391,8 miliar, tumbuh 45% yoy, ditopang lonjakan pendapatan 47% yoy menjadi Rp 1,2 triliun. Kontributor utama adalah penjualan minyak kelapa sawit mentah yang mencapai Rp 937 miliar, dengan volume penjualan naik 9% yoy menjadi 65.000 ton.
Analis Ina Sekuritas, Arief Machrus, menilai kenaikan pendapatan LSIP didorong harga jual rata-rata (ASP) lebih tinggi serta penjualan produk minyak sawit yang kuat. Ia juga mencatat bahwa manajemen biaya yang disiplin membantu LSIP mencetak pertumbuhan laba kotor 95% yoy meski biaya produksi naik. Namun Arief mengingatkan risiko pelemahan harga CPO pada kuartal II-2025 bisa menekan laba, meski potensi pemulihan ada di semester II berkat puncak produksi musiman dan permintaan global yang stabil. Arief mempertahankan rekomendasi beli LSIP dengan target harga Rp 1.450.
Analis Kiwoom Sekuritas, Abdul Azis, menilai tekanan harga CPO tidak akan berlangsung lama, dengan permintaan domestik, termasuk program B40, menjadi pendorong. Ia merekomendasikan beli LSIP dengan target harga Rp 1.430.
Analis BCA Sekuritas, M. Fariz, juga optimistis pada prospek LSIP dan merekomendasikan beli dengan target harga tertinggi di antara analis lain, yakni Rp 1.655 per saham.
Selain itu, LSIP dinilai memiliki valuasi saham yang menarik dan imbal hasil dividen sekitar 7%, yang menjadi salah satu nilai jual bagi investor. Pada 19 Juni 2025, LSIP akan menggelar RUPST untuk menetapkan penggunaan laba bersih tahun buku 2024.
Meski menghadapi tantangan fluktuasi harga CPO dan potensi tekanan laba jangka pendek, prospek LSIP tetap positif berkat strategi manajemen biaya yang baik, diversifikasi, permintaan domestik yang kuat, dan kebijakan dividen yang menarik.
Efisiensi dan Inovasi Produk Jadi Strategi Hadapi Tekanan
HR1
18 Jun 2025 Kontan
Prospek kinerja PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) diprediksi tetap positif sepanjang 2025 meskipun dihadapkan pada tantangan eksternal seperti pelemahan daya beli masyarakat dan tingginya harga bahan baku impor.
Menurut Indy Naila, Investment Analyst Edvisor Profina Visindo, KLBF mampu menjaga stabilitas margin keuntungan, berkat efisiensi biaya operasional dan ekspansi ke segmen farmasi dan alat kesehatan. KLBF membukukan pendapatan sebesar Rp 8,84 triliun di kuartal I-2025, tumbuh 5,8% yoy, dengan net profit margin terjaga di kisaran 9–12%.
Sarkia Adelia, Analis Panin Sekuritas, menilai segmen farmasi tetap menjadi tulang punggung pertumbuhan, didukung oleh peningkatan harga jual rata-rata (ASP), perluasan volume ekspor, dan komersialisasi produk bioteknologi seperti stem cell dan radiofarmaka, yang diproyeksikan menjadi katalis utama sepanjang tahun.
Sementara itu, Andrianto Saputra dari Indo Premier Sekuritas menyebut pertumbuhan penjualan pada kuartal II-2025 akan didorong oleh produk farmasi generik, biologis, serta kesehatan konsumen. Ia juga memperkirakan bahwa ketatnya aturan rujukan BPJS akan menguntungkan segmen obat bebas (OTC). KLBF juga akan merilis produk dengan harga lebih terjangkau untuk menjangkau konsumen dengan daya beli rendah.
Terkait risiko nilai tukar, KLBF dinilai cukup tangguh. Sarkia mencatat bahwa perusahaan memiliki cadangan kas dalam bentuk dolar AS sebesar US$ 52 juta dan telah menerapkan natural hedge melalui konversi transaksi ke yuan lewat joint venture di China.
Efisiensi dan Inovasi Produk Jadi Strategi Hadapi Tekanan
HR1
18 Jun 2025 Kontan
Prospek kinerja PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) diprediksi tetap positif sepanjang 2025 meskipun dihadapkan pada tantangan eksternal seperti pelemahan daya beli masyarakat dan tingginya harga bahan baku impor.
Menurut Indy Naila, Investment Analyst Edvisor Profina Visindo, KLBF mampu menjaga stabilitas margin keuntungan, berkat efisiensi biaya operasional dan ekspansi ke segmen farmasi dan alat kesehatan. KLBF membukukan pendapatan sebesar Rp 8,84 triliun di kuartal I-2025, tumbuh 5,8% yoy, dengan net profit margin terjaga di kisaran 9–12%.
Sarkia Adelia, Analis Panin Sekuritas, menilai segmen farmasi tetap menjadi tulang punggung pertumbuhan, didukung oleh peningkatan harga jual rata-rata (ASP), perluasan volume ekspor, dan komersialisasi produk bioteknologi seperti stem cell dan radiofarmaka, yang diproyeksikan menjadi katalis utama sepanjang tahun.
Sementara itu, Andrianto Saputra dari Indo Premier Sekuritas menyebut pertumbuhan penjualan pada kuartal II-2025 akan didorong oleh produk farmasi generik, biologis, serta kesehatan konsumen. Ia juga memperkirakan bahwa ketatnya aturan rujukan BPJS akan menguntungkan segmen obat bebas (OTC). KLBF juga akan merilis produk dengan harga lebih terjangkau untuk menjangkau konsumen dengan daya beli rendah.
Terkait risiko nilai tukar, KLBF dinilai cukup tangguh. Sarkia mencatat bahwa perusahaan memiliki cadangan kas dalam bentuk dolar AS sebesar US$ 52 juta dan telah menerapkan natural hedge melalui konversi transaksi ke yuan lewat joint venture di China.
Regulasi Rumah Sakit Perlu Reformasi
HR1
16 Jun 2025 Kontan
Emiten rumah sakit tengah menghadapi sejumlah tantangan jangka pendek yang dapat menekan margin dan operasional, namun prospek jangka panjang tetap positif didukung oleh ekspansi, digitalisasi, dan kebijakan sistem kesehatan yang lebih terintegrasi.
Salah satu tantangan utama adalah penundaan implementasi sistem Kelas Rawat Inap Standar (KRIS) oleh Kementerian Kesehatan hingga Desember 2025, karena baru 57% rumah sakit nasional yang siap secara fasilitas. Indy Naila, Investment Analyst dari Edvisor Provina Visindo, menyebut penundaan ini memberi waktu adaptasi, namun juga menunda efisiensi dan insentif di sektor kesehatan.
Tantangan lainnya adalah SEOJK 7/2025 yang menetapkan co-payment minimal 10% bagi pasien asuransi swasta, yang dikhawatirkan akan menurunkan volume pasien dan berdampak pada margin rumah sakit yang fokus pada pasien asuransi. Oktavianus Audi dari Kiwoom Sekuritas menambahkan bahwa hal ini mendorong perusahaan asuransi untuk lebih selektif dalam menyetujui tindakan medis, sekaligus menekankan pentingnya reputasi dan efisiensi biaya rumah sakit.
Penerapan tarif layanan berbasis Indonesian Diagnosis Related Group (iDRG) juga dinilai berisiko memangkas gross margin hingga 30%, terutama bagi rumah sakit dengan dominasi pasien Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Namun, sistem ini diyakini akan membawa efisiensi dalam jangka panjang.
Dalam pandangan jangka panjang, Oktavianus menilai arah kebijakan pemerintah fokus pada standardisasi dan efisiensi, sambil membuka peluang kolaborasi dengan swasta melalui skema coordination of benefit (COB) untuk mendukung keberlanjutan JKN.
Ismail Fakhri Suweleh dari BRI Danareksa Sekuritas merekomendasikan saham MIKA karena margin tinggi dan valuasi menarik, HEAL yang tetap solid meski dominan JKN, serta SILO yang unggul di pasar premium namun punya risiko dari strategi akuisisi berbasis utang.
Sektor rumah sakit tetap prospektif di jangka panjang, terutama bagi emiten yang fokus pada pasien non-JKN, kelas premium, dan digitalisasi layanan, seperti MIKA, HEAL, dan SILO, yang mendapat rekomendasi buy dari analis Kiwoom Sekuritas.
Konsumsi Rumah Tangga Jadi Penentu Pulihnya Ekonomi
HR1
12 Jun 2025 Kontan
Kinerja PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (INTP) pada kuartal I-2025 berada di bawah ekspektasi analis, terutama disebabkan oleh lesunya permintaan semen dan efisiensi anggaran pemerintah yang memperlambat realisasi proyek infrastruktur besar seperti IKN. Menurut Miftahul Khaer, analis dari Kiwoom Sekuritas, meskipun volume penjualan INTP menurun, penurunannya masih lebih kecil dibanding industri secara keseluruhan, mencerminkan karakter defensif perusahaan.
Miftahul memproyeksikan kinerja stagnan sepanjang 2025 karena kelebihan pasokan semen di pasar dan outlook ekonomi yang belum membaik. Ia menyarankan investor untuk wait and see, mengingat volatilitas kurs dan harga energi.
Sementara itu, Budi Rustanto dari OCBC Sekuritas lebih optimistis dengan pemulihan terbatas di semester II-2025 seiring stimulus pemerintah seperti program 3 juta rumah rakyat, diskon PPN properti, serta kelanjutan proyek infrastruktur (LRT, MRT, jalan tol). INTP juga diuntungkan oleh permintaan ekspor klinker yang kuat serta harga jual yang lebih baik. Budi tetap merekomendasikan buy saham INTP dengan target harga Rp 6.100 per saham.
Dari sisi strategi jangka panjang, INTP terus mengembangkan energi hijau, seperti penggunaan RDF dan biomassa, serta produk semen ramah lingkungan. Fasilitas biomassa di pabrik Grobogan direncanakan beroperasi kuartal III-2025, dan target penggunaan bahan bakar alternatif ditingkatkan menjadi 42% pada 2030.
Aqil Triyadi dari Panin Sekuritas mencatat bahwa INTP tahun ini lebih fokus pada profitabilitas ketimbang ekspansi pangsa pasar. Ia mencatat market share naik tipis menjadi 30,1% dan menyebut bahwa dividen INTP menurun menjadi 16% dari sebelumnya 29% karena akuisisi Semen Grobogan dan rencana buyback saham senilai Rp 2,5 triliun hingga 2026. Aqil merekomendasikan hold dengan target harga Rp 5.500.
Kinerja INTP masih menghadapi tekanan dalam jangka pendek, tetapi prospek jangka panjang tetap menjanjikan jika permintaan membaik dan strategi efisiensi serta transisi energi terus dilanjutkan.
Proyek Nasional Bisa Jadi Motor Kinerja Emiten
HR1
11 Jun 2025 Kontan
PT Vale Indonesia Tbk (INCO) tengah menyusun berbagai strategi untuk memperkuat kinerjanya, dengan menargetkan sektor hilir dan pasar kendaraan listrik (EV) sebagai pendorong utama pertumbuhan jangka panjang. Salah satu langkah strategis yang sudah dimulai adalah penjualan bijih nikel, yang berhasil menyumbang pendapatan US$ 2,54 juta pada kuartal I-2025 dan mendorong lonjakan laba sebesar 252% yoy menjadi US$ 21,79 juta.
Menurut analis Phintraco Sekuritas, Lisya Anxellin dan Valdy Kurniawan, penjualan bijih nikel merupakan bagian dari penguatan strategi komersial INCO, sekaligus menjadi katalis pertumbuhan ke depan. Meskipun begitu, pendapatan total INCO turun 10,18% yoy akibat penurunan volume dan harga jual nikel matte, yang menjadi tantangan jangka pendek.
Indrawan Sitorus dari BNI Sekuritas menyoroti bahwa pengajuan RKAB 2025, termasuk izin penjualan bijih ke smelter eksternal, berpotensi disetujui pada kuartal II atau III tahun ini, yang akan memperkuat operasional. Ia juga mencatat efisiensi operasional INCO, meski proyek-proyek terkait EV masih dalam tahap konstruksi. Indrawan merekomendasikan buy dengan target harga Rp 4.000 per saham.
INCO juga gencar mengembangkan proyek Indonesia Growth Project (IGP) di Pomalaa, Morowali, dan Sorowako, yang ditargetkan menghasilkan mixed hydroxide precipitate (MHP) mulai 2026-2027, guna mendukung rantai pasok baterai EV. Dalam risetnya, Rizal Rafly dari Ajaib Sekuritas menilai potensi proyek MHP sangat besar, dengan kapasitas produksi gabungan 240 ktpa pada 2027. Namun ia menggarisbawahi bahwa adopsi EV masih lambat dan belum berdampak besar terhadap kinerja tahun ini.
Meski bisnis EV belum menghasilkan kontribusi signifikan dalam jangka pendek, para analis tetap optimis. Lisya, Valdy, Rizal, dan Indrawan kompak memberikan rekomendasi beli (buy) terhadap saham INCO, dengan proyeksi laba bersih naik 22% yoy menjadi US$ 71 juta pada 2025, serta target harga berkisar Rp 3.560–4.000 per saham.
Dengan strategi diversifikasi penjualan bijih, efisiensi operasional, dan investasi besar dalam proyek EV, serta dukungan mitra global seperti Ford dan Huayou, INCO dinilai prospektif untuk pertumbuhan jangka menengah hingga panjang, meski harus tetap mewaspadai fluktuasi harga nikel dan lambatnya adopsi kendaraan listrik.
Strategi Emiten: Naikkan Harga, Hadirkan Inovasi
HR1
10 Jun 2025 Kontan
PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP) menerapkan strategi kenaikan harga, inovasi produk, dan ekspansi ekspor untuk menjaga pertumbuhan kinerja di tengah risiko pelemahan daya beli masyarakat. Sejak Februari 2025, ICBP menaikkan harga Indomie sebesar Rp 100 per bungkus guna meningkatkan pendapatan dari segmen mi instan yang menyumbang 71,9% dari total pendapatan kuartal I-2025.
Namun, efek kenaikan harga ini belum tercermin signifikan dalam laporan kuartal I, dengan pertumbuhan volume penjualan hanya 1% yoy. Jessica Leonardy, analis OCBC Sekuritas, memperkirakan dampak positif baru akan terlihat pada kuartal II-2025. Ia menyebut strategi harga ini, didukung efisiensi manufaktur dan pengurangan pengeluaran operasional, akan menjaga stabilitas margin. Jessica memperkirakan segmen mi instan dapat tumbuh hingga 8% yoy di 2025.
Selain strategi harga, ICBP juga meluncurkan enam produk baru di awal tahun, termasuk varian baru mi instan, yogurt, dan makanan ringan. Menurut Catherine Florencia dari MNC Sekuritas, inovasi produk ini memperkuat posisi ICBP dalam persaingan, karena menunjukkan kemampuannya merespons perubahan selera konsumen. Catherine memproyeksikan pertumbuhan segmen makanan ringan, bumbu, dan nutrisi antara 6%–7% yoy, meski segmen susu dan minuman diprediksi melemah karena persaingan ketat.
Di pasar ekspor, ICBP menunjukkan pertumbuhan yang lebih baik dibanding pasar domestik, yaitu 3,6% yoy menjadi Rp 5,5 triliun. Jessica memproyeksikan pertumbuhan ekspor akan terus kuat di Asia, Timur Tengah, dan Afrika, dengan kontribusi ekspor bisa mencapai 24% dari total pendapatan. Salah satu pendorongnya adalah ekspansi melalui jaringan ritel global seperti Walmart di AS.
Namun, Indy Naila dari Edvisor Profina Visindo mengingatkan adanya risiko fluktuasi nilai tukar dalam ekspor. Meski begitu, ia tetap merekomendasikan buy untuk saham ICBP dengan target harga Rp 11.875, didukung pula oleh Jessica (Rp 14.600) dan Catherine (Rp 13.800).
Dividen Tambang Masih Menggiurkan Investor
HR1
10 Jun 2025 Kontan
Pekan ini menjadi momentum penting bagi investor yang ingin meraih keuntungan dari dividen saham emiten sektor pertambangan dan energi, karena sejumlah emiten sedang memasuki periode cum dividen—hari terakhir pembelian saham agar berhak menerima dividen.
Beberapa emiten yang tercatat membagikan dividen minggu ini antara lain PT Mitrabara Adiperdana Tbk (MBAP), PT Alamtri Minerals Indonesia Tbk (ADMR), PT Adaro Energy Indonesia Tbk (ADRO), dan PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO). MBAP akan membagikan Rp 38 per saham, ADMR sekitar Rp 47,27 per saham, dan PGEO naik dari Rp 47,77 menjadi Rp 53 per saham. Sementara itu, ADMR dan ADRO menunjukkan dividend yield yang menarik masing-masing sebesar 4,6% dan 7,4%.
Oktavianus Audi, VP di Kiwoom Sekuritas, menyatakan bahwa saham pertambangan seperti ADMR dan ADRO sangat menarik karena menawarkan yield tinggi. Namun, ia juga mengingatkan adanya potensi koreksi harga saham setelah cum date, terutama pada saham dengan yield di atas 5%, akibat aksi profit taking.
Ekky Topan, analis dari Infovesta Utama, menyoroti bahwa PGAS bahkan memberikan yield hingga 10%, mencerminkan stabilitas keuangan dan komitmen emiten dalam membagikan dividen. Ia juga menyarankan investor berburu dividen masuk setelah ex date, saat harga saham mulai stabil, khususnya pada saham seperti ADRO dan ADMR yang dianggap punya kombinasi baik antara yield, valuasi, dan kesehatan keuangan.
Praska Putrantyo, CEO Edvisor Provina Visindo, melihat fundamental ADRO menjanjikan, apalagi dengan arah transformasi menuju energi hijau. Ia juga menyarankan agar investor jangka panjang yang masuk saat musim dividen tetap meninjau prospek harga komoditas, karena itu akan memengaruhi performa emiten di sisa tahun 2025.
Pembagian dividen sektor pertambangan pekan ini menjadi peluang strategis bagi investor jangka pendek dan panjang. Namun, tokoh-tokoh seperti Oktavianus Audi, Ekky Topan, dan Praska Putrantyo menekankan pentingnya strategi masuk—baik sebelum maupun setelah ex date—dengan mempertimbangkan fundamental emiten, volatilitas harga saham, dan prospek sektor komoditas.
Industri Otomotif Masih Terjebak Perlambatan
HR1
09 Jun 2025 Kontan
Sektor otomotif nasional masih menghadapi tekanan berat akibat kondisi makroekonomi domestik dan global yang belum stabil. Sepanjang kuartal I-2025, Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) mencatat penurunan penjualan mobil sebesar 4,8% dan roda dua sebesar 3% secara tahunan. Analis Jason Sebastian dari Samuel Sekuritas Indonesia menilai, prospek sektor ini hingga akhir 2025 masih suram, utamanya karena lemahnya daya beli masyarakat dan pertumbuhan PDB yang rendah.
Dampak perlambatan ini terasa pada emiten besar seperti PT Astra International Tbk (ASII). Tim riset Ajaib Sekuritas Asia memproyeksikan penurunan penjualan roda empat ASII sebesar 8,8% dan pertumbuhan roda dua yang hanya naik tipis 2%. Emiten komponen seperti PT Dharma Polimetal Tbk (DRMA) juga terdampak, dengan pendapatan turun 1,6% kuartalan pada kuartal I-2025. Jason menambahkan, depresiasi rupiah turut menekan margin DRMA karena 30% harga pokok penjualannya berbasis dolar AS.
Namun, PT Selamat Sempurna Tbk (SMSM) justru mendapat angin segar dari depresiasi rupiah karena 60%-70% pendapatannya berasal dari ekspor. Meski demikian, Tim Riset Sinarmas Sekuritas tetap mewaspadai gangguan perdagangan global yang bisa memukul pendapatan ekspor SMSM.
Sektor otomotif juga mulai tersentuh sentimen kendaraan listrik. Penjualan battery electric vehicle (BEV) tumbuh pesat 211% (Januari–April 2025). SMSM dinilai oleh Sinarmas sebagai salah satu emiten yang paling siap menyambut pertumbuhan EV karena memiliki 70 jenis komponen khusus EV dan fasilitas produksi yang bisa diadaptasi tanpa investasi besar. Sebaliknya, ASII menghadapi tantangan karena harus mengalokasikan belanja modal signifikan tanpa jaminan laba jangka pendek.
Di tengah tekanan ini, Miftahul Khaer dari Kiwoom Sekuritas tetap optimistis akan pemulihan di paruh kedua 2025 jika daya beli masyarakat membaik. Ia merekomendasikan trading buy untuk saham AUTO, sementara Jason menyarankan hold untuk saham DRMA.
Sektor otomotif Indonesia masih dalam tekanan akibat ekonomi lesu, namun peluang tetap ada lewat pertumbuhan EV dan potensi pemulihan daya beli. Tokoh-tokoh seperti Jason Sebastian, Miftahul Khaer, dan tim riset Sinarmas dan Ajaib Sekuritas menjadi penyorot utama dalam analisis kinerja dan prospek emiten sektor ini.
Kebijakan KRIS Masih Tunggu Kejelasan Pemerintah
HR1
05 Jun 2025 Kontan
Kinerja PT Medikaloka Hermina Tbk (HEAL) pada kuartal I-2025 mencatat hasil kurang memuaskan, dengan pendapatan turun 0,58% menjadi Rp 1,69 triliun dan laba bersih anjlok 34,68% menjadi Rp 124,72 miliar. Penurunan ini dipicu oleh berkurangnya hari kerja, sehingga jumlah pasien menurun, menurut Ahmad Iqbal Suyudi, Investment Analyst Edvisor Profina Visindo.
Selain itu, tekanan jangka pendek dan menengah diperkirakan masih akan berlanjut karena adanya ketidakpastian tarif BPJS Kesehatan dan implementasi Kelas Rawat Inap Standar (KRIS) per Juli 2025. Hal ini terutama memengaruhi pendapatan dari peserta JKN, yang saat ini menyumbang lebih dari 70% pendapatan HEAL.
Meski demikian, prospek jangka panjang HEAL tetap positif. Rizal Rafly, Analis Ajaib Sekuritas, menyebut bahwa strategi ekspansi rumah sakit di Badung dan Salatiga serta peningkatan porsi pasien non-JKN menjadi katalis utama pertumbuhan. Ia memperkirakan pendapatan HEAL akan tumbuh 9,38% pada 2025 menjadi Rp 7,34 triliun, meskipun margin laba bersih sedikit tertekan menjadi 7,8%.
Dari sisi analisis saham, Rizal merekomendasikan beli (buy) dengan target harga Rp 1.670, sedangkan Ahmad menyarankan tahan (hold) di Rp 1.600. Sementara itu, James Stanley Widjaja dari Buana Capital justru menurunkan rekomendasi dari buy menjadi hold, dengan target harga baru Rp 1.430, karena proyeksi penurunan laba bersih HEAL sebesar 4,7% menjadi Rp 558 miliar.
Walau HEAL menghadapi tantangan dari sisi regulasi dan tekanan margin dalam jangka pendek, para analis seperti Ahmad Iqbal Suyudi, Rizal Rafly, dan James Stanley Widjaja tetap melihat peluang pertumbuhan jangka panjang dari strategi ekspansi dan peningkatan porsi pasien non-JKN.
Pilihan Editor
-
TRANSISI ENERGI : JURUS PAMUNGKAS AMANKAN EBT
26 Dec 2023 -
Ekspansi Nikel Picu Deforestasi 25.000 Hektar
14 Jul 2023








