;
Tags

Portofolio

( 322 )

Efisiensi Tak Menghambat Ekspansi Bisnis

HR1 23 Apr 2025 Kontan
Di tengah tekanan harga energi global, prospek PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) masih dinilai solid oleh para analis. Sukarno Alatas dari Kiwoom Sekuritas menyoroti langkah efisiensi MEDC, seperti penerbitan obligasi Rp 1 triliun untuk refinancing utang, dan penggunaan belanja modal (capex) untuk mempertahankan produksi serta efisiensi operasional.

Meskipun diperkirakan akan terjadi penurunan pendapatan sebesar 8% dan laba bersih 4% pada 2025, diversifikasi portofolio energi dan kontribusi segmen gas memberikan bantalan terhadap fluktuasi harga minyak. Selain itu, Andhika Audrey dari Panin Sekuritas menilai fundamental MEDC tetap kuat, terutama karena kontribusi laba dari entitas asosiasi PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) yang naik 141% yoy pada 2024.

Andhika juga menekankan keberhasilan efisiensi operasional MEDC, dengan penurunan rasio Opex terhadap penjualan dari 11% menjadi 9%. Ia tetap optimistis pada prospek MEDC meskipun harga minyak dan logam diprediksi fluktuatif.

Arief Budiman dari Ciptadana Sekuritas menambahkan bahwa pencapaian pengiriman gas di atas target, rencana ekspor listrik ke Singapura, serta program buyback saham senilai US$ 50 juta menjadi katalis positif lainnya. Ia menilai penurunan laba dari anak usaha PT Amman Mineral Nusa Tenggara bersifat sementara karena transisi produksi.

Harga Emas Naik, Emiten Tambang Tancap Gas

HR1 23 Apr 2025 Kontan (H)
Tahun 2025 diprediksi menjadi masa keemasan bagi industri emas global dan domestik, didorong oleh lonjakan harga emas yang luar biasa. Harga emas spot global tercatat melonjak 66,52% sejak awal tahun, sementara di Indonesia, emas Antam meningkat 39,18%, dan harga saham emiten seperti ANTM dan HRTA turut meroket.

Menurut Muhammad Thoriq Fadilla, analis dari Lotus Andalan Sekuritas, lonjakan ini dipicu oleh meningkatnya permintaan terhadap aset safe haven akibat gejolak geopolitik dan pelemahan dolar AS. Salah satu penggerak penting adalah aksi beli emas besar-besaran oleh bank sentral, terutama Bank Sentral China (PBoC) yang telah menambah cadangan emasnya secara signifikan dan kini menjadi pemilik cadangan emas terbesar keenam di dunia.

Kiwoom Sekuritas Indonesia menegaskan bahwa tren kenaikan ini bukan hanya euforia sesaat, melainkan berbasis fundamental ekonomi yang kuat dan meningkatnya kehati-hatian pasar. Diperkirakan harga emas bisa menembus US$ 4.000 per ons troi dalam waktu dekat.

Praska Putrantyo, CEO Edvisor Profina Visindo, menyatakan bahwa tren ini membuka peluang besar bagi emiten produsen emas untuk ekspansi dan meningkatkan produksi. Salah satunya, PT Bumi Resources Minerals (BRMS) menargetkan produksi emas meningkat menjadi lebih dari 75.000 ons troi pada 2025, seiring harga emas yang telah menembus US$ 3.000 per ons troi.

Praska juga menambahkan bahwa dalam jangka pendek hingga menengah, saham emiten emas berpotensi memberikan keuntungan besar, sedangkan logam mulia tetap menjadi pilihan investasi jangka panjang yang aman dan bernilai warisan.

Dengan dukungan faktor global seperti kebijakan bank sentral dan kondisi geopolitik, harga emas yang terus naik memberikan dorongan besar bagi kinerja sektor pertambangan emas dan menarik minat luas dari investor, sebagaimana ditegaskan oleh tokoh-tokoh seperti Thoriq Fadilla, Praska Putrantyo, dan Herwin Wahyu Hidayat.

Emiten Ini Menarik Meski Belum Untung

HR1 22 Apr 2025 Kontan
Kinerja PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) mengalami tekanan pada tahun 2024, dengan mencatatkan rugi bersih sebesar US$ 56 juta, meningkat dari kerugian tahun sebelumnya. Meskipun demikian, prospek jangka panjang MDKA dinilai masih positif oleh para analis, berkat fundamental operasional yang tetap solid, terutama dari pertumbuhan pendapatan sebesar 31,2% yoy menjadi US$ 2,23 miliar, yang didorong oleh peningkatan penjualan nikel dan bijih limonit.

Analis Andhika Audrey dari Panin Sekuritas menjelaskan bahwa tekanan kinerja terutama berasal dari lonjakan beban keuangan akibat tingginya suku bunga global. Namun ia tetap merekomendasikan buy untuk saham MDKA, meski dengan penurunan target harga menjadi Rp 1.200 karena tekanan pada harga nikel dan potensi keterlambatan proyek.

Sementara itu, analis Indy Naila dari Edvisor Provina Visindo melihat prospek positif MDKA didukung oleh potensi kenaikan harga emas dunia di tengah ketidakpastian global. Ia memperkirakan harga emas bisa mencapai US$ 3.400–US$ 3.500 per ons troi, yang akan meningkatkan pendapatan dan margin MDKA. Indy merekomendasikan buy dengan target harga Rp 2.160.

Dari sisi operasional, Benny Kurniawan dari JP Morgan mencatat bahwa produksi Tambang Emas Tujuh Bukit sesuai ekspektasi dan akan meningkat pada kuartal I 2025. Ia menekankan pentingnya efisiensi pada sektor nikel dan menyebut proyek Tambang Emas Pani sebagai pilar utama pertumbuhan ke depan. Benny mempertahankan rekomendasi overweight dengan target harga Rp 1.950.

Secara keseluruhan, meski masih menghadapi risiko seperti kenaikan belanja modal dan volatilitas harga komoditas, MDKA dinilai berada di jalur pemulihan, dengan strategi fokus pada ekspansi emas dan efisiensi operasional di sektor nikel yang berpotensi memperbaiki kinerja keuangan di masa depan.

Persaingan Kian Sengit di Tengah Pemain yang Menyusut

HR1 21 Apr 2025 Kontan
Merger antara PT XL Axiata Tbk (EXCL) dan PT Smartfren Telecom Tbk (FREN) yang menghasilkan entitas baru PT XLSmart Telecom Sejahtera Tbk (kode: EXCL), diyakini akan mengubah peta persaingan industri telekomunikasi Indonesia. Ekky Topan, Investment Analyst dari Infovesta Kapital Advisory, menilai bahwa kehadiran XLSmart dapat mengganggu dominasi operator lama seperti Telkomsel (TLKM) dan Indosat Ooredoo Hutchison (ISAT), terutama dalam konteks persaingan harga dan paket bundling.

XLSmart diprediksi akan fokus pada pasar menengah-bawah dengan menawarkan paket data murah, berbeda dari Telkomsel yang menyasar pasar premium dan Indosat yang aktif di segmen urban. Menurut Ekky, langkah strategis seperti diversifikasi produk dan inovasi layanan digital akan sangat penting bagi operator incumbent agar tetap kompetitif.

Niko Margaronis dan Kafi Ananta, analis dari BRI Danareksa Sekuritas, menyatakan bahwa merger ini bisa membuat struktur persaingan industri menjadi lebih teratur, dengan XLSmart mengandalkan optimalisasi pendapatan rata-rata per pengguna (ARPU) dari total 95,3 juta pelanggan.

Namun, Aurelia Barus dan Belva Monica dari Indo Premier Sekuritas mengingatkan bahwa tantangan tetap ada. Strategi menaikkan harga kartu perdana belum cukup efektif mendongkrak kinerja perusahaan hingga kuartal II 2025. Sementara itu, perang tarif dan beban investasi jaringan 5G masih menjadi tekanan utama bagi operator.

Di sisi lain, segmen Fiber to the Home (FTTH) menjadi harapan baru, dengan Telkom dan XL Axiata diproyeksikan mampu menunjukkan pertumbuhan pelanggan di segmen ini pada kuartal I 2025. Meski sektor ini diperkirakan hanya tumbuh sekitar 3% per kuartal sepanjang 2025 menurut Niko, prospeknya tetap menjanjikan seiring turunnya risiko persaingan kartu SIM baru.

Ekky menyebut valuasi saham di sektor ini cukup menarik. Ia menargetkan harga saham EXCL di Rp 2.300–2.400, TLKM di Rp 2.700–3.000, dan ISAT di Rp 2.000–2.400, dengan peluang kenaikan apabila terjadi rebound penggunaan data dan bundling serta momentum pasar yang positif.

Secara keseluruhan, merger ini memberi harapan baru bagi konsolidasi industri telekomunikasi, namun tetap harus dihadapi dengan strategi yang tepat oleh seluruh pelaku pasar untuk menjaga daya saing dan profitabilitas.

Tekanan Operasional Menghambat Kinerja

HR1 17 Apr 2025 Kontan

PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI) mengalami penurunan profitabilitas meskipun penjualan sepanjang tahun 2024 tumbuh solid sebesar 13,6% year-on-year (yoy), mencapai Rp 37,8 triliun. Tekanan berasal dari peningkatan beban operasional seperti gaji dan sewa yang masing-masing naik 7,4% dan 17,1% yoy, serta strategi diskon agresif yang menekan margin laba kotor. Akibatnya, laba bersih MAPI turun 6,7% menjadi Rp 1,76 triliun.

Analis Bahana Sekuritas, Laras Nadira, menyebut bahwa kenaikan tarif sewa pusat perbelanjaan akan terus menjadi tantangan bagi profitabilitas MAPI. Ia memproyeksikan margin laba kotor akan membaik ke 43,8% pada 2025 dan 2026 melalui strategi pengelolaan merchandise dan fokus pada produk unggulan. Namun, Laras tetap mengambil pendekatan konservatif dengan memangkas target harga saham menjadi Rp 1.600 dan memberikan rekomendasi hold.

Analis JP Morgan, Benny Kurniawan, justru melihat kinerja MAPI pada 2024 lebih baik dari ekspektasi pasar, dan memberikan rating overweight dengan target harga Rp 1.760 per saham. Sementara itu, Indy Naila, Investment Analyst di Provina Visindo, masih optimistis dengan potensi pertumbuhan MAPI di 2025 karena daya beli masyarakat menengah atas yang tangguh serta prospek sektor food and beverage, dan merekomendasikan buy dengan target harga Rp 1.850 per saham.

Meskipun menghadapi tekanan margin dan risiko konsumsi yang melemah, MAPI tetap memiliki prospek pertumbuhan terbatas dengan proyeksi pertumbuhan penjualan sebesar 9% untuk 2025 dan 2026.

KLBF Redam Risiko Kurs Lewat Strategi Efisiensi

HR1 16 Apr 2025 Kontan

PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) memasang target pertumbuhan yang lebih konservatif di tahun 2025, yakni 8%-10% untuk pendapatan dan laba. Strategi baru difokuskan pada ekspansi produk, komersialisasi alat kesehatan, serta diversifikasi transaksi pembelian bahan baku menggunakan mata uang yuan sebagai langkah mitigasi risiko fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.

Analis Abdul Azis dari Kiwoom Sekuritas menilai langkah penggunaan yuan sebagai strategi diversifikasi risiko yang cerdas di tengah ketidakpastian ekonomi. Meski ada tantangan berupa pelemahan daya beli masyarakat, Azis masih menilai target KLBF dapat dicapai dengan strategi yang telah disiapkan, dan memberikan rekomendasi speculative buy dengan target harga Rp 1.240–Rp 1.245 per saham.

Sementara itu, menurut Sarkia Adelia dari Panin Sekuritas, pertumbuhan KLBF di kuartal IV-2024 sangat didorong oleh segmen distribusi-logistik dan consumer health, terutama dari produk preventif dan dialyzer. Dia juga mencermati bahwa strategi pengembangan alat kesehatan serta kemitraan dengan pihak ketiga akan menjadi penopang pertumbuhan ke depan. Sarkia memberi rekomendasi buy, meski menurunkan target harga dari Rp 1.700 ke Rp 1.350.

Dari sudut pandang Willy Goutama (Maybank Sekuritas), peningkatan margin kotor dan laba bersih KLBF yang didorong penurunan biaya produksi menunjukkan efisiensi operasional yang kuat. Ia memproyeksikan laba bersih KLBF mencapai Rp 3,5 triliun di 2025, dan terus naik hingga Rp 4,5 triliun di 2027, dengan rata-rata pertumbuhan EPS 12% per tahun. Namun, ia juga menyesuaikan target harga menjadi Rp 1.450 per saham dengan rekomendasi buy.

Meskipun menghadapi tekanan daya beli dan tantangan ekonomi global, KLBF tetap menunjukkan prospek positif melalui strategi efisiensi, ekspansi produk, dan diversifikasi risiko mata uang, seperti disampaikan oleh ketiga tokoh analis tersebut.

Potensi Impor Naik Bisa Ganggu Industri Lokal

HR1 11 Apr 2025 Kontan
Meskipun kebijakan pemerintah untuk menghapus kuota impor komoditas strategis menimbulkan potensi tantangan, prospek PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA) tetap dinilai positif di tahun 2025, terutama karena dukungan dari stabilitas harga bahan baku dan peluang besar dari program pemerintah.

Ahmad Iqbal Suyudi, Investment Analyst dari Edvisor Profina Visindo, menilai bahwa pembukaan keran impor bisa menekan harga jual akibat melimpahnya pasokan daging, yang berpotensi menurunkan pendapatan JPFA. Namun, pada level nilai tukar rupiah saat ini, dampaknya masih dianggap terbatas.

Abdul Azis Setyo Wibowo, Analis dari Kiwoom Sekuritas, juga menyampaikan kekhawatirannya bahwa impor dapat menurunkan harga ayam, yang sudah terlihat pada kuartal pertama 2025. Meski demikian, penurunan harga tersebut berhasil diimbangi oleh kestabilan harga bahan baku seperti jagung.

Ezaridho Ibnutama dari NH Korindo Sekuritas menyoroti bahwa program Makan Bergizi Gratis (MBG) menjadi pendorong utama pertumbuhan JPFA ke depan. Dengan target 82,9 juta penerima manfaat pada 2027, JPFA sebagai pemain utama dalam program ini berada dalam posisi yang sangat strategis. Ia memproyeksikan pendapatan JPFA tumbuh 9,03% menjadi Rp 60,84 triliun, dengan laba bersih naik tipis 0,93% ke Rp 3,24 triliun.

Ezaridho dan Edvisor merekomendasikan saham JPFA dengan rating buy, target harga di kisaran Rp 2.400–Rp 2.500. Sementara Aziz menyarankan strategi trading jangka pendek hingga menengah, dengan target harga lebih konservatif di Rp 2.000–Rp 2.010.

Namun, para analis juga menekankan risiko dari ketergantungan impor kedelai, potensi kelebihan pasokan unggas, dan keberlanjutan program MBG yang masih bergantung pada realisasi anggaran dan implementasi pemerintah.

Prospek JPFA tetap menjanjikan, dengan catatan perlunya perhatian pada fluktuasi harga bahan baku dan kebijakan pemerintah yang berpengaruh terhadap pasar domestik.

Penundaan Tarif AS Tak Bisa Buat Terlena

HR1 11 Apr 2025 Kontan (H)
Pasar saham global, termasuk Indonesia, sempat bergairah usai keputusan Presiden Amerika Serikat Donald Trump menunda penerapan tarif impor balasan selama 90 hari—kecuali terhadap China. Penundaan ini menjadi katalis positif jangka pendek, mendorong IHSG naik 4,79% ke level 6.254,02 pada Kamis (10/4), sejalan dengan penguatan di bursa Asia lainnya seperti Jepang dan Taiwan.

Namun, para analis memperingatkan agar euforia ini tidak dianggap sebagai sinyal pemulihan permanen. Liza Camelia Suryanata, Head of Research Kiwoom Sekuritas, menyebut bahwa sentimen ini hanya bersifat temporer. Jika tidak ada progres nyata dalam negosiasi perdagangan selama masa tenggang, maka indeks kemungkinan akan kembali tertekan.

Ezaridho Ibnutama dari NH Korindo Sekuritas memandang strategi Trump kemungkinan bertujuan melemahkan ekonomi China dalam jangka panjang, namun penundaan tarif ini tetap bisa membawa efek positif bagi Indonesia, seperti pemulihan IHSG dan penguatan rupiah ke kisaran Rp 16.400–Rp 16.600 per dolar AS.

Sementara itu, Indy Naila dari Edvisor Profina Visindo memperkirakan IHSG bisa menembus kisaran 6.500–6.800 selama kuartal kedua 2025, dengan sektor barang konsumsi primer menjadi pilihan aman bagi investor.

Liza juga menekankan pentingnya kewaspadaan terhadap harga komoditas seperti batubara dan CPO, serta arah kebijakan The Fed. Ia menyarankan saham di sektor konsumen, perbankan, dan emiten dengan dividen tinggi sebagai alternatif defensif di tengah volatilitas yang diperkirakan masih tinggi dalam beberapa pekan ke depan.

Penundaan tarif oleh Trump memang memantik optimisme pasar, namun investor disarankan tetap berhati-hati dan fokus pada strategi jangka menengah dengan mempertimbangkan risiko global dan volatilitas yang masih tinggi.

Jalan Tol Melambat, Kinerja Jasa Marga Terpengaruh

HR1 10 Apr 2025 Kontan
PT Jasa Marga Tbk (JSMR) menghadapi tantangan perlambatan pertumbuhan kinerja pada tahun 2025, terutama disebabkan oleh stagnasi volume lalu lintas di jalan tol. Meskipun pendapatan JSMR tumbuh signifikan sebesar 35% yoy menjadi Rp 28,70 triliun pada 2024, laba bersih justru turun 33% yoy ke angka Rp 4,5 triliun, terutama karena hilangnya keuntungan dari revaluasi investasi di Tol Trans Jawa.

Andhika Cipta Labora, analis dari Kanaka Hita Solvera, memproyeksikan trafik kendaraan tahun ini tak jauh berbeda dengan tahun sebelumnya, ditandai dengan penurunan jumlah pemudik saat Lebaran 2025—momen penting bagi peningkatan trafik. Sementara itu, Aqil Triyadi dari Panin Sekuritas menyebut tren lalu lintas yang datar sebagai faktor penekan utama, dan memperkirakan dua ruas tol baru yang akan dioperasikan JSMR tidak akan memberikan dampak signifikan.

Namun, Sukarno Alatas dari Kiwoom Sekuritas masih optimistis. Ia menilai bahwa penyesuaian tarif tol yang dilakukan JSMR akan menjadi sumber pertumbuhan pendapatan di tahun ini, karena efeknya baru akan terasa penuh pada 2025. Sukarno memperkirakan pendapatan JSMR bisa tumbuh hingga 7% menjadi Rp 30,93 triliun, meski laba bersih diprediksi tetap menurun sebesar 18%.

Dari sisi rekomendasi saham, Aqil menurunkan rekomendasi dari buy menjadi hold dengan target harga Rp 4.200 per saham, menimbang potensi kinerja yang melambat. Sebaliknya, Sukarno dan Nafan Aji Gusta dari Mirae Asset Sekuritas tetap memberikan rekomendasi buy, masing-masing dengan target harga Rp 5.500 dan Rp 4.180.

Meskipun JSMR masih memiliki peluang dari penyesuaian tarif, para analis menyoroti stagnasi trafik sebagai hambatan utama bagi pertumbuhan laba perusahaan di 2025.

Lemahnya Daya Beli Jadi Ancaman untuk ISAT

HR1 09 Apr 2025 Kontan
Kinerja PT Indosat Tbk (ISAT) pada tahun 2024 menunjukkan hasil yang positif dengan pendapatan yang meningkat 9,1% secara year on year (yoy), mencapai Rp 55,88 triliun, serta laba bersih yang tumbuh 11,41% menjadi Rp 5,27 triliun. Peningkatan pendapatan data sebesar 7,4% menjadi Rp 44,2 triliun menjadi pendorong utama meskipun terdapat tekanan akibat persaingan ketat, terutama terkait dengan SIM murah.

Menurut Angga Septianus, Analis IPOT, meskipun pasar telekomunikasi menghadapi persaingan yang ketat, permintaan data yang terus meningkat memberikan potensi bagi ISAT untuk tumbuh, meskipun ruang untuk peningkatan terbatas. Paulus Jimmy, Analis Sucor Sekuritas, juga melihat bahwa meskipun persaingan semakin ketat, tren penggunaan SIM murah yang membebani ISAT mulai mereda, memberikan harapan bagi kestabilan kinerja perusahaan.

Namun, Aqil Triyadi dari Panin Sekuritas menurunkan target harga ISAT dari Rp 2.750 menjadi Rp 2.400 per saham, sementara Angga dan Paulus mematok target harga masing-masing Rp 2.200 dan Rp 2.350 per saham. Meskipun begitu, potensi pertumbuhan pendapatan masih terjaga, dengan proyeksi pendapatan 2025 meningkat menjadi Rp 60,1 triliun, dan laba bersih diperkirakan naik menjadi Rp 5,3 triliun.

ISAT juga mengandalkan strategi untuk menjaga profitabilitas dengan memperluas jaringan 5G dan berfokus pada peningkatan kualitas melalui teknologi AI, berkolaborasi dengan perusahaan global NVIDIA. Secara keseluruhan, meskipun tantangan persaingan dan kondisi ekonomi dapat membatasi laju pertumbuhannya, ISAT diperkirakan tetap memiliki peluang untuk terus tumbuh di tengah permintaan data yang semakin tinggi.