;
Tags

Portofolio

( 322 )

Emas Masih Jadi Andalan Kinerja Emiten

HR1 13 Mar 2025 Kontan
Prospek kinerja PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) diprediksi tetap positif pada 2025, meskipun sahamnya masih mengalami tekanan. Ahmad Iqbal Suyudi, Investment Analyst Edvisor Profina Visindo, menyatakan bahwa likuiditas perbankan yang ketat tidak menghalangi prospek positif BRIS, terutama karena potensi penurunan suku bunga oleh Bank Indonesia (BI) dan peran BRIS sebagai bullion bank atau bank emas pertama di Indonesia.

BRIS mencatat pertumbuhan pembiayaan 17% year-on-year (yoy) di Januari 2025, melebihi rata-rata industri yang tumbuh 10,2% yoy. Faiq Asad, analis Maybank Sekuritas, menyoroti bahwa pembiayaan payroll dan pembiayaan emas menjadi pendorong utama pertumbuhan ini, terutama dengan ekspansi BRIS dalam ekosistem bisnis emas, termasuk trading emas dan deposito emas.

Pada Januari 2025, laba bersih BRIS tumbuh 15% yoy menjadi Rp 590 miliar, didukung oleh pembiayaan dan pendapatan berbasis komisi, sementara net interest margin (NIM) stabil di 5,1%. James Stanley Widjaja, analis Buana Capital, menyebut BRIS menargetkan pertumbuhan pembiayaan emas mendekati 100% pada 2025, yang akan mendorong NIM dan cost of credit (CoC) ke arah positif. Ia memperkirakan laba bersih BRIS pada 2025 bisa mencapai Rp 8,26 triliun, naik 18% dari tahun sebelumnya.

Namun, saham BRIS masih tertekan, dengan harga di Rp 2.540 per saham pada 12 Maret 2025. Dalam sebulan terakhir, harga BRIS turun 15,33%, akibat sentimen global terhadap Indonesia yang penuh ketidakpastian, menyebabkan keluarnya aliran dana asing, menurut Faiq.

Meskipun demikian, prospek jangka panjang BRIS tetap cerah dengan pertumbuhan bisnis emas, perkembangan industri syariah, serta daya saing yang semakin setara dengan bank konvensional. Faiq mempertahankan rating "buy" untuk BRIS dengan target harga Rp 3.600, sementara James dan Ahmad merekomendasikan target harga masing-masing Rp 3.500 dan Rp 3.200 per saham.

Harga Emas Naik, Jadi Pelindung Investasi

HR1 12 Mar 2025 Kontan
Prospek PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) di 2025 tetap positif meskipun ada potensi kenaikan tarif royalti emas dan perak. Analis Kiwoom Sekuritas Indonesia, Miftahul Khaer, menyebut kenaikan royalti bisa menggerus margin keuntungan BRMS. Namun, dampaknya dapat diminimalkan dengan harga emas yang masih tinggi serta optimalisasi produksi dan efisiensi operasional.

Investment Analyst Edvisor Profina Visindo, Indy Naila, memperkirakan jika tarif royalti naik menjadi 5%, margin BRMS bisa turun hingga 80%, mengingat emas menyumbang 98% dari total pendapatan perusahaan. Namun, BRMS masih menghadapi risiko fluktuasi harga emas dan perubahan regulasi komoditas.

Ekspansi melalui pabrik CIL3 di Citra Palu Minerals (CPM) menjadi katalis utama peningkatan produksi emas BRMS. Analis Pilarmas Investindo Sekuritas, Arinda Izzaty, menilai kenaikan tarif royalti bisa diimbangi dengan target produksi emas BRMS yang mencapai 75.000 ons troi di 2025. Diversifikasi ke logam dasar seperti seng dan perak juga bisa mendukung pertumbuhan emiten ini.

Analis Maybank Sekuritas, Hasan Barakwan, memperkirakan total produksi emas BRMS di 2025 naik 13,3% yoy menjadi 58.700 ons troi. Pendapatan BRMS diproyeksikan tumbuh 17,32% yoy menjadi US$ 149 juta, dengan laba bersih naik 12% yoy menjadi US$ 28 juta.

Dari sisi saham, Miftahul Khaer melihat harga BRMS masih sideways tetapi berpotensi meningkat. Dia merekomendasikan buy on weakness dengan target harga Rp 400 per saham. Indy Naila merekomendasikan trading buy dengan target Rp 428 per saham, sementara Arinda Izzaty dan Hasan Barakwan optimistis dengan target harga masing-masing Rp 450 dan Rp 480 per saham.

Astra International Hadapi Tantangan, tetapi Tetap Prospektif di 2025

HR1 11 Mar 2025 Kontan
Kinerja PT Astra International Tbk (ASII) diperkirakan tetap tumbuh pada 2025, meskipun mengalami perlambatan akibat beberapa tantangan ekonomi. Investment Analyst Edvisor Profina Visindo, Ahmad Iqbal Suyudi, menyoroti pelemahan daya beli masyarakat, tingginya suku bunga yang mempengaruhi penjualan kendaraan, serta harga batubara yang lemah sebagai faktor penghambat. Namun, peluang pertumbuhan tetap ada, terutama dari penjualan mobil bekas melalui OLXMobbi, karena masyarakat cenderung beralih ke kendaraan bekas di tengah daya beli yang menurun.

Analis Maybank Sekuritas, Paulina Margareta, menilai meskipun harga crude palm oil (CPO) masih tinggi, kontribusi sektor agribisnis terhadap laba ASII relatif kecil, sehingga tidak berdampak signifikan. Ia melihat sektor multifinance ASII akan menjadi pendorong utama kinerja perusahaan, khususnya dalam penjualan kendaraan baru dan bekas.

Di sisi lain, Analis KB Valbury Sekuritas, Akhmad Nurcahyadi, memperkirakan adanya penurunan kinerja ASII pada 2025, dengan pendapatan diproyeksikan turun 1,03% menjadi Rp 327,5 triliun dan laba bersih turun 5,34% menjadi Rp 32,23 triliun. Analis BRI Danareksa, Richard Jerry, juga memangkas proyeksi penjualan mobil ASII pada 2025 menjadi 504.197 unit dan memperkirakan margin operasional turun akibat meningkatnya biaya pemasaran dan diskon.

Namun, bisnis otomotif ASII masih cukup tangguh, dengan pangsa pasar roda empat yang tetap di 56%, penjualan sepeda motor tumbuh 2% yoy menjadi 6,3 juta unit, dan dominasi kendaraan listrik hybrid mencapai 60% pangsa pasar.

ASII juga terus melakukan ekspansi, termasuk melalui anak usahanya, United Tractors (UNTR), yang memperkuat portofolio energi terbarukan dengan mengakuisisi 20,2% saham tambahan di PT Supreme Energy Rantau Dedap (SERD). Selain itu, ASII memperluas kehadirannya di sektor kesehatan dengan mengakuisisi 95,8% saham Heartology Cardiovascular Hospital dan meningkatkan kepemilikannya di Halodoc menjadi 31,3%.

Rekomendasi saham ASII tetap positif, dengan Akhmad menargetkan harga Rp 5.850, Ahmad Iqbal Rp 5.300, dan Paulina Rp 5.650.

Emiten Unggas Tetap Optimis di Tengah Ketidakpastian

HR1 10 Mar 2025 Kontan
Prospek sektor unggas di 2025 dipandang masih positif, didukung oleh momentum Ramadan dan program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang meningkatkan permintaan. Analis Kiwoom Sekuritas, Abdul Azis Setyo Wibowo, menilai harga ayam yang meningkat saat Ramadan serta pelaksanaan MBG akan berdampak positif bagi kinerja emiten unggas.

Equity Research Mirae Asset, Andreas Saragih, juga melihat harga day-old chick (DOC) dan broiler di pasar tumbuh positif dalam beberapa bulan ke depan. Meskipun pada awal 2025 harga DOC dan broiler masih di bawah referensi harga baru yang ditetapkan pada Juli 2024, perbandingan tahunan menunjukkan kenaikan harga DOC sebesar 83,1% dan ayam broiler naik 12,6% dibanding Januari 2024.

Salah satu faktor pendukung adalah biaya bahan baku yang tetap terkendali. Harga jagung dalam negeri meningkat 4% dibanding bulan sebelumnya menjadi Rp 6.354 per kg, tetapi masih turun 8,6% dibanding tahun lalu. Harga soybean meal (SBM) juga naik 4% dibanding bulan sebelumnya, tetapi masih turun 17,1% dari tahun lalu.

Baik Aziz maupun Andreas tetap mempertahankan peringkat overweight untuk sektor unggas, dengan peningkatan anggaran MBG sebagai katalis utama. Andreas merekomendasikan Japfa Comfeed Tbk (JPFA) dengan target harga Rp 2.400 per saham, sementara Aziz menargetkan Rp 2.350 per saham.

Sementara itu, Analis BRI Danareksa, Victor Stefano, merekomendasikan buy untuk beberapa emiten unggas, diantaranya Malindo Feedmill Tbk (MAIN) dengan target harga Rp 1.900, Japfa Comfeed Tbk (JPFA) dengan target harga Rp 2.800, Charoen Pokphand Tbk (CPIN) dengan target harga Rp 6.700

Victor juga mengingatkan bahwa risiko utama sektor ini adalah potensi melambatnya permintaan, lonjakan biaya pakan, serta ketidakpastian dalam program pangan pemerintah. Namun, secara keseluruhan, sektor unggas masih memiliki prospek pertumbuhan yang solid di 2025.

Laba Industri Pupuk Tumbuh di Tengah Volatilitas Pasar

HR1 08 Mar 2025 Kontan
PT Delta Giri Wacana Tbk (DGWG) optimistis dapat meningkatkan pendapatan dan laba melalui ekspansi bisnis di sektor pupuk dan agrokimia setelah melantai di bursa pada 13 Januari 2025. Direktur DGWG, Danny Jo Putra, menyatakan bahwa industri agro input masih memiliki prospek cerah pada 2025, seiring dengan upaya pemerintah dalam mencapai ketahanan pangan.

Saat ini, bisnis utama DGWG berada di segmen pupuk dan agrokimia, yang menyumbang bagian terbesar dari total penjualan Rp 3,4 triliun pada 2024.

Untuk memperluas pasar, DGWG berencana membangun pabrik pupuk baru di Sumatra dengan kapasitas 200 metrik ton per tahun pada tahap awal. Pabrik ini bertujuan untuk memenuhi permintaan lokal dengan harga yang lebih kompetitif karena biaya distribusi yang lebih rendah.

Selain ekspansi produksi, DGWG juga melakukan diversifikasi produk di segmen pestisida, pupuk, dan alat-alat pertanian. Perusahaan juga menjajaki pasar ekspor untuk produk karbamasi, dengan target wilayah ASEAN, China, Asia Selatan, Australia, dan Amerika Latin (Brazil).

Di dalam negeri, DGWG memperluas cakupan pasar dengan model business to business (B2B) dan business to business to consumer (B2B2C). Dengan strategi ekspansi ini, DGWG menargetkan pertumbuhan pendapatan 16% dan kenaikan laba bersih 27%. Perusahaan juga telah mengalokasikan belanja modal (capex) sebesar Rp 133 miliar pada 2025, setelah merealisasikan Rp 182 miliar pada 2024.

Dengan ekspansi kapasitas produksi, diversifikasi produk, serta strategi pemasaran yang agresif, DGWG yakin dapat memperkuat posisinya di industri agro input dan mendorong pertumbuhan bisnis yang berkelanjutan.

Harga Emas Naik, Investor Panen Cuan

HR1 07 Mar 2025 Kontan
Kinerja PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) diproyeksikan tetap kuat, terutama didukung oleh tren kenaikan harga emas global dan kerja sama strategis dengan PT Freeport Indonesia (PTFI). Rizal Nur Rafly, Equity Research Analyst Panin Sekuritas, menilai bahwa peningkatan harga emas akan berdampak positif pada ANTM, mengingat penjualan emas menjadi penyumbang utama pendapatan perusahaan. Pada Januari-September 2024, penjualan emas ANTM mencapai 1,4 juta ons troi, naik 67,5% year-on-year (YoY).

Rizkia Darmawan, Analis Mirae Asset Sekuritas, menyebutkan bahwa kemitraan ANTM dengan Freeport, yang melibatkan perjanjian offtake 30 ton emas per tahun senilai US$ 12,5 miliar, memberikan keuntungan dari sisi biaya pembelian lebih rendah, pengurangan eksposur valas, dan penghematan pajak impor sebesar 2,5%. Dengan kerja sama ini, margin emas ANTM diperkirakan meningkat 1%-2%, yang berkontribusi pada kenaikan laba bersih. Selain itu, efisiensi biaya dari smelter FeNi Pomalaa yang beralih ke listrik PLN juga diperkirakan menurunkan biaya tunai produksi.

Namun, tantangan datang dari harga nikel yang melemah akibat kelebihan pasokan global, serta kebijakan pengurangan kuota bijih nikel yang dapat mempengaruhi bisnis nikel ANTM. Michael Wildon, Analis Verdhana Sekuritas, tetap optimistis terhadap prospek ANTM karena fundamentalnya yang kuat dan peningkatan penjualan bijih nikel serta bauksit. Dengan pabrik peleburan Mempawah Alumina mulai beroperasi di semester II-2025, penjualan bauksit diprediksi tumbuh 270% menjadi 2,7 juta ton.

Dugaan penjualan emas palsu oleh ANTM dinilai oleh Rafly dapat berdampak negatif terhadap kepercayaan investor, meskipun efeknya terhadap fundamental perusahaan masih harus dikaji lebih lanjut.

Prospek ANTM tetap positif dengan potensi pertumbuhan laba tahun 2025-2026 sebesar 17%-25%, didukung oleh harga emas yang diproyeksikan naik hingga US$ 2.700 per ons troi. Para analis sepakat memberikan rekomendasi beli (buy) untuk saham ANTM, dengan target harga dari Rp 1.700 hingga Rp 2.100 per saham.

Saham Konsumer Ritel Kian Atraktif Dengan Peluang Cuan Hingga 65 %

KT1 06 Mar 2025 Investor Daily (H)

Ramadan menjadi momentum terbaik bagi emiten konsumer (consumer goods) dan ritel modern untuk memacu penjualan dan menanggok untung lebih, mengingat daya beli masyarakat biasanya lebih meningkat dibanding bulan biasanya. Langkah perusahaan konsumer ritel yang gencar meningkatkan promosi untuk mengoptimalkan perolehan keuntungan, akan membawa saham-sahamnya kian atraktif dengan peluang cuan hingga 65%. “Di tengah kekhawatiran melemahnya permintaan selama musim Idul Fitri, kami tetap meyakini emiten konsumer ritel akan mampu mencatatkan pertumbuhan pendapatan yang solid. Meski, persaingan akan ketat dan volatilitas dariharga komoditas dapat menimbulkan tantangan terhadap margin emiten," kata Analis BRI Danareksa Sekuritas, Natalia Sutanto dan Sabela Nur Amalina dalam risetnya yang dipublikasi Rabu (5/3/2025).

BRI Danareksa Sekuritas (BRIDS) menyematkan rekomendasi buy untuk empat saham ritel modern, yakni PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI) dengan target harga Rp 2.000, PT MAP Aktif Adiperkasa Tbk (MAPA) di target harga Rp 1.250, PT Aspirasi Hidup Indonesia Tbk (ACES) dengan target harga Rp 1.100 dan PT Midi Utama Indonesia Tbk (MIDI) dengan target harga Rp 540. Di sektor konsumer, sekuritas tersebut memberi rekomendasi buy untuk lima saham, yakni PT Indofood CBP Sukses Makmur (ICBP) dengan target harga Rp 14.000, PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) di target harga Rp 8.800, PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) dengan target harga Rp 1.800, PT Mayora Indah Tbk (MYOR) dengan target harga Rp 3.050, dan PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk (SIDO) dengan target harga Rp 640, serta hold saham PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) di target harga Rp 1.500. (Yetede)

Ekspansi Gerai di Luar Jawa Jadi Andalan Baru AMRT

HR1 06 Mar 2025 Kontan
Strategi ekspansi PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT) ke luar Pulau Jawa menjadi faktor kunci dalam memperkuat posisi pasar dan mendukung pertumbuhan jangka panjang, meskipun masih dihadapkan pada tantangan daya beli masyarakat dan ketidakpastian ekonomi global.

Menurut Maximilianus Nico Demus, Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, prospek AMRT tetap optimistis dengan proyeksi kenaikan penjualan 10%-20%. Faktor pendorongnya meliputi strategi diskon, peningkatan ekosistem digital melalui Alfagift, serta momentum konsumsi saat Lebaran.

Sementara itu, Rifdah Fatin Hasanah, Research Analyst Ina Sekuritas, menilai ekspansi AMRT di luar Pulau Jawa membawa dampak positif dengan pertumbuhan gerai CAGR 11,2%, didorong oleh biaya tenaga kerja lebih rendah dan sewa yang lebih terjangkau. Selain itu, perluasan pusat distribusi dan gudang juga meningkatkan efisiensi rantai pasokan, terutama untuk produk makanan beku bermargin tinggi.

Andrianto Saputra, Analis Indo Premier Sekuritas, mengamati bahwa kinerja AMRT masih kuat di awal 2025, meskipun terdapat tekanan dari peningkatan pengeluaran operasional (opex) akibat pembangunan tiga distribution center (DC) baru pada kuartal III-2024. AMRT juga berencana menambah dua DC di Palangkaraya dan Bengkulu pada semester kedua 2025, yang dalam jangka pendek dapat memberikan tekanan pada leverage operasi.

Ketiga analis sepakat merekomendasikan "buy" untuk saham AMRT, dengan target harga berbeda: Andrianto (Rp 3.050 per saham), Nico (Rp 3.250 per saham), dan Rifdah (Rp 3.300 per saham). Secara keseluruhan, strategi ekspansi dan peningkatan efisiensi diharapkan dapat menjaga pertumbuhan AMRT meskipun masih ada tantangan daya beli.

Ekspansi Gerai di Luar Jawa Jadi Andalan Baru AMRT

HR1 06 Mar 2025 Kontan
Strategi ekspansi PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT) ke luar Pulau Jawa menjadi faktor kunci dalam memperkuat posisi pasar dan mendukung pertumbuhan jangka panjang, meskipun masih dihadapkan pada tantangan daya beli masyarakat dan ketidakpastian ekonomi global.

Menurut Maximilianus Nico Demus, Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, prospek AMRT tetap optimistis dengan proyeksi kenaikan penjualan 10%-20%. Faktor pendorongnya meliputi strategi diskon, peningkatan ekosistem digital melalui Alfagift, serta momentum konsumsi saat Lebaran.

Sementara itu, Rifdah Fatin Hasanah, Research Analyst Ina Sekuritas, menilai ekspansi AMRT di luar Pulau Jawa membawa dampak positif dengan pertumbuhan gerai CAGR 11,2%, didorong oleh biaya tenaga kerja lebih rendah dan sewa yang lebih terjangkau. Selain itu, perluasan pusat distribusi dan gudang juga meningkatkan efisiensi rantai pasokan, terutama untuk produk makanan beku bermargin tinggi.

Andrianto Saputra, Analis Indo Premier Sekuritas, mengamati bahwa kinerja AMRT masih kuat di awal 2025, meskipun terdapat tekanan dari peningkatan pengeluaran operasional (opex) akibat pembangunan tiga distribution center (DC) baru pada kuartal III-2024. AMRT juga berencana menambah dua DC di Palangkaraya dan Bengkulu pada semester kedua 2025, yang dalam jangka pendek dapat memberikan tekanan pada leverage operasi.

Ketiga analis sepakat merekomendasikan "buy" untuk saham AMRT, dengan target harga berbeda: Andrianto (Rp 3.050 per saham), Nico (Rp 3.250 per saham), dan Rifdah (Rp 3.300 per saham). Secara keseluruhan, strategi ekspansi dan peningkatan efisiensi diharapkan dapat menjaga pertumbuhan AMRT meskipun masih ada tantangan daya beli.

Ekspansi Jadi Senjata Baru AKRA Hadapi Tantangan

HR1 05 Mar 2025 Kontan
PT AKR Corporindo Tbk (AKRA) menargetkan laba bersih Rp 2,6 triliun di 2025, didorong oleh ekspansi Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) BP-AKR dan penjualan lahan industri di Java Integrated Industrial and Port Estate (JIIPE).

Analis Indy Naila dari Edvisor Profina Visindo menilai strategi ekspansi SPBU AKRA bisa sukses karena permintaan bahan bakar tetap tinggi. Namun, fluktuasi harga minyak masih menjadi risiko bagi margin keuntungan AKRA. Sementara itu, segmen lahan industri memiliki potensi besar, terutama jika AKRA bisa menarik investor asing. Tantangan utama adalah regulasi dan proses penjualan lahan yang membutuhkan waktu.

Bob Setiadi dari CGS International Sekuritas melihat bisnis perdagangan dan distribusi AKRA masih menghadapi tantangan. Ia menurunkan asumsi volume penjualan BBM sebesar 1% dan memperkirakan penjualan lahan JIIPE di 2025-2026 hanya 80 hektare. Meski begitu, Bob tetap memperkirakan pendapatan AKRA tumbuh tipis menjadi Rp 38,75 triliun di 2025, dengan laba bersih mencapai Rp 2,4 triliun.

Sementara itu, Niko Pandowo dari Sucor Sekuritas lebih optimistis, memperkirakan penjualan lahan JIIPE bisa mencapai 100 hektare di 2025. Selain itu, tiga penyewa utama di JIIPE, yaitu Freeport, Xinyi Glass, dan Zhejiang Hailiang, diperkirakan mulai beroperasi di semester II-2025, yang bisa meningkatkan pendapatan AKRA.

Regulasi pemerintah yang berencana mengurangi subsidi bahan bakar pada 2027 bisa menjadi katalis positif bagi AKRA sebagai distributor BBM non-subsidi. Niko mempertahankan rekomendasi buy dengan target harga Rp 1.530 per saham, Bob memberi rating add dengan target harga Rp 1.460, sementara Indy menyarankan buy on weakness dengan target Rp 1.500.

AKRA masih memiliki prospek pertumbuhan yang baik, tetapi perlu menghadapi tantangan dari fluktuasi harga minyak, regulasi, dan perlambatan penjualan lahan industri.