;
Tags

Portofolio

( 322 )

Ekspansi Jadi Senjata Baru AKRA Hadapi Tantangan

HR1 05 Mar 2025 Kontan
PT AKR Corporindo Tbk (AKRA) menargetkan laba bersih Rp 2,6 triliun di 2025, didorong oleh ekspansi Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) BP-AKR dan penjualan lahan industri di Java Integrated Industrial and Port Estate (JIIPE).

Analis Indy Naila dari Edvisor Profina Visindo menilai strategi ekspansi SPBU AKRA bisa sukses karena permintaan bahan bakar tetap tinggi. Namun, fluktuasi harga minyak masih menjadi risiko bagi margin keuntungan AKRA. Sementara itu, segmen lahan industri memiliki potensi besar, terutama jika AKRA bisa menarik investor asing. Tantangan utama adalah regulasi dan proses penjualan lahan yang membutuhkan waktu.

Bob Setiadi dari CGS International Sekuritas melihat bisnis perdagangan dan distribusi AKRA masih menghadapi tantangan. Ia menurunkan asumsi volume penjualan BBM sebesar 1% dan memperkirakan penjualan lahan JIIPE di 2025-2026 hanya 80 hektare. Meski begitu, Bob tetap memperkirakan pendapatan AKRA tumbuh tipis menjadi Rp 38,75 triliun di 2025, dengan laba bersih mencapai Rp 2,4 triliun.

Sementara itu, Niko Pandowo dari Sucor Sekuritas lebih optimistis, memperkirakan penjualan lahan JIIPE bisa mencapai 100 hektare di 2025. Selain itu, tiga penyewa utama di JIIPE, yaitu Freeport, Xinyi Glass, dan Zhejiang Hailiang, diperkirakan mulai beroperasi di semester II-2025, yang bisa meningkatkan pendapatan AKRA.

Regulasi pemerintah yang berencana mengurangi subsidi bahan bakar pada 2027 bisa menjadi katalis positif bagi AKRA sebagai distributor BBM non-subsidi. Niko mempertahankan rekomendasi buy dengan target harga Rp 1.530 per saham, Bob memberi rating add dengan target harga Rp 1.460, sementara Indy menyarankan buy on weakness dengan target Rp 1.500.

AKRA masih memiliki prospek pertumbuhan yang baik, tetapi perlu menghadapi tantangan dari fluktuasi harga minyak, regulasi, dan perlambatan penjualan lahan industri.

Saham Perbankan: Sulit Prediksi Titik Terendahnya

HR1 04 Mar 2025 Kontan
Saham perbankan big caps seperti Bank Mandiri (BMRI), Bank Rakyat Indonesia (BBRI), Bank Central Asia (BBCA), dan Bank Negara Indonesia (BBNI) mengalami penguatan di awal pekan setelah sebelumnya anjlok tajam. Riset JP Morgan, yang meningkatkan peringkat saham bank besar, membawa sentimen positif ke pasar.

Namun, Analis JP Morgan, Harsh Wardhan Modi, menilai bahwa meskipun ada peluang rebound secara teknikal dalam jangka pendek, masalah likuiditas masih menjadi tantangan utama. Kualitas aset perbankan akan bergantung pada peningkatan aliran dana ke deposito. Modi memperingatkan bahwa pergerakan harga saham bank bisa tetap terbatas dalam beberapa kuartal ke depan.

Sejak awal 2025, saham BMRI turun 16,24%, BBRI 12,83%, BBCA 11,11%, dan BBNI 7,19%. Ekky Topan, Investment Analyst Infovesta Kapital Advisori, menilai bahwa saham bank sudah berada di level rendah secara valuasi, tetapi masih sulit menentukan titik terendahnya. Ia melihat koreksi harga saham ini berlebihan dibandingkan dengan kinerja fundamental bank.

Sementara itu, Maximilianus Nico Demus, Analis Pilarmas Investindo Sekuritas, menyarankan investor untuk membeli saham bank secara bertahap dan memperhatikan momentum yang tepat. Menurutnya, fundamental bank tetap kuat, dan aksi buyback serta pembagian dividen bisa menjadi katalis positif.

Sebagai langkah strategis, Nico menurunkan target harga saham bank besar, dengan BMRI dipatok di Rp 7.000, BBRI Rp 5.050, BBNI Rp 5.800, dan BBCA Rp 11.650. Ekky juga merekomendasikan beli bertahap dengan target harga lebih rendah, seperti BBRI di Rp 4.500-Rp 4.600 dan BMRI di Rp 6.000.

Meski ada peluang pemulihan saham bank, investor tetap perlu berhati-hati terhadap volatilitas dan perkembangan likuiditas perbankan dalam beberapa bulan ke depan.

Saham Perbankan: Sulit Prediksi Titik Terendahnya

HR1 04 Mar 2025 Kontan
Saham perbankan big caps seperti Bank Mandiri (BMRI), Bank Rakyat Indonesia (BBRI), Bank Central Asia (BBCA), dan Bank Negara Indonesia (BBNI) mengalami penguatan di awal pekan setelah sebelumnya anjlok tajam. Riset JP Morgan, yang meningkatkan peringkat saham bank besar, membawa sentimen positif ke pasar.

Namun, Analis JP Morgan, Harsh Wardhan Modi, menilai bahwa meskipun ada peluang rebound secara teknikal dalam jangka pendek, masalah likuiditas masih menjadi tantangan utama. Kualitas aset perbankan akan bergantung pada peningkatan aliran dana ke deposito. Modi memperingatkan bahwa pergerakan harga saham bank bisa tetap terbatas dalam beberapa kuartal ke depan.

Sejak awal 2025, saham BMRI turun 16,24%, BBRI 12,83%, BBCA 11,11%, dan BBNI 7,19%. Ekky Topan, Investment Analyst Infovesta Kapital Advisori, menilai bahwa saham bank sudah berada di level rendah secara valuasi, tetapi masih sulit menentukan titik terendahnya. Ia melihat koreksi harga saham ini berlebihan dibandingkan dengan kinerja fundamental bank.

Sementara itu, Maximilianus Nico Demus, Analis Pilarmas Investindo Sekuritas, menyarankan investor untuk membeli saham bank secara bertahap dan memperhatikan momentum yang tepat. Menurutnya, fundamental bank tetap kuat, dan aksi buyback serta pembagian dividen bisa menjadi katalis positif.

Sebagai langkah strategis, Nico menurunkan target harga saham bank besar, dengan BMRI dipatok di Rp 7.000, BBRI Rp 5.050, BBNI Rp 5.800, dan BBCA Rp 11.650. Ekky juga merekomendasikan beli bertahap dengan target harga lebih rendah, seperti BBRI di Rp 4.500-Rp 4.600 dan BMRI di Rp 6.000.

Meski ada peluang pemulihan saham bank, investor tetap perlu berhati-hati terhadap volatilitas dan perkembangan likuiditas perbankan dalam beberapa bulan ke depan.

Harga Batubara Jatuh, Tekanan Berat bagi ADMR

HR1 04 Mar 2025 Kontan
Pelemahan harga batubara metalurgi masih menjadi sentimen negatif bagi kinerja PT Adaro Minerals Indonesia Tbk (ADMR). Saham ADMR telah tertekan 43,57% secara year-to-date (ytd) per 3 Maret 2025 akibat meningkatnya pasokan dari China serta ketegangan dagang antara China dan Amerika Serikat (AS).

Arinda Izzaty, Analis Pilarmas Investindo Sekuritas, menyebut kelebihan pasokan batubara China dan pelemahan ekonomi negara tersebut semakin menekan harga. Selain itu, kebijakan tarif AS terhadap produk energi juga berpotensi memperburuk prospek batubara. Untuk menghadapi kondisi ini, Arinda menilai ADMR perlu melakukan diversifikasi pasar dan produk untuk mengurangi ketergantungan pada satu wilayah atau jenis komoditas tertentu.

Ryan Winipta, Analis Indo Premier Sekuritas, menegaskan bahwa prospek harga batubara kokas tetap suram, dengan harga saat ini US$ 188 per ton, turun 6% ytd. Stok batubara kokas di pelabuhan China bahkan meningkat dua kali lipat dibanding Februari 2024. Ryan juga menurunkan asumsi harga batubara metalurgi di bawah US$ 200 per ton, memperkirakan laba bersih ADMR tahun ini menjadi US$ 381 juta.

Meski menghadapi tantangan, Kenny Shan, Analis Sinarmas Sekuritas, melihat peluang dari peningkatan produksi ADMR, yang dapat mengimbangi dampak harga jual yang lebih rendah. Pada November 2024, ADMR telah berinvestasi Rp 918 miliar untuk proyek pabrik peleburan aluminium di Kalimantan, yang akan berproduksi 500.000 ton per tahun pada kuartal ketiga 2025.

Dari sisi investasi, Arinda, Ryan, dan Kenny tetap merekomendasikan beli saham ADMR, dengan target harga berkisar Rp 1.440 – Rp 1.500 per saham. Namun, investor tetap perlu memperhatikan faktor risiko seperti penguatan dolar AS, pelemahan ekonomi China, dan ketidakpastian politik dalam negeri.

Bersaing di Tengah Persaingan Ketat, Siapa Bertahan?

HR1 03 Mar 2025 Kontan
Sektor operator telekomunikasi di Indonesia masih akan menghadapi persaingan harga ketat hingga pertengahan 2027, terutama di tengah proses konsolidasi pemain besar seperti Indosat Ooredoo Hutchison (ISAT) dan XLSmart (EXCL-Smartfren).

Nafan Aji Gusta, Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, mencatat bahwa meskipun konsumsi data meningkat selama Ramadan dan Lebaran, persaingan tarif tetap menjadi tantangan bagi operator seperti Indosat (ISAT), XL Axiata (EXCL), dan Telkom Indonesia (TLKM), yang berdampak pada penurunan laba bersih mereka.

Aurelia Barus, Analis Indo Premier Sekuritas, menilai bahwa meskipun penggabungan operator akan meningkatkan kapasitas jaringan dan kualitas layanan, persaingan harga masih akan berlanjut. Selain itu, pasar seluler Indonesia masih didominasi pelanggan prabayar, yang cenderung kurang loyal. Namun, pendapatan rata-rata per pengguna (ARPU) diperkirakan tetap tumbuh dengan CAGR 3% pada 2024-2027, meski lebih rendah dibandingkan periode sebelumnya.

Niko Margaronis, Analis BRI Danareksa Sekuritas, menyoroti bahwa lelang spektrum 1,4 GHz pada 2025 akan menjadi faktor yang memengaruhi industri telekomunikasi. Operator seluler besar (MNO) memiliki peluang lebih besar dibandingkan penyedia layanan broadband wireless access (BWA) dalam memanfaatkan spektrum baru untuk fixed mobile convergence (FMC).

Aurelia memberikan peringkat netral untuk sektor ini, dengan ISAT sebagai pilihan utama, sedangkan Niko memberi peringkat overweight, karena masih ada peluang pertumbuhan dari strategi integrasi layanan tetap dan seluler.

Dinamika Permintaan dan Harga Jadi Sorotan Utama

HR1 27 Feb 2025 Kontan
Kinerja PT United Tractors Tbk (UNTR) berpotensi tumbuh di tahun 2025, didukung oleh kenaikan harga emas global dan penguatan dolar AS, meskipun tertekan oleh pelemahan harga batubara. Henry Wibowo, Head of Indonesia Research and Strategy JP Morgan Sekuritas, mencatat bahwa saham UNTR telah tumbuh 7,64% dalam setahun terakhir, mengungguli Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang justru terkoreksi 9% secara tahunan (yoy).

Henry memproyeksikan harga emas akan mencapai US$ 3.000 per ons troi pada akhir 2025, yang akan mendongkrak pendapatan UNTR sebesar 2% untuk setiap kenaikan harga emas 5%. Selain itu, penguatan dolar AS sebesar 5% dapat meningkatkan pendapatan UNTR hingga 10%, mengingat sebagian besar pendapatan perusahaan terkait dengan mata uang tersebut.

Fauzan Djamal dan Muhammad Wafi, analis RHB Sekuritas Indonesia, menilai bahwa permintaan alat berat UNTR masih kuat, terutama pada segmen mesin besar yang memberikan margin lebih baik dibandingkan alat berat kecil. Selain itu, ketahanan UNTR sebagai kontraktor tambang terhadap volatilitas harga batubara serta diversifikasi pendapatan dari emas dan nikel menjadi sentimen positif.

Namun, Reggie Parengkuan, analis Indo Premier Sekuritas, mencatat bahwa volume penjualan alat berat Komatsu UNTR menurun 16% yoy di 2024, sementara produksi batubara melalui PT Pama Persada Nusantara (PAMA) mencapai 148 juta ton, meskipun terdampak curah hujan tinggi. Di sisi lain, penjualan emas UNTR naik 32% yoy menjadi 232.000 ons di 2024, dan diperkirakan akan tetap stabil di 220.000 ons dari Martabe serta 20.000 ons dari Sumbawa pada 2025.

Proyek pabrik pengolahan sulfida di Sumbawa, yang sempat tertunda karena masalah teknis, dijadwalkan selesai pada April 2025 dan akan mendukung produksi emas UNTR pada kuartal kedua 2025.

Prospek UNTR tetap positif, terutama karena kenaikan harga emas dan diversifikasi bisnisnya, tetapi investor perlu memperhatikan risiko dari fluktuasi harga batubara.

Digitalisasi Jadi Senjata Ampuh dalam Persaingan Ekonomi

HR1 26 Feb 2025 Kontan
Meskipun saham PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) belakangan mengalami tekanan, prospeknya tetap menarik berkat ekspansi layanan broadband dan penguatan infrastruktur digital. Indy Naila, Investment Analyst Edvisor Profina Visindo, menilai bahwa TLKM bisa memanfaatkan pertumbuhan transformasi digital untuk meningkatkan profitabilitas.

Hingga September 2024, laba bersih TLKM turun 9,35% year-on-year (yoy) menjadi Rp 17,67 triliun dari Rp 19,94 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya. Namun, TLKM masih memiliki keunggulan di sektor fixed broadband (FBB), dengan Telkomsel menguasai 70%-75% pangsa pasar dan beroperasi di 450-500 kota, menurut Daniel Widjaja, Analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia.

Strategi TLKM meliputi peluncuran EzNet untuk memperluas jangkauan broadband yang lebih terjangkau, sementara Telkomsel tetap fokus pada pelanggan premium untuk mempertahankan pendapatan rata-rata per pengguna (ARPU). Selain itu, Telkomsel juga mengevaluasi lelang spektrum 1,4 GHz dan mengembangkan solusi fixed wireless access (FWA) untuk mendukung ekspansi jangka panjang.

Etta Rusidana Putra, Analis Maybank Sekuritas, memperkirakan pertumbuhan laba bersih TLKM bisa mencapai 5% yoy, dengan marjin laba bersih sekitar 15%-16% pada 2025. Ia memproyeksikan pendapatan TLKM di 2025 mencapai Rp 157,96 triliun dengan laba bersih Rp 24,94 triliun, meningkat dari proyeksi 2024 sebesar Rp 153 triliun dan laba bersih Rp 23,62 triliun.

Kebijakan dividen TLKM dan program Danantara juga disebut sebagai katalis positif, meskipun implementasinya masih perlu dipantau, menurut Indy. Indy merekomendasikan buy on weakness dengan target harga Rp 3.300, sedangkan Etta dan Daniel merekomendasikan buy, masing-masing dengan target harga Rp 4.500 dan Rp 3.600.

PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk Diproyeksikan Terus Menanjak di Tahun 2025

KT1 25 Feb 2025 Investor Daily (H)
Kinerja emiten Grup Salim, PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP) diproyeksikan terus menanjak di tahun 2025, dengan pendapatan mencapai Rp 79 triliun. Didukung marjin yang diperkirakan meningkat dari penurunan harga bahan baku, membuat analis tak tahu untuk menyematkan rekomondasi buy dan target harga saham emiten produsen Indomie ini hingga Rp14.700. Analis Indo Premier Andrianto Saputra dan Nicholas Bryan dalam riset yang dipublikasikan baru-baru ini mengungkapkan, pendapatan ICBP pada 2025 diperkirakan bisa menyentuh Rp79,19 triliun atau naik 9,1% dibandingg estimasi 202 yang sebesar Rp72,58 triliun. Indo Premier mencatat bahwa segmen  mi instan ICPB telah terbukti memiliki posisi kuat dari sisi harga, yang diuntungkan dari penguasaan pasar yang lebih dari 70%. Saat ini, ICBP memproduksi mi instan dengan beberapa merek seperti Indomie, Supermi, Sarimi, Pop Mie, dan Sakura. Indo Premier juga menyoroti  adanya  potrtensi peningkatan marjiin dari turunnya harga CPO. Harga CPO bahkan diperkirakan turun 9,6% menjadi 4.249 ringgit Malaysia per ton pada kuartal IV-2025. Sekuritas tersebut memperkirakan, marjin laba kotor ICBP akan naik 150 basispoin secara kuartalan menjadi 36,4 pada kuartal 1-2025. (Yetede)

Prospek SMRA: Tantangan Prapenjualan & Peluang Pertumbuhan di 2025

HR1 25 Feb 2025 Kontan
Prospek PT Summarecon Agung Tbk (SMRA) tetap menarik meskipun menghadapi tantangan dalam mencapai target prapenjualan Rp 5 triliun di 2025. Sukarno Alatas, Kepala Riset Kiwoom Sekuritas Indonesia, menilai target ini sulit dicapai, terutama karena realisasi prapenjualan 2024 hanya Rp 4,36 triliun, lebih rendah dari target. Ia juga mencatat bahwa ketidakpastian ekonomi global dan tingginya suku bunga masih membuat konsumen bersikap wait and see.

Ismail Fakhri Suweleh, Analis BRI Danareksa Sekuritas, memperkirakan marketing sales SMRA tahun ini akan tumbuh 4,9% yoy menjadi Rp 4,54 triliun, sesuai dengan tren pertumbuhan tahunan 2016-2024. Namun, Kevin Halim dari Maybank Sekuritas Indonesia menyoroti bahwa pertumbuhan SMRA tertinggal dibanding perusahaan sejenis, dengan eksposur yang lebih rendah terhadap pasar pembeli riil.

Meski begitu, proyek Summarecon Bogor, Summarecon Crown Gading, dan Summarecon Tangerang memberikan kontribusi 40% dari total prapenjualan, yang diprediksi menjadi pendorong utama pertumbuhan ke depan. Kevin juga memperkirakan pendapatan berulang SMRA akan meningkat dari 31% di 2024 menjadi 46% pada 2026, tertinggi kedua setelah Pakuwon Jati (PWON).

Untuk sektor perhotelan, meskipun industri tetap positif, kebijakan pemerintah yang memangkas anggaran MICE (Meeting, Incentives, Conferences, Exhibitions) dapat menjadi risiko di 2025. Namun, Kevin menilai dampaknya terhadap SMRA kecil karena bisnis perhotelannya hanya menyumbang 4% dari total pendapatan.

Kevin memproyeksi pendapatan SMRA di 2025 turun menjadi Rp 7,81 triliun dari Rp 9,68 triliun di 2024, dengan laba bersih turun dari Rp 3,48 triliun menjadi Rp 2,66 triliun. Rekomendasi analis terhadap saham SMRA beragam: BRI Danareksa Sekuritas mempertahankan rating buy dengan target harga Rp 800, Maybank Sekuritas merekomendasikan buy di Rp 630, sementara Kiwoom Sekuritas menyarankan hold dengan target Rp 460.

Daya Beli Melemah, Tantangan Berat bagi Emiten

HR1 24 Feb 2025 Kontan
Meskipun pemerintah telah mengeluarkan berbagai kebijakan untuk mendorong konsumsi, seperti kenaikan upah minimum 6,5%, subsidi tarif listrik, dan PPn selektif, sektor barang konsumsi masih mengalami tekanan. Indeks sektor barang konsumen primer dan non-primer masing-masing turun 5,54% dan 2% sejak awal tahun 2025.

David Kurniawan, Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas, menjelaskan bahwa penurunan jumlah kelas menengah dari 21,5% pada 2019 menjadi 17,1% pada 2024 berdampak pada daya beli masyarakat. Selain itu, perubahan preferensi konsumen ke produk lokal yang lebih terjangkau juga membuat perusahaan besar seperti PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) kehilangan pangsa pasar.

Faktor lain yang memperburuk kondisi adalah pelemahan rupiah terhadap dolar AS, yang meningkatkan biaya impor bahan baku dan menekan margin keuntungan emiten. Willy Goutama, Analis Maybank Sekuritas, menambahkan bahwa efisiensi anggaran pemerintah, seperti pengurangan rapat offline dan pengaturan kerja dari rumah, dapat menekan tingkat konsumsi, terutama pada kuartal I-2025.

Selain tekanan jangka pendek, sektor ini juga menghadapi risiko jangka panjang dari regulasi pemerintah, termasuk rencana pembatasan kemasan plastik pada 2029 untuk produk minuman di bawah 1 liter dan makanan di bawah 50 gram. Hal ini berpotensi menurunkan pendapatan beberapa emiten besar.

Meski demikian, beberapa emiten tetap memiliki prospek yang kuat. Willy Goutama merekomendasikan PT Mayora Indah Tbk (MYOR), PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP), dan PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI) karena strategi mereka dalam meningkatkan laba dan menghadapi persaingan.

Sementara itu, Natalia Sutanto, Analis BRI Danareksa Sekuritas, menilai bahwa Grup Indofood tetap menarik karena volume penjualan mi instan yang stabil serta kenaikan harga jual rata-rata, yang menjadi indikator positif bagi pendapatan perusahaan di kuartal II-2025.