;
Tags

Portofolio

( 322 )

Harga Emas yang Menanjak dan Terus Mencatatkan Rekor Baru

KT1 06 Feb 2025 Investor Daily (H)

Harga emas yang menanjak dan terus mencatatkan rekor baru, membawa angin segar pada saham-saham komoditas tersebut di lantai bursa. Saham-saham emas seperti PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN), PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS), PT United Tractors Tbk (UNTR), dan PT Hartadinata Abadi Tbk (HRTA) kompak menguat pada perdagangan Rabu (5/2/2025), di saat harga komoditas logam mulia kembali memecah rekor tertinggi sepanjang masa di US$ 2.869 per troi ons. Tercatat, saham ANTM menguat 3,57% ke level Rp1.450, disusul AMMN melesat 5,07% ke posisi Rp7.250, BRMS menanjak 3,19% ke Rp388, dan UNTR naik 0,6% ke Rp25.150, dan HRTA melonjak 7,31% ke Rp 470.

Kinerja positif saham-saham itu terjadi ditengah memerahnya IHSG sepanjang perdagangan kemarin, yang akhirnya ditutup turun 0,7% ke level 7.024. "Penguatan sebagian besar saham emas tersebut sebagai dampak dari kenaikan harga komoditasnya," kata Senior Market Charist Mirea Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta Utama kepada Investor Daily. Nafan memperkirakan, harga komoditas emas masih akan terius menanjak hingga US$ 3.000 per trai ons di tahun ini. Reli emas yang berkelanjutan disebabkan oleh kuatnya permintaan produk safe haven ini. Ditengah ketidakpastian kebijakan perdaangan Trump, ketegangan geopolitik yang terus berlanjut di Timur Tengah, dan konflik Rusia-Ukraina yang berkepanjangan. (Yetede)

Prospek Cerah di Tengah Pemulihan Permintaan

HR1 05 Feb 2025 Kontan
Meskipun industri semen masih menghadapi kelebihan pasokan dan lesunya daya beli masyarakat, PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (INTP) masih memiliki peluang pertumbuhan, terutama dari ekspansi ke luar Jawa dan dorongan proyek infrastruktur pemerintah.

Analis Maybank Sekuritas, Kevin Halim, menilai INTP sebagai produsen semen dengan operasi yang efisien, terutama karena lokasi pabriknya yang strategis, termasuk pabrik terbesar di Citeureup dengan kapasitas 18,1 juta ton. Akuisisi Semen Grobogan semakin memperkuat posisi INTP di pasar Jawa, sekaligus membuka peluang ekspansi ke Sumatera. Kevin juga memperkirakan margin EBITDA INTP akan lebih tinggi dibandingkan PT Semen Indonesia Tbk (SMGR), dengan pangsa pasar yang tumbuh menjadi 29,6% pada 2024 dari 25,9% pada 2019.

Namun, Research Analyst Phintraco Sekuritas, Aditya Prayoga, menyoroti tantangan utama bagi INTP, yaitu oversupply semen dan ketatnya persaingan harga yang menekan profitabilitas. Meski demikian, Aditya melihat potensi pemulihan permintaan semen dari proyek pembangunan 3 juta rumah pada 2025, kelanjutan proyek IKN, serta Proyek Strategis Nasional (PSN) lainnya. Ia memproyeksikan konsumsi semen domestik tumbuh 1% - 2,5% pada 2025, yang diharapkan meningkatkan rasio utilisasi INTP menjadi 60%.

Analis OCBC Sekuritas, Budi Rustanto, juga optimistis terhadap pertumbuhan INTP, didukung oleh penurunan suku bunga yang berpotensi mendorong penjualan properti. Ia mencatat bahwa permintaan semen curah meningkat di Jakarta dan Jawa Barat, terutama karena proyek infrastruktur seperti MRT, LRT, dan jalan tol.

Secara keseluruhan, meskipun INTP menghadapi tantangan di industri semen, strategi ekspansi dan dukungan proyek nasional dapat membantu perusahaan mempertahankan pangsa pasar dan meningkatkan profitabilitasnya dalam jangka panjang.

Prospek Cerah di Tengah Pemulihan Permintaan

HR1 05 Feb 2025 Kontan
Meskipun industri semen masih menghadapi kelebihan pasokan dan lesunya daya beli masyarakat, PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (INTP) masih memiliki peluang pertumbuhan, terutama dari ekspansi ke luar Jawa dan dorongan proyek infrastruktur pemerintah.

Analis Maybank Sekuritas, Kevin Halim, menilai INTP sebagai produsen semen dengan operasi yang efisien, terutama karena lokasi pabriknya yang strategis, termasuk pabrik terbesar di Citeureup dengan kapasitas 18,1 juta ton. Akuisisi Semen Grobogan semakin memperkuat posisi INTP di pasar Jawa, sekaligus membuka peluang ekspansi ke Sumatera. Kevin juga memperkirakan margin EBITDA INTP akan lebih tinggi dibandingkan PT Semen Indonesia Tbk (SMGR), dengan pangsa pasar yang tumbuh menjadi 29,6% pada 2024 dari 25,9% pada 2019.

Namun, Research Analyst Phintraco Sekuritas, Aditya Prayoga, menyoroti tantangan utama bagi INTP, yaitu oversupply semen dan ketatnya persaingan harga yang menekan profitabilitas. Meski demikian, Aditya melihat potensi pemulihan permintaan semen dari proyek pembangunan 3 juta rumah pada 2025, kelanjutan proyek IKN, serta Proyek Strategis Nasional (PSN) lainnya. Ia memproyeksikan konsumsi semen domestik tumbuh 1% - 2,5% pada 2025, yang diharapkan meningkatkan rasio utilisasi INTP menjadi 60%.

Analis OCBC Sekuritas, Budi Rustanto, juga optimistis terhadap pertumbuhan INTP, didukung oleh penurunan suku bunga yang berpotensi mendorong penjualan properti. Ia mencatat bahwa permintaan semen curah meningkat di Jakarta dan Jawa Barat, terutama karena proyek infrastruktur seperti MRT, LRT, dan jalan tol.

Secara keseluruhan, meskipun INTP menghadapi tantangan di industri semen, strategi ekspansi dan dukungan proyek nasional dapat membantu perusahaan mempertahankan pangsa pasar dan meningkatkan profitabilitasnya dalam jangka panjang.

Proyeksi Pertumbuhan 2024 Berisiko Terkoreksi

HR1 05 Feb 2025 Kontan
Target pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2024 diprediksi tidak tercapai, dengan realisasi yang diperkirakan hanya sekitar 5%, di bawah target pemerintah dalam APBN sebesar 5,2%.

Josua Pardede, Kepala Ekonom Bank Permata, memperkirakan pertumbuhan ekonomi pada kuartal IV-2024 hanya 4,91% yoy, melambat dibanding kuartal sebelumnya. Faktor utama perlambatan ini adalah melemahnya konsumsi rumah tangga, yang hanya tumbuh 4,85% yoy, lebih rendah dari kuartal sebelumnya. Indikator perlambatan ini terlihat dari melemahnya pertumbuhan uang beredar M2, penjualan ritel yang hanya naik 1% yoy, serta penurunan jumlah penumpang transportasi dan penjualan otomotif. Selain itu, investasi juga melemah, terlihat dari penurunan penjualan semen sebesar 5,17% yoy, serta konsumsi pemerintah yang justru terkontraksi 1,3% yoy pada akhir 2024.

Namun, ekspor menunjukkan perbaikan, dengan pertumbuhan neto 3,88% yoy setelah sebelumnya mengalami kontraksi.

Sementara itu, Banjaran Surya Indrastomo, Chief Economist Bank Syariah Indonesia, lebih optimistis, memprediksi ekonomi kuartal terakhir 2024 tumbuh 5,18% yoy, dengan indikator positif dari PMI manufaktur dan keyakinan konsumen. Ia juga memproyeksikan pertumbuhan ekonomi kuartal I-2025 mencapai 5,51%, terdorong oleh Ramadan dan Idul Fitri, serta kebijakan penurunan BI-Rate dan batalnya kenaikan PPN.

Bambang Brodjonegoro, Penasihat Khusus Presiden Bidang Ekonomi, juga yakin pertumbuhan ekonomi 2024 tetap di atas 5%, didorong oleh momen seperti puasa, Lebaran, dan pemilu. Namun, angka tersebut masih di bawah target pemerintah 5,2%.

Harga Pulp Jadi Faktor Kunci di Industri Kertas

HR1 04 Feb 2025 Kontan
Kinerja PT Indah Kiat Pulp & Paper Tbk (INKP) pada tahun 2025 diproyeksikan lebih stabil, didorong oleh fokus pada pengembangan produk hilir dan ekspansi pabrik baru. Analis RHB Sekuritas, Wendy Chandra, meyakini bahwa strategi ini akan memberikan harga jual yang lebih stabil serta meningkatkan volume produksi dan kinerja perusahaan.

INKP menargetkan dua pabrik kertas baru mulai beroperasi pada April dan Juni 2025, dengan 80% produksinya akan diekspor ke China, Filipina, dan Eropa. Produk hilir seperti cangkir kertas dan kemasan makanan juga menjadi bagian dari strategi diversifikasi perusahaan.

Harga pulp, bahan baku utama kertas, diprediksi akan meningkat pada kuartal I-2025, mencapai US$ 560 per ton, sebelum mencerminkan dampaknya pada pendapatan di kuartal II-2025. Selain itu, fluktuasi harga bahan baku dan ketidakpastian permintaan global menjadi tantangan utama yang harus diantisipasi.

Analis Pilarmas Investindo Sekuritas, Arinda Izzaty, menilai INKP memiliki peluang keuntungan dari selisih nilai tukar, mengingat ekspor berkontribusi 54,62% terhadap pendapatan kuartal ketiga 2024. Ia merekomendasikan buy dengan target harga Rp 12.200 per saham, sementara Wendy Chandra menetapkan target Rp 13.625 per saham.

Sementara itu, Analis MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, menyarankan strategi buy on weakness, dengan harga saham yang saat ini berada di level support Rp 6.375 dan resistance Rp 6.900 per saham, sebelum menguji target Rp 7.325 per saham.

Dengan ekspansi pabrik, stabilisasi harga, serta peningkatan ekspor, INKP diperkirakan akan mencetak kinerja lebih positif di tahun mendatang, meskipun tetap menghadapi tantangan fluktuasi harga bahan baku dan kondisi ekonomi global.

Harga Pulp Jadi Faktor Kunci di Industri Kertas

HR1 04 Feb 2025 Kontan
Kinerja PT Indah Kiat Pulp & Paper Tbk (INKP) pada tahun 2025 diproyeksikan lebih stabil, didorong oleh fokus pada pengembangan produk hilir dan ekspansi pabrik baru. Analis RHB Sekuritas, Wendy Chandra, meyakini bahwa strategi ini akan memberikan harga jual yang lebih stabil serta meningkatkan volume produksi dan kinerja perusahaan.

INKP menargetkan dua pabrik kertas baru mulai beroperasi pada April dan Juni 2025, dengan 80% produksinya akan diekspor ke China, Filipina, dan Eropa. Produk hilir seperti cangkir kertas dan kemasan makanan juga menjadi bagian dari strategi diversifikasi perusahaan.

Harga pulp, bahan baku utama kertas, diprediksi akan meningkat pada kuartal I-2025, mencapai US$ 560 per ton, sebelum mencerminkan dampaknya pada pendapatan di kuartal II-2025. Selain itu, fluktuasi harga bahan baku dan ketidakpastian permintaan global menjadi tantangan utama yang harus diantisipasi.

Analis Pilarmas Investindo Sekuritas, Arinda Izzaty, menilai INKP memiliki peluang keuntungan dari selisih nilai tukar, mengingat ekspor berkontribusi 54,62% terhadap pendapatan kuartal ketiga 2024. Ia merekomendasikan buy dengan target harga Rp 12.200 per saham, sementara Wendy Chandra menetapkan target Rp 13.625 per saham.

Sementara itu, Analis MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, menyarankan strategi buy on weakness, dengan harga saham yang saat ini berada di level support Rp 6.375 dan resistance Rp 6.900 per saham, sebelum menguji target Rp 7.325 per saham.

Dengan ekspansi pabrik, stabilisasi harga, serta peningkatan ekspor, INKP diperkirakan akan mencetak kinerja lebih positif di tahun mendatang, meskipun tetap menghadapi tantangan fluktuasi harga bahan baku dan kondisi ekonomi global.

Strategi Diversifikasi & Efisiensi di Tengah Tantangan

HR1 31 Jan 2025 Kontan
Kinerja PT Vale Indonesia Tbk (INCO) diperkirakan akan mengalami penurunan pada 2025, meski ada prospek pemulihan secara bertahap, terutama didorong oleh penurunan biaya input dan inisiatif hilirisasi nikel. Miftahul Khaer, Analis Kiwoom Sekuritas Indonesia, menyebutkan bahwa adopsi teknologi HPAL dan hilirisasi nikel dapat memperbaiki kinerja keuangan INCO, dengan diversifikasi produk yang lebih luas. Namun, harga nikel yang diperkirakan tetap rendah di kisaran US$ 15.000–US$ 16.000 per ton akan menekan harga jual rata-rata (ASP) INCO.

Analis Hasan Barakwan dari Maybank Sekuritas, yang menurunkan perkiraan ASP INCO sebesar 9,8% menjadi US$ 12.937 per ton untuk 2025, juga menyoroti surplus pasar nikel yang didorong oleh dominasi Indonesia sebagai produsen utama nikel. Surplus ini diperkirakan akan terus menggerakkan pasar, meskipun berdampak pada harga jual.

Meski demikian, ada prospek pertumbuhan yang menjanjikan bagi INCO, terutama melalui inisiatif hilirisasi yang berlangsung di Indonesia. Rizkia Darmawan, Analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia, mencatat bahwa proyek-proyek utama seperti yang ada di Morowali dan Pomalaa dapat meningkatkan permintaan terhadap produk INCO. Fokus INCO pada efisiensi biaya dan penggunaan energi bersih dari pembangkit listrik tenaga air juga akan memberi keuntungan kompetitif dan memperkuat komitmen keberlanjutan.

Dari segi valuasi, Mirae Asset Sekuritas merevisi target harga INCO menjadi Rp 4.290 per saham, sementara Hasan mempertahankan target harga Rp 4.600 per saham. Keduanya mempertahankan rekomendasi buy untuk saham INCO, meskipun menghadapi tantangan pasar nikel yang lebih lemah di tahun 2025.

Pasar Nikel Bangkit, Industri Berharap Lebih

HR1 28 Jan 2025 Kontan
Prospek kinerja PT Harum Energy Tbk (HRUM) masih menghadapi tantangan akibat permintaan nikel yang lesu dan ketidakpastian harga komoditas. Analis Mirae Asset Sekuritas, Rizkia Darmawan, menyoroti bahwa kinerja HRUM sangat bergantung pada volume produksi dan penjualan batubara dan nikel, terutama di tengah permintaan yang belum pulih sepenuhnya dari China. Sementara itu, permintaan batubara dari India dan Asia Tenggara diperkirakan tetap kuat.

Analis Samuel Sekuritas, Farras Farhan, menilai HRUM masih memiliki peluang pertumbuhan dari meningkatnya permintaan batubara karena faktor musiman seperti musim dingin dan perayaan Imlek. Selain itu, transisi energi hijau yang berjalan lambat di berbagai negara memberikan dorongan tambahan bagi batubara. Namun, HRUM menghadapi tantangan dari meningkatnya penggunaan baterai LFP, yang tidak berbasis nikel, dalam kendaraan listrik (EV), yang bisa menekan permintaan nikel di masa depan.

Di sisi lain, analis Indo Premier Sekuritas, Ryan Winipta, menilai pembatalan potensi kenaikan tarif royalti bijih nikel dari 10% menjadi 15% sebagai kabar baik bagi industri nikel. Namun, meskipun royalti naik, dampaknya terhadap laba bersih HRUM diperkirakan relatif kecil.

Analis CGS Internasional Sekuritas, Jacquelin Hamdani, memprediksi harga nikel tetap lemah hingga 2026 akibat kelebihan pasokan global. Dia dan Ryan Winipta merekomendasikan hold HRUM dengan target harga Rp 1.010 – Rp 1.450 per saham. Sementara itu, analis BRI Danareksa, Erindra Krisnawan, lebih optimistis dan merekomendasikan buy HRUM dengan target harga Rp 1.700 per saham.

JKN Sebagai Pilar Stabilitas Pelayanan Kesehatan

HR1 24 Jan 2025 Kontan
PT Medikaloka Hermina Tbk (HEAL) berpotensi mendapatkan keuntungan dari berbagai kebijakan baru pemerintah pada tahun 2025, terutama dalam program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Analis MNC Sekuritas, Rudy Setiawan, menyoroti bahwa peningkatan layanan kesehatan pemerintah, termasuk penerapan Coordination of Benefit (CoB) antara BPJS Kesehatan dan asuransi swasta, dapat berdampak positif bagi HEAL. Dengan sistem CoB, pasien dapat menggunakan asuransi swasta untuk menutupi biaya tambahan di luar cakupan BPJS, yang dapat meningkatkan jumlah pasien berasuransi swasta dan mengintegrasikan layanan kesehatan publik serta swasta.

Selain itu, aturan Kelas Rawat Inap Standar (KRIS) yang akan berlaku pada semester kedua 2025 juga dapat mendorong kenaikan tarif BPJS, yang menguntungkan rumah sakit yang melayani banyak pasien JKN. HEAL memiliki proporsi pasien JKN sebesar 73%, sehingga kebijakan ini dapat meningkatkan pendapatan mereka.

Dari sisi ekspansi, Equity Analyst Kiwoom Sekuritas Indonesia, Abdul Azis, melihat bahwa HEAL terus menambah kapasitas rumah sakitnya. Sepanjang 2024, HEAL telah membuka rumah sakit baru di IKN, Madiun, Pasuruan, dan PIK 2, serta berencana melanjutkan ekspansi pada 2025 dengan membuka dua rumah sakit baru di Bali dan Salatiga, serta mengakuisisi satu rumah sakit tambahan. Ekspansi ini diharapkan meningkatkan jumlah pasien dan pendapatan HEAL.

Analis Maybank Sekuritas, Paulina Margareta, memilih HEAL sebagai saham utama di sektor kesehatan Indonesia, mengingat pertumbuhan volume pasien yang kuat berkat partisipasi dalam program JKN. Ia juga menilai HEAL berpotensi meningkatkan margin keuntungan melalui skala ekonomi dan standarisasi kelas pasien.

Strategi SRTG: Investasi US$ 150 Juta untuk Perkuat Portofolio

HR1 23 Jan 2025 Kontan
Pada tahun 2025, PT Saratoga Investama Sedaya Tbk (SRTG) berfokus pada pengembangan portofolio investasi dengan menyiapkan dana investasi sebesar US$ 100 juta - US$ 150 juta. Menurut Devin Wirawan, Direktur Investasi Saratoga, kondisi pasar yang relatif tenang memberikan kesempatan bagi SRTG untuk berinvestasi di perusahaan dengan valuasi yang wajar. Pada 2024, SRTG telah melakukan divestasi pada PT Deltomed Laboratories, meskipun Devin menyebutkan bahwa mereka belum berencana menjual portofolio lainnya pada tahun ini. Beberapa perusahaan portofolio SRTG, seperti MGM Bosco Logistics, ZAP, dan Brawijaya Hospital, masih dalam tahap pengembangan, dan SRTG berharap dapat membawa beberapa perusahaan ini untuk IPO pada waktu yang tepat.

SRTG juga mengharapkan kinerja yang lebih baik dengan adanya IPO PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI), yang diperkirakan dapat meningkatkan net asset value (NAV) mereka pada akhir 2024. Meskipun Paulus Jimmy, Deputy Head of Research Sucor Sekuritas, memproyeksikan pendapatan dividen SRTG sedikit lebih rendah pada 2025, AADI dan MPMX diharapkan dapat menyokong pendapatan dividen.

Steven Prasetya, Equity Research Analyst di Samuel Sekuritas, menilai bahwa SRTG berpotensi memperoleh keuntungan lebih lanjut dari investasi di AADI, yang sejak IPO telah mengalami kenaikan signifikan. Berdasarkan analisis ini, Samuel Sekuritas merekomendasikan untuk membeli saham SRTG dengan target harga Rp 3.000, sementara Sucor Sekuritas memberikan target harga Rp 2.500.