BUMN Karya Dibawah Tekanan Berat
Kinerja emiten BUMN Karya pada 2025 menghadapi tantangan berat, terutama karena berkurangnya alokasi anggaran pemerintah untuk infrastruktur dan semakin ketatnya persaingan dengan perusahaan jasa konstruksi swasta. Presiden Prabowo Subianto menegaskan akan memberikan sebagian besar proyek infrastruktur kepada swasta karena dinilai lebih efisien dan efektif.
Meski begitu, emiten BUMN Karya seperti PT Wijaya Karya Tbk (WIKA) dan PT Adhi Karya Tbk (ADHI) menyatakan siap menjalin kerja sama dengan pihak swasta. Sekretaris Perusahaan WIKA, Mahendra Vijaya, menyatakan pihaknya akan tetap fokus pada proyek infrastruktur. Sementara Corporate Secretary ADHI, Rozi Sparta, optimistis dapat memanfaatkan pengalaman mereka dalam proyek berbasis Kerja Sama Pemerintah dengan Badan Usaha (KPBU), dengan target pertumbuhan kontrak baru sebesar 30%-40% pada 2025.
Namun, analis seperti Andhika Cipta Labora dari Kanaka Hita Solvera menilai bahwa keterlibatan swasta dalam proyek strategis dapat mengurangi kontrak BUMN Karya dan menekan laba mereka. Selain itu, menurut Sukarno Alatas, Head of Research Kiwoom Sekuritas, sentimen negatif terhadap emiten BUMN Karya masih dominan akibat restrukturisasi utang, proyek yang tertunda, dan proses hukum yang belum selesai.
Di sisi lain, pemulihan ekonomi, kejelasan regulasi, efisiensi biaya, dan kelancaran restrukturisasi utang dapat menjadi katalis positif untuk emiten BUMN Karya. Meski demikian, Sukarno merekomendasikan pendekatan wait and see untuk saham BUMN Karya. Bagi investor yang sudah masuk, ia menyarankan untuk hold saham PTPP, ADHI, dan WIKA, dengan target harga masing-masing Rp 370, Rp 230, dan Rp 270 per saham.
Postingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023