Amerika Serikat
( 385 )Pemerintah AS dan Ekonom Menangkis Langkah Fitch Ratings
NEW YORK,ID-Pemerintah Amerika Serikat (AS) dan sejumlah ekonom terkemuka di sana menepis langkah Lembaga pemerintah Ficth Ratings, yang pada Selasa (01/8/2023) menurunkan peringkat utang AS dari AAA menjadi AA+. Pemerintah AS menyebutkan, keputusan tersebut sekehendak sendiri. Sedangkan kalangan ekonom memandangnya sebagai langkah yang aneh. Namun sebagian ekonom lain mengatakan, biar bagaimanapun Langkah Fitch itu harus tetap menjadi bahan pemikiran, bagi pemerintah AS maupun para investor. Fitch memiliki alasan sendiri untuk menurunkan peringkat kredit AS dari AAA ke AA+. Menurut mereka, kemerosotan fiskal selama tiga tahun ke depan dan negosiasi pagu utang yang berulang kali gagal telah mengancam kemampuan pemerintah AS untuk membayar tagihan-tagihannya. Fitch pertama kali menandai kemungkinan penurunan peringkat utang AS itu pada Mei 2023. Kemudian mempertahankan posisi tersebut pada Juni 2023 setelah krisis pagu utang teratasi dan sekarang juga berencana menyelesaikan tinjauannya untuk kuartal III tahun ini. (Yetede)
Peringkat Utang Diturunkan, Menkeu AS Protes
Fitch Ratings menurunkan peringkat utang Pemerintah Amerika Serikat dari AAA menjadi AA+, Selasa (1/8/2023). Alasannya, jumlah utang Pemerintah AS terus meningkat dan penanganannya memburuk serta pertumbuhan ekonomi AS akan menurun. Penurunan peringkat ini tidak menunjukkan kesulitan berarti tentang daya utang AS dalam waktu dekat. Meski demikian, Menteri Keuangan Janet Yellen memprotes putusan Fitch. (Yoga)
AS Bantu Australia Perkuat Industri Senjata
Amerika Serikat setuju membantu Australia mengembangkan industri persenjataan, khususnya memproduksi Sistem Peluncur Roket/Rudal Multilaras mulai tahun 2025. Selain ke AS, produk industri itu juga berpeluang dijual ke negara lain yang berminat. Dukungan itu mengemuka dalam pertemuan 2+2 antara Menteri Luar Negeri Australia Penny Wong dan Menteri Pertahanan Australia Richard Marles dengan Menlu AS Antony Blinken dan Menhan AS Lloyd Austin, Sabtu (29/7/2023) di Brisbane, Australia. (Yoga)
BANK SENTRAL AS , Inflasi Masih Tinggi, Suku Bunga Naik Lagi
Bank sentral AS, Federal Reserve, memastikan masih ada peluang suku bunga acuan naik lagi. Inflasi yang masih di atas target Federal Reserve menjadi alasan peluang kenaikan itu terbuka, apalagi kemungkinan resesi mengecil. Bagi ekonomi Indonesia, hal tersebut dinilai tidak akan banyak terpengaruh. Ketua Dewan Gubernur Federal Reserve Jerome Powell mengumumkan, inflasi berulang kali terbukti lebih tinggi daripada yang diproyeksikan. ”Kita harus siap mengikuti data dan mempertimbangkan sejauh ini, kita bisa sedikit lebih sabar sembari tetap teguh menanti semuanya selesai,” kata Powell, Rabu (26/7). Pernyataan itu disampaikan kala ia mengumumkan kenaikan suku bunga acuan (SBA) Federal Reserve.
Dari 5,25 %, kini SBA AS menyentuh 5,5 %. Seluruh anggota Dewan Gubernur Federal Reserve atau The Fed menyepakatinya. The Fed mulai menaikkan SBA sejak Maret 2022 untuk menanggapi lonjakan inflasi. Dari 0,25 %, SBA menyentuh 5,25 % pada Mei 2023. Lewat 10 kali penyesuaian, Fed menaikkan SBA total 5,25 % pada Maret 2022-Juli 2023. Pada Juni 2023, Fed menaikkan SBA. Meski demikian, kala itu Dewan Gubernur mengindikasikan kenaikan SBA akan dilakukan setidaknya dua kali lagi pada 2023. Satu dari kenaikan sudah diambil pada akhir Juli 2023. Satu lagi berpeluang dilakukan September. ”Kami menunggu permintaan dan pasokan dalam perekonomian lebih berimbang, khususnya di pasar tenaga kerja. Kami terus bertanya, apakah seluruh data yang diperiksa menunjukkan suku bunga perlu dinaikkan lagi?” kata Powell. (Yoga)
Resesi AS yang Tak Kunjung Datang
Dalam situasi inflasi tinggi, strategi hard landing merupakan alternatif untuk mendinginkan perekonomian dengan memaksakan resesi (Persson dan Tabellini, 1994). Dalam hal ini, instrumen yang digunakan adalah suku bunga acuan. Risikonya, Perekonomian yang resesi menjadi semakin terpuruk, atau inflasi yang sudah tinggi semakin tinggi. Pola pemulihan ekonomi AS berbeda dari pemahaman konvensional tentang relasi antara pertumbuhan, pengangguran, dan inflasi. Data terkini di AS berbeda dari peringatan beberapa CEO dan ekonom soal resesi pada paruh kedua 2023.
The Fed pada 14 Juni 2023 memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan di tingkat 5 % setelah 10 kali pertemuan sebelumnya selalu menaikkannya. Indeks dollar AS melemah ke kisaran 100 karena ekspektasi kenaikan suku bunga pada Juli adalah untuk terakhir kalinya. Namun, tanpa kenaikan suku bunga acuan, inflasi tetap turun menjadi 2,97 % pada Juni dari 4,05 % pada bulan sebelumnya. Sementara angka pengangguran tetap di bawah 4 %. Biro Statistik AS juga mengumumkan pertumbuhan AS pada triwulan I-2023 setelah dikoreksi adalah 2 %, jauh dari definisi resesi. Salah satu faktor penting adalah tetap kuatnya aktivitas di sektor jasa. Turunnya inflasi dan resesi yang tak kunjung datang tecermin dari indeks keyakinan konsumen terkini pada Juli. Angkanya melonjak drastis menjadi 72,6 dari 64,4 pada Juni. Masyarakat pun lebih optimistis terhadap masa depan perekonomian AS. (Yoga)
Saat Bank Sentral Global Ramai-Ramai Memerangi Inflasi
Sejumlah bank sentral dunia pekan ini akan merilis laporan kebijakan suku bunga dan pernyataan terbaru bagaimana memerangi inflasi tertinggi. Ahli strategi Goldman Sachs Michael Cahlil, seperti dilansir CNBC pada Senin (24/07/2023) menyebut pekan ini akan menjadi Minggu yang penting. "The Fed diperkirakan mengumumkan apa yang bisa menjadi kenaikan terakhir dari siklus (kenaikan suku bunga). ECB kemungkinan memberi sinyal mendekati akhir siklus suku bunga negatif. tapi BoJ bisa menjadi sorotan dengan akhirnya keluar (dari kebijakan moneter ultra longgar)," kata dia. The Fed bulan lalu menghentikan kenaikan suku bunga 10 kali berturut-turut karena menunggu data lebih lanjut ke mana arah inflasi. Angka-angka pada Juni 2023 menunjukkan inflasi harga konsumen (IHK) di AS turun ke level terendah dalam dua tahun lebih.Tapi IHK inti yang tidak termasuk harga pangan dan energi, masih naik 4,8% secara tahunan dan 0,2% pada bulan tersebut. The Fed tetap teguh pada komitmen untuk menurunkan inflasi ke target 2% dan aliran data terbaru perkuat kesan bahwa ekonomi AS terbukti tangguh. (Yetede)
Inflasi Amerika Mengerut, Pasar Saham Menggeliat
Harapan para pelaku di bursa saham akhirnya terwujud. Biro Statistik Tenaga Kerja Amerika Serikat (AS) pada Kamis (13/7) dinihari waktu Indonesia, mengumumkan, laju inflasi negeri Paman Sam pada Juni 2023 turun ke 3% secara tahunan.
Sebagai pembanding, pada bulan Mei 2023, laju inflasi AS masih bertengger di angka 4%. Dus, penurunan laju inflasi AS ini merupakan yang terendah sejak Maret 2021 yang sempat menyentuh angka 2,6%.
Melandainya laju inflasi AS, menyebabkan pasar saham global sumringah. Tak terkecuali di Indonesia. Pada perdagangan saham kemarin, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat 0,03% atau 2 poin ke 6.810,21.
Tak hanya IHSG yang menguat, mata uang Garuda juga tampil perkasa hingga akhir perdagangan Kamis (13/7). Kemarin, rupiah di pasar spot ditutup di level Rp 14.966 per dollar AS, naik 0,73% dibanding hari sebelumnya, yaitu Rp 15.075 per dollar AS.
Associate Director of Research and Investment
Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus menilai, dampak dari laju inflasi di AS sangat besar terhadap pasar saham global.
Head of Research
Phintraco Sekuritas, Valdy Kurniawan sepakat, penurunan inflasi AS yang lebih dalam dari perkiraan pasar, membangun keyakinan bahwa The Fed akan berada pada
track
kebijakan moneter yang diharapkan. Salah satu efek positif langsung ke Indonesia adalah penguatan nilai tukar rupiah.
Analis Investindo Nusantara Sekuritas Pandhu Dewanto menimpali, dengan tingkat inflasi AS rendah, akan membuat The Fed mengakhiri siklus kenaikan suku bunga acuannya. Bahkan, diperkirakan pada akhir tahun ini The Fed mulai menurunkan bunga.
EFEK DOMINO PAMAN SAM
Inflasi Amerika Serikat yang melanjutkan tren penurunan mendapat respons positif dari pasar. Inflasi Negeri Paman Sam mencapai 3% atau hanya selisih 100 basis poin (bps) dari target bank sentral AS sebesar 2%. Artinya, perjalanan The Federal Reserve (The Fed) menaikkan suku bunga sejak 2022 segera berakhir. Konsensus ekonom yang mengikuti survei Bloomberg memperkirakan bahwa suku bunga AS bisa mencapai rentang 5,5% pada dua kuartal terakhir tahun ini dan melandai mulai tahun depan. Inflasi yang landai juga bisa mengubah sikap keras bank sentral AS yang masih melihat potensi kenaikan suku bunga dua kali kesempatan dengan bobot total 50 bps pada tahun ini. Terlepas dari itu, pasar merespons positif inflasi Negeri Paman Sam itu. Indeks harga saham gabungan (IHSG) misalnya ditutup menguat begitu juga dengan rupiah, surat utang, dan emas. Macro Strategist Samuel Sekuritas Lionel Priyadi mengatakan penurunan inflasi umum dan inti AS yang berpihak pada ekspektasi pelaku pasar akan mengerek kinerja Surat Berharga Negara (SBN). Menurutnya, arus masuk modal asing yang sempat terhambat selama 3 minggu terakhir akan kembali berlanjut. “Akibatnya, yield SBN 10 tahun berpotensi turun ke 6%—6,1% bulan ini. Rupiah juga berpotensi terapresiasi ke level Rp14.800 per dolar AS,” kata Lionel kepada Bisnis, Kamis (13/7). Dihubungi terpisah, Chief Analyst DCFX Futures Lukman Leong mengatakan data inflasi memungkinkan untuk menekan potensi kenaikan suku bunga The Fed. Namun, menurutnya, kebijakan Bank Sentral AS tersebut belum saatnya melunak (dovish). “Data inflasi terakhir setidaknya akan memungkinkan bagi The Fed untuk lebih sedikit hawkish pada pertemuan FOMC di akhir Juli, walau saya melihat belum saatnya The Fed menjadi dovish,” ujar Lukman kepada Bisnis. Di tengah euforia pasar merespons inflasi landai, President & CEO Pinnacle Persada Investama Guntur Putra mengatakan setelah kabar inflasi AS yang turun, terdapat beberapa hal yang akan menjadi perhatian bagi investor berikutnya. Menurut Guntur, investor perlu mengikuti berita dan perkembangan terkini terkait kebijakan ekonomi. Selain itu, situasi ekonomi global, termasuk perang perdagangan, fluktuasi mata uang, dan gejolak politik, dapat berdampak signifikan terhadap pasar keuangan dan aset investasi. Chief Economist & Investment Strategist Manulife Aset Manajemen Indonesia Katarina Setiawan mengatakan pasar obligasi dan saham memberikan peluang. Obligasi, menurutnya, bisa menjadi pilihan bagi investor yang memiliki profil risiko konservatif karena kondisi makroekonomi yang positif akibat inflasi melandai dan suku bunga mencapai puncak. “Kondisi fiskal pemerintah yang sehat dengan kemungkinan penerbitan SBN dikurangi juga menjadi faktor positif bagi pasar obligasi,” kata Katarina.
Kehebatan Ekonomi AS Mendekati Mitos
Kunjungan Menkeu AS Janet Yellen ke China sejak Kamis (6/7) bertujuan sangat bagus, baik bagi AS maupun China dan dunia. Upaya Yellen mirip mencegah pemudaran ekonomi AS tanpa saling mencederai. Ini langkah pas di tengah ekonomi AS yang memudar. PM China Li Qiang juga menyambut dengan kalimat puitis. ”Kemarin, pas momen Anda tiba di bandara dan turun dari pesawat, kami melihat sebuah pelangi,” kata Li saat bertemu Yellen di Beijing, China, Jumat (7/7). ”Saya kira, hal ini berlaku juga bagi relasi AS-China. Setelah melewati gelombang-gelombang angin dan hujan, akhirnya kami bisa melihat sebuah pelangi.” Fobia China yang disuarakan ekonom Peter Navarro, penasihat dagang AS pada era Presiden Donald Trump, telah melahirkan serentetan pengenaan tarif terhadap produk impor asal China.
Pemblokiran teknologi AS terhadap Huawei berefek pada penjualan produk Huawei di dunia. Balasan China, dengan mengurangi impor produk pertanian AS, juga telah mencederai kepentingan ekonomi petani AS. Tarif yang dikenakan AS terhadap produk China turut membebani konsumen AS. Ada banyak retaliasi dagang, investasi yang berlanjut di antara dua negara itu. Kabinet Presiden Joe Biden menyadari efek retalisasi dagang, jika berhadapan dengan China yang tidak mau tunduk seperti Jepang. Mendag AS Gina Raimondo pernah mengusulkan pengurangan tarif impor asal China karena membebani konsumen AS. Namun, ide ini langsung mendapat kritik tajam dari para hawkish. Adalah Yellen yang terus menyuarakan pentingnya perbaikan relasi ekonomi AS- China. Di tengah langkah AS yang masih kukuh untuk menutup akses cip tercanggih ke China, ia terus menyuarakan pentingnya perbaikan relasi.
Yellen mendengar jeritan pebisnis AS yang menghadapi hambatan di China sebagai balasan atas perang ekonomi AS. ”Saya mendengar keluhan dari pebisnis AS akan senjata non-ekonomi dari China, juga hambatan bagi perusahaan asing (AS) di pasar China,” kata Yellen pada pertemuan di Beijing yang digelar Kamar Dagang dan Industri AS di China (The New York Times, 7/7/2023). Di hadapan PM Li, Yellen menyatakan seharusnya alasan keamanan AS tidak menjadi halangan bagi kelangsungan relasi ekonomi AS- China. Ia tegaskan, tidak mungkin dua perekonomian ini terpecah. Atas dasar itulah, Yellen tetap bersedia berkunjung ke China untuk memperbaiki relasi ekonomi. Dari produk manufaktur hingga pesawat terbang, bahkan pesawat tempur sekalipun, China telah mampu membuatnya dan bahkan menyaingi teknologi AS. Ke depan kejayaan ekonomi AS berpotensi tinggal mitos. Pemerintah China telah memprogramkan pembangunan ekonomi dengan moto ”jalan sendiri”. Programnya meluas, ”Mulai dari telepon pintar hingga ke mesin pesawat” sejak 2015. ” (Yoga)
Dua Kali Naik Lagi Hingga Akhir Tahun Ini
Suku bunga acuan The Federal Reserve (The Fed) diperkirakan bertahan di kisaran 5,00%-5,25% pekan ini, Namun para pejabat The Fed selalu mengatakan masih perlu bukti bahwa laju inflasi terus melata menuju target 2%. Sementara inflasi yang menjadi preferensi The Fed masih tetap tinggi, sehingga kalangan analis memperkirakan ada dua kali lagi penaikan Fed funs rate (FFR) hingga akhir tahun ini. Jeda dari siklus menaikan suku bunga pada Rabu (14/06/2023) waktu setempat itu menjadi yang pertama kalinya sejak The Fed memulai putaran pengetatan kebijakan moneter yang agresif pada Maret 2022. Tapi, para kalangan analis, akan lebih baik untuk tidak menyebutnya pivot atau jeda. Para pejabat The Fed di akhir pertemuan dua hari mungkin memberi sinyal lebih banyak tentang kenaikan suku bunga yang akan datang. Setelah melalui waktu yang cukup untuk menilai bagaimana ekonomi AS berkembang, dan apakah sistem keuangan tetap stabil serta jika inflasi terus turun. "Kami mungkin membutuhkan sedikit pengetatan lagi, tetapi tidak jelas berapa banyak," kata Blerina Uruci, kepala ekonomi AS di divisi pendapatan tetap di T Rowe Price Associates, seperti dikutip Reuters, Rabu. (Yetede)
Pilihan Editor
-
Melawan Hantu Inflasi
10 Mar 2022 -
Krisis Ukraina Meluber Menjadi ”Perang Energi”
10 Mar 2022 -
Ekspor Sarang Walet Sumut Tembus Rp 3,7 Triliun
24 Feb 2022









