Amerika Serikat
( 385 )Angin Segar Kembalinya Artefak Majapahit ke Nusantara
Kolonialisme Eropa dan perdagangan ilegal merupakan sumber
masalah hilangnya artefak-artefak dari sejumlah negara. Repatriasi artefak curian
butuh kolaborasi dan komitmen. Saat ini, Kejaksaan Negeri New York di AS dalam
proses mengembalikan 30 artefak kuno kepada Indonesia dan Kamboja. Di dalam
artefak-artefak itu, ada tiga arca dari zaman Kerajaan Majapahit di Nusantara.
Keseluruhan benda bersejarah itu diperoleh secara ilegal oleh para kolektor. Jaksa
Negeri New York A vin Bragg memimpin upacara penyerahan 30 artefak tersebut
pada Sabtu (27/4) siang waktu setempat atau Minggu (28/4) dini hari waktu Indonesia.
Secara keseluruhan, nilai artefak-artefak itu 3 juta USD (Rp 48,6 miliar).
”Kami mengembalikan 27 artefak yang dirampas dari Kamboja,
termasuk ukiran Dewa Shiwa, dan tiga arca Majapahit dari Indonesia ke negara masing-masing,”
ujar Bragg. Menurut VOA, 27 April 2024, salah satu artefak dari Indonesia
berupa sebuah batu relief yang menggambarkan dua patung kerajaan dari zaman
Majapahit (abad ke-13 hingga ke-16). Bragg mengungkapkan, dua warga AS, Subash
Kapoor dan Nancy Wiener, merupakan pelaku kejahatan internasional tersebut.
Benda-benda kuno tersebut disita oleh Kejaksaan New York pada tahun 2023 dalam
penyelidikan sindikat kejahatan internasional yang menyelundupkan benda-benda warisan
budaya negara-negara lain.
”Penyelidikan belum selesai karena sindikat ini harus dicabut
hingga ke akar-akarnya,” tutur Bragg. Artefak bersejarah menjadi polemik dunia
modern. Kebanyakan artefak ini merupakan hasil jarahan para penjajah Eropa dari
negara-negara di Asia, Afrika, dan Amerika. Terdapat perdebatan yang mengatakan
bahwa Barat harus mengembalikan artefak-artefak itu ke negara asal. Namun, juga
ada perdebatan bahwa Barat jangan merepatriasi artefak itu sebelum negara asal
memiliki kemampuan menyimpan, merawat, dan mengembangkan kajian atas
benda-benda tersebut. (Yoga)
Data Ekonomi AS Jadi Sentimen Negatif
Indeks Harga Saham Gabungan kembali tertekan pada hari
terakhir perdagangan pekan ini, Jumat (26/4). Perkembangan ekonomi AS menimbulkan
ketakutan pasar akan dampaknya pada ekonomi global, termasuk Indonesia. IHSG
ditutup ambrol 119 poin atau 1,67 % ke level 7.036. Harga 422 saham turun
dibandingkan dengan 153 harga saham yang mengalami kenaikan. Secara sektoral,
seluruh indeks saham tumbuh negatif dengan sektor teknologi mengalami pelemahan
terdalam sebesar 40,93 poin atau 1,23 %. Penurunan ini menggagalkan tren
kenaikan melewati level 7.100 sejak Selasa (23/4), yang terjadi bersamaan
dengan keluarnya penolakan MK terhadap tuntutan sengketa Pemilihan Presiden
2024 yang disusul penetapan Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka sebagai
presiden dan wapres terpilih oleh KPU.
Penguatan IHSG di atas 7.150 juga terjadi setelah BI
memutuskan menaikkan suku bunga acuan dari 6 % menjadi 6,25 % pada Rabu (24/4).
Kebijakan ini diputuskan sebagai strategi moneter dalam menghadapi pelemahan
rupiah yang terjadi pada dua minggu belakangan. Phintraco Securitas, dalam
laporan analisisnya, Jumat, membaca bahwa pasar mengkhawatirkan tren perekonomian
di luar negeri, khususnya dari AS. Tren ini terbaca dari rilis terkait indeks
harga pengeluaran konsumsi pribadi (PCE) yang mencapai 3,4 % pada triwulan
pertama 2024.
”Kondisi ini memunculkan kekhawatiran akan inflasi yang lebih
persisten dan memperkuat pandangan bahwa Bank Sentral AS (Federal Reserve/The
Fed) akan menahan suku bunga acuan lebih lama,” kata mereka. Situasi ini juga
terbaca pada kinerja pasar saham AS yang bergerak melemah sejak Kamis (25/4).
Kombinasi pertumbuhan ekonomi yang lamban dan tingkat inflasi yang tinggi
menambah ketidakpastian mengenai arah kebijakan The Fed. Ekonomi AS tercatat
hanya tumbuh sebesar 1,6 % secara tahunan pada triwulan I-2024 dibandingkan 3,4
% pada triwulan sebelumnya. Angka pertumbuhan di bawah perkiraan sebesar 2,5 %
ini merupakan yang terendah sejak paruh pertama 2022. (Yoga)
Bunga The Fed Diprediksi Turun September 2024
Gubernur The Fed Jerome Powell beberapa hari lalu memberikan
sinyal bahwa bank sentral AS akan mempertahankan lebih lama lagi suku bunga
acuan (FFR) pada posisinya sekarang, 5,25 % hingga 5,5 %. Ini adalah tingkat
bunga tertinggi di AS selama 20 tahun terakhir. Tingkat bunga yang tinggi di AS
secara langsung berpengaruh pada pasar keuangan global. Transmisinya antara
lain ke penguatan dollar AS terhadap berbagai mata uang lain dan tingkat suku
bunga acuan di sejumlah negara yang ”terpaksa” ikut tinggi agar modal tidak
”bedol desa” ke AS. Bagi negara seperti Indonesia, salah satu dampaknya biaya utang
pemerintah dan swasta menggelembung. Impor bahan baku dan bahan penolong untuk
industri manufaktur domestik juga membengkak.
Kepala Departemen Pengelolaan Moneter BI Edi Susianto menyebut,
kemungkinan penurunan suku bunga acuan bank sentral AS paling cepat pada September
2024 dari sebelumnya yang diperkirakan pada Juni 2024. Perkiraan tersebut mengacu
pada indikator Fed Fund Future dan Dot Plot. ”Bahkan, ada beberapa pelaku pasar
global memperkirakan penurunan FFR baru terjadi pada kuartal IV-2024,” katanya
Senin (22/4). Menurut Edi, BI senantiasa mencermati dinamika perkembangan
ekonomi global dan domestik. Hal itu juga akan dibahas dalam Rapat Dewan Gubernur
(RDG) BI pekan ini, yakni pada Rabu-Kamis, 24-25 April 2024. ”Tentu semua
update perkembangan, baik di global maupun di domestik, akan menjadi asesmen
dalam RDG minggu ini,” ujar Edi. Powell, Selasa (16/4) memperingatkan, kenaikan
inflasi yang terus-menerus kemungkinan akan menunda penurunan suku bunga The
Fed hingga akhir 2024. Artinya, suku bunga tinggi berpotensi berlangsung pada
jangka waktu yang lebih lama. (Yoga)
Imbas Global dari Divergensi Ekspektasi
Bank sentral AS (TheFed) menggunakan suku bunga untuk
manajemen makro karena dua variabel penting dalam permintaan agregat, yaitu konsumsi
dan investasi. Ini misalnya merujuk pada pengeluaran untuk kendaraan, rumah,
dan mesin, yang umumnya dibiayai kredit. The Fed menahan suku bunga acuan pada
tingkatnya sekarang karena persistensi inflasi di AS. Inflasi tidak kunjung
turun di bawah 3 % sehingga target tradisional 2 % belum kunjung tercapai. Di
luar dugaan, inflasi Februari 2024 naik tipis ke 3,2 % dari 3,1 % pada bulan
sebelumnya. Sektor perumahan (beli dan sewa) serta transportasi menyumbang 60 %
kenaikan inflasi Februari. Kepemilikan rumah umumnya dibiayai oleh kredit (KPR).
Masyarakat mencicilnya dalam tenor 20-30 tahun.
Bagian dari pendapatan yang harus disisihkan tergantung suku
bunga kredit yang dipengaruhi suku bunga acuan The Fed, kecuali untuk yang
memilih suku bunga tetap dari awal. Kebijakan suku bunga tinggi The Fed untuk
meredam inflasi AS dilakukan sejak pertengahan Maret 2022. Secara bertahap,
suku bunga naik dari 0,25 % ke 5,5 %. Penjualan rumah baru yang baru saja mulai
pulih dari dampak pandemi Covid-19 pun turun drastis, dari 830.000 unit di
Desember 2021 ke 530.000 unit di Juli 2022. Walaupun kemudian dengan pemulihan
ekonomi pascapandemi sempat naik ke 728.000 unit di Juli 2023, tingginya suku
bunga menyebabkan penjualan turun kembali ke 607.000 unit di November 2023. Hasilnya
pasokan rumah baru turun drastis. Sementara mereka yang sudah memiliki rumah
juga enggan menjualnya karena untuk membeli rumah baru harganya tidak
terjangkau. Lagi pula bunga KPR-nya terlalu mahal.
Dampak positifnya bagi Indonesia adalah ekspor nonmigas ke AS
tumbuh 6 % secara tahunan di tengah penurunan pertumbuhan ekspor nonmigas
sebesar minus 9,24 % di Februari 2024 akibat perlambatan sektor manufaktur dunia.
Sementara The Fed masih menahan suku bunga, modal portepel global mengalir ke
AS mengantisipasi potensi capital gain baik dari obligasi maupun pasar saham.
Akibatnya, indeks dollar AS meningkat signifikan dari 102.73 di pekan pertama Maret
ke 104.59 di pekan terakhir Maret. Dampaknya adalah depresiasi mata uang
negara-negara lain termasuk rupiah yang membawa inflasi yang diimpor. Antara pertengahan
sampai pekan terakhir Maret, rupiah bergerak dari kisaran Rp 15.600-an ke Rp
15.800-an per USD. (Yoga)
The Fed Pastikan Tiga Kali Penurunan Suku Bunga
Sentimen The Fed dan BI Bayangi Pasar Modal
Head of Research Team PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia
Robertus Hardy menyampaikan, pekan ini investor masih akan menantikan keputusan
suku bunga oleh The Fed untuk merespons tren inflasi di AS. Keputusan itu akan
muncul dalam pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) yang dijadwalkan
pada 19-20 Maret 2024. Hasil dari pertemuan itu juga akan menentukan arah kebijakan
BI dalam menetapkan suku bunga. BI juga akan mengadakan Rapat Dewan Gubernur
pada 19-20 Maret 2024.
”Meskipun (keputusan) kedua bank sentral diperkirakan tidak
berubah, investor perlu menyimak informasi yang tersirat pada pernyataan mengenai
arah kebijakan moneter ke depan,” kata Robertus dalam keterangannya pada Selasa
(19/3). Pesan senada disampaikan Community Lead Indo Premier Sekuritas (IPOT)
Angga Septianus. Hasil pertemuan bank sentral tersebut akan menentukan prospek
pasar ke depan kendati para ekonom memprediksi kebijakan suku bunga tidak akan
berubah dalam waktu dekat. (Yoga)
Operasi Tiktok di AS Terus Mendapat Ganjalan
DPR di AS, ketika berita ini ditulis, Rabu (13/3) tengah bersiap
menggelar pemungutan suara terkait masa depan media sosial Tiktok di AS. Diduga
kuat, DPR AS akan meloloskan ketentuan yang memaksa Bytedance, perusahaan induk
Tiktok di China, mendivestasikan aset mereka pada entitas di luar China. Waktu
yang diberikan hanya enam bulan. Apabila tidak mengindahkannya, Tiktok akan
dilarang digunakan di AS. Pemungutan suara akan dilakukan pukul 10.00 waktu
setempat. Untuk dapat disahkan, RUU itu membutuhkan dukungan dari dua pertiga
anggota DPR. Meskipun Tiktok gigih menggalang dukungan untuk menahan laju RUU
itu, para pihak, baik pendukung maupun penentang RUU itu, memprakirakan, ketentuan
itu bakal lolos di DPR. Komite Energi dan Perdagangan DPR pada pekan lalu
memberikan suara 50-0 untuk mendukung RUU tersebut.
RUU itu lahir dari kekhawatiran soal keamanan nasional AS
terhadap langkah asertif China, mulai dari isu mobil cerdas, kecerdasan buatan,
hingga media sosial. Selasa lalu, Penasihat Keamanan Nasional Gedung Putih Jake
Sullivan mengatakan, tujuan dari lahirnya RUU itu adalah untuk mengakhiri
kepemilikan oleh perusahaan China, bukan semata-mata melarang Tiktok. ”Apakah
kita ingin Tiktok, sebagai sebuah platform, dimiliki oleh perusahaan AS atau
dimiliki oleh China? Apakah kita ingin data dari Tiktok, data anak-anak, data
orang dewasa, tetap ada di sini, di AS, atau pergi ke luar negeri? China?” kata
Sullivan.
Secara resmi, ketentuan itu dikenal sebagai ”UU Perlindungan
Orang AS dari Aplikasi yang Dikendalikan Musuh Asing”. China mengancam sikap
dan langkah AS. Menurut China, pada akhirnya larangan itu justru akan berdampak
buruk dan merugikan AS. Kecaman keras China tersebut disampaikan oleh juru bicara
Kemenlu China, Wang Wenbin, Rabu (13/3) di Beijing, China. ”Meskipun AS tidak
pernah menemukan bukti bahwa Tiktok mengancam keamanan nasional AS, mereka
tidak berhenti menekan Tiktok,” kata Wang. Saat ini, aplikasi video pendek itu
digunakan 170 juta orang di AS. Ini menjadikan Tiktok salah satu media sosial dengan
jumlah pengguna terbanyak di negara itu. Namun, Fraksi Partai Republik dan
Partai Demokrat di DPR AS berpendapat, kepemilikan perusahaan itu dinilai
memiliki potensi atau menimbulkan risiko terhadap keamanan nasional AS. (Yoga)
Data Ekonomi AS Loyo, Mata Uang Regional Rebound
AMERIKA SERIKAT, Anak-anak Muda Bersiasat Hadapi Tekanan Pendapatan
Kekayaan anak-anak muda dari generasi milenial (kelahiran 1981-1996)
dan generasi Z (1997-2012) di AS sebenarnya terus bertambah. Namun, sebagian
besar uang mereka dibelanjakan untuk ”kebutuhan saat ini saja”. Situs NBC, 18
Februari 2024, mengutip penelitian bank sentral AS di New York, menyebut,
kekayaan bersih warga AS berusia 18-39 tahun melonjak 80 % dari kekayaan mereka
pada awal 2019 hingga kuartal ketiga 2023. Namun, sebagian besar dari kekayaan
mereka berasal dari investasi pada saham-saham yang tidak likuid sehingga tidak
bisa dicairkan segera untuk dapat dibelanjakan. Di sisi lain, dana cair yang mereka
miliki sebagian besar ludes untuk memenuhi kebutuhan harian yang kian mahal.
Ada pengeluaran yang penting dan harus mereka alokasikan, seperti sewa rumah
dan jalan-jalan. Namun, anak-anak muda itu juga membutuhkan ”udara segar”
setelah terkungkung pandemi Covid-19 dan terbelit utang pinjaman kuliah yang
sangat besar.
Mereka harus berjibaku menyiasati tekanan dalam pendapatan
yang tidak mencukupi kebutuhan mereka sehari-hari. Seorang warga AS, Mohit Singla
(33), memang mendapat kenaikan gaji 20 % setelah dipercaya menjadi direktur
senior sebuah perusahaan bioteknologi pada September 2023. Jika digabung dengan
penghasilan istrinya, pendapatan tahunan pasangan itu 500.000 USD atau Rp 7,8
miliar. Namun, uang sebanyak itu masih kurang atau tak mencukupi kebutuhan
harian, terutama setelah kelahiran bayi mereka pada Desember 2023. Ada tambahan
kebutuhan untuk anak, belum termasuk harga sewa apartemen dua kamar tidur
mereka di Jersey City, yang melonjak menjadi 5.500 USD atau Rp 86 juta per bulan, dari 3.700 USD tahun kemarin.
Survei perusahaan perantara perumahan AS, Redfin, pada September 2023 menyebutkan,
18 % generasi milenial dan 12 % gen Z tidak yakin akan mampu membeli rumah.
Harga jual rumah rata-rata 30 % lebih tinggi ketimbang harga
pada awal 2019, sementara tabungan yang awalnya dialokasikan untuk membayar
uang muka membeli rumah kini dibelanjakan untuk hal-hal lain. Makan di luar dan
makan mewah adalah salah satu kesenangan yang dipertahankan. Setiap akhir pekan,
alokasinya 200 USD. Mereka butuh menjadi bahagia saat ini. Perencana keuangan
dan pendiri FirstGenLiving, Maria Melchor (27), dari New York City, kepada
harian Daily Mail, 18 Desember 2023, menjelaskan bahwa apa yang selama ini
disebut ”impian Amerika” sekarang tidak ada lagi pada generasi milenial dan gen
Z. Dua kelompok generasi itu secara umum tidak mampu lagi membeli rumah dan
berkeluarga di tengah kondisi perekonomian seperti sekarang. Kenyataan pahit
dari keterbatasan finansial itu membuat mereka menghabiskan banyak uang untuk
”bersenang-senang”. Entah itu untuk jalan-jalan, makan enak, atau membeli tiket
konser Taylor Swift yang mahal. (Yoga)
The Fed Hati-Hati Turunkan Suku Bunga
Pilihan Editor
-
Mengelola Risiko Laju Inflasi
09 Jun 2022 -
Audit Perusahaan Sawit Segera Dimulai
08 Jun 2022 -
Penerimaan Negara Terbantu Komoditas
14 Jun 2022 -
Menkeu Minta Kualitas Belanja Pemda Diperbaiki
08 Jun 2022 -
Yusuf Ramli, Jalan Berliku Juragan Ikan
10 Jun 2022









