Amerika Serikat
( 390 )Yang Dibutuhkan Rakyat AS yang "Terlihat" Kuat Serta Tegas
Ketika Isu Politik Menyenggol Merek Dagang
Pemilihan presiden di Amerika Serikat akhirnya menyenggol beberapa merek. McDonald’s menjadi perbincangan ketika salah satu calon, Kamala Harris, mengaku pernah bekerja di restoran cepat saji itu, tetapi lawannya, Donald Trump, mempermasalahkan klaim itu. Belakangan makin mudah merek terjerumus ke dalam isu-isu politik. Di Indonesia ada juga. Bagaimana produk pengharum bau badan harus bersikap ketika isu bau ketek merebak? Bagaimana perusahaan teknologi finansial harus bersikap ketika akunnya adalah milik orang penting? Bagaimana perusahaan e-dagang harus bersikap ketika muncul isu jet pribadi? Bagaimana pula platform perbincangan komunitas ketika muncul dalam perdebatan soal politik? Majalah Fast Company menyebut bahwa inti perseteruan Trump dan Kamala adalah burger dan kentang goreng produksi McDonald’s. Merek ini sepertinya tidak bisa lepas dari pemilihan presiden tahun 2024. Setidaknya mereka menyebut merek ini berulang-ulang.
Akan tetapi, McDonald’s sepertinya harus repot. Pasalnya, saling serang terkait dengan benar atau tidaknya Kamala pernah bekerja di tempat itu. Trump dengan blak-blakan menyerang klaim Kamala yang bekerja di McDonald’s saat masih bersekolah. ”Dia tidak pernah bekerja di sana!” kata Trump saat rapat umum di Indiana, Pennsylvania. Ia kemudian menyatakan dengan nada mengejek bahwa ia ingin melihat keadaan dapur McDonald’s tempat Kamala bekerja. Kamala sendiri sebenarnya telah menyebut pekerjaannya di McDonald’s sejak kampanye tahun 2019 untuk kursi kepresidenan, dan hal itu disebutkan dalam iklannya pada tahun 2024 yang menandakan latar belakang yang sederhana: ”Dia tumbuh di rumah kelas menengah,” lanjutnya. ”Dia adalah putri dari seorang ibu yang bekerja. Dan dia bekerja di McDonald’s sambil mendapatkan gelarnya.” Penjelasan ini tak cukup membungkam kubu Trump. Mereka mencari bukti-bukti bahwa Kamala tidak pernah bekerja ditempat itu dengan mengatakan, di dua buku tentang Kamala, pekerjaan itu tak disebut.
Di tengah perdebatan konyol dan dengan segala kerepotan seperti itu, restoran cepat saji itu mendapat ”untung”. Nama McDonald’s boleh dibilang tampil menjadi ikon. Ikon ini layak disematkan karena buktinya satu dari delapan orang Amerika pernah bekerja untuk jaringan tersebut. Bagaimana perusahaan harus bersikap ketika masuk dalam isu-isu politik? Konsultan merek Mike Jones di dalam akun LinkedIn tahun 2017 mengatakan, iklan politik dan keterlibatan merek dalam perdebatan politik sedang meningkat dalam tatanan politik Amerika Serikat. Saat ini sudah menjadi hal yang populer untuk menggunakan politik sebagai salah satu alat pemasaran. Ia membeberkan sejumlah merek yang mulai masuk dalam pertengkaran politik. Semua ini membuat ia berpikir keras tentang upaya-upaya terbaru dari merek. Bolehkah merek mengambil sikap politik? Apakah ada saatnya mereka tidak seharusnya melakukannya? Jika ya, bagaimana mereka harus menghadapi pelanggan atau karyawan atau mitra dan vendor yang tidak sependapat dengan mereka? Apakah ada garis yang tidak boleh mereka lewati? Salah satu panduan yang diberikan Mike Jones adalah soal nilai-nilai perusahaan. Ini menjadi pertimbangan penting sebelum mereka melakukan langkah yang menyerempet
ke isu politik. (Yoga)
Buruh Pelabuhan Berhasil Menuntut Kenaikan Upah
Pelabuhan-pelabuhan disepanjang Pantai Timur dan Pantai Teluk Amerika Serikat (AS) dilaporkan mulai dibuka kembali pada Kamis (03/10/2024) malam waktu setempat. Hal ini terjadi menyusul tercapainya kesepakatan sementara serikat pekerja internasional International Longshoremen's Associate (ILA) atau Asosiasi Buruh Bongkar Muatan Internasional dengan Operator Pelabuhan United States Maritime Alliance (USMX). Menurut para sumber, ILA dan USMX telah menyetujui penaikan upah sekitar 62% selama enam tahun, dan menaikkan upah rata-rata dari US$ 39 per jam menjadi sekitar US$ 63 per jam.
Sebelumnya, ILA meminta kenaikan upah sebesar 77% sementara USMX telah menaikkan tawarannya menjadi hampir 50%. Mengutip dari pernyataan, ILA dan USMX bakal memperpanjang kontrak induk mereka hingga 15 Januari 2025 untuk kembali ke meja perundingan guna menegosiasikan semua masalah yang belum terselesaikan. "Efektif segera, semua aksi kerja saat ini akan dihentikan dan semua pekerjaan yang tercakup dalam Kontrak Induk akan dilanjutkan," kata pernyataan, yang dilansir Reuters pada Jumat (04/10/2024). (Yetede)
Sektor Riil Menggeliat dengan Penurunan Suku Bunga Acuan
Pemangkasan suku bunga acuan oleh bank sentral AS, Federal Reserve atauThe Fed, yang diperkirakan terjadi September 2024 akan mendorong BI menurunkan suku bunga acuannya. Hal ini diharapkan dapat membuat likuiditas perbankan melimpah dan biaya dana turun sehingga dapat menggerakkan sektor riil. Senior Economist Standard Chartered BI, Aldian Taloputra memperkirakan The Fed memangkas suku bunga acuannya tiga kali, masing-masing 25 basis poin (bps) pada 2024 dan berlanjut tahun depan sebanyak tujuh kali. Pemangkasan suku bunga tersebut akan dimulai 17-18 September 2024 dalam pertemuan Dewan Gubernur Bank Sentral AS.
”Perkiraan kami, pemotongan suku bunga lebih lambat dari perkiraan pasar yang memperkirakan empat kali pemotongan tahun ini. Perkiraan itu berdasarkan data terakhir yang masih menunjukkan soft landing pertumbuhan ekonomi AS,” katanya, Selasa (10/9). Berdasarkan data ekonomi AS, PDB AS pada triwulan II-2024 tumbuh 2,8 % secara tahunan, lebih tinggi dibanding triwulan sebelumnya yang tumbuh 1,4 % secara tahunan. Di sisi lain, tingkat inflasi AS pada Juli 2024 sebesar 2,9 % secara tahunan, turun dibanding Juni 2024 sebesar 3 %. Biro Statistik Tenaga Kerja AS juga melaporkan, tingkat pengangguran turun dari 4,3 % pada Juli ke 4,2 % pada Agustus 2024. Di sisi lain, terdapat 142.000 pekerjaan baru yang tercipta pada Agustus 2024 dan terjadi penguatan rata-rata upah pekerja di atas ekspektasi. Menurut Aldian, BI akan memangkas suku bunga acuan setelah The Fed melonggarkan kebijakan moneternya. (Yoga)
Presiden Biden Tidak Ikut Campur Kasus Anaknya
Presiden AS Joe Biden konsisten tidak mau mengintervensi kasus hukum yang membelit anaknya, Hunter Biden (54). Presiden Biden menegaskan tidak akan menggunakan kekuasaan untuk melindungi anaknya. Padahal, anak bungsunya itu terancam hukuman belasan tahun penjara. Ancaman terbaru bagi Hunter terkait kasus pajak. Sidang mengenai kasus pengemplangan pajak Hunter dimulai di Los Angeles, Negara Bagian California, Kamis (5/9) waktu setempat atau Jumat (6/9) waktu Indonesia.
Hunter didakwa atas sembilan kasus menghindari pembayaran pajak periode 2016-2019. Nilai yang dikemplang 1,4 juta USD (Rp 21 miliar, kurs 1 USD setara Rp 15.000). Alih-alih membayar pajak, Hunter malah memakai uang tersebut untuk berfoya-foya. Ia malah jalan-jalan dengan fasilitas mewah, juga menyewa pekerja seks dan membeli narkotika. Semua itu dirangkum dalam 56 halaman berkas dakwaan. Setiap selesai jaksa membaca satu dakwaan, hakim bertanya kepada Hunter mengenai pendapatnya. Hunter sembilan kali menjawab ”bersalah”.
Apabila di akhir pengadilan Hakim Mark Scarsi memvonis bersalah, Hunter bisa dikenai hukuman maksimum 17 tahun penjara dan didenda 1,2 juta USD (Rp 18 miliar). Pengakuan Hunter ini mengejutkan masyarakat karena menunjukkan perubahan sikap yang signifikan. Sebelumnya, Hunter seolah terlihat siap untuk melawan pengadilan, sementara ayahnya, Presiden Biden, menyatakan tidak akan melindungi Hunter. ”Terkait kasus ini ataupun kasus sebelumnya, Presiden Biden tidak mau ikut campur keputusan yudikatif. Kalaupun putranya divonis bersalah, Presiden Biden tidak akan mengeluarkan amnesti atau pengampunan dalam jenis apa pun,” kata Jubir Gedung Putih Karine Jean-Pierre. (Yoga)
Pemilu AS
The Fed Pangkas FFR
Kebijakan The Fed Menurunkan Suku Bunga
Berkah Global dari Senin Kelabu
Perhatian pelaku ekonomi global tertuju pada pertemuan bank sentral AS (The Fed) yang terkini pada 30-31 Juli 2024. Kali ini The Fed memberi kisi-kisi bahwa penurunan suku bunga akan terjadi September-Desember 2024. Bagi pasar keuangan dunia, ini tetap saja merupakan permainan tebak-menebak arah kebijakan The Fed untuk pertemuan mendatang pada 19-20 September 2024, yang meningkatkan ketidakpastian sehingga sebagai instrumen yang dianggap aman, yaitu indeks USD meningkat dari 103,7 pada 17 Juli ke 104,6 pada 29 Juli akibat substitusi aset. Namun, setelah pertemuan The Fed, risiko berbalik arah sehingga indeks USD merosot ke 103,1 pada 3 Agustus.
Dampak langsungnya adalah substitusi dari saham ke aset finansial lain yang dianggap lebih aman, seperti obligasi Pemerintah AS. Harga saham di AS berguguran pada Senin, 5 Agustus 2024, yang terburuk sejak 2022, mirip kejadian 19 Oktober 1987 yang disebut Senin Hitam atau ”Black Monday”. Indeks DOW anjlok 1.000 poin atau 2,6 %. Sementara S&P 500 dan Nasdaq turun 3 % dan 3,4 %. Situasi tenang kembali di pasar saham setelah dua hari kepanikan. Terutama karena fakta pertumbuhan AS di triwulan II-2024 sebesar 2,6 % yang di atas triwulan sebelumnya 1,4 %. Otoritas moneter seluruh dunia memberi respon sesuai kondisi masing-masing.
Bank sentral Inggris (BOE) memilih tidak mengikuti The Fed, tapi lebih hati-hati dengan indikator Sahm Rule, menurunkan suku bunga pada 1 Agustus karena inflasi tahunan sejak Juni sudah turun ke 2,6 %, untuk mempertahankan momentum perekonomian yang sejak Mei indeks PMI manufakturnya mengalami ekspansi. BI pada 16-17 Juli memilih tetap mempertahankan suku bunga acuan karena ketidakpastian masih tinggi. Kurs rupiah melemah dari Rp 16.171 per USD (17 Juli) ke Rp 16.330 per USD (24 Juli). Dampak Senin kelabu di AS dalam jangka pendek adalah indeks USD yang melemah signifikan dari 104,6 pada 30 Juli ke 102,9 pada 5 Agustus atau 1,65 %.
Akibatnya, mata uang yen Jepang menguat paling tajam, dari 161,6 ke 144,7 atau 10,5 %. Won Korea menguat dari 1.384,7 ke 1.358,3 atau 1,9 %. Sementara rupiah menguat dari Rp 16.339 per 30 Juli ke Rp 15.940 per USD per 9 Agustus atau 2,4 %. Tren penguatan rupiah sejak minggu ke-4 Juni membuat ekspektasi inflasi menurun, terlihat dari inflasi tahunan yang menurun dari 2,84 dan 2,51 % pada Mei dan Juni ke 2,23 % di Juli. Bagi Indonesia, ini bukan saatnya berpangku tangan menunggu peruntungan. Walau Senin kelabu AS memberi ruang bagi rupiah menguat, ini menjadi pembelajaran bahwa kebijakan ekonomi harus konsisten dengan data ekonomi. (Yoga)
Kebijakan The Fed
Pilihan Editor
-
Waspada Rambatan Resesi AS
02 Aug 2022 -
Upaya Menegakkan Jurnalisme Berkeadilan
01 Aug 2022 -
Kegagalan Sistem Pangan Indonesia
06 Aug 2022









