Amerika Serikat
( 385 )BI memperkirakan kondisi global ke depan masih diwarnai gejolak ketidakpastian
BI memperkirakan kondisi global ke depan masih diwarnai gejolak ketidakpastian. Karena itu, stabilitas perlu dijaga dengan terus meningkatkan permintaan domestik, produktivitas nasional, pendalaman pasar keuangan, dan digitalisasi sistem pembayaran. Hal ini mengemuka dalam acara Pertemuan Tahunan BI bertajuk ”Sinergi Memperkuat Stabilitas danTransformasi Ekonomi Nasional” di Kantor Pusat BI, Jakarta, Jumat (29/11). Acara tersebut dihadiri Presiden RI, Prabowo Subianto. Presiden Prabowo mengingatkan, kondisi geopolitik dunia sedang dalam keadaan yang penuh ketidakpastian. Dalam situasi yang penuh ketidakpastian ini, Indonesia harus selalu waspada dan berhati-hati kendati secara garis besar kondisi di Indonesia tergolong cukup tenang dan kondusif. Terkait dengan itu, Presiden mengatakan, sinergi untuk memperkuat stabilitas dan transformasi nasional menjadi tema yang relevan.
Prabowo teringat, seorang pemimpin politik berkata, untuk menghancurkan suatu negara, hancurkanlah mata uangnya. ”Jadi, Saudara-saudara, Gubernur BI, Menkeu, Ketua OJK, semua pelaku keuangan, tugas dan tanggung jawab Saudara tidak ringan. Kalau pakai ilmu tentara, Saudara-saudara adalah jenderal-jenderal bintang 4,” katanya. Gubernur BI Perry Warjiyo menjelaskan, terpilihnya kembali Donald Trump sebagai Presiden AS membuat gejolak global berpotensi berlanjut. Hal ini akan mengakibatkan perubahan lanskap geopolitik dan perekonomian dunia sehingga prospek ekonomi global akan meredup pada 2025 dan 2026. Semakin tingginya ketidakpastian global itu terciri dalam lima karakteristik, yakni pertumbuhan global yang akan menurun pada tahun 2025 dan 2026, penurunan inflasi dunia yang akan melambat, serta tingginya suku bunga AS. Selain itu, ketidakpastian global juga tampak dari penguatan kurs USD terhadap seluruh mata uang dan peralihan modal asing dari negara berkembang ke AS. (Yoga)
Pasar dan Kinerja Perbankan Pasca Kemenangan Trump
Pemilihan Presiden Amerika Serikat yang berlangsung pada awal November 2024 menunjukkan kemenangan Donald Trump dari Partai Republik yang mengungguli pesaingnya, Kamala Harris dari Partai Demokrat. Kemenangan Trump diprediksi akan membawa perubahan signifikan dalam kebijakan ekonomi AS, dengan penekanan pada prioritas ekonomi domestik, seperti peningkatan investasi dalam negeri, kenaikan bea impor, dan pemotongan pajak korporasi. Kebijakan ekonomi yang sering disebut sebagai Trump 2.0 ini, dengan fokus pada pajak dan tarif impor yang lebih tinggi, diperkirakan akan mempengaruhi negara-negara berkembang, termasuk Indonesia, melalui arus dana yang keluar dan dampaknya pada suku bunga global.
Kebijakan Trump yang kemungkinan akan menahan penurunan suku bunga The Fed dapat mendorong Bank Indonesia untuk menyesuaikan suku bunga dalam rangka mempertahankan stabilitas ekonomi domestik, menghindari keluarnya modal, dan menarik arus investasi asing. Dalam konteks ini, meskipun kinerja perbankan nasional Indonesia, seperti yang terlihat pada laporan keuangan kuartal III 2024 dari bank-bank besar seperti BRI, Mandiri, BCA, dan BNI, menunjukkan pertumbuhan laba yang positif, saham-saham perbankan mengalami penurunan harga. Hal ini mencerminkan adanya arus keluar dari pasar modal Indonesia yang harus menjadi perhatian serius bagi pemangku kepentingan pasar modal di Indonesia.
Selain itu, meskipun sektor perbankan Indonesia relatif resilien terhadap gejolak global, tantangan tetap ada, seperti kenaikan harga minyak dan inflasi, yang dapat memengaruhi daya beli masyarakat dan kinerja industri keuangan. Pemerintah Indonesia perlu melakukan langkah-langkah strategis, seperti evaluasi kebijakan suku bunga dan memastikan anggaran belanja negara difokuskan untuk kegiatan produktif yang bisa membuka lapangan pekerjaan dan meningkatkan daya beli masyarakat. Peningkatan PPN yang diiringi dengan penurunan daya beli juga harus menjadi perhatian pemerintah agar tidak semakin menekan perekonomian domestik.
Secara keseluruhan, kebijakan ekonomi yang tepat dan responsif dari pemerintah Indonesia, serta kebijakan fiskal yang mendukung daya saing ekonomi domestik, akan sangat krusial dalam mengatasi tantangan ekonomi yang datang baik dari dalam negeri maupun faktor eksternal, seperti dampak dari kebijakan ekonomi Trump dan gejolak geopolitik global.
Sentimen Trump Masih Terus Telan Rupiah Hingga Mendekati Rp16.000
Nilai tukar rupiah kian melemah hingga mendekati Rp16.000 per dolar AS. Kondisi mata uang garuda tidak terlepas dari penguatan solar AS karena sedang mengalami sentiment positif pascakemenangan Donald Trump di pilpres AS. Bank Indonesia (BI) harus tetap berada di pasar untuk meredam dampak penguatan dolar AS ke stabilitas nilai tukar rupiah. Dengan kemenangan Trump pelaku pasar memprediksi sejumlah kebijakan Trumph, terutama yang terkait dengan penerapan tarif impor dan janji efisiensi anggaran pemerintah AS yang dramatis yang tentunya akan mengurangi defisit dan perkuat nilai tukar dolar AS. Berdasarkan data Jakarta Interbank Spot Dollar rate (Jisdor) BI menunjukkan posisi nilai tukar rupiah adalah Rp15.911 per dolar AS pada Jumat (22/11/2024).
Angka ini jauh berada di atas
asumsi makro APBN yang sebenarnya Rp 15.000 per dolar AS. “Dalam kata lain,
rupiah berada dalam kondisi dinamis akibat kejadian penting di dunia, ada
kemungkinan menguat lagi nantinya. Jadi belum bias dikatakan nilai tukar Rupiah
memasuki titik keseimbangan baru; ini adalah gelombang, bukan permukaan air di
kala situasi tenang,” ucap Ekonom Universitas Paramadina Wijayanto Samirin.
Bila mengacu pada pergerakan rupiah dalam satu tahun terakhir, pertengahan Juni
2024, bahkan rupiah pernah mencapai hampir Rp16.500 per dolar AS, sebelum
akhirnya mencapai Rp 15.000 per dolar AS pada akhir September 2024. (Yetede)
Target Ekspor RI dibayangi Efek Trump
Target ekspor nasional 2025-2029 untuk mencapai pertumbuhan ekonomi 8 % pada 2029 menghadapi tantangan berat. Dua di antaranya adalah kebijakan perdagangan AS di era kepemimpinan Donald Trump dan deindustrialisasi akibat serbuan produk-produk impor. Kemendag telah membuat target tahunan pertumbuhan ekspor seiring target tahunan pertumbuhan ekonomi 2024-2029. Agar ekonomi RI tumbuh 5,06 % pada 2025, ekspor ditargetkan tumbuh 7,01 % atau senilai 294,45 miliar USD. Target pertumbuhan ekonomi dan ekspor tersebut terus meningkat setiap tahun. Hingga 2029, ekspor ditargetkan tumbuh 9,64 % menjadi 405,69 miliar USD agar ekonomi RI dapat tumbuh 8 %.
Anggota Komisi VI DPR, Amin AK, Rabu (20/11) mengatakan, kinerja neraca perdagangan Indonesia memang masih surplus. Namun, dari waktu ke waktu tren surplus tersebut cenderung turun. ”Di tengah kondisi itu, tantangan sektor perdagangan makin berat. Apalagi Trump akan menaikkan tarif semua produk impor yang berpotensi menghambat pertumbuhan ekspor Indonesia ke AS,” ujarnya dalam Rapat Kerja Komisi VI DPR dengan Kemendag di Jakarta. Trump berencana menaikkan tarif impor 10-20 % terhadap semua barang yang masuk pasar AS. Bahkan, tarif impor barang asal China akan dinaikkan 60-100 %. Trump juga berencana mengevaluasi kembali sistem tarif preferensi umum (GSP). Kebijakan itu berpotensi menghilangkan keistimewaan bea masuk barang tertentu ke pasar AS yang didapat negara berkembang, termasuk Indonesia. (Yoga)
Menakar Dampak Periode Kedua Trump Perekonomian Indonesia
Kemenangan Trump karena The American Dream
Kemenangan Donald Trump dari Partai Republik atas KamalaHarris dari Partai Demokrat disusul keberhasilan hattrick Partai Republik menguasai mayoritas Kongres dan juga Senat, fenomena yang disebut a governing trifecta. Kegagalan Harris adalah ketidakmampuan tim kampanyenya mengolah ekspektasi perbaikan momentum ekonomi berdasarkan beberapa indikator terkini kepada para pemilih yang frustrasi karena harga-harga yang tidak kembali seperti saat presidensi Trump yang pertama. Padahal, momentum pemulihan ekonomi dari dampak Covid-19 sejak akhir 2022 makin terlihat. Inflasi tahunan, puncaknya 9,1 % pada Juni 2022 turun ke 2,4 % pada September 2024. Angka pengangguran Oktober 2024 turun ke 4,1 %, jauh dari 14,9 % pada April 2020 saat puncak pandemi Covid-19.
Pertumbuhan ekonomi cukup sehat, 2,8 % di triwulan III sedikit di bawah 3 % pada triwulan sebelumnya. Indeks pasar saham AS (US 500) merupakan satu indikator dini yang memprediksi kemenangan Trump berlawanan dengan prediksi media mainstream yang cenderung berpihak pada Harris. Indeks ini naik tajam beberapa hari sebelum pencoblosan. Sejak 31 Oktober, US 500 naik dari 5.705,9 ke 5.952,8 pada 4 November, sehari sebelum para pemilih pergi ke kotak suara. Kegagalan Harris adalah kegagalan melihat dua prioritas yang saling terkait di mata pemilih dalam merealisasikan The American Dream. Prioritas utama adalah harga rumah yang terjangkau.
Selain sebagai tempat tinggal, rumah adalah investasi utama kelas menengah. Selain itu, harga-harga tetap mahal. Purchasing Manager Index (PMI) sektor manufaktur secara konsisten berada di zona kontraksi atau di bawah 50 sejak Juli 2024 atau 4 bulan sebelum pilpres awal November. Indeks Harga Konsumen (IHK) yang tinggi terjadi pada masa pemerintahan Biden. Di sisi lain, janji Trump untuk menghentikan perang Ukraina-Rusia dalam 24 jam sangat menarik. Pemilih melihatnya sebagai sesuatu positif, suatu usaha untuk mengurangi tekanan kenaikan harga dari sisi rantai pasok. Peluang paradoks untuk pemilih Trump yang mengharapkan inflasi rendah dan harga kembali normal dapat terjadi. Trump berjanji melindungi industri dari serbuan barang-barang impor, terutama dari China, dengan kebijakan tarif antara 20 % dan 60 %. (Yoga)
Platform Media Sosial dihukum penggunanya
Orang beramai-ramai menghukum platform media sosial begitu mereka menilai tata kelolanya tidak benar. Situs media sosial Bluesky telah menggaet 1 juta pengguna baru dalam sepekan sejak pemilu AS, seiring makin banyaknya pengguna yang meninggalkan X, media sosial milik Elon Musk, yang dulu bernama Twitter. Sejumlah pengguna X meninggalkan platform tersebut karena menilai media sosial itu terlalu banyak berisi ujaran kebencian, disinformasi, dan misinformasi. Pelantar X juga dikhawatirkan rentan bias politik sebab Musk kini bergabung di kabinet presiden terpilih AS Donald Trump. Pada Rabu (13/11). Bluesky mengumumkan total penggunanya melonjak menjadi 15 juta akun, naik dari 13 juta akun pada akhir Oktober 2024 (Kompas.id, 17/11/2024).
Trump yang kalah tahun 2020 juga melakukan langkah serupa. Karena Twitter (yang kemudian menjadi X) menggembok akun Trump karena berkali-kali mengeluarkan ujaran kebencian, Trump kemudian mengajak pendukungnya pindah ke media sosial bernama Truth Social. Sikap emosional para pendukung sosok atau partai politik tertentu hanya karena calonnya kalah atau diperlakukan tidak pas oleh perusahaan media sosial ternyata tidak cukup menewaskan platform. Sikap mereka itu hanya sementara. Dalam kasus terakhir, masalahnya berbeda. Para pengkritik X menyatakan menutup akun mereka dan pindah ke Bluesky karena ada alasan etis dan mereka juga mempertanyakan tata kelola media sosial tersebut. Mereka melakukan langkah itu dengan alasan kuat, bukan karena sikap emosional semata. Sejumlah media melakukan penutupan dengan alasan X telah berpihak dan tak berusaha menekan ujaran kebencian.
Sementara itu, Bluesky mengatakan mendapat tambahan pengguna sebanyak 1 juta di tengah keriuhan pilpres AS. Pengguna media sosial ini juga bertambah karena kasus di Brasil. Pengguna aktif X juga mengalami penurunan sekitar 5 juta. Meski demikian, semua kehebohan ini belum tentu mematikan X dan kemudian memunculkan Bluesky sebagai pemenang. Perkiraan bahwa mereka akan terdampak signifikan masih terlalu jauh. Masalah pokok mereka adalah aspek bisnis di kedua platform. Sejauh ini bisnis keduanya belum menunjukkan keuntungan. Ketika masih bernama Twitter dan kemudian dibeli Elon Musk, platform tersebut masih merugi. Kini, X juga masih sulit meyakinkan pengiklan karena banyak merek yang tidak lagi beriklan di X karena alasan etis. Merek mereka tidak mau berada di ruang siber yang tidak aman. Di sisi lain, Bluesky masih jauh dari laba karena sibuk menaikkan jumlah pengguna. (Yoga)
Bagaimana Kepresidenan Kedua Trump Akan Mempengaruhi Ekonomi Asean
Kembalinya Donald Trump ke Gedung Putih pada 20 Januari 2025, kebijakan "America First" akan kembali menjadi pusat perhatian. Kebijakan ini, yang menekankan pemulangan lapangan kerja, pengurangan difisit perdagangan, dan pengetatan kebijakan imigrasi, memiliki dampak besar terhadap ekonomi negara berkembang. Artikel ini menganalisa dampak yang diantisipasi dari kebijakan ekonomi Trump terhadap ekonomi Asia Tengara (yang dikelompokkan sebagai Asean), terutama mengingatkan Asean telah menjadi sumber alternatif impor dan tujuan potensial relokasi investasi di tengah meningkatnya ketegangan perdagangan antara AS dam China.
Analisis ini berfokus pada empat aspek utama: tarif dan desifit perdagangan, sistem prefensi umum (General System of Prference/GSP), reorientasi rantai pasok global, dan investasi langsung asing (FDI). Pada masa jabatan sebelumnya, Trump secara agresif memberlakukan tarif untuk mengurani defisit perdagangan AS, khususnya pada impor dari China. Dalam masa jabatan keduanya, dia telah mengisyaratkan niat untuk memberlakukan tarif setinggi 60% pada impor dari China, dengan potensi tarif 10-20% pada impor dari negara lain (dan hingga 200% pada kendaraan listrik, terutama dari China dan Meksiko). (Yetede)
Pisau Bermata Dua Kemenangan Trump
Kemenangan Donald Trump dalam pemilihan presiden (pilpres) Amerika Serikat (AS) 2024 dinilai tidak melulu mendatangkan dampak buruk ke perekonomian Indonesia, terutama sektor perdagangan internasional. Kemunculan kandidat dari Partai Republik sebagai pemenang dengan menumbangkan Kamal Harris dari Partai Demokrat tersebut, bisa diandaikan atau bak pisau bermata dua. Di satu sisi, semboyan 'America Firts' yang semasa periode pertama pemerintahannya (2017-2021) diimplementasikan dalam kebijakan proteksionisme, bisa menciptakan beberapa risiko bagi akses produk Indonesia ke pasar AS.
Namun demikian, di sisi lain, hal itu juga membuka ruang bagi Indonesia untuk memasok produk alternatif dari produk-produk China yang akan dikenakan tarif hingga 60%. "Trump memiliki approuch yang lebih transaksional. Misalnya, dalam era Trumph sebelumnya, ada pembicaraan tentang Limited Trade Deals yang memungkinkan produk ekspor unggulan Indonesia, seperti garmen, mendapatkan kemudahan akses pasar di AS jika menggunakan cotton asli AS," ujar Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Shinta W Kamdani kepada Investor Daily. Apindo memandang, penting bagi Indonesia untuk memanfaatkan peluang yang muncul dari pergeseran rantai pasok global. (Yetede)
Kemenangan Donald Trump Menimbulkan Spekulasi Arah Perdagangan Dunia Selanjutnya.
Pilihan Editor
-
ANCAMAN KRISIS : RI Pacu Diversifikasi Pangan
10 Aug 2022









