Bunga The Fed Diprediksi Turun September 2024
Gubernur The Fed Jerome Powell beberapa hari lalu memberikan
sinyal bahwa bank sentral AS akan mempertahankan lebih lama lagi suku bunga
acuan (FFR) pada posisinya sekarang, 5,25 % hingga 5,5 %. Ini adalah tingkat
bunga tertinggi di AS selama 20 tahun terakhir. Tingkat bunga yang tinggi di AS
secara langsung berpengaruh pada pasar keuangan global. Transmisinya antara
lain ke penguatan dollar AS terhadap berbagai mata uang lain dan tingkat suku
bunga acuan di sejumlah negara yang ”terpaksa” ikut tinggi agar modal tidak
”bedol desa” ke AS. Bagi negara seperti Indonesia, salah satu dampaknya biaya utang
pemerintah dan swasta menggelembung. Impor bahan baku dan bahan penolong untuk
industri manufaktur domestik juga membengkak.
Kepala Departemen Pengelolaan Moneter BI Edi Susianto menyebut,
kemungkinan penurunan suku bunga acuan bank sentral AS paling cepat pada September
2024 dari sebelumnya yang diperkirakan pada Juni 2024. Perkiraan tersebut mengacu
pada indikator Fed Fund Future dan Dot Plot. ”Bahkan, ada beberapa pelaku pasar
global memperkirakan penurunan FFR baru terjadi pada kuartal IV-2024,” katanya
Senin (22/4). Menurut Edi, BI senantiasa mencermati dinamika perkembangan
ekonomi global dan domestik. Hal itu juga akan dibahas dalam Rapat Dewan Gubernur
(RDG) BI pekan ini, yakni pada Rabu-Kamis, 24-25 April 2024. ”Tentu semua
update perkembangan, baik di global maupun di domestik, akan menjadi asesmen
dalam RDG minggu ini,” ujar Edi. Powell, Selasa (16/4) memperingatkan, kenaikan
inflasi yang terus-menerus kemungkinan akan menunda penurunan suku bunga The
Fed hingga akhir 2024. Artinya, suku bunga tinggi berpotensi berlangsung pada
jangka waktu yang lebih lama. (Yoga)
Postingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023