Amerika Serikat
( 385 )Inflasi Inti AS Masih Panas
Harga-harga konsumen di AS hampir tidak naik pada Maret 2023 karena biaya BBM turun. Tetapi harga sewa hunian yang tinggi membuat tekanan terhadap inflasi tetap panas, sehingga dapat dipastikan The Federal Reserve (The Fed) menaikkan suku bunga lagi awal bulan depan. Depnaker AS melaporkan pada Rabu (12/04) indeks harga konsumen (IHK) AS naik 0,1% bulan lalu, setelah naik 0,4% pada Februari. Sementara dalam rentang 12 bulan hingga Maret 2023, IHK naik 5,0%. Angka ini menunjukkan kenaikan tahunan atau year-on-year (yoy) terkecil sejak Mei 2021. IHK AS naik 6,0% yoy pada Februari 2023. IHK tahunan di AS memuncak di level 9,1% pada Juni tahun lalu. Yang merupakan kenaikan terbesar sejak November 1981. Tapi sejak itu terus menurun dan mencapai level 5,0% pada Maret 2023. Angka inflasi terakhir ini masih dua kali lipat target The Fed yang sebesar 2%.
“Ketika ekonomi melambat, harga konsumen akan melambat lebih jauh dan akan membawa inflasi lebih dekat menuju target jangka panjang The Fed sebesar 2%,” kata Jeffrey Roach, kepala ekonom AS di LPL Financial, kepada CNBC. Inflasi yang terus-terusan tinggi, pengetatan pasar tenaga kerja, dan tanda-tanda bahwa tekanan pasar keuangan telah mereda akan memungkinkan The Fed untuk terus memprioritaskan pemulihan stabilitas harga. Namun demikian, jalan menuju disinflasi kemungkinan akan bergelombang. Karena tekanan yang dating dari biaya jasa jauh dari hunian. Dalam 12 bulan hingga Maret 2023, IHK inti naik 5,6% setelah naik 5,5% di Februari. (Yetede)
Fed Pasok Dana ke Perbankan AS, Penurunan Inflasi Tertunda
Bank sentral AS memasok dana ke perbankan AS untuk meredakan krisis perbankan. Hal itu dilakukan sejak kebangkrutan Silicon Valley Bank (SVB) pada 10 Maret 2023. Sebanyak 300 miliar USD dana dari bank sentral AS telah masuk ke sistem perbankan AS. Ini kurang lebih setara jumlah dana yang ditarik para deposan dari perbankan AS. Gubernur Bank Sentral AS (The Federal Reserve) Jerome Powell mengatakan, pengucuran dana yang dinamai Bank Term Funding Program (BTFP) itu bersifat temporer. Hal ini perlu untuk mendorong likuiditas perbankan agar tidak terjadi ketegangan dalam industri perbankan.
”Kami yakin hal itu bermanfaat. Fasilitas tersebut bertujuan menciptakan kepercayaan terhadap sistem perbankan. Jika langkah tersebut tidak dilakukan, kemungkinan akan ada gangguan dan akan memperketat situasi keuangan,” kata Powell, Rabu (22/3) Fasilitas BTFP itu dimulai pada 12 April 2023 setelah kebangkrutan SVB dan Signature Bank. Jangka waktu pinjaman The Fed ke perbankan tersebut berlaku selama 90 hari dan bisa diperpanjang. Dana The Fed ke perbankan ini disalurkan lewat Federal Deposit Insurance Corp (FDIC). Lembaga keuangan AS telah menerima BTFP 148,7 miliar USD dalam sepekan hingga 5 April. Selama sepekan sebelum itu, The Fed telah mengucurkan BTFP 152,6 miliar USD. Total BTFP yang dikucurkan sepanjang Maret saja sebesar 157,9 miliar USD (Bloomberg, 7 April 2023). (Yoga)
Posisi Unrealized Loss Perbankan AS Sekitar US$ 620 Miliar
Runtuhnya Silicon Valley Bank (SVB) menimbulkan kewaspadaan industri perbankan nasional untuk menjaga kepercayaan para investor dan nasabahnya. Federal Deposit Insurance Corporation (FDIC) menyebutkan bahwa bank-bank di AS mengalami kerugian yang belum direalisasi (unrealized loss) sebesar US$ 620 miliar atau aset yang harganya turun tetapi belum dijual pada akhir 2022. Dirut PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BNI) Royke Tumilaar mengatakan, dinamika pasar keuangan ekstrim telah terjadi sejak 2008 yakni subprime mortgage dan terus berlanjut krisis pada 2011, 2013, 2015, 2018, 2020, dan saat ini di mana suku bunga naik secara agresif. Hal itu disebabkan negara-negara mengalami inflasi cukup tinggi, sehingga bank sentral menaikkan suku bunganya.
Seperti The Fed yang menaikkan bunga 475 basis poin (bps) ke level 5%. Hal tersebut untuk menekan inflasi yang pada Juni tahun lalu berada di level 9%. Langkah The Fed pun diikuti BI yang juga mengerek suku bunga acuan menjadi 5,75% saat ini. “Kenaikan bunga ini juga berdampak sangat negatif bagi para investor surat berharga jangka panjang. Berdasarkan data FDIC, saat ini unrealized loss perbankan di AS kurang lebih US$ 620 miliar. Sebagian besar perbankan menilai ini masih manageable karena punya modal kuat, namun bagi beberapa bank bisa menggerus modal, salah satunya SVB,” urai Royke secara virtual, Kamis (6/4). (Yetede)
Pidana Pertama Mantan Presiden Amerika
Donald John Trump tiba di pengadilan Manhattan, New York, AS, mengenakan setelan jas biru. seraya melambaikan tangan kepada para pendukungnya yang sudah menunggu di luar gedung pengadilan. Tak sedikit pun senyum terlihat di bibir Presiden Amerika Serikat ke-45 itu. Hari itu, Selasa, 4 April 2023, Amerika mencatatkan sejarah baru. Untuk pertama kalinya, mantan presiden tersandung pidana. Trump didakwa memalsukan catatan bisnis dan terlibat skandal suap pada masa kampanye 2016, sebelum terpilih sebagai presiden. Dalam sebuah konferensi pers, jaksa wilayah Manhattan, Alvin Bragg, tidak menyebut secara spesifik 34 tuduhan kejahatan yang dilakukan Trump itu. Namun dia menyinggung ihwal catatan palsu dalam pembukuan perusahaan keluarga Trump. Secara diam-diam, Trump memberikan uang kepada Stormy Daniels sebesar US$ 130 ribu (Rp 1,9 miliar)
Daniels adalah aktris film dewasa yang disebut-sebut sebagai selingkuhan Trump. Untuk memuluskan pencalonannya sebagai presiden, Trump meminta Daniels tutup mulut. Pemberian uang tutup mulut ini dilakukan melalui pengacara Trump, Michael Cohen. Pada 2018, Cohen membenarkan adanya praktik curang itu. Bahkan dia telah menjalani hukuman atas keterlibatannya dalam pelanggaran dana kampanye sehubungan dengan pemberian suap kepada Daniels.Di New York, pidana pemalsuan catatan bisnis dikategorikan sebagai pelanggaran ringan dengan ancaman hukuman 1 tahun penjara. Namun, jika dikaitkan dengan pelanggaran pemilu, Trump dapat dipenjara 4 tahun. Dalam persidangan di pengadilan Manhattan, Selasa lalu, Trump membantah semua tuduhan kepadanya. "Tidak bersalah," kata pria berusia 76 tahun saat ini menjawab pertanyaan hakim. (Yetede)
PANDEMI COVID-19 Amerika Bantu Indonesia Rp 972 Miliar
Pemerintah AS melalui Badan untuk Pembangunan Internasional AS atau USAID telah menyalurkan lebih dari 65 juta dollar AS atau Rp 972 miliar untuk penanganan pandemi Covid-19 di Indonesia. Bantuan itu berupa sosialisasi pencegahan virus korona baru hingga pengadaan vaksin di Tanah Air. Sejak kasus Covid-19 pertama di Indonesia pada Maret 2020, USAID bersama dengan Kementerian Kesehatan RI telah membantu 1.983 rumah sakit dan laboratorium. Sebanyak 840.000 tenaga medis dantenaga kesehatanjuga sudah dilatih untuk menangani pasien Covid-19 dan memberikan vaksinasi kepada masyarakat. Dukungan USAID ini menjangkau lebih dari 260 juta atau 90 % masyarakat di Indonesia.
USAID juga telah membantu mendistribusikan 59.800 viral transport medium, 1.000 ventilator, dan 438 alat kesehatan lainnya ke 34 provinsi di Indonesia. USAID mengirimkan lebih dari 100 juta dosis vaksin ke Indonesia, termasuk 42 juta dosis yang disumbangkan AS. ”Dalam menghadapi tantangan yang belum pernah terjadi sebelumnya ini, Indonesia dan AS bekerja sama untuk menghadapi pandemi. Bersama-sama kita telah secara signifikan menurunkan kematian dan kesakitan yang berat,” kata Wakil Dubes AS untuk Indonesia Michael F Kleine saat acara Penutupan Penanggulangan Covid-19 USAID di Perpustakaan Nasional, Jakarta, Jumat (31/3). (Yoga)
Dua Anak Usaha Group Adani Terpapar Resiko
Pilihan Valas Saat Ekonomi Gamang
Kebijakan The Fed yang mulai dovish tidak memudarkan pamor dollar Amerika Serikat (AS) sebagai mata uang pilihan. Para analis justru melihat dollar AS masih jadi safe haven menarik.
Memang, pasca The Fed menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 bps, indeks dollar AS sempat bergerak ke bawah 103. Tapi kemarin (24/3), indeks dollar AS kembali naik ke level 103,16.
Chief Analyst DCFX Futures Lukman Leong berpendapat, keputusan The Fed menaikkan suku bunga acuan sesuai proyeksi. Yang mengejutkan justru keputusan The Fed memangkas suku bunga di tahun ini.
Kebijakan suku bunga bank sentral melunak akibat kolapsnya beberapa bank. Ada Silicon Valley Bank, Signature Bank, Silvergate Bank dan First Republic Bank yang mengalami kekurangan likuiditas.
Kondisi yang sama juga dialami bank yang berbasis di Eropa, Credit Suisse. Ini menunjukkan perbankan di Eropa tidak immune. "Ini yang membuat dollar AS dinilai menarik, karena status dollar AS yang masih menjadi safe haven bagi investor," ujar Lukman.
Masih ada sejumlah valas lain yang menurut analis menarik untuk investasi. Salah satunya mata uang Swiss, franc. Mata uang berkode CHF ini menarik setelah bank sentral Swiss menaikkan suku bunga 50 bps pekan ini. "Walau ada kejatuhan Credit Suisse, saya melihat hal ini tidak akan mengurangi daya tarik CHF," ujar Lukman.
Lukman juga menilai dollar Singapura menarik. Mata uang berkode SGD ini menjadi mata uang paling kuat secara tahunan melawan dollar AS. Dollar AS melemah 1,76% secara tahunan terhadap dollar Singapura.
Senior Economist KB Valbury Sekuritas Fikri C. Permana melihat, euro bisa menjadi hard currencies yang menarik sebagai pilihan investasi. Pasalnya, ada ekspektasi European Central Bank (ECB) masih akan meningkatkan suku bunga lebih tinggi daripada The Federal Reserve.
Untuk safe haven di Asia, menurut Fikri, yen, yuan dan won Korea bisa dicermati. Alasannya, negara-negara Asia tidak memiliki kaitan dengan bank-bank AS ataupun Eropa yang sedang kolaps. Tapi perlu diingat, yuan dan won jarang diperdagangkan di pasar valas.
The Fed Naikkan Suku Bunga Ditengah Gejolak Perbankan
WASHINGTON, ID-The Federal Reserve (The Fed) menaikkan suku bunga acuan 25 bps ke level 4,75-5,00%, pada Rabu (22/3/2023) waktu Ameika Serikat. Namun, bank sentral AS tersebut mengindikasikan bakal segera menghentikan siklus kenaikan biaya pinjaman, setelah runtuhnya dua bank di negeri Paman Sam baru-baru ini. Gubernur The Fed Jarome Powel berusaha meyakinkan para investor mengenai kondisi kesehatan sistem perbankan. Ia mengatakan, kendati manajemen Silicon Valley Bank (SVB) telah gagal total, keruntuhan yang dialami Bank tersebut tidak menunjukkan kelemahan yang lebih luas dalam sistem perbankan. "Ini bukanlah kelemahan yang menyebar secara luas diseluruh sistem perbankan. Aksi pengambilalihan Credit Suisse juga sepertinya telah membuahkan hasil yang positif," ujarnya, sebagaimana dikutip Reuters pada amis (23/3/2023). (Yetede)
The Fed Tetap Naikkan Suku Bunga 25 Bps
Walaupun terjadi gejolak di industri perbankan, konsensus di pasar finansial memperkirakan The Federal Reserve (The Fed) tetap menyetujui kenaikan suku bunga acuan 25 basis poin (bps) pekan ini. Ekspektasi terhadap kenaikan suku bunga bank sentral AS tersebut telah bergerak liar dalam dua pekan terakhir. Bervariasi antara prediksi kenaikan 50 bps, dipertahankan di kisaran 4,50%-4,75% saat ini, bahkan ada yang memperkirakan dipangkas 25 bps. Namun konsensus yang terakhir muncul adalah Gubernur The Fed Jerome Powell dan para koleganya di Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) ingin memberi sinyal bahwa sementara The Fed juga menyoroti dan mencermati pergolakan di sektor keuangan, tapi tetap penting untuk melanjutkan perjuangan memerangi inflasi. Pasar finansial memperkirakan The Fed menaikkan fed funds rate (FFR) 0,25 poin persentase atau 25 bps.
Disertai jaminan bahwa tidak ada ketetapan untuk arah kebijakan ke depan. “Mereka harus melakukan sesuatu, jika tidak akan kehilangan kredibilitas,” kata Doug Roberts, pendiri dan direktur strategi investasi Channel Capital Research, seperti dikutip CNBC akhir pekan lalu. The Fed, tambah dia, ingin menaikkan 25 basis poin dan penaikan sebesar itu merupakan pesan. “Tapi itu benar-benar akan bergantung pada pernyataan setelahnya, apa yang akan dikatakan Powell pada konferensi pers. Saya pikir tidak akan ada perubahan 180 derajat dari yang telah dibicarakan semua orang. Pasar sebagian besar setuju bahwa Fed akan menaikkan suku bunga,” tandas Roberts. Menyusul bangkrutnya Silicon Valley Bank (SVB), disusul penutupan Signature Bank, dan penyelamatan First Republic Bank oleh bank-bank lebih besar, The Fed menghadapi tugas yang mau tidak mau harus di[1]ambil. Antara memerangi inflasi yang terus tinggi dan tanpa menambah gejolak di sektor keuangan. (Yoga)
KKN, Bahaya Laten Industri Keuangan Amerika Serikat
Industri teknologi informasi di AS punya citra mentereng. Hal ini tak lepas dari mega sukses raksasa-raksasa teknologi yang menjulang dari Silicon Valley. Namun, ternyata tidak semuanya demikian. Tak sedikit perusahaan yang ”cerita suksesnya” sebenarnya berdiri di atas dasar tata kelola yang tak kuat dan tak sehat. Dan, ini melibatkan peran institusi keuangan, dalam hal ini Silicon Valley Bank (SVB). Pengumuman bangkrut dan tutupnya SVB pada Jumat (9/3) mengungkap kepalsuan di sebagian industri teknologi tersebut. Hanya cerita positif yang muncul di permukaan. SVB, misalnya, menyatakan memiliki relasi baik dengan perusahaan teknologi dan menjadi mitra inovasi (Fortune, 11 Maret 2023). Lebih dari 2.500 perusahaan modal ventura pendukung perusahaan teknologi bermitra dengan SVB. Deposito di SVB, yang dikenal mudah dijangkau perusahaan rintisan saat mereka sulit mendapatkan akses pada perbankan umum, akumulasinya meroket. Relasi baik membuat deposito di SVB melejit dari 67 miliar USD pada 2020 menjadi 126 miliar USD pada 2021. Dana stimulus ekonomi AS dari Bank Sentral AS, The Fed, yang berbunga rendah membuat dana murah tersedia banyak. Saat kebanjiran dana, SVB menempatkannya ke dalam surat berharga aman, yakni obligasi pemerintah AS berjangka 10 tahun.
Aset SVB berbentuk surat berharga naik dari 17 miliar USD menjadi 98 miliar USD. Aksi bakar uang marak terjadi berkat dukungan SVB. Situasi berubah drastis pada 2022 ketika sistem kerja dari rumah (work from home) berangsur-angsur memudar. Tambahan pula, banyak perusahaan rintisan tidak menghasilkan pendapatan apa pun. SVB tidak lagi menerima aliran masuk. Di sisi lain, SVB justru mengalami penarikan deposito besar-besaran dari para nasabahnya. SVB terpaksa menjual rugi sebagian aset obligasi dengan harga diskon. Goldman Sachs, salah satu pihak yang beruntung dengan situasi SVB itu. Para pedagang saham berorientasi jangka pendek (short seller) marak memasang taruhan akan kebangkrutan SVB. Ulah bankir dan politisi Inilah potret sempurna kesemrawutan perekonomian akibat korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN) di AS. Aspek KKN ini tidak membuat perbankan jera dan tidak belajar serius dari krisis masa lalu. Mantan Ketua Federal Deposit Insurance Corporation (FDIC) Sheila Bair melihat ada bankir yang tidak saksama mengelola perbankan. Bank-bank di AS diduga tetap melakukan penipuan, termasuk Signature Bank yang bangkrut pada Minggu (12/3) atau dua hari setelah SVB kolaps. (Yoga)
Pilihan Editor
-
BI Masih Kaji Penerbitan Uang Digital
21 Feb 2022 -
Membabat Para Penentang
19 Feb 2022 -
Euforia Bank Digital Mendongkrak Kekayaan Taipan
21 Feb 2022









