Amerika Serikat
( 390 )Pilihan Valas Saat Ekonomi Gamang
Kebijakan The Fed yang mulai dovish tidak memudarkan pamor dollar Amerika Serikat (AS) sebagai mata uang pilihan. Para analis justru melihat dollar AS masih jadi safe haven menarik.
Memang, pasca The Fed menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 bps, indeks dollar AS sempat bergerak ke bawah 103. Tapi kemarin (24/3), indeks dollar AS kembali naik ke level 103,16.
Chief Analyst DCFX Futures Lukman Leong berpendapat, keputusan The Fed menaikkan suku bunga acuan sesuai proyeksi. Yang mengejutkan justru keputusan The Fed memangkas suku bunga di tahun ini.
Kebijakan suku bunga bank sentral melunak akibat kolapsnya beberapa bank. Ada Silicon Valley Bank, Signature Bank, Silvergate Bank dan First Republic Bank yang mengalami kekurangan likuiditas.
Kondisi yang sama juga dialami bank yang berbasis di Eropa, Credit Suisse. Ini menunjukkan perbankan di Eropa tidak immune. "Ini yang membuat dollar AS dinilai menarik, karena status dollar AS yang masih menjadi safe haven bagi investor," ujar Lukman.
Masih ada sejumlah valas lain yang menurut analis menarik untuk investasi. Salah satunya mata uang Swiss, franc. Mata uang berkode CHF ini menarik setelah bank sentral Swiss menaikkan suku bunga 50 bps pekan ini. "Walau ada kejatuhan Credit Suisse, saya melihat hal ini tidak akan mengurangi daya tarik CHF," ujar Lukman.
Lukman juga menilai dollar Singapura menarik. Mata uang berkode SGD ini menjadi mata uang paling kuat secara tahunan melawan dollar AS. Dollar AS melemah 1,76% secara tahunan terhadap dollar Singapura.
Senior Economist KB Valbury Sekuritas Fikri C. Permana melihat, euro bisa menjadi hard currencies yang menarik sebagai pilihan investasi. Pasalnya, ada ekspektasi European Central Bank (ECB) masih akan meningkatkan suku bunga lebih tinggi daripada The Federal Reserve.
Untuk safe haven di Asia, menurut Fikri, yen, yuan dan won Korea bisa dicermati. Alasannya, negara-negara Asia tidak memiliki kaitan dengan bank-bank AS ataupun Eropa yang sedang kolaps. Tapi perlu diingat, yuan dan won jarang diperdagangkan di pasar valas.
The Fed Naikkan Suku Bunga Ditengah Gejolak Perbankan
WASHINGTON, ID-The Federal Reserve (The Fed) menaikkan suku bunga acuan 25 bps ke level 4,75-5,00%, pada Rabu (22/3/2023) waktu Ameika Serikat. Namun, bank sentral AS tersebut mengindikasikan bakal segera menghentikan siklus kenaikan biaya pinjaman, setelah runtuhnya dua bank di negeri Paman Sam baru-baru ini. Gubernur The Fed Jarome Powel berusaha meyakinkan para investor mengenai kondisi kesehatan sistem perbankan. Ia mengatakan, kendati manajemen Silicon Valley Bank (SVB) telah gagal total, keruntuhan yang dialami Bank tersebut tidak menunjukkan kelemahan yang lebih luas dalam sistem perbankan. "Ini bukanlah kelemahan yang menyebar secara luas diseluruh sistem perbankan. Aksi pengambilalihan Credit Suisse juga sepertinya telah membuahkan hasil yang positif," ujarnya, sebagaimana dikutip Reuters pada amis (23/3/2023). (Yetede)
The Fed Tetap Naikkan Suku Bunga 25 Bps
Walaupun terjadi gejolak di industri perbankan, konsensus di pasar finansial memperkirakan The Federal Reserve (The Fed) tetap menyetujui kenaikan suku bunga acuan 25 basis poin (bps) pekan ini. Ekspektasi terhadap kenaikan suku bunga bank sentral AS tersebut telah bergerak liar dalam dua pekan terakhir. Bervariasi antara prediksi kenaikan 50 bps, dipertahankan di kisaran 4,50%-4,75% saat ini, bahkan ada yang memperkirakan dipangkas 25 bps. Namun konsensus yang terakhir muncul adalah Gubernur The Fed Jerome Powell dan para koleganya di Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) ingin memberi sinyal bahwa sementara The Fed juga menyoroti dan mencermati pergolakan di sektor keuangan, tapi tetap penting untuk melanjutkan perjuangan memerangi inflasi. Pasar finansial memperkirakan The Fed menaikkan fed funds rate (FFR) 0,25 poin persentase atau 25 bps.
Disertai jaminan bahwa tidak ada ketetapan untuk arah kebijakan ke depan. “Mereka harus melakukan sesuatu, jika tidak akan kehilangan kredibilitas,” kata Doug Roberts, pendiri dan direktur strategi investasi Channel Capital Research, seperti dikutip CNBC akhir pekan lalu. The Fed, tambah dia, ingin menaikkan 25 basis poin dan penaikan sebesar itu merupakan pesan. “Tapi itu benar-benar akan bergantung pada pernyataan setelahnya, apa yang akan dikatakan Powell pada konferensi pers. Saya pikir tidak akan ada perubahan 180 derajat dari yang telah dibicarakan semua orang. Pasar sebagian besar setuju bahwa Fed akan menaikkan suku bunga,” tandas Roberts. Menyusul bangkrutnya Silicon Valley Bank (SVB), disusul penutupan Signature Bank, dan penyelamatan First Republic Bank oleh bank-bank lebih besar, The Fed menghadapi tugas yang mau tidak mau harus di[1]ambil. Antara memerangi inflasi yang terus tinggi dan tanpa menambah gejolak di sektor keuangan. (Yoga)
KKN, Bahaya Laten Industri Keuangan Amerika Serikat
Industri teknologi informasi di AS punya citra mentereng. Hal ini tak lepas dari mega sukses raksasa-raksasa teknologi yang menjulang dari Silicon Valley. Namun, ternyata tidak semuanya demikian. Tak sedikit perusahaan yang ”cerita suksesnya” sebenarnya berdiri di atas dasar tata kelola yang tak kuat dan tak sehat. Dan, ini melibatkan peran institusi keuangan, dalam hal ini Silicon Valley Bank (SVB). Pengumuman bangkrut dan tutupnya SVB pada Jumat (9/3) mengungkap kepalsuan di sebagian industri teknologi tersebut. Hanya cerita positif yang muncul di permukaan. SVB, misalnya, menyatakan memiliki relasi baik dengan perusahaan teknologi dan menjadi mitra inovasi (Fortune, 11 Maret 2023). Lebih dari 2.500 perusahaan modal ventura pendukung perusahaan teknologi bermitra dengan SVB. Deposito di SVB, yang dikenal mudah dijangkau perusahaan rintisan saat mereka sulit mendapatkan akses pada perbankan umum, akumulasinya meroket. Relasi baik membuat deposito di SVB melejit dari 67 miliar USD pada 2020 menjadi 126 miliar USD pada 2021. Dana stimulus ekonomi AS dari Bank Sentral AS, The Fed, yang berbunga rendah membuat dana murah tersedia banyak. Saat kebanjiran dana, SVB menempatkannya ke dalam surat berharga aman, yakni obligasi pemerintah AS berjangka 10 tahun.
Aset SVB berbentuk surat berharga naik dari 17 miliar USD menjadi 98 miliar USD. Aksi bakar uang marak terjadi berkat dukungan SVB. Situasi berubah drastis pada 2022 ketika sistem kerja dari rumah (work from home) berangsur-angsur memudar. Tambahan pula, banyak perusahaan rintisan tidak menghasilkan pendapatan apa pun. SVB tidak lagi menerima aliran masuk. Di sisi lain, SVB justru mengalami penarikan deposito besar-besaran dari para nasabahnya. SVB terpaksa menjual rugi sebagian aset obligasi dengan harga diskon. Goldman Sachs, salah satu pihak yang beruntung dengan situasi SVB itu. Para pedagang saham berorientasi jangka pendek (short seller) marak memasang taruhan akan kebangkrutan SVB. Ulah bankir dan politisi Inilah potret sempurna kesemrawutan perekonomian akibat korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN) di AS. Aspek KKN ini tidak membuat perbankan jera dan tidak belajar serius dari krisis masa lalu. Mantan Ketua Federal Deposit Insurance Corporation (FDIC) Sheila Bair melihat ada bankir yang tidak saksama mengelola perbankan. Bank-bank di AS diduga tetap melakukan penipuan, termasuk Signature Bank yang bangkrut pada Minggu (12/3) atau dua hari setelah SVB kolaps. (Yoga)
Bisnis ”Bakar Uang” Ancam Sektor Keuangan
AS menghadapi kemelut perbankan terbesar setelah krisis keuangan 2008. Kebangkrutan Silicon Valley Bank, Signature Bank, dan Silvergate menjadi pemicunya. Pelajaran berharga yang bisa dipetik ialah bisnis yang melulu membakar uang dan tidak memiliki fondasi usaha sehat hanya akan mengancam sektor keuangan yang akhirnya berisiko menyeret ke krisis. Dosen Ekonomi dan Rektor Universitas Katolik Indonesia Atmajaya Jakarta, Agustinus Prasetyantoko, Selasa (14/3) menyatakan, SVB bangkrut karena ceroboh membiayai perusahaan yang juga kurang hati-hati. Situasi aman-aman saja untuk sementara waktu karena bank sentral AS mengucurkan dana ekstra murah. Adapun potensi kebangkrutan tidak terdeteksi secara dini.
Selama likuiditas murah berlimpah disertai pengawasan perbankan lemah, Prasetyantoko melanjutkan, SVB leluasa memasuki sektor bisnis yang rawan. Saat suku bunga naik, beban bunga meningkat. Pada saat yang sama, pinjaman ke perusahaan rintisan bidang teknologi tidak menghasilkan laba sehingga bank rontok. ”Pelajaran untuk kita, perlu kembali ke dasar, agar perbankan membiayai sektor dengan pendapatan yang jelas, bukan bisnis penuh impian. Strategi ’bakar uang’ harus disudahi,” ungkapnya. Istilah bakar uang merujuk pada fenomena perusahaan yang memiliki pengeluaran lebih besar ketimbang pemasukan. Hal ini biasa terjadi pada perusahaan-perusahaan rintisan di awal usaha mereka sampai kemudian pada titik tertentu laba dihasilkan secara konsisten. (Yoga)
Gedung Putih Ultimatum Hapus TikTok dalam 30 Hari
Gedung Putih memberi semua badan federal Amerika Serikat waktu selama 30 hari untuk menghapus TikTok dari semua perangkat pemerintah. Seperti dilansir Al Arabiya Selasa 28 Februari 2023, hal ini karena aplikasi media sosial milik China itu dianggap memiliki masalah keamanan. Kantor Manajemen dan Anggaran AS menyebut pedoman tersebut, yang dikeluarkan Senin, sebagai "langkah maju yang penting dalam mengatasi risiko yang disajikan oleh aplikasi terhadap data pemerintah yang sensitif."
Beberapa lembaga, termasuk Departemen Pertahanan, Keamanan Dalam Negeri, dan Negara Bagian, telah memberlakukan pembatasan. Pedoman tersebut meminta seluruh pemerintah federal untuk mengikutinya dalam waktu 30 hari. “Pemerintahan Biden-Harris telah banyak berinvestasi dalam mempertahankan infrastruktur digital negara kita dan membatasi akses musuh asing ke data Amerika,” kata Chris DeRusha, kepala petugas keamanan informasi federal. Pedoman tersebut pertama kali dilaporkan oleh Reuters. (Yoga)
Belanja Konsumen Melonjak, Inflasi Meningkat
WASHINGTON, ID – Belanja konsumen Amerika Serikat (AS) melonjak ke level tertinggi dalam hampir dua tahun pada Januari 2023 di tengah lonjakan kenaikan upah. Level inflasi juga meningkat sehingga menambah kekhawatiran di pasar keuangan bahwa The Federal Reserve (The Fed) dapat terus menaikkan suku bunga sampai musim panas nanti. Laporan dari Depar temen Perdagangan (Depdag) AS pada Jumat (24/02/2023) itu menjadi indikasi terbaru bahwa ekonomi AS jauh dari kata resesi. Ditambah dengan data pada awal bulan ini yang menunjukkan pertumbuhan lapangan kerja yang kuat di bulan Januari dan tingkat pengangguran terendah dalam lebih dari 53 tahun. “Jadi jelas bahwa kebijakan moneter yang lebih ketat belum sepenuhnya berdampak pada konsumen dan menunjukkan bahwa The Fed memiliki lebih banyak pekerjaan rumah dalam memperlambat agregat permintaan. Laporan ini berarti bahwa Fed kemungkinan akan terus mendaki ke musim panas,” kata Jeffrey Roach, kepala ekonom di LPL Financial di Charlotte, Carolina Utara, seperti dikutip Reuters. (Yetede)
Tingkat Pengangguran Rendah di AS Temporer
WASHINGTON, ID – Di antara data yang mencolok dari laporan pasar tenaga kerja Amerika Serikat (AS) pada Jumat (3/2/2023) adalah tingkat pengangguran yang mencapai 3,4% atau 5,7 juta orang. Ini adalah level terendah sejak 1969. Tapi kalangan ekonom tidak optimistis tingkat pengangguran sangat rendah itu akan bertahan lama. Biro Statistik Ketenagakerjaan Departemen Tenaga Kerja (Depnaker) AS melaporkan bahwa lapangan kerja baru non-per tanian bertambah 517.000 sepanjang Januari 2023. Angka itu jauh di atas estimasi kalangan ekonom yang disur vei Dow Jones sebesar 187.000 “Angka tersebut menunjukkan bahwa pasar tenaga kerja sangat ketat. Tapi kita juga jelas-jelas tidak dalam resesi,” ujar Ben Zipperer, ekonom Economic Policy Institute, seperti dikutip CNBC. (Yetede)
Rupiah Tak Terpengaruh Kenaikan Suku Bunga Bank Sentral AS
Keputusan bank sentral AS, The Federal Reserve atau The Fed, menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin sehingga kini menjadi 4,5 % - 4,75 % pada Rabu (1/2) waktu setempat tidak melemahkan nilai tukar rupiah. Kinerja perekonomian Indonesia yang positif menarik investor global menaruh dananya di dalam negeri sehingga nilai tukar rupiah justru menguat. Hal ini ditunjukkan oleh kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) pada penutupan perdagangan Kamis (2/2) di posisi Rp 14.868 per dollar AS., menguat dibandingkan perdagangan Rabu (1/2) yang ditutup pada level Rp 14.991 per dollar AS.
Keputusan The Fed menaikkan suku bunga tersebut menjadikan suku bunga inti bank sentral AS ini yang tertinggi sejak 2007. Kenaikan suku bunga berpotensi berlanjut karena inflasi masih tinggi. ”Inflasi sudah mereda, tetapi belum sesuai harapan. Maka, kita tidak boleh lengah,” kata Gubernur Bank Sentral AS Jerome Powell, Rabu (1/2), dalam jumpa pers di Washington. AS sudah mengalami penurunan inflasi dari puncaknya 9,1 % pada Juni 2022 menjadi 7,1 % pada November. inflasi di AS diperkirakan menurun menjadi 6,5 %. Penyebab utama kenaikan inflasi di AS adalah stimulus ekonomi besar-besaran di era Presiden Donald Trump hingga Presiden Joe Biden saat ini. (Yoga)
Kekuatan Mata Uang Dollar Amerika Serikat Tergantung Bunga The Fed
Kekuatan mata uang dollar Amerika Serikat (AS) terhadap mata uang dunia belakangan melemah. Ini tercermin dari penurunan indeks dollar AS yang mencapai posisi terendah dalam enam bulan terakhir.
Sepekan terakhir, indeks dollar AS masih melanjutkan pelemahan. Kemarin, Jumat (27/1), indeks yang mengukur kekuatan dollar AS terhadap enam mata uang utama dunia ini berada di posisi 101,92, turun 0,21% dari awal pekan sebelumnya.
Analis Global Kapital Investama Alwi Assegaf mengatakan, sejumlah data ekonomi AS sebenarnya tercatat melebihi ekspektasi pasar, seperti data pesanan barang tahan lama, penjualan, rumah, dan data ketenagakerjaan AS.
Menurut Alwi, pasar sebenarnya tinggal menunggu validasi dari bank sentral AS, The Fed. Pasar belum mengapresiasi data-data tersebut karena masih ada kekhawatiran terjadinya resesi.
Alwi memaparkan, penurunan indeks dollar AS juga disebabkan adanya sinyal pelemahan sektor jasa maupun manufaktur. Sehingga, ekspektasi pasar terhadap agresivitas kenaikan suku bunga The Fed menjadi turun.
Pilihan Editor
-
Volume Perdagangan Kripto Rp 859,4 Triliun
19 Feb 2022 -
Tiga Bisnis yang Dibutuhkan Dimasa Depan
02 Feb 2022 -
Perdagangan, Efek Kupu-kupu
18 Feb 2022 -
KKP Gencar Promosikan Kontrak Penangkapan Ikan
19 Feb 2022









