;
Tags

Amerika Serikat

( 385 )

AS Diyakini Sudah Melewati Puncak Inflasi

KT1 11 Aug 2022 Investor Daily

Tingkat Inflasi konsumen tahunan di Amerika Serikat (AS) naik 8,5% pada Juli 2022. Melambat dibandingkan rekor 9,1% pada Juni karena didorong turunnya harga BBM. Data ini disambut gembira pasar saham di Wall Street maupun pasar saham global pada perdagangan Rabu (10/8). Karena AS diyakini berarti sudah melewati puncak inflasi dan The Federal Reserve (The Fed) berpeluang untuk mengurangi agresivitasnya dalam menaikkan suku bunga. Secara bulanan, harga-harga konsumen pada Juli mendatar karena harga energi secara umum turun 4,6% dan harga BBM jatuh 7,7%. Hal itu mampu menutupi kenaikan harga makanan 1,1% dan biaya tempat tinggal yang naik 0,5%. Pasar saham melonjak setelah mengetahui data inflasi inti menunjukkan penurunan laju kenaikan harga-harga melebihi perkiraan sebelumnya. Kalangan ekonom yang disurvei Dow Jones sebelumnya memperkirakan inflasi tahunan mencapai 8,7% dan secara bulanan naik 0,2%. (Yetede)

Ekspektasi Inflasi Melambat

KT1 10 Aug 2022 Investor Daily (H)

Proyeksi konsumen Amerika Serikat (AS) terhadap inflasi dilaporkan mengalami penurunan secara signifikan pada Juli 2022. Didorong merosotnya harga BBM dan keyakinan bahwa harga makanan serta rumah juga akan surut di masa depan. Hal ini terungkap dalam hasil bulanan Survei Ekspektasi Konsumen dari The Federal Reserve (The Fed) New York yang dilansir CNBC pada Selasa (9/8). Menurut survei itu, responden memperkirakan inflasi melaju pada kecepatan 6,2% selama tahun depan dan mencapai 3,2% untuk tiga tahun ke depan. Berdasarkan standar-standar historis angka-angka itu masih sangat tinggi, tetapi angka-angka tersebut menandai penurunan besar dari hasil survei masing-masing pada Juni 6,8% dan 3,6%. Biro Statistik Tenaga Kerja mencatat,
hingga Juni harga pangan menunjukkan kenaikan 10,4% selama setahun terakhir. Harga itu diprediksi masih naik 6,7% selama 12 bulan ke depan, namun angkanya mengalami penurunan dari survei Juni sebesar 2,5 poin persentase – yang diklaim sebagai penurunan terbesar dalam rangkaian data sejak Juni 2013. (Yetede)

The Fed Tetap Fokus ke Data Inflasi

KT1 02 Aug 2022 Investor Daily (H)

Presiden Bank The Federal Reserve (The Fed) Minneapolis Neel Kashkari mengatakan jika ada yang memperdebatkan apakah Amerika Serikat (AS) sudah berada dalam resesi atau tidak, ini artinya pertanyaan yang diajukan salah. “Apakah kita secara teknis dalam resesi atau tidak, tidak mengubah analisis saya. Saya fokus pada data inflasi. Saya fokus pada data upah. Dan sejauh ini, inflasi terus mengejutkan kita dengan kenaikan. Gaji terus naik," Ujar Kashkari kepada CBS pada Minggu (31/8), yang dilansir CNBC. Sebelumnya pada Kamis (28/7), data Departemen Tenaga Kerja yang baru menunjukkan tanda-tanda pelambatan di pasar kerja, di mana tunjangan klaim pengangguran awal mencapai level ter tinggi sejak per tengahan November. “Apakah kita secara teknis dalam resesi atau tidak, tidak mengubah fakta bahwa Federal Reserve memiliki pekerjaan sendiri yang harus dilakukan, dan kami berkomitmen untuk melakukannya,” kata Kashkari. Biro Analisis Ekonomi sempat. (Yetede)

Tidak Ada Resesi di Amerika

KT1 29 Jul 2022 Investor Daily (H)

Meski dalam dua kuartal terakhir didera kontraksi ekonomi, penyerapan tenaga kerja di AS justru meningkat. Dalam terminologi Amerika, Negeri Paman Sam itu tidak jatuh ke jurang resesi. Bauran kebijakan bank sentral AS (The Fed) dan pemerintahan Presiden Joe Biden mampu mencegah negeri itu dari resesi. Dalam pada itu, dolar AS kian perkasa terhadap mata uang dunia. Merespons kenaikan suku bunga acuan The Fed sebesar 75 basis poin, lebih kecil dari perkiraan sebelumnya, harga saham di berbagai bursa dunia menguat. “PDB AS hanya turun 0,9% pada kuartal II-2022 secara tahunan. Kontraksi ekonomi yang lebih kecil ini terutama merefleksikan tren naik ekspor AS dan penurunan yang lebih kecil pengeluaran pemerintah federal,” papar Bureau of Economic Analysis AS, Kamis (28/7/2022) waktu setempat. Sementara itu, data lapangan kerja di AS juga masih kuat. Sebagaimana di lansir CNBC, jumlah pekerjaan baru non pertanian (nonfarm payrolls) yang dirilis oleh Departemen Tenaga Kerja AS sebanyak 372.000 pada Juni 2022. Meski sedikit turun dari 390.000 pada Mei 2022, namun angka penganggurannya tetap 3,6% atau sama dengan bulan sebelumnya. (Yetede)

Resesi Dangkal Berpeluang Terjadi di Kuartal III

KT1 17 Jun 2022 Investor Daily

Analis memprediksi ekonomi Amerika Serikat (AS) berpeluang mengalami resesi dangkal pada kuartal III tahun ini. Setelah The Federal Reserve (The Fed) mengumumkan kenaikan suku bunga  acuan 75 basis poin pada Rabu (15/6) Gubernur The Fed  Jerome Powel  mengindikasikan pihaknya terus menempuh jalan agresi untuk mengendalikan lonjakan inflasi. "Masalahnya sekarang apakah ini akan menjatuhkan ekonomi ke dalam resesi di saat konsumen  sudah mulai menghemat pengeluaran? Pasar Perumahan di AS sekarang terbelenggu dengan suku bunga  pinjaman hampir 6% sehingga saya pikir kita berpeluang untuk jatuh kedalam resesi  pada kuartal mendatang," tutur Yoshikami. Walaupun pasar saat ini sudah menerima  kemungkinan terjadinya resesi, Yoshikami mencatat bahwa tidak berarti kesulitan ekonomi jangka panjang tidak terelakkan. (Yetede)

The Fed Tidak Ragu Terus Naikkan Suku Bunga

KT1 19 May 2022 Investor Daily

Gubernur The Federal Reserve (The Fed) Jerome Powel menekankan tekadnya untuk menurunkan laju inflasi dengan terus mendukung kenaikan suku bunga sampai harga mulai turun kembali ke level yang sehat. "Jika itu termasuk bergerak melewati tingkat netral yang dipahami secara luas, kami tidak akan rugi untuk melakukan. Kami bakal melakukan sampai kami merasa  berada dimana kami dapat mengatakan kondisi keuangan berada ditempat yang tepat, (yakni) melihat inflasi turun. Kami akan menuju ke ttitik itu. Tidak ada keraguan tentang itu," ujar dia dalam wawancara dengan Wall Street Journal pada Selasa (17/5) Menurut Powel, setelah kenaikan itu, pergerakan 50 basis  poin yang serupa kemungkinan akan terjadi di pertemuan berikutnya, selama kondisi ekonomi tetap serupa dengan sekarang. Powel juga kembali mengulangi komitmennya pada Selasa untuk mendekatkan  inflasi ke target 2% The Fed sekaligus memperingatkan  bahwa itu mungkin tidak mudah, dan dapat mengorbankan tingkat pengangguran 3,6% yang saat ini tepat diatas level terendah sejak akhir 1960-an. (Yetede)

The Fed Diprediksi 2 Kali Naikkan Suku Bunga 50 bps

KT1 12 Apr 2022 Investor Daily

The Federal Reserve (The Fed) diprediksi menaikkan dua kali suku bunga acuan 50 basis poin atau 0,5 persentase, secara berturut-turut pada Mei dan Juni tahun ini untuk mengatasi laju inflasi yang tidak terkendali. Sementara terjadinya peluang resesi ekonomi pada tahun depan mencapai 40%. Demikian menurut para ekonom yang disurvei Reuters. Menurut sebagian besar analis, bank sentral AS itu harus bergerak cepat demi menjaga tekanan harga dibawah kendali. 

Pandangan mereka tersebut didasarkan oleh tingkat pengangguran yang mendekati rekor  terendah serta laju inflasi tertinggi dalam empat dekade, dan lonjakan harga komoditas yang sepertinya berlangsung lama. Suara mayoritas kuat, 85 dari 102 ekonom, memperkirakan 50 basis poin pada Mei, dan mayoritas sebanyak  56 suara masih solid bahwa The Fed akan menindaklanjuti dengan 50 basis poin juga pada Juni. 

"Mengingat pergeseran dalam  komentar resmi dan tekanan inflasi  yang terlibat diseluruh perekonomian, kami percaya The Fed akan menghasilkan kenaikan suku bunga 0,5 point pada pertemuan  kebijakan Mei, Juni, Juli," ujar James Knightley, kepada ekonom internasional di ING, yang dilansir Reuters. (Yetede)

Pasar Akan Mencermati Laporan Inflasi AS

KT1 11 Apr 2022 Investor Daily

Pasar inflasi di Wall Street, Amerika Serikat, pekan ini dihadapkan pada laporan inflasi bulan Maret 2022 yang kemungkinan tinggi lagi. Selain juga akan mencermati laporan keuangan sejumlah bank besar untuk mengawali triwulan baru. JP Morgan Chase dan Black Rock akan mulai rilis laporan keuangan kuartal pertama sektor finansial pada Rabu (13/4). Disusul City group, Wells Fargo, Morgan Stanley, dan Goldman Sachs pada Kamis (14/4). Quincy Crosby, direktur strategi ekuitas LPL Financial mengatakan, laporan keuangan kuartal pertama dari sektor keuangan akan menjadi penting bagi pasar, mengingat dampak yang akan terjadi  pada rencana The Federal Reserve (The Fed) untuk menaikkan suku bunga dan lebih agresif dalam pengetatan kebijakan moneter. "Kami ingin mendapatkan gambaran tentang apa yang mereka lihat dari rencana The Fed, bagaimana pengetatan kuantitatif, likuiditas ditarik, plus suku bunga lebih tinggi, akan bertambah  kepada para klien serta unit-unit bisnis mereka" kata Crosby, seperti yang dikutip CNBC akhir pekan lalu (Yetede)

The Fed Bakalan Agresif Kurangi Neraca

KT1 06 Apr 2022 Investor Daily

Gubernur The Federal Research (The Fed) Lael Brainard  pada Selasa (5/4) mengatakan, bank sentral AS tersebut harus bertindak cepat dan agresif untuk menurunkan laju inflasi. Padahal anggota Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) tersebut selama ini lebih mendukung kebijakan moneter  longgar dan suku bunga rendah. "Inflasi saat ini jauh melambung tinggi sehingga menimbulkan banyak resiko buruk. Komite (FOMC) siap mengambil langkah lebih tegas jika indikator-indikator inflasi dan ekspektasi inflasi mengindikasikan bahwa langkah ini diperlukan," tutur dia seperti dilansir CNBC. Pasar finansial memperkirakan FOMC dalam rapat kebijakan Mei 2022 akan memaparkan rencana pemangkasan kepemilikan aset yang hampir mencapai US$ 9 triliun. Terutama kepemilikan surat utang negara dan Treasure dan sekuritas berbasis hipotek. Brainard dalam naskah pidatonya itu mengindikasikan proses pemangkasan ini bakalan sangat cepat. (Yetede)

The Fed Hadapi Inflasi Tanpa Korbankan Pertumbuhan

KT1 18 Mar 2022 Investor Daily

The Federal Reserve (The Fed) pada Rabu (16/3) waktu setempat menyetujui kenaikan suku bunga acuan untuk pertama kali dalam tiga tahun lebih. Aksi The Fed ini menjadi dukungan tambahan untuk mengatasi lonjakan inflasi tanpa menghambat pertumbuhan ekonomi AS. Kenaikan itu akan membawa acuan suku bunga saat ini ke kisaran 0,25%-0,5%. Langkah ini bakal sejalan dengan  kenaikan suku bunga utama, sekaligus menyebabkan pengeluaran biaya-biaya lebih tinggi berbagai bentuk pinjaman dan kredit konsumen. Seagai informasi, pihak Komite terakhir kali menaikkan suku bunga pada Desember 2018, kemudian harus mundur pada Juli tahun berikutnya dan mulai melakukan pengurangan. Dalam pernyataannya pasca-pertemuan FOMC, pihaknya juga mengantisipasi  bahwa peningkatan berkelanjutan akan sesuai dalam jangkauan target. (Yetede)