Amerika Serikat
( 385 )Harga Minyak AS Jatuh Dibawah US$ 100
Harga minyak mentah Amerika Serikat (AS) jatuh lebih dari 8% hingga menyentuh angka dibawah US$ 100 per barel pada perdagangan Senin (14/3). Faktor penyebabnya adalah kemajuan dalam krisis Ukraina dengan akan digelarnya perundingan damai yang baru di Tiongkok. Menurut Rebecca Babin, pialang energi senior CIBC Private Wealth AS, penyebab jatuhnya harga minyak itu karena faktor-faktor geopolitik dan permintaan. Rusia dan Ukraina dijadwalkan menggelar perundingan damai lagi pada Senin waktu setempat. "Aksi hari ini mencerminkan perubahan sentimen dalam konflik Rusia dan Ukraina sehingga menimbulkan sentimen jual, kekhawatiran fundamental terhadap permintaan dari Tiongkok sehingga para pialang fundamental melakukan aksi ambil untung, serta tekanan teknikal karena minyak mentah sudah menyentuh level-level tertinggi," tutur Babin. (Yetede)
Harga Minyak AS Jatuh Dibawah US$ 100
Harga minyak mentah Amerika Serikat (AS) jatuh lebih dari 8% hingga menyentuh angka dibawah US$ 100 per barel pada perdagangan Senin (14/3). Faktor penyebabnya adalah kemajuan dalam krisis Ukraina dengan akan digelarnya perundingan damai yang baru di Tiongkok. Menurut Rebecca Babin, pialang energi senior CIBC Private Wealth AS, penyebab jatuhnya harga minyak itu karena faktor-faktor geopolitik dan permintaan. Rusia dan Ukraina dijadwalkan menggelar perundingan damai lagi pada Senin waktu setempat. "Aksi hari ini mencerminkan perubahan sentimen dalam konflik Rusia dan Ukraina sehingga menimbulkan sentimen jual, kekhawatiran fundamental terhadap permintaan dari Tiongkok sehingga para pialang fundamental melakukan aksi ambil untung, serta tekanan teknikal karena minyak mentah sudah menyentuh level-level tertinggi," tutur Babin. (Yetede)
The Fed Diperkirakan Sesuai Rencana, Naikkan Suku Bunga Pekan Ini
The Federal Reserve (The Fed) atau Bank Sentral Amerika Serikat (AS) diperkirakan tetap bertindak sesuai rencananya, yakni menaikkan suku bunga acuannya dalam rapat kebijakannya pekan ini, 15-16 Marer 2022. Ini bakal menjadi kenaikan pertama fed funds rate (FFR) pasca pandemi Covid-19 dan digelayuti ketidakpastian akan situasi ekonomi global kedepannya, karena krisis di Ukraina. Pada pekan ini, ada beberapa data ekonomi AS yang akan keluar. Yakni indeks harga produsen pada Selasa, penjualan ritel pada Rabu, dan penjualan rumah eksisting pada Jumat. Sepanjang sesi-sesi perdagangan pekan lalu, pasar saham AS mengalami aksi jual. Indeks Nasdaq mencatatkan kinerja paling buruk dengan kinerja penurunan sebesar 3,5%. Para investor pekan lalu juga dibuat cemas dengan lonjakan harga minyak mentah. Diawal pekan sempat meleset hingga tembus US$130 per barel. Tapi pada penutupan perdagangan Jumat (11/3) waktu setempat menurun lagi ke level US$ 110 per barel. (Yetede)
AS Alokasikan US$ 5 M Untuk Membangun SPKLU
Pemerintahan Presiden Joe Biden pada pekan ini meluncurkan rencana untuk mengalokasikan anggaran US$ 5 miliar ke negara-negara bagian di AS guna membiayai penyediaan perangkat pengisian daya (charger) mobil listrik selama lima tahun . Hal ini merupakan bagian dari paket infrastruktur bipartisan yang mencakup US$ 7,5 miliar untuk membangun jaringan stasiun pengisian kendaraan lsitrik umum dan SPKLU yang luas diseluruh negeri. Investasi tersebut merupakan agenda dari pemerintah yang lebih luas guna memerangi perubahan iklim yang disebabkan manusia dan memajukan transmisi energi bersih. Pemerintah Biden telah sesumbar harga mobil listrik lebih terjangkau bagi warga AS dari pada mobil bertenaga gas. "Pedoman baru tersebut bakal membantu negara-negara bagian membangun jaringan SPKLU di sepanjang koridor bahan bakar alternatif yang ditunjuk pada sistem jalan raya nasional." ujar pejabat senior pemerintah dalam konferensi pers, Rabu (9/2). (Yetede)
Tiongkok dan AS Setuju Rilis Cadangan Minyak
Pemerintah Republik Rakyat Tiongkok (RRT) akan merilis cadangan strategis minyak mentah nasionalnya sekitar musim liburan Tahun Baru Imlek, yang dimulai 1 Februari. Langkah ini merupakan bagian dari rencana yang telah dikoordinasikan oleh AS dengan para konsumen besar lainnya guna menurunkan harga global. "Tiongkok setuju untuk melepaskan jumlah yang relatif lebih besar jika minyak diatas US$ 85 per barel dan volume yang lebih kecil jika minyak tetap didekat level US$ 75." ujar sumber tanpa memberikan penjelasan lebih lanjut, pada Jumat (14/1). Menurut laporan, Biden dan para pembantu utamanya telah membahas kemungkinan pelepasan stok minyak mentah yang terkoordinasi dengan sekutu-sekutu dekat, termasuk Jepang, Korea Selatan, India, serta dengan Tiongkok. (Yetede)
Powell: The Fed Fokus Tangani Inflasi
Gubernur The Federal Reserve (The Fed) Jerome Powell menyoroti upaya bank sentral untuk menangani inflasi dan mentasbilkan ekonomi AS. Powell menjelaskan itu dalam sidang konfirmasinya dalam masa jabatan kedua dihadapan Komite Perbankan Senat AS di Washington, Selasa (11/1). Kesaksian Powel pada Selasa didepan Komite Perbankan dilakukan setelah Presiden AS Joe Biden menominasikannya untuk jabatan kedua. Ia kembali memipin bank sentral saat ekonomi AS berurusan dengan gelombang rekor inflasi tinggi yang mendorong para kritikus menuduh The Fed berpuas diri. The Fed pada Oktober 2021 mengumumkan aturan investasi yang lebih ketat setelah muncul kontroversi terkait aktivitas perdagangan Powell dan dua pejabat senior lainnya, yang akhirnya mengundurkan diri. (Yetede)
IMF Ingatkan Dampak Kebijakan The Fed ke Pasar Berkembang
Negara-negara pasar berkembang harus bersiap untuk kemungkinan menghadapi masa-masa sulit karena The Federal Reverse (The Fed) segera menaikkan suku bunga. Sementara itu,pertumbuhan ekonomi dunia melambat karena varian Omicron dari Covid-19, kata Dana Moneter Internasional (IMF) pada Senin (10/1). Hingga saat ini Omicron terlihat menyebabkan penyakit yang lebih ringan dari pada jenis virus Corona sebelumnya. Pengetatan kebijakan moneter AS segera bertahap dan transisinya berlangsung baik, kemungkinan akan berdampak kecil pada pasar negara berkembang. Tetapi inflasi upah AS yang berbasisi luas atau hambatan pasokan yang berkelanjutan dapat meningkatkan harga lebih dari yang diantisipasi, "Mengingat resiko bahwa ini bisa bertepatan dengan pengetatan The Fed yang hadir lebih cepat, negara-negara berkembang harus bersiap menghadapi potensi gejolak ekonomi," kata para ekonom tersebut. (Yetede)
IMF Ingatkan Dampak Kebijakan The Fed ke Pasar Berkembang
Negara-negara pasar berkembang harus bersiap untuk kemungkinan menghadapi masa-masa sulit karena The Federal Reverse (The Fed) segera menaikkan suku bunga. Sementara itu,pertumbuhan ekonomi dunia melambat karena varian Omicron dari Covid-19, kata Dana Moneter Internasional (IMF) pada Senin (10/1). Hingga saat ini Omicron terlihat menyebabkan penyakit yang lebih ringan dari pada jenis virus Corona sebelumnya. Pengetatan kebijakan moneter AS segera bertahap dan transisinya berlangsung baik, kemungkinan akan berdampak kecil pada pasar negara berkembang. Tetapi inflasi upah AS yang berbasisi luas atau hambatan pasokan yang berkelanjutan dapat meningkatkan harga lebih dari yang diantisipasi, "Mengingat resiko bahwa ini bisa bertepatan dengan pengetatan The Fed yang hadir lebih cepat, negara-negara berkembang harus bersiap menghadapi potensi gejolak ekonomi," kata para ekonom tersebut. (Yetede)
Pemerintahan Biden Fokus Pada Tes dan Vaksin Ketimbang Pembatasan
Menghadapi varian Omicron yang melonjak jumlah kasusnya, otomatis AS akan mendistribusikan 500 juta tes Covid-19 gratis. Gedung Putih menyatakan pada Selasa (21/12) jika perlu pemerintah juga akan mengerahkan anggota medis militer dan meningkatkan kapasitas vaksin. "Kami memiliki alat untuk melewati gelombang ini," kata seorang pejabat Gedung Putih di Washington, AS, seperti dikutip AFP, Selasa. Tanggapan pemerintah Joe Biden didasarkan pada tiga prinsip, yakni lebih banyak sumber daya rumah sakit, lebih banyak tes virus, dan lebih banyak vaksin. Pemerintah Federal akan mengerahkan 1.000 dokter, perawat, dan personel medis militer diseluruh negeri. Pemerintah Biden juga akan mengambil tindakan di area yang banyak dikritik, yakni screening Covid-19, dengan membeli 500 juta tes cepat yang dapat dilakukan secara mandiri di rumah. (Yetede)
AS Gencar Memperkenalkan Inisiatif-Pasifik
Pemerintah AS sedang gencar memperkenalkan inisiatif Indo-Pasifik yang baru akan mengisi kekosongan ekonomi pasca keluar dari kemitraan Trans-Pasifik (Trans-Pacific Partneship/TPP). Namun negara-negara yang khawatir dengan melebarnya keretakan antara AS dengan Republik Rakyat Tiongkok (RRT) mengandalkan Jepang untuk mengarahkan upaya tersebut. Menteri Perdagangan AS Gina Raimondo dan Perwakilan Dagang AS Katrine Tai memulai lawatan ke Asia pada November 2021 untuk menawarkan rencana kerangka ekonomi Indo-Pasifik. Pemerintah AS sendiri dinilai terlalu terburu-buru dalam melakukan pembicaraan. Ini mengingat Tiongkok sedang mendapatkan kekuatan di arena perdagangan internasional, sehingga perkembangannya dianggap mengancam pembentukan kembali tatanan ekonomi kawasan tanpa kehadiran AS.
Pilihan Editor
-
Sesat Pikir Ganti Rugi Korupsi
31 Jan 2022 -
Bahaya Pencucian Uang dari NFT
30 Jan 2022 -
Awasi Distribusi Pupuk
31 Jan 2022







