Amerika Serikat
( 390 )The Fed Diprediksi 2 Kali Naikkan Suku Bunga 50 bps
The Federal Reserve (The Fed) diprediksi menaikkan dua kali suku bunga acuan 50 basis poin atau 0,5 persentase, secara berturut-turut pada Mei dan Juni tahun ini untuk mengatasi laju inflasi yang tidak terkendali. Sementara terjadinya peluang resesi ekonomi pada tahun depan mencapai 40%. Demikian menurut para ekonom yang disurvei Reuters. Menurut sebagian besar analis, bank sentral AS itu harus bergerak cepat demi menjaga tekanan harga dibawah kendali.
Pandangan mereka tersebut didasarkan oleh tingkat pengangguran yang mendekati rekor terendah serta laju inflasi tertinggi dalam empat dekade, dan lonjakan harga komoditas yang sepertinya berlangsung lama. Suara mayoritas kuat, 85 dari 102 ekonom, memperkirakan 50 basis poin pada Mei, dan mayoritas sebanyak 56 suara masih solid bahwa The Fed akan menindaklanjuti dengan 50 basis poin juga pada Juni.
"Mengingat pergeseran dalam komentar resmi dan tekanan inflasi yang terlibat diseluruh perekonomian, kami percaya The Fed akan menghasilkan kenaikan suku bunga 0,5 point pada pertemuan kebijakan Mei, Juni, Juli," ujar James Knightley, kepada ekonom internasional di ING, yang dilansir Reuters. (Yetede)
Pasar Akan Mencermati Laporan Inflasi AS
Pasar inflasi di Wall Street, Amerika Serikat, pekan ini dihadapkan pada laporan inflasi bulan Maret 2022 yang kemungkinan tinggi lagi. Selain juga akan mencermati laporan keuangan sejumlah bank besar untuk mengawali triwulan baru. JP Morgan Chase dan Black Rock akan mulai rilis laporan keuangan kuartal pertama sektor finansial pada Rabu (13/4). Disusul City group, Wells Fargo, Morgan Stanley, dan Goldman Sachs pada Kamis (14/4). Quincy Crosby, direktur strategi ekuitas LPL Financial mengatakan, laporan keuangan kuartal pertama dari sektor keuangan akan menjadi penting bagi pasar, mengingat dampak yang akan terjadi pada rencana The Federal Reserve (The Fed) untuk menaikkan suku bunga dan lebih agresif dalam pengetatan kebijakan moneter. "Kami ingin mendapatkan gambaran tentang apa yang mereka lihat dari rencana The Fed, bagaimana pengetatan kuantitatif, likuiditas ditarik, plus suku bunga lebih tinggi, akan bertambah kepada para klien serta unit-unit bisnis mereka" kata Crosby, seperti yang dikutip CNBC akhir pekan lalu (Yetede)
The Fed Bakalan Agresif Kurangi Neraca
Gubernur The Federal Research (The Fed) Lael Brainard pada Selasa (5/4) mengatakan, bank sentral AS tersebut harus bertindak cepat dan agresif untuk menurunkan laju inflasi. Padahal anggota Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) tersebut selama ini lebih mendukung kebijakan moneter longgar dan suku bunga rendah. "Inflasi saat ini jauh melambung tinggi sehingga menimbulkan banyak resiko buruk. Komite (FOMC) siap mengambil langkah lebih tegas jika indikator-indikator inflasi dan ekspektasi inflasi mengindikasikan bahwa langkah ini diperlukan," tutur dia seperti dilansir CNBC. Pasar finansial memperkirakan FOMC dalam rapat kebijakan Mei 2022 akan memaparkan rencana pemangkasan kepemilikan aset yang hampir mencapai US$ 9 triliun. Terutama kepemilikan surat utang negara dan Treasure dan sekuritas berbasis hipotek. Brainard dalam naskah pidatonya itu mengindikasikan proses pemangkasan ini bakalan sangat cepat. (Yetede)
The Fed Hadapi Inflasi Tanpa Korbankan Pertumbuhan
The Federal Reserve (The Fed) pada Rabu (16/3) waktu setempat menyetujui kenaikan suku bunga acuan untuk pertama kali dalam tiga tahun lebih. Aksi The Fed ini menjadi dukungan tambahan untuk mengatasi lonjakan inflasi tanpa menghambat pertumbuhan ekonomi AS. Kenaikan itu akan membawa acuan suku bunga saat ini ke kisaran 0,25%-0,5%. Langkah ini bakal sejalan dengan kenaikan suku bunga utama, sekaligus menyebabkan pengeluaran biaya-biaya lebih tinggi berbagai bentuk pinjaman dan kredit konsumen. Seagai informasi, pihak Komite terakhir kali menaikkan suku bunga pada Desember 2018, kemudian harus mundur pada Juli tahun berikutnya dan mulai melakukan pengurangan. Dalam pernyataannya pasca-pertemuan FOMC, pihaknya juga mengantisipasi bahwa peningkatan berkelanjutan akan sesuai dalam jangkauan target. (Yetede)
Harga Minyak AS Jatuh Dibawah US$ 100
Harga minyak mentah Amerika Serikat (AS) jatuh lebih dari 8% hingga menyentuh angka dibawah US$ 100 per barel pada perdagangan Senin (14/3). Faktor penyebabnya adalah kemajuan dalam krisis Ukraina dengan akan digelarnya perundingan damai yang baru di Tiongkok. Menurut Rebecca Babin, pialang energi senior CIBC Private Wealth AS, penyebab jatuhnya harga minyak itu karena faktor-faktor geopolitik dan permintaan. Rusia dan Ukraina dijadwalkan menggelar perundingan damai lagi pada Senin waktu setempat. "Aksi hari ini mencerminkan perubahan sentimen dalam konflik Rusia dan Ukraina sehingga menimbulkan sentimen jual, kekhawatiran fundamental terhadap permintaan dari Tiongkok sehingga para pialang fundamental melakukan aksi ambil untung, serta tekanan teknikal karena minyak mentah sudah menyentuh level-level tertinggi," tutur Babin. (Yetede)
Harga Minyak AS Jatuh Dibawah US$ 100
Harga minyak mentah Amerika Serikat (AS) jatuh lebih dari 8% hingga menyentuh angka dibawah US$ 100 per barel pada perdagangan Senin (14/3). Faktor penyebabnya adalah kemajuan dalam krisis Ukraina dengan akan digelarnya perundingan damai yang baru di Tiongkok. Menurut Rebecca Babin, pialang energi senior CIBC Private Wealth AS, penyebab jatuhnya harga minyak itu karena faktor-faktor geopolitik dan permintaan. Rusia dan Ukraina dijadwalkan menggelar perundingan damai lagi pada Senin waktu setempat. "Aksi hari ini mencerminkan perubahan sentimen dalam konflik Rusia dan Ukraina sehingga menimbulkan sentimen jual, kekhawatiran fundamental terhadap permintaan dari Tiongkok sehingga para pialang fundamental melakukan aksi ambil untung, serta tekanan teknikal karena minyak mentah sudah menyentuh level-level tertinggi," tutur Babin. (Yetede)
The Fed Diperkirakan Sesuai Rencana, Naikkan Suku Bunga Pekan Ini
The Federal Reserve (The Fed) atau Bank Sentral Amerika Serikat (AS) diperkirakan tetap bertindak sesuai rencananya, yakni menaikkan suku bunga acuannya dalam rapat kebijakannya pekan ini, 15-16 Marer 2022. Ini bakal menjadi kenaikan pertama fed funds rate (FFR) pasca pandemi Covid-19 dan digelayuti ketidakpastian akan situasi ekonomi global kedepannya, karena krisis di Ukraina. Pada pekan ini, ada beberapa data ekonomi AS yang akan keluar. Yakni indeks harga produsen pada Selasa, penjualan ritel pada Rabu, dan penjualan rumah eksisting pada Jumat. Sepanjang sesi-sesi perdagangan pekan lalu, pasar saham AS mengalami aksi jual. Indeks Nasdaq mencatatkan kinerja paling buruk dengan kinerja penurunan sebesar 3,5%. Para investor pekan lalu juga dibuat cemas dengan lonjakan harga minyak mentah. Diawal pekan sempat meleset hingga tembus US$130 per barel. Tapi pada penutupan perdagangan Jumat (11/3) waktu setempat menurun lagi ke level US$ 110 per barel. (Yetede)
AS Alokasikan US$ 5 M Untuk Membangun SPKLU
Pemerintahan Presiden Joe Biden pada pekan ini meluncurkan rencana untuk mengalokasikan anggaran US$ 5 miliar ke negara-negara bagian di AS guna membiayai penyediaan perangkat pengisian daya (charger) mobil listrik selama lima tahun . Hal ini merupakan bagian dari paket infrastruktur bipartisan yang mencakup US$ 7,5 miliar untuk membangun jaringan stasiun pengisian kendaraan lsitrik umum dan SPKLU yang luas diseluruh negeri. Investasi tersebut merupakan agenda dari pemerintah yang lebih luas guna memerangi perubahan iklim yang disebabkan manusia dan memajukan transmisi energi bersih. Pemerintah Biden telah sesumbar harga mobil listrik lebih terjangkau bagi warga AS dari pada mobil bertenaga gas. "Pedoman baru tersebut bakal membantu negara-negara bagian membangun jaringan SPKLU di sepanjang koridor bahan bakar alternatif yang ditunjuk pada sistem jalan raya nasional." ujar pejabat senior pemerintah dalam konferensi pers, Rabu (9/2). (Yetede)
Tiongkok dan AS Setuju Rilis Cadangan Minyak
Pemerintah Republik Rakyat Tiongkok (RRT) akan merilis cadangan strategis minyak mentah nasionalnya sekitar musim liburan Tahun Baru Imlek, yang dimulai 1 Februari. Langkah ini merupakan bagian dari rencana yang telah dikoordinasikan oleh AS dengan para konsumen besar lainnya guna menurunkan harga global. "Tiongkok setuju untuk melepaskan jumlah yang relatif lebih besar jika minyak diatas US$ 85 per barel dan volume yang lebih kecil jika minyak tetap didekat level US$ 75." ujar sumber tanpa memberikan penjelasan lebih lanjut, pada Jumat (14/1). Menurut laporan, Biden dan para pembantu utamanya telah membahas kemungkinan pelepasan stok minyak mentah yang terkoordinasi dengan sekutu-sekutu dekat, termasuk Jepang, Korea Selatan, India, serta dengan Tiongkok. (Yetede)
Powell: The Fed Fokus Tangani Inflasi
Gubernur The Federal Reserve (The Fed) Jerome Powell menyoroti upaya bank sentral untuk menangani inflasi dan mentasbilkan ekonomi AS. Powell menjelaskan itu dalam sidang konfirmasinya dalam masa jabatan kedua dihadapan Komite Perbankan Senat AS di Washington, Selasa (11/1). Kesaksian Powel pada Selasa didepan Komite Perbankan dilakukan setelah Presiden AS Joe Biden menominasikannya untuk jabatan kedua. Ia kembali memipin bank sentral saat ekonomi AS berurusan dengan gelombang rekor inflasi tinggi yang mendorong para kritikus menuduh The Fed berpuas diri. The Fed pada Oktober 2021 mengumumkan aturan investasi yang lebih ketat setelah muncul kontroversi terkait aktivitas perdagangan Powell dan dua pejabat senior lainnya, yang akhirnya mengundurkan diri. (Yetede)
Pilihan Editor
-
Sesat Pikir Ganti Rugi Korupsi
31 Jan 2022 -
Bahaya Pencucian Uang dari NFT
30 Jan 2022 -
Awasi Distribusi Pupuk
31 Jan 2022








