;

EFEK DOMINO PAMAN SAM

Ekonomi Hairul Rizal 14 Jul 2023 Bisnis Indonesia (H)
EFEK DOMINO PAMAN SAM

Inflasi Amerika Serikat yang melanjutkan tren penurunan mendapat respons positif dari pasar. Inflasi Negeri Paman Sam mencapai 3% atau hanya selisih 100 basis poin (bps) dari target bank sentral AS sebesar 2%. Artinya, perjalanan The Federal Reserve (The Fed) menaikkan suku bunga sejak 2022 segera berakhir. Konsensus ekonom yang mengikuti survei Bloomberg memperkirakan bahwa suku bunga AS bisa mencapai rentang 5,5% pada dua kuartal terakhir tahun ini dan melandai mulai tahun depan. Inflasi yang landai juga bisa mengubah sikap keras bank sentral AS yang masih melihat potensi kenaikan suku bunga dua kali kesempatan dengan bobot total 50 bps pada tahun ini. Terlepas dari itu, pasar merespons positif inflasi Negeri Paman Sam itu. Indeks harga saham gabungan (IHSG) misalnya ditutup menguat begitu juga dengan rupiah, surat utang, dan emas. Macro Strategist Samuel Sekuritas Lionel Priyadi mengatakan penurunan inflasi umum dan inti AS yang berpihak pada ekspektasi pelaku pasar akan mengerek kinerja Surat Berharga Negara (SBN). Menurutnya, arus masuk modal asing yang sempat terhambat selama 3 minggu terakhir akan kembali berlanjut. “Akibatnya, yield SBN 10 tahun berpotensi turun ke 6%—6,1% bulan ini. Rupiah juga berpotensi terapresiasi ke level Rp14.800 per dolar AS,” kata Lionel kepada Bisnis, Kamis (13/7). Dihubungi terpisah, Chief Analyst DCFX Futures Lukman Leong mengatakan data inflasi memungkinkan untuk menekan potensi kenaikan suku bunga The Fed. Namun, menurutnya, kebijakan Bank Sentral AS tersebut belum saatnya melunak (dovish). “Data inflasi terakhir setidaknya akan memungkinkan bagi The Fed untuk lebih sedikit hawkish pada pertemuan FOMC di akhir Juli, walau saya melihat belum saatnya The Fed menjadi dovish,” ujar Lukman kepada Bisnis. Di tengah euforia pasar merespons inflasi landai, President & CEO Pinnacle Persada Investama Guntur Putra mengatakan setelah kabar inflasi AS yang turun, terdapat beberapa hal yang akan menjadi perhatian bagi investor berikutnya. Menurut Guntur, investor perlu mengikuti berita dan perkembangan terkini terkait kebijakan ekonomi. Selain itu, situasi ekonomi global, termasuk perang perdagangan, fluktuasi mata uang, dan gejolak politik, dapat berdampak signifikan terhadap pasar keuangan dan aset investasi. Chief Economist & Investment Strategist Manulife Aset Manajemen Indonesia Katarina Setiawan mengatakan pasar obligasi dan saham memberikan peluang. Obligasi, menurutnya, bisa menjadi pilihan bagi investor yang memiliki profil risiko konservatif karena kondisi makroekonomi yang positif akibat inflasi melandai dan suku bunga mencapai puncak. “Kondisi fiskal pemerintah yang sehat dengan kemungkinan penerbitan SBN dikurangi juga menjadi faktor positif bagi pasar obligasi,” kata Katarina.

Download Aplikasi Labirin :