Investor
( 183 )Selama Pandemi, Investor Milenial di Pasar Modal Meroket 73%
Investor pasar modal dari kalangan generasi milenial tercatat mengalami pertumbuhan. Salah satunya di Mandiri Sekuritas yang mencatat pertumbuhan nasabah ritel 73%. Direktur Mandiri Sekuritas Theodora VN Manik mengungkapkan pertumbuhan nasabah ritel ini karena perkembangan digital yang sangat masif. Karena pandemi Covid-19 yang mengubah gaya hidup masyarakat menjadi lebih digital. Pertumbuhan nasabah 73% yoy, dan pertumbuhan dari investor milenial dan gen z 91%, Transaksi online naik 235%, transaksi harian 220%.
Kenaikan nasabah ritel ini karena likuiditas yang terbilang besar di market, Apalagi suku bunga deposito juga terus menurun sehingga para investor membutuhkan hasil investasi yang baik. Makanya dana mengalir ke pasar saham dan obligasi.
Pada Semester I 2021 pendapatan usaha Mandiri Sekuritas mencapai Rp 465 miliar naik 61% dibandingkan periode yang sama tahun 2020. Laba bersih per 30 Juni 2021 tercatat Rp 94 miliar meningkat signifikan 201% dibandingkan periode 2020.
Secara total imbal hasil, Investasi di pasar obligasi pada Kuartal II 2021 sebesar +3,4%, menghapus imbal hasil negatif di Kuartal I 2021 yang tercatat 2,4%, sehingga secara year-to-date pasar obligasi mencatatkan +1%, yang berarti melanjutkan tren kinerja yang baik.
Minat Berinvestasi di Pasal Modal Melonjak
Seiring tren penurunan suku bunga, masyarakat, terutama generasi milenial, makin tertarik berinvestasi pada instrumen obligasi dan saham. Imbal hasil kedua instrumen pasar modal tersebut relatif lebih tinggi dibandingkan dengan bunga deposito perbankan yang terus menurun.
Kondisi tersebut salah satunya terindikasi dari meningkatnya jumlah investor di pasar modal. Di Mandiri Sekuritas, misalnya, jumlah nasabah per Juni bertumbuh 73 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu. Jumlah rekening dana nasabah pun bertumbuh 75 persen secara tahunan.
Pertumbuhan itu ditopang oleh investor baru dari generasi milenial dan generasi Z yang bertumbuh 91 persen secara tahunan. Naiknya jumlah investor mendorong lonjakan frekuensi transaksi harian hingga 220 persen secara tahunan. Pelaksana Tugas Direktur Utama Mandiri Sekuritas Silva Halim menjelaskan, kenaikan jumlah investor dipicu oleh meningkatnya minat masyarakat untuk berinvestasi pada obligasi dan saham.
Demam IPO Big Tech Melanda Investor RI
Pandemi Cavid-19 belum menunjukkan tanda-tanda akan berakhir meski terjadi sedikit penurunan dalam tiga hari terakhir. Ekonomi kembali slow down setelah sempat menggeliat pada semester pertama 2021. Tapi, di pasar modal, tetap ada kegairahan. Para investor milenial dilanda demam initial public offering (IPO) atau penawaran umum saham big-tech. IPO saham PT Bukalapak Tbk sedang berjalan. Perusahaan Go-To yang lebih berencana masuk pasar modal sepertinya disalip oleh Bukalapak yang akan menawarkan 25,7 miliar lembar sahamnya di harga Rp 750- 850 pada 28-30 Juli 2021. Kendati demikian, Go-To, perusahaan hasil merger Gojek dan Tokopedia tetap melakukan penawaran umum tahun ini. Selain Bukalapak, ada tiga big-tech lain yang siap masuk bursa tahun ini, yakni Go-To, Traveloka, dan J&T Express. Yang disebut big-tech adalah perusahaan besar yang bergerak di bidang informations and communication technology (ICT) atau teknologi informasi dan komunikasi.
Rencana IPO big-tech telah memicu harapan baru di pasar modal. Pertama, selama ini, dana asing masuk ke Indonesia langsung ke perusahaan rintisan. Dana disuntikkan ke startup oleh perusahaan asing hingga perusahaan rintisan itu menjadi big-tech, unicorn dan decacorn. Para investor pasar modal mengharapkan agar asing yang menyuntikkan dana ke startup itu kini beralih ke pasar modal dengan ikut membeli saham-saham big-tech, baik pada saat IPO maupun di pasar sekunder. Kedua, dana asing yang mencari lahan investasi di dunia sangat banyak. Paling tidak, ada US$ 40 miliar dana asing yang siap masuk ke pasar modal Indonesia. Jika dana ini bisa masuk ke pasar modal Indonesia, market cap di BEI yang baru sekitar Rp 7.000 triliun lebih akan menggelembung menembus Rp 8.000 triliun hingga akhir tahun. Agar dana asing ini masuk ke pasar modal Indonesia, big-tech Indonesia tidak boleh hanya listing di bursa di luar negeri, di AS atau Singapura. Kalau pun listing di luar energi, kita mengharapkan dual listing. Ketiga, IPO tiga big-tech tahun ini dan bakal puluhan hingga ratusan pada tahun-tahun akan datang meningkatkan daya tarik pasar saham Indonesia, baik daya tarik bagi pemodal asing maupun para investor lokal, khususnya para milenial. Jumlah investor di BEI per Juni 2021 sudah mencapai 5,6 juta, naik 56,5% dari 2,5 juta akhir Desember 2019.
Keempat, masuknya big-tech akan menambah alternatif investasi di BEI. Para investor kini bisa melihat peluang untuk meraih capital gain dari perusahaan teknologi.
Kelima, dengan masuknya big-tech di BEI, komposisi top ten berdasarkan market cap kemungkinan besar akan berubah. Hingga 16 Juli 2021, Bank Central Asia (BBCA) memimpin market cap di BEI dengan nilai Rp 745,7 triliun, disusul Bank BRI (BBRI) di urutan kedua sebesar Rp 468,9 triliun, PT Telekomunikasi Indonesia (TLKM) Rop 314 triliun, Bank Mandiri (BMRI) Rp 271,4 triliun, Bank Jago (ARTO) Rp 218,1 triliun, Astra International (ASII) Rp 197,6 triliun, Unilever (UNVR) Rp 196,5 triliun, Chandra Asri (TPIA) Rp 170,8 triliun, Elang Mahkota (EMTK) Rp 153,6 triliun, dan DCI Indonesia (DCII) sebesar Rp 140,6 triliun.
(Oleh - HR1)
Industri Makanan Minuman Kebal Pandemi Covid-19
Sebagai sektor yang berkaitan dengan kebutuhan dasar masyarakat, industri makanan dan minuman masih mampu bertahan di tengah pandemi Covid-19. Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (Gapmmi) Adhi S Lukman mengatakan, industri makanan dan minuman terkait erat dengan konsumsi rumah tangga. Selama masa pandemi, konsumsi rumah tangga Indonesia turun 2,63% pada 2020, kemudian level penurunannya sedikit berkurang jadi minus 2,23% di kuartal I-2021.
Meski konsumsi rumah tangga terkoreksi dan Indonesia turun kelas, sektor makanan dan minuman masih bisa bertahan meski terdapat banyak tekanan. Tahun lalu, industri makanan dan minuman masih bisa tumbuh positif 1,58%, sementara di kuartal I-2021, industri ini tumbuh 2,45%. Semoga tahun 2021 industri makanan dan minuman bisa tumbuh 5%-7% di tengah pandemi Covid-19. Kami juga yakin perekonomian Indonesia tumbuh 4%-5% tahun ini, ujar Adhi dalam acara Investor Daily Summit 2021 secara virtual, Selasa (13/7). Dia juga menyebutkan, industri makanan minuman masih memiliki daya tarik bagi investor, terutama investor asing. Terbukti, total foreign direct investment (FDI) di sektor makanan minuman senilai US$ 0,97 miliar di kuartal I-2021 atau tumbuh 224% (yoy). Angka ini juga mendekati realisasi FDI industri makanan minuman pada tahun lalu US$ 1,60 miliar. Di sisi lain, permintaan ekspor makanan minuman tak menurun saat pandemi. Di 2020, ekspor produk makanan minuman Indonesia naik 14,14% menjadi US$ 31,09 miliar.Urgensi Penguatan Industri Hulu Migas
Penguatan suplai energi yang bersumber dari fosil tetap dibutuhkan oleh Indonesia, terutama berupa migas yang saat ini jumlah penyediaannya dari dalam negeri terus menyusut. Tingkat ketergantungan impornya masih sangat besar dari luar negeri. Setiap hari kebutuhan konsumsi migas di Indonesia di atas 1,5 juta barel, tetapi tingkat penyediaannya hanya sekitar 50 persen atau berkisar 700.000-800.000 barel. Kekurangan ini ditutup dengan mendatangkan migas impor yang dipesan dari sejumlah negara, seperti Singapura, Thailand, Korea Selatan, Jepang, China, Rusia, dan Amerika Serikat.
Kondisi ini menyebabkan perekonomian Indonesia sangat rentan terhadap dinamika ekonomi dan politik global. Apabila terjadi peningkatan harga minyak bumi dunia, akan memberikan tekanan negatif pada neraca perdagangan internasional. Valuta asing yang diperlukan untuk membeli BBM dan gas impor semakin banyak sehingga rawan menekan kurs rupiah menjadi lemah. Apabila negara tidak siap memiliki cadangan devisa yang cukup, sangat rentan timbul gejolak harga (inflasi) di dalam negeri sebagai akibat peningkatan harga migas global.
Ada sejumlah cara yang dapat dilakukan pemerintah, antara lain, melakukan kebijakan transisi energi dari penggunaan LPG ke kompor listrik, mandatori penggunaan biodiesel, akselerasi penggunaan mobil listrik, serta pada saat yang sama juga berupaya untuk meningkatkan suplai BBM dan gas dari dalam negeri. Khusus untuk peningkatan suplai BBM dan gas dari dalam negeri tersebut, pemerintah harus mendorong kenaikan produksi migas dari sumur-sumur yang ada di dalam perut bumi Indonesia. Lifting minyak harus ditingkatkan sehingga mendorong penyediaan bahan baku untuk industri pengilangan dalam negeri.
Lifting minyak akan terus menyusut dan cadangan migas nasional akan semakin cepat habis dalam jangka pendek kurang dari 10 tahun lagi. Jika hal ini terjadi, beban keuangan negara akan semakin berat karena jumlah impor BBM dan gas setiap hari semakin besar jumlahnya. Sayangnya, saat ini tampaknya industri hulu migas di Indonesia semakin kurang diminati. Satu indikasinya terlihat dari jumlah investasi yang ditanamkan di sektor hulu migas tersebut kian mengecil. Pada 2015 hingga 2020, investasi sektor hulu migas rata-rata terus menyusut sekitar minus 6 persen atau senilai 970 juta dollar AS setahun. Pada 2015, investasi hulu migas masih berkisar 15 miliar dollar AS, tetapi pada 2020 sudah susut menjadi kisaran 10 miliar dolar AS.
Penyusutan investasi hulu migas tersebut berimbas pada pembiayaan semua sektor kegiatannya, mulai dari produksi, pengembangan, eksplorasi, hingga administrasi. Penyusutan terbesar berada pada kegiatan eksplorasi yang rata-rata mengalami penyusutan investasi hampir mendekati minus 20 persen per tahun atau senilai 360-an juta dollar AS. Kegiatan eksplorasi ini anjlok sangat drastis sejak tahun 2015. Pada 2014, investasi kegiatan eksplorasi masih berkisar 2,6 miliar dollar AS, tetapi pada tahun 2015 anjlok drastis menjadi 970 juta dollar AS. Pada tahun-tahun berikutnya nilainya terus menyusut dan pada tahun 2020 nilai investasi kegiatan eksplorasi ini semakin minim menjadi kisaran 444 juta dollar AS.
Solusi yang ditawarkan adalah melakukan kegiatan eksplorasi di sejumlah wilayah kerja lain yang ditawarkan pemerintah. Dengan semakin banyak eksplorasi, maka peluang untuk menemukan ladang-ladang baru akan semakin terbuka lebar. Hanya saja tampaknya para investor untuk beberapa saat lalu enggan berinvestasi pada kegiatan ini karena adanya perubahan skema kerja sama antara pemerintah dan para kontraktor migas dari cost recovery menjadi gross split. Dengan perubahan skema itu membuat risiko finansial yang dihadapi para investor kian besar sehingga berdampak pada susutnya investasi di sektor hulu migas.
Industri energi memberikan kontribusi yang relatif besar bagi perekonomian nasional. Secara makro, kontribusi industri energi dapat dilihat dari kontribusinya terhadap PDB nasional. Selain itu, juga dapat dilihat dari besarnya penerimaan negara bukan pajak (PNBP) yang berasal dari sektor sumber daya alam (SDA) migas. Dari kedua hal ini menunjukkan bahwa industri energi berkontribusi secara langsung terhadap perekonomian nasional dan sebagai sumber pendapatan negara. Pada tahun 2015-2020, kontribusi sektor pertambangan migas (hulu) rata-rata memberikan kontribusi bagi PDB nasional hampir Rp 400 triliun per tahun. Nominal ini menggambarkan proporsi kontribusi bagi PDB nasional sekitar 2,85 persen per tahun.Kepastian Lahan Tidak Cukup Untuk Tarik Investor
Presiden Joko Widodo sudah menerbitkan tiga Peraturan Pemerintah yang menetapkan tiga lokasi Kawasan Ekonomi Khusus (KEK). Antara lain KEK Batam Aero Technic, KEK Nongsa, dan KEK Gresik. Ketiganya disebut menjadi percontohan dalam penerapan aturan baru KEK. Berdasarkan Undang Undang nomor 11 tahun 2020 tentang Cipta Kerja, pemerintah menambah syarat pengusulan KEK. Salah satunya adalah minimal penguasaan lahan sebesar 50% dari total rencana. "Semua penguasaan lahannya sudah di atas 50%," ujar Sekretaris Dewan Nasional KEK Enoh Pranoto kepada KONTAN, Senin (5/7). Bahkan untuk KEK Batam dan KEK Nongsa, lahan yang dikuasai telah mencapai 100%. Kondisi ini ia yakini bisa mempercepat pengembangan KEK ke depan. Kepastian lahan juga akan mencegah pengembangan KEK menjadi mangkrak. Selain itu, hal tersebut akan meningkatkan kepercayaan investor untuk menanamkan modal di KEK. "Pembangunan KEK semakin lancar dan semakin mudah menarik investor," terang Enoh.
Selain mengenai kepastian lahan dan pengelolaan, KEK juga memberikan sejumlah insentif untuk industri di dalam KEK. Sesuai PP Nomor 40 tahun 2021 tentang Penyelenggaraan KEK, kemudahan tersebut berupa fasilitas pajak, bea, dan cukai meliputi pajak penghasilan, pajak pertambahan nilai, pajak penjualan atas barang mewah, bea masuk dan pajak dalam rangka impor, dan cukai. Dan insentif lainnya. PP itu juga memangkas pajak terkait transaksi atas tanah dan bangunan. Pada pasal 80 disebutkan badan usaha dalam transaksi pengadaan tanah untuk KEK; penjualan tanah dan/atau bangunan di KEK; dan/atau sewa tanah dan/atau bangunan tidak dipungut pajak penghasilan.
Direktur Eksekutif CORE Mohammad Faisal menyebut kepastian lahan saja dinilai tidak cukup ampuh untuk menarik investor. Lokasi lahan pun menjadi pertimbangan besar bagi investor untuk menanamkan modal. Lokasi lahan tersebut termasuk dengan akses menuju KEK sehingga kegiatan industri dapat berjalan dengan efisien. Infrastruktur dalam kawasan pun menjadi pertimbangan investor. "Penguasaan lahan 50% masih belum menjamin pembangunan infrastruktur yang memadai," terang Faisal kepada KONTAN.Bank Digital Tarik Minat Para Investor
JAKARTA – Perkembangan teknologi
membuat sektor perbankan beradaptasi dan
bertransformasi untuk menjadi bank digital.
Potensi bisnis bank digital di Indonesia yang besar
tersebut turut menarik minat para investor untuk
berinvestasi.
Sebagai regulator industri perbankan, Otoritas Jasa Keuangan
(OJK) merespons transformasi
digital tersebut. Hal ini tercermin
dari berbagai aturan yang tengah
digodok dan segera diluncurkan
OJK terkait bank digital.
Bahkan, jauh sebelum adanya rencana penerbitan beleid bank digital,
para investor sudah berbondongbondong untuk mengalokasikan
dana investasinya untuk bank-bank
kecil yang tengah bertransformasi.
Terlihat dari catatan OJK yang menyebutkan, sudah ada tujuh bank
yang telah mengajukan perizinan
menjadi bank digital. Sedangkan
lima bank lainnya telah mendeklarasikan sebagai bank digital.
Adapun bank-bank yang tengah
berproses menjadi bank digital
antara lain PT Bank BCA Digital,
PT Bank Rakyat Indonesia Agroniaga Tbk (BRI Agro), PT Bank
Neo Commerce Tbk (BNC), PT
Bank Capital Indonesia Tbk, PT
Bank Harda Internasional, PT Bank
QNB Indonesia Tbk, dan PT Bank
KEB Hana.
Bank Capital Indonesia tengah
bertransformasi dan telah mengajukan perizinan menjadi bank
digital kepada OJK. Beredar kabar
bahwa Grab berminat untuk masuk
sebagai investor Bank Capital.
Meski demikian, OJK belum
mendapatkan pernyataan formal
dari para investor yang hendak masuk ke bank-bank tersebut. “Masih
belum ada yang menyatakan secara
formal ke OJK,” kata Deputi Komisioner Pengawas Perbankan III
OJK Slamet Edy Purnomo kepada
Investor Daily, akhir pekan lalu. Selain Bank Capital, Grab disebut
tengah mengincar bank digital syariah yang baru melantai di Bursa
Efek Indonesia (BEI), yakni PT
Bank Aladin Syariah Tbk yang sebelumnya bernama Bank Net Syariah.
Kabar tersebut muncul ketika
sejumlah eks petinggi PT Visionet
Internasional (OVO) berlabuh sebagai jajaran direksi di Bank Aladin
Syariah pada Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB)
Bank Aladin Syariah pada Rabu
(7/4). Terdapat tiga eks petinggi
OVO yang saat ini menunggu hasil
fit and proper test OJK.
Ketiga direksi baru Bank Aladin
adalah Firdila Sari sebagai direktur
digital banking, Willy Hambali sebagai direktur keuangan dan strategi,
serta Budi Kusmiantoro sebagai
direktur teknologi informasi.
Di sisi lain, PT Sumber Alfaria
Trijaya Tbk (AMRT) berencana
menambah modal melalui rights
issue untuk ekspansi ke sektor
digital dengan saham yang diterbitkan sebanyak-banyaknya 5 miliar
saham. Dikabarkan bahwa AMRT
berniat untuk berinvestasi pada
Bank Aladin Syariah dengan dana
rights issue tersebut.
Perseroan berencana menggunakan dana yang diperoleh
dari penambahan modal dengan
HMETD untuk melakukan investasi pada perusahaan lain/
penyertaan saham yang bergerak
di bidang berbasis teknologi, yang
dapat bersinergi secara strategis
dengan perseroan.
Kepala Eksekutif Pengawas
Perbankan OJK Heru Kristiyana
menambahkan, banyak investor
tertarik karena perbankan di Indonesia masih cukup seksi, terlihat
dari margin bunga bersih (net
interest margin/NIM) bank yang
masih tinggi di kisaran 4% membuat
banyak investor ingin masuk ke
Indonesia.
(Oleh - HR1)
Pemanfaatan Insentif Fiskal, Komitmen Investor Rendah
JAKARTA — Komitmen investor penerima fasilitas tax holiday dan tax allowance cukup rendah. Hal ini tecermin dari minimnya realisasi investasi dari pelaku usaha yang telah mendapatkan insentif.Berdasarkan data Kementerian Keuangan, sejak 2018—2021 pemerintah telah mengeluarkan 96 fasilitas tax holiday dengan mengacu pada Peraturan Menteri Keuangan (PMK) No. 35/2018 Jo. 130/2020 kepada 93 wajib pajak dengan 11 pemanfaatan.Dari fasilitas tersebut, rencana investasi yang dicatat oleh pemerintah mencapai Rp1.278,4 triliun. Tetapi per bulan ini investasi yang terealisasi hanya Rp25,13 triliun.Fasilitas tax allowance yang diberikan melalui Peraturan Pemerintah (PP) No. 78/ Jo. PMK No. 96/2020 tak lebih baik. Pemerintah telah memberikan total 42 fasilitas tax allowance kepada 36 wajib pajak dengan 3 pemanfaatan.
(Oleh - HR1)Minat Investor Bisa Bergeser dari Saham Perbankan ke Bukalapak dan GoTo
JAKARTA – Pencatatan saham perusahaan teknologi bervaluasi besar seperti Bukalapak dan GoTo (Gojek dan Tokopedia) di Bursa Efek Indonesia (BEI) akan mengubah peta investasi di pasar. Investor diperkirakan bakal mengalihkan dananya dari saham perbankan ke teknologi, antara lain Bukalapak dan GoTo. Apalagi, sektor perbankan kini menghadapi ancaman peningkatan kredit bermasalah (nonperforming loan/NPL).
Masuknya Bukalapak dan GoTo
juga diyakini akan menggairahkan indeks harga saham gabungan (IHSG).
Bukalapak dan GoTo bakal menjadi
game changer yang mengubah minat
investor, terutama asing.
Direktur Panin Asset Management
Rudiyanto mengatakan, penawaran
umum perdana (initial public offering/IPO) saham unicorn dan decacorn
tersebut menjadi isu bagi investor
ke depannya, selain metodologi free
float dalam perhitungan indeks saham
serta environmental, social, and governance (ESG) investment.
“Bukalapak dan GoTo sangat berpotensi mengubah landscape pasar modal
Indonesia dalam hal positif. IHSG
dalam 3-5 tahun ini tidak terlalu bagus, tertinggi 6.700. Sementara, dunia
berubah. Saat pandemi Covid, investasi
di farmasi. Ketika tidak ada Covid, investasinya di saham teknologi. Apalagi,
Bukalapak dan GoTo bakal punya bobot besar ke indeks dan akan menjadi
tujuan investasi asing,” kata Rudiyanto
dalam acara The First Indonesia Investor
Summit 2021, Minggu (27/6).
(Oleh - HR1)
Pakar: Jumlah investor milenial meningkat saat pandemi COVID-19
Bandung - Director of Executive Education Sekolah Bisnis dan Manajemen Institut Teknologi Bandung ( SBM ITB) dan Co-Founder Investor Academy Indonesia Donald Crestofel Lantu ST MBA Ph D menuturkan pada saat pandemi COVID-19, jumlah investor milenial yang ada di Indonesia meningkat atau kalangan milenial banyak yang tertarik dengan bidang investasi selama wabah virus corona melanda dunia ini. "Tren tersebut harus diimbangi dengan pengetahuan dan pemahaman terkait bursa saham sehingga para calon investor tahu potensi serta risiko berinvestasi saham," kata Donald C Lantu pada cara The First Indonesia Investor Summit 2021, yang diadakan oleh Sekolah Bisnis dan Manajemen (SBM) Institut Teknologi Bandung (ITB) bekerja sama dengan IAI (Investor Academy Indonesia) secara daring, Minggu. Donald merinci berdasarkan data terakhir yang dihimpun olehnya saat ini jumlah investor di Indonesia mencapai 2,4 juta orang dan jumlah tersebut mengalami kenaikan 20 hingga 30 persen sejak tahun 2015 hingga saat ini.
(Oleh - HR1)
Pilihan Editor
-
Paradoks Ekonomi Biru
09 Aug 2022 -
ANCAMAN KRISIS : RI Pacu Diversifikasi Pangan
10 Aug 2022









