Investor
( 183 )Investor Peminat Investasi Terus Bertambah
Pandemi tak menghalangi minat untuk berinvestasi ke Indonesia. Salah satunya adalah investasi melalui Lembaga Pengelola Investasi Pemerintah (LPI) yang menyebut dirinya Indonesia Investment Authority (INA). INA mengklaim hingga saat ini sudah ada sebanyak 80 investor yang berminat untuk bergabung dalam mendanai proyek-proyek infrastruktur di Indonesia terutama proyek jalan tol. Juru Bicara INA Masyita Crystallin kepada KONTAN, Selasa (21/9) menyebut tak kurang sebanyak 80 investor yang menyatakan minat bergabung di proyek yang akan didanai INA.
Fintech Dapat Guyuran Dana Jutaan Dolar
Pemain fintech lending makin gencar mendapatkan suntikan dana baru. Tak main-main, mereka mendapatkan suntikan dana hingga jutaan dolar baik dari investor asing maupun lokal.
Sepanjang 2021, beberapa fintech yang meraih pendanaan seperti Amartha, Danacita dan AwanTunai. Direktur Eksekutif Asosiasi Fintech Pendanaan Indonesia (AFPI) Kuseryansyah mengatakan, alasan investor berinvestasi ke perusahaan fintech karena melihat potensi bisnis yang besar di Indonesia.
Fintech berkembang sejak tahun 2016, dan berkembang selangkah demi selangkah. Kemudian memperlihatkan pertumbuhan yang tetap tinggi
Pada tahun lalu saja, bisnis fintech tumbuh 25% walau menghadapi pandemi. Dengan realisasi, diperkirakan bisnis fintech tahun ini bisa melebihi angka 25% karena kesenjangan kredit di Indonesia masih tinggi.
Dengan potensinya yang besar, investor semakin gencar berinvestasi pada perusahaan fintech. Dari kerja sama tersebut, investor mendapatkan untung dari kenaikan harga saham fintech jika bisnis dan ekspansi perusahaan yang semakin besar.
Jumlah Investor Saham Baru Bertambah 1 Juta dalam 8 Bulan
Sejak awal tahun hingga 31 Agustus 2021 tercatat jumlah investor saham baru bertambah sebanyak 1 juta single investor identification (SID). Bursa Efek Indonesia mencatat per akhir bulan lalu total sudah terdapat sekitar 2,7 juta SID saham.
Adapun jumlah pertumbuhan investor saham baru itu melonjak hanya dalam delapan bulan saja pada tahun ini. Bila dibandingkan dengan tahun 2020 lalu dengan 590.658 SID, maka jumlah investor saham baru hingga akhir Agustus lalu itu meningkat hampir dua kali lipat.
Inarno menyebutkan lonjakan jumlah investor baru itu karena optimalisasi digital yang dimulai sejak tahun 2019 dan dilanjutkan dengan sinergi serta kolaborasi bersama seluruh pemangku kepentingan pasar modal.
Jumlah investor baru pasar modal sampai dengan 31 Agustus 2021 mencapai 2,22 juta investor. Artinya, angka itu naik hampir dua kali lipat dari pencapaian tahun lalu, sehingga total investor pasar modal saat ini adalah 6,1 juta investor.
Investor Global Mencari IPO di Negara Asia
Shanghai - Investor global lari dari China, dampak regulasi yang keras ke perusahaan teknologi Tiongkok. Tindakan keras regulator China ke perusahaan teknologi asal Tiongkok membawa berkah ke negara lain. Investor global mulai mencari tempat baru untuk menaruh duitnya di negara lain. Hal ini mulai terasa saat ada lonjakan rekor penawaran umum perdana beberapa negara di Asia dari India, Indonesia, hingga Korea Selatan.
Pencapaian tersebut bisa menjadi lebih besar mengingat listing yang direncanakan oleh beberapa perusahaan seperti raksasa financial technology (fintech) India Paytm dan konglomerat internet Indonesia, GoTo. Beberapa bankir menyebutkan hal tersebut menjadi awal era baru untuk listing teknologi di Asia. Investor global sudah meningkatkan eksposur ke pasar luar China, dengan beberapa membeli IPO dari negara-negara seperti India dan Indonesia untuk pertama kalinya. Beberapa investor yang berbasis di Hong Kong yang sebelumnya fokus pada kesepakatan China sekarang berpartisipasi dalam IPO teknologi di negara Asia lain. Membanjirnya IPO teknologi di Asia Tenggara dan India akan bisa memberikan kekuatan baru.
Investor Besar Incar "Si Kecil" untuk Bank Digital
Jakarta - Bank-bank kecil, dengan modal inti Rp 2 triliun hingga Rp 5 triliun, menjadi incaran investor besar untuk diubah jadi bank digital tiga tahun terakhir. Bagi investor, upaya mengakuisisi bank mini dan mengubahnya jadi bank digital akan memangkas banyak proses dan biaya dibandingkan mendirikan bank baru. Investor juga mengakuisisi bank untuk melengkapi layanan keuangan sekaligus memperbesar ekosistem digital.
Sementara bagi pemilik bank kecil, menjual saham kepada investor merupakan salah satu jalan keluar untuk memenuhi ketentuan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengenai permodalan yang terus meningkat. Secara bisnis, pergerakan bank-bank kecil terimpit oleh sepak terjang bank lebih besar yang memberikan layanan lebih lengkap. Ada belasan bank bermodal kecil, termasuk yang merupakan perusahaan terbuka di Bursa Efek Indonesia, menjadi incaran pemodal besar untuk diubah jadi bank digital. Rencana aksi korporasi ini membuat pergerakan harga saham bank-bank kecil lebih lincah dibandingkan dengan pergerakan saham bank besar.
Saham bank digital merupakan salah satu kelompok saham yang memberikan banyak cuan bagi para investor. Hanya, fluktuasinya pun cukup besar. Para investor sebaiknya punya rencana investasi atau trading yang jelas dalam bertransaksi saham-saham bank digital itu sekaligus melaksanakan rencana dengan disiplin.
Menjajal Cuan Bank Digital
Bank Digital BCA meluncurkan aplikasi bernama Blu. Pada tahap awal, Blu telah menerbitkan produk tabungan kreatif, yaitu BluAccount untuk rekening transaksi utama, BluSaving untuk tabungan berbagai macam kebutuhan, dan BluGether untuk tabungan bersama dengan nasabah lain.
Investor yang juga getol berekspansi di bisnis bank digital adalah Jerry Ng. Setelah mengelola Jenius BTPN dan Bank Jago, Jerry menyulap PT Bank Jago Tbk (ARTO) dari bank skala kecil menjadi salah satu pemain bank digital yang diperhitungkan saat ini. Jerry, melalui perusahaan investasi PT Metamorfosis Ekosistem Indonesia (MEI), bertindak sebagai pengendali utama Bank Jago, dengan penguasaan saham sebesar 29,81 persen.
Ketika mengakuisisi Bank Artos yang kini menjadi Bank Jago, Jerry mengatakan bank itu belum memiliki teknologi yang memadai. Bank kecil ini hanya memiliki tujuh kantor cabang di seluruh Indonesia, dan dia menginginkan transformasi digital menyeluruh dalam ekosistem perseroan."Lebih gampang membangun rumah baru daripada renovasi. Jadi, pemilihan Bank Artos ini merupakan suatu keputusan yang strategis." Bank Artos dinilai memiliki syarat yang ideal, yaitu tidak memiliki banyak karyawan sehingga tidak perlu dilakukan pemutusan hubungan kerja setelah akuisisi, serta bank tidak memiliki masalah dengan kredit macet.
Setelah Bank Artos bertransformasi menjadi Bank Jago, investor baru pun masuk. Pada Desember 2020, PT Dompet Karya Anak Bangsa atau Gopay menjadi pemegang saham. Investor lain yang ingin mereguk cuan dari bank digital ini adalah GIC Private Limited asal Singapura. GIC masuk dalam rights issue Bank Jago dengan nilai investasi US$ 225 juta.Porsi Diperbesar, Investor Ritel Dapat Jatah Saham Bukalapak hingga Rp 1,6 Triliun
“Penyesuaian penjatahan pooling itu dilakukan sejalan dengan penawaran yang kelebihan permintaan (oversubscribed),” kata sumber Investor Daily, kemarin.Sementara itu, sumber lainnya mengatakan, selama penawaran umum pada 27-30 Juli lalu, mengalami oversubscribed hampir 4 kali dari jumlah saham yang ditawarkan melalui pooling. Dengan begitu, porsi fix allotment (penjatahan pasti) sekitar Rp 20,2-20,8 triliun.Menanggapi itu,Head of Research Henan Putihrai Sekuritas Robertus Hardy mengatakan, apabila penjatahan pooling meningkat menjadi 5-7,5% karena oversubscription yang lebih tinggi, tentunya ini cukup positif bagi investor ritel untuk mendapatkan penjatahan yang layak.”Diharapkan porsi kepemilikan investor ritel maupun institusi domestik dapat meningkat setelah listing nanti,” kata dia.Secara terpisah,Head of Market Research Infovesta Utama Wawan Hendrayana juga telah memprediksi bahwa minat investor terhadap saham Bukalapak bakal besar. Aturan claw back mengatur bila terjadi kelebihan pemesanan pada penjatahan terpusat (pooling) investor ritel, kelebihan itu dengan persentase tertentu akan diambil dari penjatahan pasti (fix allotment) yang umumnya diperuntukkan bagi institusi. Bukalapak diketahui masuk dalam Golongan IV, yakni IPO dengan nilai emisi lebih besar dari Rp 1 triliun. Pencatatan atau listing saham di BEI pada Jumat, 6 Agustus 2021.Bukalapak menunjuk PT Mandiri Sekuritas dan PT Buana Capital Sekuritas sebagai penjamin pelaksana emisi efek. Adapun PT Bahana Sekuritas, PT BCA Sekuritas, PT BNI Sekuritas, PT BRI Danareksa Sekuritas, PT Ciptadana Sekuritas Asia, PT Investindo Nusantara Sekuritas, PT Lotus Andalan Sekuritas, PT Panin Sekuritas Tbk, dan PT Phillip Sekuritas Indonesia sebagai penjamin emisi efek.Penjamin emisi lainnya adalah PT Samuel Sekuritas Indonesia, PT Sinarmas Sekuritas, PT Sucor Sekuritas, PT Trimegah Sekuritas Indonesia Tbk, PT Valbury Sekuritas Indonesia, PT Victoria Sekuritas Indonesia, PT Wanteg Sekuritas, PT UBS Sekuritas Indonesia, dan PT Yuanta Sekuritas Indonesia.
Berharap Investasi Naik Lagi
Kinerja investasi langsung terus meningkat di tengah upaya pemerintah menekan kasus positif Covid-19 di dalam negeri. Bahkan, prospek investasi langsung hingga akhir tahun ini diharapkan terus meningkat. Kementerian Investasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) mencatat, realisasi investasi pada kuartal II-2021 sebesar Rp 223 triliun. Realisasi investasi ini meningkat 16,2% dibandingkan dengan periode sama tahun lalu yang hanya Rp 191,9 triliun. Secara terperinci, BKPM menyebut realisasi investasi penanaman modal dalam negeri (PMDN) sebesar Rp 106,2 triliun. Sementara penanaman modal asing (PMA) mencapai Rp 116,8 triliun.
Menteri Investasi Bahlil Lahadalia menjelaskan, kinerja positif investasi tersebut sejalan dengan pemulihan ekonomi dalam negeri dan investor makin yakin menanamkan modalnya di Indonesia. "Investor dalam dan luar negeri sudah mulai terbiasa dengan keadaan Covid-19 terhadap kondisi baru dan melakukan penyesuaian," kata Bahlil, Selasa (27/7). Meski demikian, realisasi investasi di kuartal III-2021 akan dipengaruhi oleh efektivitas penanganan pandemi virus korona. Namun ia berharap, Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) bisa selesai di bulan Agustus nanti dan kasus harian Covid-19 semakin membaik yang membuat investor semakin yakin untuk masuk.
Di sisi lain, pihaknya tetap berupaya menggenjot investasi. Belum lama ini, Kementerian Investasi mengunjungi Amerika Serikat (AS) untuk menarik investasi. Ia menyebut ada komitmen dari Microsoft, Aplan Lighting, juga Cargill, meskipun tak memperinci investasi apa di Indonesia. "Cargill akan berinvestasi Rp 5,2 triliun. Mereka akan ground breaking pada Oktober tahun ini." tambah Bahlil.Gairah Transaksi di Bursa Komoditas
Volume transaksi komoditas di bursa berjangka masih bergairah dan cenderung stabil pada masa pandemi Covid-19. Emas mendominasi transaksi bursa.
Di Bursa Berjangka Jakarta (JFX), transaksi selama semester I 2021 mencapai 4 juta lot atau relatif sama dengan semester I 2020. Dia menargetkan transaksi hingga 11,1 juta lot hingga akhir tahun nanti.
Menurut Stephanus, hingga akhir tahun nanti, kontrak emas Loco London masih akan mendominasi volume transaksi di JFX. Sebab, harga mineral tersebut masih berpotensi meningkat secara global. Kontrak komoditas lainnya dia perkirakan fluktuatif pada semester kedua, sehingga berpotensi dijadikan momentum untuk mengambil untung oleh para investor.
Transaksi multilateral Bursa Berjangka Jakarta hingga Juni lalu sebanyak 798.228 lot. Angka itu turun jika dibanding pada periode yang sama tahun lalu, yaitu 806.473 lot. Namun sejumlah produk multilateral mengalami kenaikan signifikan. Stephanus mencontohkan kontrak kakao naik 53 persen menjadi 32.610 lot dari 15.313 lot pada periode yang sama tahun lalu.
Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) mencatat bursa berjangka dalam negeri mengalami tren positif sejak beberapa tahun terakhir. Setidaknya, sejak empat tahun terakhir, volume transaksi di bursa berjangka rata-rata tumbuh 17,68 persen.
Animo Investor Besar, IPO Bukalapak Dilaporkan Oversubscribed
Penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) saham PT Bukalapak.com Tbk (BUKA)
dikabarkan mengalami kelebihan
permintaan (oversubscribed) lebih dari
empat kali selama masa penawaran
awal (bookbuilding). Unicorn itu
disebut-sebut mematok harga IPO di
batas atas, yaitu Rp 850 per saham.
Menurut laporan Reuters yang
mengutip sejumlah sumber, pesanan
saham Bukalapak mencapai lebih
dari US$ 6 miliar atau Rp 87,6 triliun.
Padahal, Bukalapak menargetkan
dana hasil IPO hingga US$ 1,5 miliar
atau setara Rp 21,9 triliun. Perusahaan
all-commerce ini telah menggelar bookbuilding pada 9-19 Juli 2021.
Dari sisi penjamin emisi efek
(underwriter), Direktur Mandiri
Sekuritas Theodora Manik menyatakan bahwa animo nasabah Mandiri
Sekuritas terhadap IPO Bukalapak
sangat besar. Hal ini terlihat dari
naiknya jumlah nasabah investor
ritel baru, seiring informasi bahwa
Mandiri Sekuritas merupakan salah
satu penjamin emisi efek dalam aksi
korporasi besar ini.
“Nasabah menyambut baik, tapi
kami belum bisa bicarakan detailnya
karena bookbuilding baru selesai. Yang
pasti baik nasabah yang existing maupun nasabah baru yang berminat pada
IPO ini animonya tinggi,” kata dia.
Animo besar tersebut juga dilontarkan oleh Head of Wealth Management
Division Mirae Asset Sekuritas Fajrin
Noor Hermansyah. Indikatornya
tercermin dari penambahan jumlah nasabah Mirae baru-baru ini dan banyak
pertanyaan yang muncul dari investor.
(Oleh - HR1)
Pilihan Editor
-
Hati-hati Rekor Inflasi
02 Aug 2022 -
Kisruh Labuan Bajo Merusak Citra
04 Aug 2022 -
Waspadai Sentimen Geopolitik
05 Aug 2022 -
BABAK BARU RELASI RI-JEPANG
28 Jul 2022









