;
Tags

Investor

( 183 )

Laris Manis, Penjualan SBR011 Mencapai Rp 13,91 Triliun

HR1 21 Jun 2022 Kontan

Obligasi ritel SBR011 laris manis jadi buruan investor. Pemerintah berhasil menjual SBR011 senilai Rp 13,91 triliun, lebih tinggi dari target awal Rp 5 triliun. Nominal tersebut jauh lebih tinggi dibanding nilai permintaan seri SBR010. Saat itu, penjualannya sebesar Rp 7,5 triliun. Tingginya animo masyarakat membuat mitra distribusi SBR011 berhasil membukukan penjualan di atas target yang ditetapkan. General Manager Divisi Wealth Management Bank Negara Indonesia (BNI) Henny Eugenia mengungkapkan, hingga akhir pemesanan, penjualan SBR011 di BNI mencapai Rp 1,15 triliun. Jumlah tersebut oversubscribed 2,3 kali dibanding target semula, yaitu Rp 500 miliar. SBR011 laris karena risiko kredit kecil. Obligasi ritel ini juga memiliki fitur kupon floating with floor.

Investasi Baterai Kendaraan Listrik Capai US$ 23Miliar

KT1 15 Jun 2022 Investor Daily (H)

Kendali perkembangan ekosistem baterai kendaraan listrik di Indonesia mulai menunjukkan buah yang manis. Hal ini terlihat dari data badan Koordinasi Penanaman Saham (BKPM) menunjukkan total rencana investasi di ekosistem ini mencapai US$23 miliar atau sekitar Rp335,8 triliun. Deputi Bidang Pengembangan Iklim Penanaman Modal Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Yuliot Tanjung  mengungkapkan, rencana investasi ini berasal dari LG Energy Solution senilai US$ 9,8 miliar, CATL US$ 5,2 miliar. Selain tiga perusahaan tersebut, ada pula BASF, Volkswegan, dan Hyundai. Mengenai Tesla, Yuliot mengaku pembicaraan masih terus dilakukan terkait rencana penanaman modal produsen listrik terbesar dunia tersebut, "Proses pembicaraan masih berjalan terus." Ujar Yuliot dalam webinar, Selasa (14/6). Yuliot menerangkan, pihaknya terus berusaha untuk mencapai target realisasi  investasi Indonesia. Target realisasi investasi pada tahun 2022 di kisaran Rp1.250 triliun. (Yetede)

Investor Lokal Mampu Topang Kejatuhan Indeks

KT1 15 Jun 2022 Investor Daily (H)

Mendominasi 60% transaksi harian, investor lokal mampu menopang kejatuhan indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI). Peran investor domestik dalam mengangkat harga saham yang terjungkal akibat aksi jual pemodal asing sudah terbukti sejak tahun 2020, saat ekonomi didera  pandemi Covid-19. Hari-hari ini, ketika BEI mengalami tekanan jual, investor domestik kembali menunjukkan perannya. Jumlah pemodal lokal saat ini sudah di atas 8,5 juta. Sedang peran mereka dalam transaksi harian  lebih dari 60%. Nilai transaksi harian yang pada tahun 2019 sekitar Rp 9,1 triliun, pada lima bulan pertama 2022 rata-rata di atas Rp17 triliun. "Besarnya peran investor lokal sudah terbukti  tahun 2020 dan saat ini peran itu kembali terlihat ketika saham dibuang asing," kata Anggota Dewan Komisioner OJK sekaligus Kepala Eksekutif  Pengawas Pasar Modal Hoesen dalam diskusi dengan para pemimpin redaksi, Selasa (14/6). (Yetede)

Keuntungan Berpihak kepada Investor Sabar

KT3 13 Jun 2022 Kompas

Harapan para investor atau trader yang membeli aset investasi, seperti saham, tanah, atau emas, tentu adalah keuntungan. Namun, keuntungan yang didapatkan tentu tidak instan, langsung untung tidak lama setelah membeli aset tersebut. Kenaikan harga tanah, misalnya, tentu tidak terjadi hanya dalam rentang sehari setelah rumah itu dibeli, kecuali  dalam kondisi khusus. Demikian pula dengan kenaikan harga saham. Tidak semua harga saham naik serta-merta ketika saham dibeli. Memang, ada saham-saham yang naik tinggi ketika jam perdagangan sedang berlangsung. Namun, sebagian besar, kenaikan harga saham membutuhkan waktu, bisa dalam hitungan harian, mingguan, bahkan bulanan.

Kesabaran merupakan salah satu hal yang diperlukan ketika berinvestasi atau trading saham. Salah satu investor Indonesia, Lo Kheng Hong, pernah mengatakan, di bursa saham, uang dapat berpindah dari kantong orang yang tidak sabar ke orang yang sabar. Berjual beli saham bukanlah cara instan untuk melipatgandakan aset dalam sekejap. Ada  proses, termasuk proses dalam menantikan kenaikan harga saham. Orang yang tidak sabar cenderung cepat melepas sahamnya ketika rugi. Padahal, jika dicermati, terdapat potensi tren kenaikan harga. Berapa lama menunggu kenaikan harga saham sangat tergantung dari strategi dan rencana trading setiap orang. Seorang investor jangka panjang yang memilih saham sebagian besar berdasarkan analisis fundamental akan sabar menantikan kenaikan harga saham, bahkan dalam hitungan tahun. Selain dari kenaikan harga, investor jangka panjang juga memerhatikan pembagian dividen.

Sementara investor dengan strategi swing, akan bersabar menanti kenaikan harga saham dalam jangka waktu beberapa pekan. Saham yang dibeli ketika mulai masuk ke tren naik akan ditunggu hingga tren tersebut patah dan berbalik menjadi tren turun. Beda lagi dengan trader yang bertransaksi dengan cepat dalam hitungan hari. Bisa jadi trader itu membeli saham pada sore hari dengan perkiraan saham akan naik keesokan harinya. Atau, menantikan kenaikan harga saham dalam beberapa hari. Kesabaran menantikan kenaikan harga saham perlu dibarengi dengan pengelolaan uang investasi yang baik, menggunakan uang nganggur merupakan hal yang utama. Membeli beberapa saham untuk melakukan diversifikasi juga salah satu cara untuk mengatur keuangan. Sebaiknya pula, tidak semua uang porsi investasi dibelikan saham. Selain itu, sisakan sekitar 20 % dana tunai untuk berjaga-jaga. (Yoga)


Lulusan SMA Dominasi Investor Ritel Pasar Modal

KT3 04 Jun 2022 Kompas

Jumlah investor ritel di pasar modal terus bertambah. Hingga akhir April 2022, jumlah investor ritel mencapai 8,6 juta, naik 15,11 % dibandingkan akhir 2021. Data Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) menunjukkan, kelompok terbesar investor ritel adalah lulusan setingkat SMA. Jika dilihat dari latar belakang pendidikan, investor dari kelompok ini, yakni lulusan SMA, mencapai 60,57 % total investor. Aset kelompok investor ini mencapai Rp 160,69 triliun berupa saham dan  Rp 38,08 triliun berupa reksa dana.

Sementara investor yang merupakan lulusan strata 1 (S-1) mencapai 29,42 %. Walaupun dari segi jumlah kelompok investor berlatar belakang S-1 lebih sedikit dibandingkan investor yang lulusan SMA, aset kelompok ini merupakan yang terbesar, yakni mencapai Rp 427,5 triliun dalam bentuk saham dan Rp 106,4 triliun berupa reksa dana. ”Sinyal ini menunjukkan pasar modal bukan lagi menjadi pilihan investasi bagi kalangan tertentu, tetapi merupakan pilihan masyarakat Indonesia,” kata Dirut KSEI Uriep Budhi Prasetyo, Jumat (3/6). Para investor tersebut berinvestasi pada sektor finansial dan infrastruktur. (Yoga)


Investor Lebih Selektif Pilih Saham Teknologi

KT3 07 May 2022 Kompas

Kenaikan suku bunga acuan bank sentral AS, The Fed, berpotensi mendorong investor menggeser perburuan investasi ke saham defensif. Namun, bukan berarti saham teknologi tidak lagi diminati. Investor diperkirakan lebih selektif memburu saham perusahaan teknologi dengan fundamental kinerja kuat dan harganya tidak terlalu mahal. ”Siklus di pasar saham sedang berpindah. Pasar (investor) cenderung akan lebih memburu saham defensif atau saham yang tidak terpengaruh oleh kinerja atau kondisi ekonomi, termasuk saham komoditas. Harga saham sejumlah perusahaan teknologi yang semula tinggi karena ekspektasi berlebihan kini terpukul,” ujar Kepala Ekonom PT Bank Central Asia Tbk (BCA) David E Sumual (6/5). David berpendapat, investor melakukan seleksi. Mereka diperkirakan semakin ketat memperhatikan kinerja perusahaan teknologi sebelum memutuskan berinvestasi. ”Misalnya, di sektor perdagangan secara elektronik (e-dagang). Perusahaan teknologi yang berkecimpung di sektor itu tidak mungkin hanya satu. Dengan kondisi sekarang, investor akan menekankan yang punya fundamental kinerja bagus,” ujar David.

Direktur Center of Economic and Law Studies Bhima Yudhistira berpendapat, investor akan merespons kenaikan suku bunga acuanThe Fed dan sinyal naiknya suku bunga BI, ada kecenderungan perburuan di saham teknologi tetap terjadi. Tetapi, investor akan selektif. Jika harga saham perusahaan teknologi terlalu mahal, investor belum tentu akan merespons. Selain itu, perburuan saham teknologi di tengah kenaikan suku bunga acuan The Fed tergantung dari lokasi pasar di mana perusahaan teknologi mencatatkan saham. Permasalahannya, saham perusahaan teknologi di Indonesia masuk kategori lokasi pasar berkembang. Volatilitas pasarnya lebih tinggi. Sebelumnya, The Fed menaikkan tingkat suku bunga acuannya 50 basis poin, Rabu (4/5). Harga saham Grab yang melantai di Nasdaq, pada penutupan pasar, Kamis, turun 4,19 %. (Yoga)


Sulit Cari Investor untuk Sistem Kontrak Perikanan

KT3 31 Mar 2022 Kompas

Dirjen Perikanan Tangkap KKP Muhammad Zaini, Rabu (30/3) mengemukakan, penerapan kebijakan penangkapan ikan terukur melalui sistem kontrak penangkapan akan mengacu pada jumlah tangkapan ikan yang dibolehkan (JTB). Kuota tangkapan yang bakal dilelang ke pelaku usaha dan investor lewat sistem kontrak sebesar 4 juta ton per tahun. Pemerintah juga mencadangkan kuota tangkapan sebesar 2 juta ton yang pemanfaatannya akan disesuaikan dengan hasil evaluasi kebijakan penangkapan terukur. Nelayan lokal diberikan kuota tangkapan tanpa perlu mengikuti sistem kontrak. Pihaknya sudah menghimpun data kapal dan produksi nelayan sebagai landasan pembagian alokasi tangkapan bagi nelayan lokal pada zona industri perikanan.Jumlah kuota tangkapan nelayan lokal direncanakan 2,8 juta ton per tahun.

Sejauh ini, lanjut Zaini, sudah ada 21 investor dalam dan luar negeri serta koperasi perikanan yang menyatakan minat untuk mengikuti sistem kontrak, dengan usulan alokasi kuota total 2 juta ton. ”Ini baru menyatakan minat dan belum riil. Muncul pandangan seakan-akan sistem kontrak bakal menguntungkan investor baru, padahal susah mencari (investor),” kata Zaini. Setiap investor baru diwajibkan memiliki modal awal sebesar Rp 200 miliar. Selain itu wajib mengurus surat izin usaha perikanan (SIUP), garansi bank, dan uang muka pungutan hasil perikanan (PHP) dengan total biaya disetor di muka Rp 60 miliar. Berbeda halnya dengan perusahaan dalam negeri yang sudah memiliki SIUP dan sudah beroperasi.  Pelaku usaha cukup memiliki garansi bank, sedangkan modal awal cukup dipenuhi dari nilai aset kapal. (Yoga)


Investor Muda dan Fenomena Kasino

KT3 17 Mar 2022 Kompas

Faktor yang mendorong tingginya minat investor muda berinvestasi di pasar modal adalah; Pertama, menciutnya tingkat bunga simpanan (tabungan dan deposito) perbankan sehingga tingkat bunga riil (bunga nominal dikurangi pajak dan inflasi) yang diterima semakin kecil. Kedua, pesatnya perkembangan media sosial yang kerap dihiasi para pesohor dan influencer sembari memamerkan kekayaan dan gaya hidup mewah serta membungkusnya dengan narasi bahwa semua itu diperoleh dari transaksi (trading) di pasar saham. Bahkan, tidak sedikit dari para pesohor dan pemengaruh ini yang memberikan rekomendasi saham yang diklaim bisa memberikan keuntungan besar dalam waktu singkat.

Banyak investor muda ini yang menelan begitu saja bualan pesohor dan pemengaruh tanpa melakukan penelaahan. Ibarat kawanan yang bergerombol (herding) mendengar suara sang gembala.Padahal, saham yang direkomendasikan belum jelas kondisi fundamentalnya (kinerja usaha dan keuangan serta tata kelolanya). Terjadinya perilaku herding menunjukkan banyak investor muda ini belum dibekali pengetahuan dan literasi yang baik. Jika terus terjadi, hal itu tak sehat bagi perkembangan pasar modal di masa depan. Pasar modal tak ubahnya kasino. Hanya untuk menjaring keuntungan jangka pendek saja. Padahal, seharusnya pasar modal jadi wadah untuk membangun kesejahteraan dan kebebasan keuangan yang berkesinambungan. (Yoga)


Kinerja Indeks Saham dan Obligasi Makin Terpacu

KT3 24 Feb 2022 Kompas

IHSG BEI diperkirakan menyentuh level 7.400 pada akhir 2022, bertumbuh 12 % dari awal tahun ini pada level 6.600. Kondisi perekonomian yang terus membaik menjadi faktor penopang laju IHSG tahun ini, ujar Head of Equity Research Mandiri Sekuritas Adrian Joezer di acara ”Capital Market: Equity and Fixed Income Outlook 2022”, Rabu (23/2). Joezer menjelaskan, sektor yang diproyeksikan bertumbuh, adalah sektor keuangan dan konsumsi. Kondisi likuiditas yang berlimpah dan permintaan pembiayaan yang meningkat akan mendongkrak kinerja emiten sektor finansial. Pulihnya permintaan masyarakat juga mendorong kinerja emiten di sektor konsumsi.

Head of Fixed Income Research Mandiri Sekuritas Handy Yunianto menjelaskan, ada beberapa perkembangan positif di pasar obligasi setelah pandemi. Pertama, porsi asing dalam kepemilikan obligasi berkurang, dari di atas 40 % sebelum pandemic menjadi di bawah 20 % saat ini, yang membuat dampak pelarian modal berkurang. Investor asing yang masih berinvestasi di obligasi lebih bersifat investor jangka panjang. Indikasinya, porsi bank sentral asing meningkat dari 17 % menjadi 26 %. Kedua, dukungan investor domestik terus meningkat, baik dari institusi maupun dari investor ritel, yang salah satunya dipicu penurunan pajak bunga obligasi. (Yoga)


Separuh Investor Tak Wajib Bayar Bea Meterai

KT3 22 Feb 2022 Kompas

 BEI mencatat separuh lebih dari sekitar 7,7 juta investor pasar modal membukukan transaksi harian di bawah Rp 10 juta. Direktur Perdagangan dan Pengaturan Anggota Bursa BEI Laksono Widodo, Senin (21/2), menyatakan, transaksi bernilai hingga Rp 10 juta bebas bea meterai. Ketentuan itu diharapkan menjaga minat investor ritel tetap berinvestasi di pasar modal. (Yoga)