;
Tags

Investor

( 184 )

Investor Wajib Gandeng UMKM, Capai Kontrak Rp 22,6 Triliun

KT3 27 Jan 2023 Kompas

Pemerintah mewajibkan pengusaha besar untuk menggandeng pelaku UMKM lokal dalam rantai pasoknya untuk meningkatkan efek pengganda dari investasi terhadap ekonomi daerah. Kemitraan substantif itu diharapkan dapat mendorong UMKM untuk naik kelas dan menyerap lebih banyak tenaga kerja. Berdasarkan data Kementerian Investasi, sejak pertama diterapkan pada April 2021 sampai 2022, nilai kontrak kemitraan investor besar dengan UMKM lokal mencapai Rp 22,6 triliun dengan total 1.178 kesepakatan.

Deputi Bidang Pengembangan Iklim Penanaman Modal Kementerian Investasi Yuliot mengatakan, dengan mewajibkan investor besar bekerja sama dengan UMKM lokal, efek pengganda dari investasi yang masuk terhadap roda ekonomi daerah bisa lebih maksimal. Dengan demikian, investasi tidak hanya menguntungkan korporasi besar yang menanamkan modal serta mitra usahanya di ibu kota seperti praktik yang selama ini berlaku, tetapi juga menguntungkan pelaku usaha kecil di daerah tujuan investasi. ”Dampaknya, sepanjang 2022, UMKM mendapat tambahan omzet Rp 4,5 triliun dari investasi yang masuk. Selain menjadi modal untuk bertumbuh dan ekspansi, kerja sama itu juga membukakan pasar yang pasti bagi UMKM,” kata Yuliot, Kamis (26/1).  (Yoga)


Produk Reksa Dana Masih Diminati Investor

KT3 19 Jan 2023 Kompas

Otoritas Jasa Keuangan mencatat, jumlah investor di pasar modal mencapai 10,3 juta single investor identification (SID) hingga akhir 2022 atau tumbuh 37,53 % dari 2021. ”Bank-bank yang merupakan agen penjual reksa dana terus menjual produk reksa dana, seperti untuk nasabah wealth management,” kata Direktur Investasi Schroders Investment Management Indonesia Irwanti, Rabu (18/1). (Yoga)

PENERBITAN SBN : GALANG DANA INVESTOR RITEL DIMULAI

HR1 19 Jan 2023 Bisnis Indonesia

Aksi penggalangan dana investor ritel perdana 2023 dimulai pada hari ini, melalui penawaran instrumen Surat Berharga Negara (SBN) ritel yakni seri SBR012 dengan nilai pembelian maksimal Rp10 miliar. Berdasarkan laman resmi Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementrian Keuangan, Rabu (18/1), penawaran instrumen SBN ritel kali ini terdiri dari dua seri. Pertama, savings bond ritel (SBR) seri SBR012 tenor 2 tahun atau SBR012-T2 dengan kupon 6,15% per tahun. Kedua, SBR012 tenor 4 tahun atau SBR012-T4 dengan kupon 6,35% per tahun. Pemerintah menetapkan pembelian maksimal Rp5 miliar untuk SBR012-T2, dan Rp10 miliar untuk SBR012-T4. Kedua instrumen tersebut ditawarkan hingga 9 Februari 2023. Target penawaran SBR0012 T2 dan SBR0012 T4 senilai Rp10 triliun. “Target total Rp10 triliun,” kata Direktur Surat Utang Negara (SUN) DJPPR Kementerian Keuangan Deni Ridwan, kepada Bisnis, Rabu (18/1). Associate Director Fixed Income Anugerah Sekuritas Ramdhan Ario Maruto, menilai masyarakat usia muda akan lebih nyaman berinvestasi di SBR012-T2. Dengan membeli SBR012 tenor 2 tahun, dana investor hanya bisa dicairkan pada tahun pertama kepemilikan yakni 11 Maret 2024. Lalu, pencairan saat jatuh tempo pada tahun berikutnya yakni 10 Februari 2025.

Era Baru Perekonomian Global

HR1 03 Jan 2023 Bisnis Indonesia

Perekonomian global memasuki era baru. Era rezim suku bunga tinggi dan kelangkaan modal. Likuiditas global menurun, investor menyesuaikan kepemilikan asetnya (rebalancing portofolio chanel), mengalihkannya ke aset keuangan AS. Majalah ekonomi terkemuka yang berbasis di Inggris, The Economist, edisi 10—16 Desember 2022, menurunkan tulisan berjudul “The New Rules”. Tulisan tersebut dimulai dengan kalimat provokatif “welcome to the end of cheap money.” Likuiditas perbankan Emerging Market Economies (EMEs) menyusut. Likuiditas perbankan Indonesia tertinggi pada Januari 2022, sekitar Rp1.021,181 triliun menjadi Rp575,242 triliun pada September 2022. Suku bunga acuan The Fed, Federal Fund Rate (FFR) naik agresif karena tingginya inflasi AS. FFR naik dari 0,25%—0,50% pada Januari 2022 menjadi 4,25%—4,50% pada 14 Desember 2022. Tingkat inflasi AS dan Zona Euro (ZE) masih tinggi. Hal ini memberikan sinyal bahwa bank sentral AS, The Fed dan European Central Bank (ECB) akan menaikkan suku bunga hingga inflasi mendekati 2%, sesuai target kedua bank sentral. The Fed diperkirakan menaikkan FFR menjadi 4,75%—5,0% awal 2023. Sementara suku bunga ECB naik dari 0,5% pada Juli 2022 menjadi 2,5% pada 14 Desember 2022. Suku bunga ECB diperkirakan naik menjadi 3% awal tahun 2023.

Rezim suku bunga tinggi menyebabkan aktivitas ekonomi melambat. Profitabilitas perusahaan menyusut. Potensi earning perusahaan makin mengecil. Harga saham (stock prices) menurun. Sejalan dengan The Economist, era baru perekonomian global memerlukan aturan baru yang ditandai oleh: Pertama, meningkatnya ekspektasi return. Kenaikan suku bunga acuan (policy rate) menyebabkan harga aset turun, dan ekspektasi yield surat berharga meningkat. Kedua, rezim suku bunga tinggi membuat investor berorientasi jangka pendek. Investor tidak sabar menghadapi penurunan nilai sekarang dari pendapatannya yang akan datang. Ketiga, perubahan strategi investasi, switching dari public market ke private market.

Literasi Turun Kendati Investor Meningkat

KT3 25 Nov 2022 Kompas

Kendati jumlah investor terus bertambah, tingkat literasi keuangan di sektor pasar modal justru turun, yakni dari 4,97 % tahun 2019 menjadi 4,11 % pada 2022. Artinya, pemahaman tentang pasar modal justru menurun. Ketua Dewan Komisioner OJK Mahendra Siregar, Kamis (24/11) menyatakan, kolaborasi sejumlah pihak penting untuk mendongkrak literasi. (Yoga)

Investor Mulai Meminati Lelang SUN, Penawaran Capai Rp 30 T

HR1 23 Nov 2022 Kontan

Jelang akhir tahun, peminat lelang surat utang negara (SUN) mulai meningkat. Penawaran yang masuk di lelang SUN Selasa (22/11) senilai Rp 30,31 triliun. Angka ini lebih tinggi dari hasil penawaran dalam dua minggu lalu (8/11) yang mendapat penawaran sebesar Rp 22,99 triliun. Senior Vice President Henan Putihrai Asset Management Reza Fahmi Riawan mengatakan, hasil lelang kali ini lebih ramai karena data ekonomi domestik dan luar negeri yang lebih baik. Tak hanya itu, tren rupiah yang sedikit membaik juga menjadi katalis positif.

Investor Makin Gencar Sasar Sektor ESG

KT3 22 Nov 2022 Kompas

Seiring tuntutan global akan ekonomi hijau dan berkelanjutan, investasi semakin gencar menyasar perusahaan-perusahaan yang mengedepankan prinsip lingkungan, sosial, dan tata kelola atau environmental, social, and governance/ESG, termasuk dari perusahaan modal ventura. Ke depan, prinsip keberlanjutan diharapkan menjaga stabilitas perusahaan di tengah dinamika ekonomi global. Senior Investment Associate at East Venture Gavin Adrian, dalam Kompas CEO On Stage bertajuk ”Investing with Purpose” di kampus Fakultas Teknik, UI, Depok, Jabar, Senin (21/11) mengatakan, pihaknya terus menggenjot investasi di sektor itu, misalnya pada bidang climate tech atau  perusahaan teknologi terkait pengurangan emisi.

 ”Bagaimana agar portofolio atau framework-nya diarahkan ke arah sana, terutama untuk growth stage company atau yang sudah lebih lanjut. East Ventures, imbuh Gavin, telah menjadi platform yang melakukan investasi ke perusahaan-perusahaan digital atau rintisan. Tidak hanya pada early stage, tetapi juga pada tahap tumbuh dan maju. Saat ini, investasi sudah diberikan kepada lebih dari 250 perusahaan di Asia Tenggara, mayoritas berada di Indonesia. Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis UI Teguh Dar-tanto menuturkan, investasi perlu perencanaan dan tujuan matang serta jelas, bukan sekadar ikut-ikutan atau Fear Of Missing Out (FOMO). (Yoga)


Investor Bisa Garap Kawasan Konservasi

KT3 18 Nov 2022 Kompas

KKP membuka peluang investasi pada kawasan-kawasan konservasi. Investasi dilakukan melalui kerja sama dan kemitraan. Dirjen Pengelolaan Ruang Laut (Dirjen PRL), KKP Victor Gustaaf Manoppo mengemukakan, terbuka peluang investasi melalui kerja sama dan kemitraan untuk mengelola kawasan konservasi pada enam zona penangkapan ikan berbasis kuota. Kemitraan itu termasuk melibatkan masyarakat pesisir untuk mengelola dan memelihara kawasan konservasi. ”Investasi melalui kerja sama dan kemitraan di kawasan konservasi akan memberikan lapangan kerja bagi masyarakat lokal untuk meningkatkan kesejahteraan dan pendanaannya diperuntukkan bagi pengembangan dan penggunaan operasional teknologi pemantauan laut,” ujar Victor dalam keterangan pers, Kamis (17/11). Victor menambahkan, pembiayaan campuran untuk pengelolaan kawasan konservasi merupakan skema pembiayaan optimal dengan mengombinasikan beberapa sumber pendanaan dalam suatu proyek, seperti anggaran pemerintah, pihak swasta, dan donor. Pembiayaan tersebut juga dapat diwujudkan dalam bentuk fasilitas hibah dan obligasi biru dalam rangka implementasi ekonomi biru berkelanjutan di Indonesia.

Indonesia menargetkan luas kawasan konservasi menjadi 30 % total wilayah laut pada tahun 2045. Adapun total luas lautan teritorial Indonesia berkisar 327 juta hektar. Dengan ekspansi kawasan konservasi itu, potensi penambahan karbon biru mangrove dan lamun sebesar 188 juta ton karbon, serta nilai aset laut yang terlindungi berkisar 21,5 miliar USD. Per semester I-2022, luas kawasan konservasi perairan Indonesia 28,4 juta hektar. Hingga tahun 2030, pemerintah menargetkan luas konservasi perairan seluas 32,5 juta hektar. Sekretaris Ditjen Pengelolaan Ruang Laut KKP Hendra Yusran Siry, dalam Forum Konsultasi Publik Perizinan Terpadu Satu Pintu, Rabu (16/11), mengemukakan, saat ini terdapat total 79 kawasan konservasi nasional dan daerah. Dari jumlah tersebut, kawasan konservasi yang dibuka untuk izin pemanfaatan yakni 61 kawasan konservasi, terdiri dari 10 kawasan konservasi nasional dan 51 kawasan konservasi daerah. Standar penerbitan izin berjumlah 17 hari. Izin pemanfaatan itu mencakup penyediaan infrastruktur pariwisata alam perairan (PAP), penyediaan sarana dan/atau penyewaan peralatan dan jasa pariwisata alam perairan, serta penempatan infrastruktur lainnya. (Yoga)


Perkuat Modal, Jasa Marga Dekati Investor Potensial

KT3 14 Nov 2022 Investor daily

PT Jasa Marga (Persero) Tbk (JSMR) tengah menjajaki berbagai model penggalangan dana untuk memperkuat struktur modal perseroan. Terbaru, emiten jalan tol ini sedang mendekati investor potensial terkait status anak usahanya, PT Jasamarga Transjawa Tollroad (JTT), yang telah melakukan pemisahan (spin off). Corporate Communication and Community Development Group Head Jasa Marga Lisye Octaviana mengungkapkan, sampai saat ini perseroan belum bisa memastikan opsi pendanaan yang dipilih apakah dalam bentuk penawaran umum perdana (Initial Public Offering/IPO) saham atau yang lainnya, karena masih dalam pembahasan direksi, komisaris, dan Kementerian BUMN.

Jika pun IPO, perlu dilihat terlebih dahulu potensi pasarnya. Karena itu, proses cek pasar dan sosialisasi masih terus berjalan. Perseroan juga terus berdiskusi secara intensif dengan para investor relation dan analis. “Bahkan, direksi kami sedang ikut rombongan bersama Kementerian BUMN untuk berbicara dengan investor potensial, harus dilihat dulu. Jadi, saya tidak bisa mendahului dengan mengatakan IPO, tetapi masih multifinancing,” jelas Lisye menjawab Investor Daily, baru-baru ini. Yang pasti, bisnis JTT ini menarik bagi para investor. (Yoga)


Inflasi Mereda, Investor Tetap Menunggu Powell Pivot

KT3 11 Nov 2022 Investor daily

Indeks harga konsumen (IHK) di AS tetap naik pada Oktober 2022, namun di bawah perkiraan kalangan ekonom. Data inflasi Oktober ini memberi indikasi bahwa walau masih menjadi ancaman bagi ekonomi AS, tekanan inflasi mulai mereda. Menurut rilis Biro Statistik Tenaga Kerja AS, Kamis, IHK di AS naik 0,4% pada Oktober 2022 dan 7,7% dibandingkan tahun lalu. Kalangan ekonom yang disurvei Dow Jones memprediksikan kenaikan masing -masing 0,6% dan 7,9%. Jika tidak memasukkan biaya makanan dan energi, inflasi inti di AS naik 0,3% pada Oktober dan 6,3% secara tahunan. Dibandingkan perkiraan masing-masing sebesar 0,5% dan 6,5%. Penurunan 2,4% harga kendaraan bekas juga membantu turunnya angka inflasi. Harga pakaian turun 0,7% dan layanan perawatan medis turun 0,6%. Pasar bereaksi tajam terhadap laporan tersebut. Indeks industrial Dow Jones naik lebih dari 800 poin.

Sedangkan imbal hasil Treasury turun tajam jatuh 0,22 poin persentase menjadi 4,41%. “Tren inflasi adalah perkembangan yang disambut baik, jadi itu berita bagus dalam hal laporan. Namun, investor masih mudah tertipu dan mereka masih tidak sabar menunggu poros Powell, dan saya tidak yakin itu akan datang dalam waktu dekat. Jadi saya pikir antusiasme pagi ini sedikit berlebihan,” kata Michael Arone, kepala strategi investasi di State Street Global Advisors, seperti dikutip CNBC. Powell pivot mengacu pada ekspektasi pasar bahwa Gubernur The Federal Reserve Jerome Powell dan koleganya di The Fed akan segera memperlambat atau menghentikan laju agresif kenaikan suku bunga. Yang telah mereka terapkan untuk mencoba menurunkan inflasi. Bahkan dengan perlambatan tingkat inflasi itu, masih tetap jauh di atas target 2% Fed. (Yoga)