Investor
( 183 )Realisasi Investasi Terjaga di Level Tertinggi
Realisasi investasi Indonesia pada kuartal 1-2025 tetap terjaga di level yang tinggi, sehingga menumbuhkan optimisme bahwa terget investasi tahun ini masih bisa dicapai meski ketidakpastian ekonomi global kian meningkat. Selama tiga bulan pertama 2025, realisasi investasi mencapai Rp 465,2 triliun, meningkat 15,9% secara year on year (yoy) atau hanya turun tipis dari pertumbuhan kuartal 1-2023 yang di level 16,5% dan turun sekitar 5% poin dari kuartal 1-2424 yang dilevel 22,1%. Bahkan, realisasi investasi selama kuartal 1-2025 itu setara dengan 24,4% total target realisasi investasi secara keseluruhan pada tahun ini yang ditetapkan sebesar Rp1.905,6 triliun. Proporsi pencapaian ini lebih besar dari proporsi pencapaian realisasi investasi kuartal 1-2024 yang hanya sebanyak 23,5% dari target. Tahun lalu, target realisasi investasi ditetapkan sebesar Rp 1.650 triliun. Namun demikian, jumlah pihak mengingatkan, optimisme itu harus tetap dibarengi upaya serius penyelesaian sejumlah pekerjaan umum (PR) seperti kepastian hukum dan iklim investasi yang kondusif. Pemerintah pun perlu mempercepat realisasi proyek strategis nasional. Semua ini dibutuhkjan ditengah ketidakpastian global yang meningkat menyusul penerapan tarif impor resiprokal oleh Presiden AS Donald Trump. Selain itu, realisasi penanaman modal asing (PMA) yang hanya sebesar Rp230,4 triliun atau 49,5% dari total investasi dengan pertumbuhan hanya 12,7% (yoy) bisa dilihat sebagai bentuk penurunan kepercayaan asing terhadap iklim investasi di Indonesia. (Yetede)
BCA Fokus Jaga Kinerja Fundamental
Terjaganya Pasar Surat Utang di Tengah Volatilitas Bursa Saham
Pasar surat utang atau obligasi di Indonesia masih positif, karena terjaganya minat investasi dan kualitas surat utang yang diterbitkan di awal 2025. Investor saham beralih ke aset investasi rendah risiko, surat utang dapat lebih diminati pasar dengan potensi penurunan suku bunga hingga akhir tahun ini. Kepala Divisi Riset Ekonomi PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) Suhindarto melaporkan, setidaknya dari pasar obligasi korporasi, pertumbuhan positif dari segi penerbitan utang masih terjadi. Secara nasional, selama triwulan I-2025, ada pertumbuhan nilai penerbitan 77,4 % obligasi korporasi ketimbang periode tahun lalu menjadi Rp 46,75 triliun. ”Kami memproyeksikan, nilai penerbitan surat utang korporasi baru pada 2025 akan berkisar Rp 139,29 triliun hingga Rp 155,43 triliun, dengan titik tengah pada Rp 143,91 triliun,” katanya dalam konferensi pers Pefindo Januari-Maret 2025 secara daring, Selasa (15/4).
Penerbitan surat utang pemerintah, dalam bentuk Surat Berharga Negara (SBN) dan Sekuritas Rupiah BI (SRBI) masih positif. Mengutip data pemerintah, selama Januari-Maret 2025, pemerintah juga sudah menerbitkan SBN neto sebesar Rp 282,6 triliun, lebih tinggi daripada penerbitan periode sama di 2024 di Rp 104 triliun. BI juga telah menerbitkan SRBI senilai Rp 150 triliun. ”Obligasi masih menarik untuk investor, apalagi di tengah ketidakpastian, di mana pasar saham sangat volatil. Orang akhirnya akan mengalihkan investasinya ke instrumen yang lebih aman, seperti obligasi pemerintah. Obligasi akan jadi instrumen menarik karena lebih aman. Daya tariknya kemungkinan lebih baik dibanding instrumen saham tahun ini,” tutur Suhindarto. (Yoga)
Mengokohkan Pasar Saham dan Memperbesar Kekuatan Investor Domestik
Kemampuan investor dalam negeri menjaga keberlangsungan pasar saham tengah diuji oleh gejolak ekonomi dan politik global. Pemerintah dan pemangku kepentingan perlu mendorong partisipasi investor domestik dan menjaga stabilitas ekonomi demi menopang kinerja pasar modal. Dirut Bursa Efek Indonesia (BEI) Iman Rachman, dalam diskusi daring bertajuk ”Trump Trade War: Menyelamatkan Pasar Modal, Menyehatkan Ekonomi Indonesia”, Jumat (11/4) menyebut, pasar saham Indonesia telah ditinggalkan banyak investor asing yang mayoritas institusi setidaknya sejak awal 2025. Hingga Kamis (10/4), investor asing telah melakukan penjualan bersih saham senilai Rp 35 triliun, hampir setengahnya dilakukan di Februari 2025. Akibatnya, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun 11 % dengan posisi akhir di kisaran 6.200.
Kebijakan perang dagang Presiden AS, Donald Trump, yang dilantik 20 Januari lalu, menjadi katalis besar anjloknya pasar saham RI. Pada hari itu, investor domestic membeli kembali saham yang dijual, dengan pembelian bersih sekitar Rp 3,9 triliun oleh investor ritel domestik dan sekitar Rp 1 triliun oleh investor institusi dalam negeri. ”Jadi, kita bisa lihat bahwa ternyata likuiditas, penopang utama pada 8 April, ketika hari pertama perdagangan setelah Idul Fitri itu adalah investor ritel domestik,” ungkap Iman. Kemampuan investor dalam negeri membeli saham juga terlihat pada Kamis (10/4), di mana investor institusi domestik melakukan pembelian bersih senilai Rp 1,75 triliun. Sementara aksi jual beli investor asing berkurang menjadi Rp 750 miliar sehingga IHSG terpompa naik 5 %. Dalam kondisi ini, investor domestik ritel banyak yang mengambil untung sehingga ada penjualan bersih sebesar Rp 1,56 triliun.
Meningkatnya kepercayaan investor domestik, bukan hanya karena harga saham sudah lebih rendah dari nilai kinerja perusahaannya (undervalued), tetapi juga karena kebijakan responsif yang dibuat BEI dan OJK seperti relaksasi pembelian kembali saham atau buyback oleh perusahaan untuk menahan penjualan saham oleh publik, yang diberlakukan 18 Maret 2025. Untuk mencegah kepanikan pasar, ada aturan mengenai penghentian perdagangan sementara (trading halt) menjadi 8 % hingga penyesuaian batas auto rejection bawah (ARB) 15 % untuk menjaga keseimbangan antara perlindungan pasar dan efisiensi serta likuiditas pasar. Untuk jangka panjang, otoritas bursa juga menyiapkan strategi diversifikasi produk, seperti Single Stock Future, ETF, hingga ETF Gold untuk mengurangi ketergantungan terhadap saham konvensional. (Yoga)
Investor Beralih ke Cash, Saham Mulai Mengecewakan
Investor Beralih ke Cash, Saham Mulai Mengecewakan
Respons dan siasat para Investor Ritel menghadapi Anjloknya IHSG
IHSG
anjlok hingga 6,12 % pada 18 Maret 2025, memicu ”trading halt”. Meski sempat
pulih, pasar saham masih melemah. Berikut respons dan siasat para investor
ritel menghadapi kondisi tersebut : “Penurunan IHSG belakangan ini berdampak besar
pada portofolio saya. Sebulan lalu, saat Danantara dibentuk, saya menjual rugi saham
bank-bank BUMN dan mengalihkan investasi ke sektor swasta. Jika tren ini berlanjut,
saya akan mengamankan dana dalam bentuk tunai sambil menunggu stabilitas pasar.
Setelah investor asing kembali masuk, baru saya mempertimbangkan membeli saham
lagi,” ujar Nico Himawan (28), pekerja swasta di Pekalongan, Jateng.
“Saya
berinvestasi saham jangka panjang, jadi saat IHSG anjlok, saya tidak cut loss
dan justru menambah sedikit demi sedikit dengan strategi dollar cost averaging.
Meski tren penurunan IHSG memengaruhi portofolio, saya tetap mempertahankan
saham, termasuk yang fundamentalnya kurang baik, sambil diversifikasi ke aset
lain, ujar Yuliana Jemie, pebisnis UMKM asal Pontianak, Kalbar. Menurut Sem
(28) karyawan swasta di Jakarta, “Untuk mengantisipasi penyusutan nilai saham, saya
mulai mengalihkan dana ke emas dan deposito, yang dinilai lebih aman dan menguntungkan.
Ketidakpastian kebijakan setiap pergantian presiden membuat investor ragu.
Pemerintah perlu menciptakan kebijakan yang stabil dan berkelanjutan agar
investor percaya, termasuk menunjukkan komitmen dengan menindak tegas
koruptor.” (Yoga)
Respons dan siasat para Investor Ritel menghadapi Anjloknya IHSG
IHSG
anjlok hingga 6,12 % pada 18 Maret 2025, memicu ”trading halt”. Meski sempat
pulih, pasar saham masih melemah. Berikut respons dan siasat para investor
ritel menghadapi kondisi tersebut : “Penurunan IHSG belakangan ini berdampak besar
pada portofolio saya. Sebulan lalu, saat Danantara dibentuk, saya menjual rugi saham
bank-bank BUMN dan mengalihkan investasi ke sektor swasta. Jika tren ini berlanjut,
saya akan mengamankan dana dalam bentuk tunai sambil menunggu stabilitas pasar.
Setelah investor asing kembali masuk, baru saya mempertimbangkan membeli saham
lagi,” ujar Nico Himawan (28), pekerja swasta di Pekalongan, Jateng.
“Saya
berinvestasi saham jangka panjang, jadi saat IHSG anjlok, saya tidak cut loss
dan justru menambah sedikit demi sedikit dengan strategi dollar cost averaging.
Meski tren penurunan IHSG memengaruhi portofolio, saya tetap mempertahankan
saham, termasuk yang fundamentalnya kurang baik, sambil diversifikasi ke aset
lain, ujar Yuliana Jemie, pebisnis UMKM asal Pontianak, Kalbar. Menurut Sem
(28) karyawan swasta di Jakarta, “Untuk mengantisipasi penyusutan nilai saham, saya
mulai mengalihkan dana ke emas dan deposito, yang dinilai lebih aman dan menguntungkan.
Ketidakpastian kebijakan setiap pergantian presiden membuat investor ragu.
Pemerintah perlu menciptakan kebijakan yang stabil dan berkelanjutan agar
investor percaya, termasuk menunjukkan komitmen dengan menindak tegas
koruptor.” (Yoga)
Kepercayaan Investor Perlu Dijaga
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG)
pada Kamis (20/3) ditutup menguat 1,11 % ke level 6.381 dibandingkan perdagangan
hari sebelumnya. Nilai penjualan bersih saham oleh investor asing tercatat Rp
499 miliar. Aksi jual saham oleh investor asing mulai mereda, dari Rp 2,5
triliun pada Selasa (18/3) menjadi Rp 910 miliar pada Rabu (19/3). Tekanan jual
yang deras pada Selasa lalu sempat membuat IHSG terperosok hingga minus 6 % ke
level 6.076 pada sesi pertama perdagangan. Akibatnya, bursa harus menghentikan
perdagangan sementara atau trading halt, sesuai regulasi yang diberlakukan
sejak pandemi Covid-19.
Meskipun IHSG kini berangsur pulih,
pengamat pasar modal, Alfred Nainggolan, menilai, pemerintahan baru perlu memberikan
perhatian lebih terhadap dinamika pasar modal. Dalam dua dekade terakhir, pasar
modal Indonesia telah berkembang pesat dan menjadi pilar penting dalam pendanaan
pembangunan ekonomi, berdampingan dengan sektor perbankan. Kesadaran masyarakat
terhadap investasi juga semakin meningkat. ”Jangan sampai ini pupus karena
pasar tidak merasakan kehadiran pemerintah,” ujarnya. Merespons koreksi pasar
saham yang terjadi, pemerintah perlu bertindak cepat dalam menangani isu-isu
besar terkait ekonomi, politik, dan pasar modal. Penurunan harga saham yang signifikan
mencerminkan kekhawatiranpasar terhadap stabilitas ekonomi dan politik. (Yoga)
Kepercayaan Investor Perlu Dijaga
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG)
pada Kamis (20/3) ditutup menguat 1,11 % ke level 6.381 dibandingkan perdagangan
hari sebelumnya. Nilai penjualan bersih saham oleh investor asing tercatat Rp
499 miliar. Aksi jual saham oleh investor asing mulai mereda, dari Rp 2,5
triliun pada Selasa (18/3) menjadi Rp 910 miliar pada Rabu (19/3). Tekanan jual
yang deras pada Selasa lalu sempat membuat IHSG terperosok hingga minus 6 % ke
level 6.076 pada sesi pertama perdagangan. Akibatnya, bursa harus menghentikan
perdagangan sementara atau trading halt, sesuai regulasi yang diberlakukan
sejak pandemi Covid-19.
Meskipun IHSG kini berangsur pulih,
pengamat pasar modal, Alfred Nainggolan, menilai, pemerintahan baru perlu memberikan
perhatian lebih terhadap dinamika pasar modal. Dalam dua dekade terakhir, pasar
modal Indonesia telah berkembang pesat dan menjadi pilar penting dalam pendanaan
pembangunan ekonomi, berdampingan dengan sektor perbankan. Kesadaran masyarakat
terhadap investasi juga semakin meningkat. ”Jangan sampai ini pupus karena
pasar tidak merasakan kehadiran pemerintah,” ujarnya. Merespons koreksi pasar
saham yang terjadi, pemerintah perlu bertindak cepat dalam menangani isu-isu
besar terkait ekonomi, politik, dan pasar modal. Penurunan harga saham yang signifikan
mencerminkan kekhawatiranpasar terhadap stabilitas ekonomi dan politik. (Yoga)
Pilihan Editor
-
TRANSISI ENERGI : JURUS PAMUNGKAS AMANKAN EBT
26 Dec 2023 -
Ekspansi Nikel Picu Deforestasi 25.000 Hektar
14 Jul 2023






