;
Tags

Investor

( 183 )

Perubahan Indeks MSCI Disorot Investor

HR1 08 Nov 2024 Kontan
Hasil evaluasi Morgan Stanley Capital International (MSCI) untuk indeks Global Standard, Small Cap, dan Micro Cap Index menunjukkan rotasi yang memengaruhi tiga saham di Bursa Efek Indonesia (BEI). PT Avia Avian Tbk (AVIA) masuk ke dalam MSCI Indonesia Small Cap Index, sementara PT Bank BTPN Syariah Tbk (BTPS) dan PT Surya Citra Media Tbk (SCMA) dikeluarkan dari indeks tersebut. Perubahan ini akan berlaku efektif pada 26 November 2024.

Menurut Budi Frensidy, pengamat pasar modal dari Universitas Indonesia, peningkatan likuiditas dan kinerja fundamental AVIA yang solid menjadi faktor utama masuknya emiten cat milik taipan Surabaya Hermanto Tanoko ini ke dalam indeks MSCI. Dampaknya, saham AVIA melonjak 4,34% menjadi Rp 505 pada perdagangan 7 November 2024.

Founder Stocknow.id, Hendra Wardana, menambahkan bahwa rotasi ini menarik perhatian investor asing. Meski AVIA sempat mencatat aksi jual asing pekan lalu, prospek pembelian kembali oleh investor institusi asing menjadi lebih besar setelah masuknya saham ini ke MSCI. Sebaliknya, BTPS dan SCMA menghadapi tekanan jual jangka pendek karena investor yang berorientasi pada indeks MSCI kemungkinan akan mengurangi kepemilikan mereka.

Masuknya AVIA ke MSCI Indonesia Small Cap mencerminkan kinerja fundamental yang kuat dan prospek pertumbuhan di sektor konstruksi. Menurut Budi Frensidy, perubahan ini dapat meningkatkan minat investor asing dan domestik pada saham AVIA. Sebaliknya, keluarnya BTPS dan SCMA dari MSCI menciptakan tekanan jual jangka pendek, tetapi kedua saham ini tetap memiliki prospek jangka panjang yang menarik menurut Hendra Wardana. Rebalancing indeks MSCI menunjukkan pentingnya evaluasi kinerja fundamental dan likuiditas dalam menarik perhatian investor institusi.

Menguatkan Kepercayaan Investor di Tengah Tantangan Ekonomi

HR1 01 Nov 2024 Bisnis Indonesia

Pemerintahan Kabinet Merah Putih yang dipimpin oleh Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka telah memulai langkah-langkah signifikan dalam menghadapi tantangan ekonomi, dengan fokus pada sektor riil dan pasar keuangan. Meskipun baru dua pekan menjabat, Presiden Prabowo sudah melakukan konsolidasi pemerintahan dengan rapat-rapat terbatas guna merumuskan langkah-langkah strategis. Salah satu perhatian utama adalah penyelamatan perusahaan tekstil besar, PT Sritex, yang menghadapi masalah gagal bayar utang, yang menunjukkan upaya nyata pemerintah untuk mendukung industri yang menjadi tulang punggung ekonomi nasional.

Di pasar keuangan, arus investasi asing menunjukkan optimisme terhadap prospek ekonomi Indonesia, dengan pembelian Surat Utang Negara (SUN) yang mencapai rekor tertinggi sejak 2017. Hal ini mencerminkan kepercayaan investor terhadap stabilitas ekonomi Indonesia, yang juga didorong oleh laporan keuangan positif dari sejumlah emiten besar, seperti bank-bank negara. Meski demikian, pelaku pasar tetap mengharapkan terobosan dan inovasi dari kabinet baru untuk memperkuat iklim investasi, mengingat tantangan terkait koordinasi dan birokrasi antar kementerian yang masih perlu diselesaikan.

Dengan mempertahankan figur-figur kunci seperti Sri Mulyani Indrawati sebagai Menteri Keuangan, pemerintahan Prabowo diharapkan dapat menjaga kepercayaan pasar dan terus menarik lebih banyak investasi. Keberhasilan kabinet dalam menjaga stabilitas politik dan ekonomi akan menjadi faktor penting dalam memastikan prospek ekonomi Indonesia yang positif di masa depan.


Lender Investree Mengharapkan Pengembalian Dana

KT3 25 Oct 2024 Kompas
Para investor alias lender PT Investree Radhika Jaya mengharapkan kepastian pengembalian dana atas kasus gagal bayar yang telah terjadi selama dua tahun terakhir. Saat ini, Otoritas Jasa Keuangan telah meminta Investree untuk membentuk tim likuidasi guna memenuhi hak dan kewajiban terhadap pihak-pihak terkait. Sebagai perusahaan peer to peer lending atau fintech lending, Investree memiliki skema pembiayaan yang mempertemukan antara pemberi pinjaman (lender) dan peminjam (borrower) dalam satu platform digital. Sejak berdiri pada 2015, Investree telah menyalurkan pembiayaan senilai Rp 14,43 triliun. Christoper (32), pekerja swasta, masih menanti kepastian pengembalian dana Rp 154,6 juta yang disetorkannya ke Investree. Ia pertama kali mengenal platform tersebut pada 2018 dari informasi yang disebarkan teman-temannya.

”Awalnya uang yang saya tempatkan memang kembali dan saya dapat keuntungan dari situ. Cukup menjanjikan rasanya dibanding instrumen investasi lainnya. Lebih kurang total dana yang saya masukkan mencapai Rp 500 juta. Memasuki tahun 2020, mulai ada kendala pembayaran,” katanya saat dihubungi dari Jakarta, Rabu (23/10/2024). Sebagai salah satu pendana individu, Christoper memaklumi adanya keterlambatan pembayaran hasil pendanaannya tersebut. Namun, pada 2022, tampak mulai ada gelagat mencurigakan dari platform fintech lending tersebut. Ketika mengontak pihak Investree untuk meminta kepastian akan dana investasinya, Christoper selalu menerima jawaban yang sama, yakni terdapat masalah kontrak dan ia diminta menunggu penagihan dari Investree terhadap penerima pinjaman. Hingga 909 hari terlewati, Christoper tidak kunjung mendapatkan kepastian atas investasinya senilai Rp 154,6 juta.

Sejauh ini, Christoper bersama dengan para lender yang tergabung dalam sebuah grup merasa masih minim informasi lantaran alamat surat elektronik dan nomor telepon Investree tidak lagi aktif. Ia pun kini berpangku kepada Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dalam penyelesaian kasus tersebut ”Saat ini, saya berharap uang saya bisa kembali. Harusnya ada likuidasi, penjualan aset atau sisa aset Investree yang dijual. Jangan sampai ini menjadi seperti kasus-kasus lain, misal Jiwasraya,” ujarnya. Christoper juga berharap pengusutan kasu Investree tidak lantas menjadi konflik kepentingan mengingat CEO Investree Adrian Asharyanto Gunadi pernah menjabat Ketua Umum Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI). Adrian menduduki posisi tersebut pada periode 2020-2023. Tidak hanya Christoper, sejumlah lender Investree lainnya pun turut merasakan keresahan serupa. (Yoga)

RI Berhasil Menarik Investor di Sektor TIK

KT1 08 Oct 2024 Investor Daily

 Perkembangan sektor teknologi informasi dan komunikasi (TIK) dan digitalisasi di Tanah Air telah menarik banyak minat investor, baik lokal maupun asing. Pada 2023 saja, Indonesia telah berhasil menarik investor untuk menanam modal pada sektor TIK sekitar US$ 22 miliar. Sementara itu, subsektor yang paling banyak diminati terdiri atas investasi pada pusat data (data center), sistem pembayaran, dan infrastruktur TIK. Menteri Komunikasi dan Informatikan Budi  Arie Setiadi mengatakan, pelaku indstri di Tanah Air harus melihat hal tersebut sebagai potensi untuk terus mengembangkan  sector TIK serta terus menerus melakukan berbagai inovasi demi menarik minat investor.

Bahkan, pemerintah terus mendorong pemanfaatan inovasi bisnis untuk meningkatkan peluang sektor digital nasional. “Saya berharap Kadin Indonesia juga pelaku industry dapat meningkatkan nilai tambah Indonesia dalam rantai pasok global. Ini guna memperkuat upaya bersama dalam mewujudkan transformasi digital menuju Indonesia Emas 2045,” ungkap Budi Arie.  Menurut dia, perkembangan teknologi yang pengembangannya, penerapan praktis, atau keduanya yang masih belum terwujud (emerging technologies) yang juga membuka banyak peluang inovasi dan investasi. Sebagai contoh, pengembangan teknologi 4G Advance yang memungkinkan ultra reliable law latency communication hingga artificial intelegence (AI) untuk produktivitas dan efisiensi proses bisnis. (Yetede)

Kenaikan jumlah investor di pasar modal

KT3 28 Sep 2024 Kompas (H)
Bursa Efek Indonesia mencatatkan kenaikan jumlah investor di pasar modal. Sebanyak 744.000 investor baru masuk ke pasar modal Indonesia sejak awal tahun 2024. Mayoritas dari mereka adalah generasi produktif di bawah usia 40 tahu yang semakin melek keuangan dan investasi. Investor baru tersebut kini menggenapi 6 juta investor pemilik single investor identification (SID) per Rabu (25/9/2024)Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) Iman Rachman menyampaikan, kondisi pertumbuhan investor saham ini mengindikasikan keyakinan investasi di pasar modal Indonesia yang masih cukup terjaga meski di tengah situasi ekonomi global dan domestik yang dipenuhi ketidakpastian. ”Partisipasi investor ritel masih terjaga dengan secara keseluruhan investor domestik masih menguasai, baik dari segi kepemilikan maupun transaksi,” ujarnya, Jumat (27/9).

Sampai dengan Agustus 2024, investor lokal masih mendominasi kepemilikan saham di BEI dengan persentase 51,5 persen berbanding 48,5 persen porsi kepemilikan investor asing. Kepemilikan investor individu juga masih dominan daripada investor institusi dengan persentase 53,3 persen. Investor individu didominasi investor berumur kurang dari 40 tahun dengan 55,07 persen di antaranya berusia 30 tahun atau kurang 0 tahun. Berdasarkan kepemilikan aset, investor usia 30 tahun ke bawah per Agustus 2024 memiliki aset di saham dan surat berharga mencapai Rp 37,72 triliun. Adapun investor usia 31-40 tahun memiliki total aset lebih banyak, yakni Rp 226,74 triliun. 

Direktur Pengembangan BEI Jeffrey Hendrik menambahkan, BEI berkomitmen untuk terus mengembangkan pasar modal Indonesia dengan memberikan edukasi dan sosialisasi bagi masyarakat luas, termasuk generasi muda. ”Regenerasi investor di pasar modal kita menunjukkan angka yang sangat baik. Hal ini menunjukkan bahwa anakmuda semakin melek keuangan dan investasi, dan diharapkan menjadi fondasi yang kuat bagi pasar modal dan perekonomian Indonesia,” kata Jeffrey. BEI dan segenap otoritas di pasar modal, lanjutnya, terus menginisiasi peningkatan literasi keuangan masyarakat, salah satunya melalui Sekolah Pasar Modal (SPM), baik daring maupun luring, untuk umum atau institusi dan komunitas. BEI juga mendirikan Galeri Investasi (GI) di sejumlah universitas dan anggota bursa di seluruh Indonesia. Kampanye#AkulnvestorSaham juga menjadi bagian penting dari strategi BEI dalam meningkatkan literasi dan inklusi keuangan, terutama di kalangan investor lokal. (Yoga)

Panjang Jalan Tol Dikurangi Demi Menarik Investor

HR1 27 Sep 2024 Kontan

Tidak semua proyek jalan tol di Indonesia berjalan mulus. Pasalnya, ada sejumlah lelang jalan tol yang ternyata belum dilirik investor. Inilah yang membuat Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) melelang ulang beberapa proyek jalan tol lantaran gagal mendapatkan investor. Dari dokumen lelang Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) Kementerian PUPR, setidaknya ada tiga jalan tol yang dilelang ulang. Ketiga jalan bebas hambatan itu adalah ruas tol Sentul Selatan-Karawang Barat, tol Gedebage-Tasikmalaya-Ciamis dan tol Gilimanuk-Mengwi. "Masih dalam evaluasi untuk lelang kembali atau lelang ulang," ungkap Tulus Abadi, Anggota BPJT dari Unsur Masyarakat kepada KONTAN, Kamis (26/9). Untuk proyek tol Gilimanuk-Mengwi sepanjang 96,84 kilometer, biaya pembangunannya membengkak dari Rp 24,6 triliun menjadi Rp 25,4 triliun. Berikutya proyek tol Gedebage Tasikmalaya-Ciamis (Getaci) kembali ditender ulang. Pasalnya, dua konsorsium yang berminat membangun tol tersebut ternyata tidak lolos prakualifikasi. 

Dus, secara teknis jalan tol Getaci batal menjadi jalan tol terpanjang di Indonesia. Jadi, mengacu data BPJT, ruas jalan tol Getaci hanya akan terbentang sepanjang 108,3 kilometer dengan nilai investasi Rp 37,64 triliun. Setali tiga uang, jalan tol Sentul Selatan-Karawang Barat juga kembali dilelang ulang setelah gagal mendapatkan investor pada lelang sekitar Februari 2022. Jalan tol sepanjang 61,5 km ini menelan investasi Rp 15,37 triliun. Pengamat Infrastruktur dari Universitas Trisakti, Yayat Supriatna menilai investor tertarik terhadap proyek jalan tol karena dua hal. Pertama, terkait bangkitan lalu lintas dari jalan tol tersebut. Kedua , daya beli masyarakat alias kemampuannya dalam membayar tarif tol. Syarat lainnya, pemerintah daerah juga dituntut berkontribusi untuk bisa membuat pengembangan kawasan ekonomi baru di koridor jalan tol.

Investor Incar Global Bond dengan Imbal Hasil Tinggi

HR1 10 Sep 2024 Kontan (H)

Di tengah tumpukan utang yang menggunung, pemerintah nampaknya perlu mencari dana untuk membayar utang. Penerbitan Surat Utang Negara (SUN) jadi pilihan. Terbaru, pemerintah mengeluarkan SUB dalam denominasi mata uang asing ( dual currency ) yakni dolar AS (USD) dan SUN Sustainable Development Goals (SDG) dalam euro (EUR) Rabu (4/9) lalu. Nilai penerbitan masing-masing US$ 1,8 miliar dan 750 juta. Dalam rupiah, total nilai penerbitan sekitar Rp 40 triliun. Global bond itu tiga tenor, yakni 8 tahun, 10 tahun, dan 30 tahun. Masing-masing kuponnya 3,65%, 4,75% dan 5,15%. Catatan Kementerian, posisi utang pemerintah di era Jokowi mencapai Rp 8.502,69 triliun pada akhir Juli 2024. Adapun total utang jatuh tempo di 2025 Rp 800,33 triliun. Kepala Ekonom Bank Central Asia (BCA), David Sumual mencermati penerbitan surat utang di tengah kenaikan utang memang berisiko. Salah satunya risiko refinancing. Jika dibandingkan dengan negara peers seperti Malaysia dan Thailand, secara historis negara-negara itu menawarkan yield yang lebih rendah dari Indonesia. Adapun SUN tenor 10 tahun, David memprediksi akan ada di kisaran 6,2%-7% di akhir 2024. 

"Secara keseluruhan profil utang masih cukup aman seiring dengan kondisi ekonomi yang cukup terjaga, tercerminkan dari penilaian S&P dan Fitch yang tetap mempertahankan peringkat kredit Indonesia pada BBB dengan outlook stabil," kata David kepada KONTAN, Senin (9/9). Sementara itu Direktur & Chief Investment Officer Fixed Income Manulife Aset Manajemen Indonesia Ezra, Nazula mengatakan, dengan ekspektasi pemangkasan Fed rate akan mendorong imbal penurunan hasil US Treasury. "Kondisi ini menjadi sentimen positif untuk global bond Indonesia, terbukti dari orderbook yang oversubscribe ," kata Ezra, Senin (9/9). Ditjen Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan mengungkapkan, total order book surat utang pemerintah itu mencapai US$ 8,5 miliar dan 3 miliar. Chief Dealer Fixed Income & Derivatives Bank Negara Indonesia (BNI) Fudji Rahardjo juga mengatakan, penerbitan global bond ini menjadi menarik karena arah suku bunga ke depan diproyeksi akan turun.

Investor Kakap Asia Menanamkan Modalnya ke Wika Beton

KT1 08 Aug 2024 Investor Daily (H)
Raksasa beton Asia dikabarkan berminat kencang untuk berinvestasi di PT Wijaya Beton Tbk (WTON) alias Wika Beton. Kajian mengenai aksi korporasi ini sudah mencapai 60% dan tinggal meminta persetujuan Kementerian BUMN. Investor kakap itu berencana membenamkan modalnya ke Wika Beton melalui dua opsi. Pilihan pertama dengan melakukan  investasi langsung melalui pembelian saham WTON. Opsi kedua, dengan membentuk perusahaan patungan (JV) Sebagai tahap awal, baik manajemen WTON maupun pemodal asing tersebut sudah mempresentasikan rencana besar ini kepada PT Wijaya Karya Tbk (WIKA) selaku induk dengan progres terkini mencapai 50-60% menuju final. (Yetede)

Investor China Akuisisi Multifinance Lokal

HR1 14 Jun 2024 Kontan
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) membeberkan kabar baru terkait akuisisi perusahaan pembiayaan atau multifinance oleh investor asing. OJK menyebut, per Mei 2024, terdapat satu perusahaan pembiayaan yang telah selesai diakuisisi oleh investor dari China. "Selain itu, ada satu perusahaan pembiayaan lainnya sedang dalam proses penyelesaian akuisisi," ujar Kepala Eksekutif Pengawas Lembaga Pembiayaan, Perusahaan Modal Ventura, Lembaga Keuangan Mikro dan Lembaga Jasa Keuangan Lainnya OJK Agusman. Dia menerangkan, kedua perusahaan pembiayaan tersebut bergerak pada pembiayaan multiguna. Kinerja industri pembiayaan dalam negeri yang positif dinilai menjadi daya tarik tersendiri. Hingga April 2024, OJK mencatat piutang pembiayaan perusahaan multifinance tumbuh 10,82% secara tahunan menjadi Rp 486,35 triliun. Di April, non performing financing (NPF) gross industri mencapai 2,82%, naik dari bulan sebelumnya di 2,45%.

Pendiri Ramai-ramai Keluar dari GoTo, Investor ”Wait and See”

KT3 13 Jun 2024 Kompas

Harga saham PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk berada di zona terendah sepanjang perusahaan itu tercatat di bursa pada April 2022. Perombakan jajaran direksi sampai komisaris di gabungan perusahaan start up itu masih membuat investor wait and see terhadap rencana perusahaan ke depan. Pada pembukaan perdagangan bursa, Rabu (12/6) saham GoTo dibuka pada harga Rp 53 per lembar, berkurang nyaris 100 % dibanding rata-rata harga pada 2024, juga jauh lebih rendah daripada harga penawaran saham perdana mereka Rp 388. Analis Kiwoom Sekuritas, Miftahul Khaer, memprediksi, dalam waktu dekat harga saham GoTo masih ada di fase terendahnya. Ia menilai, investor masih menanti rencana kinerja GoTo seusai perombakan struktur kepengurusan di perusahaan tersebut.

”Saham GoTo akhir-akhir ini terus mengalami tekanan, salah satunya datang dari sentiment perombakan jajaran direksi dan komisaris GoTo. Kami sendiri belum melihat adanya rencana bisnis di balik aksi tersebut,” tuturnya, Rabu. Perubahan struktur pejabat tinggi GoTo resmi diumumkan pada rapat umum pemegang saham tahunan (RUPST) dan RUPS luar biasa (RUPSLB), di Jakarta, Selasa (11/6). Rapat itu memutuskan bahwa masa jabatan pendiri gabungan Go-Jek dan Tokopedia yang tersisa telah selesai. Dua orang di antaranya adalah pendiri Tokopedia, William Tanuwijaya, dan eks Presiden Tokopedia Melissa Siska Juminto, masing-masing terakhir menjabat komisaris dan direktur. Pemegang saham juga menyetujui pengunduran diri pendiri Go-Jek, Andre Soelistyo, yang sebelumnya komisaris perseroan.

Rapat juga menyetujui pengalihan saham seri B dari pejabat yang pergi kepada Patrick Sugito Walujo, yang saat ini menjadi Dirut GoTo. Saham seri B adalah saham dengan hak suara multipel (multiple voting shares) yang dibuat oleh OJK. Saham seri adalah saham untuk mengakomodasi perusahaan yang ingin menciptakan ekonomi baru dan bertujuan melindungi visi-misi perusahaan mengembangkan usahanya. Pada rapat Selasa, Patrick menyampaikan persetujuan rencana pembelian kembali atau buyback saham GoTo di publik. Perseroan berencana mengeluarkan maksimal 200 juta USD atau Rp 3,2 triliun untuk membeli sebagian kecil dari kapitalisasi saham mereka yang saat ini senilai Rp 63 triliun, 78 % dikuasai masyarakat. Pembelian kembali saham dilakukan maksimal 12 bulan setelah 11 Juni 2024. (Yoga)