Demam IPO Big Tech Melanda Investor RI
Pandemi Cavid-19 belum menunjukkan tanda-tanda akan berakhir meski terjadi sedikit penurunan dalam tiga hari terakhir. Ekonomi kembali slow down setelah sempat menggeliat pada semester pertama 2021. Tapi, di pasar modal, tetap ada kegairahan. Para investor milenial dilanda demam initial public offering (IPO) atau penawaran umum saham big-tech. IPO saham PT Bukalapak Tbk sedang berjalan. Perusahaan Go-To yang lebih berencana masuk pasar modal sepertinya disalip oleh Bukalapak yang akan menawarkan 25,7 miliar lembar sahamnya di harga Rp 750- 850 pada 28-30 Juli 2021. Kendati demikian, Go-To, perusahaan hasil merger Gojek dan Tokopedia tetap melakukan penawaran umum tahun ini. Selain Bukalapak, ada tiga big-tech lain yang siap masuk bursa tahun ini, yakni Go-To, Traveloka, dan J&T Express. Yang disebut big-tech adalah perusahaan besar yang bergerak di bidang informations and communication technology (ICT) atau teknologi informasi dan komunikasi.
Rencana IPO big-tech telah memicu harapan baru di pasar modal. Pertama, selama ini, dana asing masuk ke Indonesia langsung ke perusahaan rintisan. Dana disuntikkan ke startup oleh perusahaan asing hingga perusahaan rintisan itu menjadi big-tech, unicorn dan decacorn. Para investor pasar modal mengharapkan agar asing yang menyuntikkan dana ke startup itu kini beralih ke pasar modal dengan ikut membeli saham-saham big-tech, baik pada saat IPO maupun di pasar sekunder. Kedua, dana asing yang mencari lahan investasi di dunia sangat banyak. Paling tidak, ada US$ 40 miliar dana asing yang siap masuk ke pasar modal Indonesia. Jika dana ini bisa masuk ke pasar modal Indonesia, market cap di BEI yang baru sekitar Rp 7.000 triliun lebih akan menggelembung menembus Rp 8.000 triliun hingga akhir tahun. Agar dana asing ini masuk ke pasar modal Indonesia, big-tech Indonesia tidak boleh hanya listing di bursa di luar negeri, di AS atau Singapura. Kalau pun listing di luar energi, kita mengharapkan dual listing. Ketiga, IPO tiga big-tech tahun ini dan bakal puluhan hingga ratusan pada tahun-tahun akan datang meningkatkan daya tarik pasar saham Indonesia, baik daya tarik bagi pemodal asing maupun para investor lokal, khususnya para milenial. Jumlah investor di BEI per Juni 2021 sudah mencapai 5,6 juta, naik 56,5% dari 2,5 juta akhir Desember 2019.
Keempat, masuknya big-tech akan menambah alternatif investasi di BEI. Para investor kini bisa melihat peluang untuk meraih capital gain dari perusahaan teknologi.
Kelima, dengan masuknya big-tech di BEI, komposisi top ten berdasarkan market cap kemungkinan besar akan berubah. Hingga 16 Juli 2021, Bank Central Asia (BBCA) memimpin market cap di BEI dengan nilai Rp 745,7 triliun, disusul Bank BRI (BBRI) di urutan kedua sebesar Rp 468,9 triliun, PT Telekomunikasi Indonesia (TLKM) Rop 314 triliun, Bank Mandiri (BMRI) Rp 271,4 triliun, Bank Jago (ARTO) Rp 218,1 triliun, Astra International (ASII) Rp 197,6 triliun, Unilever (UNVR) Rp 196,5 triliun, Chandra Asri (TPIA) Rp 170,8 triliun, Elang Mahkota (EMTK) Rp 153,6 triliun, dan DCI Indonesia (DCII) sebesar Rp 140,6 triliun.
(Oleh - HR1)
Tags :
#InvestorPostingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023