Market
( 126 )La Nina Berpotensi Menekan Margin Emiten Poultry
Fenomena La Nina tampaknya bakal menjadi sentimen negatif bagi emiten poultry atau unggas. Sebab, fenomena ini menyebabkan kenaikan harga bahan baku pakan ternak seperti jagung. Dus, dapat meningkatkan biaya produksi bagi perusahaan sektor ini. Harga jagung domestik pada September 2024 tercatat naik 2,3% secara bulanan, terutama disebabkan oleh curah hujan sedang di luar Jawa, yang dapat memengaruhi hasil panen. Sementara itu, harga bungkil kedelai juga naik meningkat 4,4% secara bulanan. "Ke depan, kami mengantisipasi kenaikan harga bahan baku lebih lanjut didorong oleh musim hujan dan potensi efek La Nina," tulis tim riset Samuel Sekuritas, dalam riset 25 September 2024. Founder Stocknow.id, Hendra Wardana menilai, dalam jangka pendek hingga menengah, tekanan terhadap margin keuntungan emiten poultry akan meningkat imbas La Nina. Emiten yang tidak memiliki strategi hedging atau diversifikasi bahan baku yang baik akan lebih merasakan dampak dari fenomena ini. Hendra menilai, emiten seperti PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA) dan PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN) dianggap lebih tangguh dalam menghadapi fenomena ini.
JPFA memiliki skala ekonomi yang besar serta akses pasar yang luas, sedangkan CPIN dikenal dengan efisiensi operasional yang tinggi.
Analis Kiwoom Sekuritas Indonesia, Abdul Azis Setyo Wibowo mengamini, fenomena La Nina berpotensi meningkatkan harga bahan baku untuk pakan ternak dan akhirnya menekan margin keuntungan dari emiten unggas.
Sementara, Tim Riset Samuel Sekuritas menilai, di antara emiten sektor unggas JPFA dan MAIN memiliki valuasi harga paling menarik. Kedua emiten ini juga mendapat dorongan dari program pemusnahan sukarela (
culling
), termasuk adanya sentimen positif dari kebijakan pemerintah soal makan bergizi gratis. Berdasarkan konsensus, Samuel Sekuritas melihat saham CPIN dan JPFA masih mendapatkan peringkat beli dengan target harga masing-masing Rp 5.900 dan Rp 1.910. Sedangkan rekomendasi
Grup Bakrie Siap Restrukturisasi Utang Besar
Kinerja empat entitas usaha Grup Bakrie bakal semakin berat ke depan. Majelis Hakim Pengadilan Niaga Jakarta Pusat memperpanjang masa Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU) selama 45 hari hingga 4 November 2024. Perpanjangan PKPU itu ditetapkan Pengadilan Niaga Jakarta Pusat pada 20 September 2024. Empat entitas Bakrie yang masuk PKPU adalah PT Visi Media Asia Tbk (VIVA) bersama PT Intermedia Capital Tbk (MDIA), PT Cakrawala Andalas Televisi (ANTV), dan PT Lativi Mediakarya (tvOne). Gugatan PKPU diajukan PT Laras Nugraha Cipta yang berisi 12 kreditur. Gugatan dengan nomor perkara 13/Pdt.Sus-PKPU/2024/PN Niaga Jkt.Pst ini didaftarkan pada Jumat, 12 Januari 2024.
Pada 12 Februari 2024 majelis hakim telah memutuskan perkara ini sebagai PKPU Sementara.
Kuasa hukum dari 12 kreditur yang mengajukan gugatan PKPU dari kantor pengacara Law Firm Marx & Co menyebutkan, majelis hakim telah memberikan waktu 45 hari untuk membayar tagihan utang sekitar Rp 8,79 triliun.
Direktur VIVA, Neil Tobing mengatakan, PKPU bukan memailitkan perusahaan, tapi untuk menjalani proses restrukturisasi utang. "Ini sekaligus menjadi jaminan kepada para kreditur," kata Neil kepada KONTAN, Kamis (26/9).
Pengamat Pasar Modal dari Universitas Indonesia, Budi Frensidy menilai, saat ini sebagian besar iklan yang jadi sumber pendapatan emiten media sudah banyak beralih ke platform media sosial.
Emiten Rokok Dapat Napas Tambahan: Berkah atau Beban?
Pembatalan kenaikan tarif cukai hasil tembakau di tahun depan menjadi napas tambahan untuk emiten rokok yang tengah didera tekanan daya beli. Saham-saham sektor ini kompak melambung, Selasa (24/9). Pemerintah memutuskan untuk mempertahankan tarif cukai hasil tembakau di tahun depan. Keputusan diambil setelah pembahasan terakhir dengan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dan mempertimbangkan kebijakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2025. Meskipun tarif cukai hasil tembakau tetap, pemerintah berencana menyesuaikan harga jual eceran (HJE) produk tembakau pada 2025. Menurut riset tim Stockbit Sekuritas, keputusan ini memberikan dampak positif bagi emiten rokok seperti PT HM Sampoerna Tbk (HMSP), PT Gudang Garam Tbk (GGRM), dan PT Wismilak Inti Makmur (WIIM). Keputusan ini dapat meredakan tekanan dari downtrading dan penurunan margin akibat kenaikan cukai yang konsisten selama beberapa tahun terakhir.
Asal tahu saja, dalam kurun waktu 2023-2024, rata-rata kenaikan cukai rokok 10% per tahun.
Selisih HJE antara rokok sigaret kretek mesin (SKM) tier 1 dan tier 2 saat ini mencapai 64%, sehingga produk yang lebih murah tetap lebih menarik bagi konsumen. Karena itu, penyesuaian HJE tidak memperkecil kesenjangan harga ini. Produsen rokok juga harus memastikan harga jual setara minimal 85% dari HJE yang diatur.
Head Customer Literation and Education
Kiwoom Sekuritas Indonesia Oktavianus Audi mengatakan, keputusan ini akan tetap berdampak positif. Setidaknya, harga rokok diperkirakan lebih stabil pada 2025. Audi juga mencatat korelasi antara kenaikan cukai hasil tembakau dengan penurunan penjualan rokok. Misalnya, pada semester I-2024, HMSP mencatatkan penurunan penjualan sebesar 2,9% yoy menjadi 39,4 miliar batang, sekaligus menggerus pangsa pasar sebesar 1,5%.
"Secara umum, pembatalan kenaikan CHT hanya akan memberi sentimen positif jangka pendek untuk saham-saham emiten rokok," katanya kepada KONTAN, kemarin. Pasalnya, daya beli masyarakat masih lemah dan rokok ilegal masih marak.
Meningkatnya Minat Reksadana ESG: Investasi Ramah Lingkungan Kian Diminati
Investor masih lebih mementingkan tingkat imbal hasil daripada kontribusi berkelanjutan pada investasi produk reksadana environment, social and governance (ESG) di Indonesia. Namun minat investasi terhadap produk investasi reksadana ESG ini semakin meningkat. Direktur Panin Asset Management (Panin AM), Rudiyanto memandang, faktor imbal hasil memang masih menjadi perhatian utama dari kegiatan investasi ESG di Indonesia. Baru sedikit investor yang berinvestasi di produk berlabel ESG semata dengan alasan keberlanjutan. Kalau di luar negeri, investasi produk ESG sudah banyak mengutamakan komitmen keberlanjutan ketimbang memikirkan besaran imbal hasil. Namun memang di sisi lain, kondisi keuangan perusahaan yang berdampak pada imbal hasil produk juga menjadi perhatian. Rudiyanto melihat, minat investasi ESG di Indonesia mungkin akan lebih baik ke depan.
Hal itu seiring ketentuan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mewajibkan perusahaan berpartisipasi pada keuangan berkelanjutan.
Adapun produk reksadana ESG kelolaan Panin AM di antaranya Panin Dana Teladan, yang menyisihkan sebagian dari pendapatan manajemen untuk yayasan sosial. Selain itu, Panin Sri Kehati bekerja dengan cara kerja yang sama, tapi khusus ke Yayasan Sri Kehati.
Direktur Utama BNP Paribas AM, Maya Kamdani, tak memungkiri bahwa imbal hasil reksadana ESG kalah daripada reksadana tradisional dalam jangka pendek atau kurang dari setahun. Reksadana ESG lebih cocok untuk produk investasi jangka panjang dan sebagai manajemen risiko. "Investasi berbasis ESG bisa dilihat sebagai alat bantu memitigasi risiko," tutur Maya, Selasa (24/9).
Reksadana berbasis ESG BNP Paribas AM yang pertama adalah BNP Paribas Cakra Syariah USD. Dari Januari – Agustus 2024, imbal hasil produk reksadana tersebut 14,24% ytd dibandingkan kinerja indeks acuan yang sebesar 12,38% ytd.
Emiten Ramai-Ramai Tarik Kredit untuk Pertumbuhan
Sejumlah emiten di pasar modal mulai melirik pendanaan perbankan untuk ekspansi bisnis, membiayai modal kerja dan memperkuat struktur permodalannya.
Emiten milik taipan Prajogo Pangestu terbilang paling aktif mendulang pinjaman bank. Terbaru, ada PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN), yang menandatangani perjanjian fasilitas kredit dari Bank Mandiri Tbk (BMRI) pada 13 September 2024.
CUAN mendapatkan fasilitas kredit berjangka dengan nilai maksimal Rp 700 miliar. "Seluruh pinjaman untuk membiayai gap cashflow," ungkap Robertus Maylando Siahaya, Sekretaris Perusahaan CUAN di keterbukaan informasi, Rabu (18/9).
Senior Vice President & Head of Retail Henan Putihrai Asset Management Reza Fahmi Riawan mengamati, banyaknya emiten meraih pendanaan perbankan menunjukkan kepercayaan lembaga keuangan terhadap prospek bisnis emiten di masa depan. Di sisi lain, Analis Stocknow.id Muhammad Thoriq Fadilla menambahkan, penurunan suku bunga jadi insentif bagi korporasi untuk mendapatkan fasilitas kredit dari perbankan dengan biaya lebih murah.
Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus bilang, pinjaman bank memberikan fleksibilitas lebih tinggi daripada penerbitan obligasi.
Rajin Ekspansi, Kinerja Emiten Semakin Kuat
Bisnis rumah sakit PT Medikaloka Hermina Tbk (HEAL) diproyeksi semakin bugar. Penambahan rumah sakit baru dan partisipasi yang kuat dari program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) akan mempertebal pendapatan emiten pengelola RS Hermina ini. Analis Maybank Sekuritas Indonesia Paulina Margareta mengatakan, di sektor rumah sakit, HEAL diunggulkan. Ini karena volume pasien yang tinggi serta partisipasi kuat di program JKN. Meskipun di antara emiten rumah sakit besar lainnya HEAL memiliki pendapatan per pasien terendah dan kontribusi JKN tertinggi, emiten ini dinilai mampu meningkatkan dan menstabilkan margin EBITDA pada 28%-30% di tahun 2024-2026. Margin EBITDA HEAL diproyeksi akan terus meningkat dari 26,8% pada tahun 2023 menjadi 29,9% pada tahun fiskal 2026. Menurut Paulina, pertumbuhan pendapatan HEAL termasuk paling unggul dibandingkan dengan perusahaan sejenis, terutama setelah terjadinya pandemi. tingkat pertumbuhan tahunan majemuk HEAL berada di atas 17% pada tahun 2022-2024. Angka ini lebih tinggi ketimbang yang dicatatkan pesaingnya yakni PT Mitra Keluarga Karyasehat Tbk (MIKA) dan PT Siloam International Hospital Tbk (SILO), yakni 11% dan 15%.
Paulina juga menyoroti, pendapatan per tahun HEAL dipengaruhi oleh adanya model kemitraan dokter. Seperti diketahui, HEAL menawarkan kepemilikan saham 0,5%-1% kepada dokternya di rumah sakit masing-masing. Sehingga mendorong perluasan bisnis dan mempertahankan dokter yang berkualitas.
Investment Consultant
PT Reliance Sekuritas Indonesia Tbk Reza Priyambada mengatakan, penambahan RS Hermina tentunya dapat menambah kontribusi pendapatan HEAL. "Meskipun, akan ada beban biaya tambahan yang timbul," sebut Reza.
Analis MNC Sekuritas Rudy Setiawan menilai, kontribusi rumah sakit baru HEAL kemungkinan baru akan terasa pada kuartal I-2025 mendatang. Rumah sakit yang baru beroperasi ini masih akan meningkatkan biaya awal, karena kebutuhan personel baru, termasuk staf medis dan dukungan kantor pusat.
Rudy menyarankan
buy
saham HEAL dengan mengerek target harga lebih tinggi, menjadi Rp 1.680 per saham. Reza juga merekomendasikan
buy
saham HEAL dengan target harga Rp 1.550 per saham. Begitu juga Pauline yang menyarankan
buy
HEAL dengan target harga Rp 1.850. Kemarin, harga HEAL naik 4,63% ke Rp 1.470 per saham.
CUAN Dapatkan Pinjaman Rp 700 Miliar dari BMRI untuk Ekspansi
Emiten pertambangan batubara PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) kembali meraih fasilitas pinjaman dari perbankan. Kali ini, CUAN telah menandatangani perjanjian fasilitas kredit hingga Rp 700 miliar dengan Bank Mandiri Tbk (BMRI).
Sekretaris Perusahaan Petrindo Jaya Kreasi, Robertus Maylando Siahaya bilang, CUAN bersama entitas anak usahanya dan BMRI telah meneken akta perjanjian fasilitas kredit pada 13 September 2024.
Berdasarkan perjanjian fasilitas tersebut, emiten batubara yang dikendalikan oleh taipan Prajogo Pangestu ini mendapatkan fasilitas kredit berjangka senilai Rp 700 miliar. Pinjaman berdasarkan perjanjian fasilitas itu jatuh tempo pada 12 September 2029.
Seluruh pinjaman tersebut akan digunakan CUAN untuk membiayai gap cashflow perusahaan. "Pinjaman dari BMRI menyebabkan bertambahnya kewajiban keuangan, sekaligus membantu perseroan membiayai kegiatan usaha," ungkap Robertus dalam keterbukaan informasi, Rabu (18/9).
PGAS Siap Jaga Pasokan Gas Nasional Demi Kinerja Optimal
PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) alias PGN mengantisipasi sejumlah tantangan di industri gas dalam negeri. Terutama dari sisi pasokan gas serta perpanjangan kebijakan Harga Gas Bumi Tertentu (HGBT). Direktur Utama PGN, Arief Setiawan Handoko bilang, PGAS menghadapi tantangan dari ketidakseimbangan antara pasokan dan permintaan. Ini terjadi seiring turunnya pasokan dari sumber utama, yakni Blok Corridor yang digarap oleh Grup Medco. Sesuai alokasi, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), pasokan gas dari Blok Corridor menyusut dari 410 billion british thermal unit per day (BBTUD) pada tahun ini menjadi 129 BBTUD pada tahun 2028. Dus, ada tiga strategi PGAS dalam menjaga tingkat pasokan gas. Pertama, melakukan perpanjangan kontrak pasokan gas pipa eksisting dan kontrak pasokan gas baru. Kedua, pemanfaatan kontrak pasokan gas dari wilayah Jawa bagian timur untuk disalurkan ke Jawa bagian barat.
Ketiga, PGAS menyiapkan gas alam cair alias liquefied natural gas (LNG) untuk memenuhi kekurangan pasokan dari gas pipa. Emiten ini juga membuka opsi impor jika defisit pasokan tidak bisa terpenuhi dari kilang domestik.
Direktur Komersial PGN, Ratih Esti Prihatini menyampaikan, sepanjang separuh pertama 2024 pasokan gas PGAS masih tergantung dari gas pipa dengan porsi 99,6%. Porsi LNG masih 0,4%. Adapun, volume niaga gas PGAS turun sekitar 9% secara tahunan menjadi 841 BBTUD.
Direktur Keuangan PGN, Fadjar Harianto Widodo bilang, tahun ini PGAS akan menjaga margin distribusi di rentang US$ 1,6-US$ 1,8 per MMBTU. "Harga jual tetap memperhatikan kemampuan pelanggan," ujar Fadjar.
Analis MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana melihat, pergerakan harga saham PGAS masih cenderung
downtrend. Tapi pelaku pasar bisa mempertimbangkan
speculative buy
dengan target harga Rp 1.525-Rp 1.560 per saham.
Pembatasan BBM Subsidi Berpotensi Menambah Inflasi
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) sedang menggodok kebijakan pembatasan konsumsi bahan bakar minyak (BBM) subsidi jenis Pertalite dan Biosolar. Jika tidak ada halangan, aturan ini akan dirilis pada 1 Oktober 2024. Artinya mulai awal Oktober nanti, tidak semua masyarakat bisa membeli Pertallite maupun Biosolar. Kelak, hanya konsumen yang berhak saja yang dapat menggunakan BBM subsidi tersebut. Pembatasan BBM subsidi tersebut berpeluang mengerek inflasi lebih tinggi lagi. Ekonom Center of Reform on Economic (Core) Indonesia Yusuf Rendy Manilet memprediksi inflasi bisa berada di kisaran 2,5% hingga 3,5% secara tahunan atau year-on-year (yoy) apabila pembatasan BBM bersubsidi dilakukan. Yusuf bilang, dampak yang dirasakan terhadap inflasi hampir mirip jika pemerintah menaikkan harga BBM bersubsidi. "Permintaan produk BBM akan relatif tetap sama, asumsinya produk tersebut relatif terbatas pada harga yang dinikmati sebelumnya," tutur Yusuf kepada KONTAN, Senin (16/9).
Yusuf mencatat, kontribusi BBM terhadap pembentukan inflasi secara umum berada di 1%-2% terhadap total komoditas yang dihitung dari pembentukan inflasi secara keseluruhan. Angka ini relatif besar, terutama dibandingkan dengan beberapa sub komoditas lain.
Direktur Pengembangan Big Data Indef, Eko Listiyanto menilai, pembatasan BBM subsidi menjadi dilema. Sejatinya kebijakan ini baik untuk kesehatan fiskal dan memastikan subsidi BBM tepat sasaran. Masyarakat mampu juga perlu didorong memakai BBM beroktan tinggi, sehingga lingkungan lebih terjaga.
Eko menilai, apabila pembatasan BBM bersubsidi diberlakukan, maka kondisi daya beli masyarakat yang sedang menurun akan semakin tergerus.
Penurunan Penjualan ASII: Tantangan Pasar Mobil Domestik
Penjualan mobil PT Astra International Tbk. (ASII) mengalami penurunan baik secara bulanan (month-to-month/MtM) maupun tahunan (year-on-year/YoY) pada Agustus 2024. Secara tahunan, penjualan ASII anjlok 16,96%, sementara secara bulanan turun 3,61%. Di sisi lain, penjualan mobil nasional meski turun 14,19% secara tahunan, berhasil tumbuh 2,79% secara bulanan dan mencapai rekor tertinggi sepanjang tahun 2024.
Boy Kelana Soebroto, Head of Corporate Communications Astra, menyatakan bahwa Astra berkomitmen untuk terus meningkatkan kualitas produk dan layanan serta beradaptasi dengan kondisi pasar yang dinamis. Meski demikian, pangsa pasar Astra di Agustus 2024 berkurang menjadi 55%, turun dari 59% pada bulan sebelumnya.
Penurunan ini juga tercermin di segmen low cost green car (LCGC) dengan penjualan ASII turun 12,52% secara tahunan dan 2,63% secara bulanan. Seiring dengan penurunan kinerja penjualan, harga saham ASII stagnan di Rp5.025 per lembar pada penutupan perdagangan, dan turun 0,5% dalam sepekan.
Pilihan Editor
-
TRANSISI ENERGI : JURUS PAMUNGKAS AMANKAN EBT
26 Dec 2023 -
Ekspansi Nikel Picu Deforestasi 25.000 Hektar
14 Jul 2023









