Market
( 126 )Blibli Dikabarkan Bidik Dana US$ 500 Juta dari IPO
Satu lagi unicorn, perusahaan teknologi dengan valuasi di atas US$ 1 miliar, dalam negeri akan masuk bursa saham. Kabar yang diterima KONTAN, PT Global Digital Niaga, pengelola situs e-commerce Blibli.com, akan menggelar penawaran saham perdana ke publik atau initial public offering (IPO) di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada tahun ini.
Blibli disebut-sebut sudah menunjuk Credit Suisse First Boston (CSFB) dan Morgan Stanley untuk menghelat IPO tersebut. Kabarnya, Blibli membidik US$ 500 juta dari IPO di BEI. "Paling cepat Juni atau Juli," kata sumber KONTAN yang mengetahui rencana itu, kemarin.
Emiten Grup Salim Berpesta Laba
Emiten di Grup Salim mencatatkan kinerja mentereng pada kuartal I 2022. Kenaikan penjualan mendorong kenaikan laba bersih PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) dan anak-anak usahanya.
Lewat laporan keuangan yang dirilis Selasa (31/5), penjualan bersih INDF di kuartal I 2022 tumbuh 11,81% year on year (yoy) menjadi Rp 27,45 triliun. Kendati margin laba usahanya turun menjadi 19% dari 20%, INDF masih mencatatkan kenaikan laba usaha 6% yoy menjadi Rp 5,2 triliun dan pertumbuhan laba bersih sebanyak 36,38% yoy menjadi Rp 2,4 triliun.
Di tengah kenaikan harga komoditas, produksi dan volume penjualan emiten sawit Grup Salim justru menurun. PT PP London Sumatra Indonesia Tbk (LSIP) misalnya, mencatatkan penurunan produksi CPO 39% menjadi 53.000 ton.
Hal itu dipengaruhi cuaca yang tidak mendukung dan kegiatan re-planting. Volume penjualan CPO LSIP turun 66% menjadi 33.000 ton.
Supra Boga Beli 11 Gerai Giant
Peritel supermarket premium PT Supra Boga Lestari Tbk mengambil alih 11 gerai bekas Giant karena dinilai sesuai dengan strategi ekspansi. ”Kami melakukan penetrasi pasar (ekspansi) dan melakukan saturasi daerah tersebut. Ini adalah salah satu alasan kenapa kami mengambil alih 11 gerai Giant ini,” kata Dirut PT Supra Boga Lestari Tbk, Meshyara Kanjaya, pada paparannya, Selasa (31/5). Sepanjang 2021, Supra Boga menambah 19 toko baru. (Yoga)
PPRE Mengantongi Kontrak Baru Rp 1,7 Triliun
PT PP Presisi Tbk (PPRE) telah mengantongi kontrak baru senilai Rp 1,7 triliun dalam lima bulan pertama tahun ini. Direktur Perencanaan Bisnis & HCM PPRE Rebimun mengatakan, realisasi tersebut masih sesuai dengan target perusahaan.
"Kami proyeksikan sampai Juni 2022 kontrak baru kami sebesar Rp 1,98 triliun, jadi ini masih on track," ujarnya dalam konferensi pers penawaran umum obligasi PPRE tahun 2022, Senin (30/5).
Pandemi Hilang, Jumlah Pasien Naik
Penyebaran Covid-19 mulai mereda. Bahkan, status pandemi Covid-19 akan diubah menjadi endemi. Ini jadi sentimen positif bagi emiten pengelola rumah sakit. Performa harga saham emiten rumah sakit pun tampak terus naik di tahun ini. Performa saham emiten rumah sakit yang apik ini, menurut analis Jasa Utama Capital Sekuritas Cheryl Tanuwijaya, justru merupakan efek dari melandainya kasus Covid-19 akhir-akhir ini. Pasalnya, tingkat kunjungan pasien rawat jalan maupun rawat inap kembali meningkat. Analis Henan Putihrai Sekuritas Jono Syafei menambahkan, beberapa emiten rumah sakit dalam pantauan Henan Putihrai Sekuritas, seperti MIKA, HEAL, dan SILO, sejak kuartal IV-2021 mencatatkan jumlah volume pasien melebihi level sebelum Covid. "Artinya, bisnis dasar rumah sakit mulai pulih, setelah permintaan perawatan atau operasi sempat tertunda selama pandemi," kata Jono kepada KONTAN, Jumat (27/5). Cheryl menyebut, dengan makin rendahnya kasus Covid-19 saat ini, tren berobat masyarakat akan terus berlanjut, sehingga mendorong volume kunjungan pasien pada tahun ini. Kondisi ini jadi katalis positif bagi emiten. Tapi, Analis CGS CIMB Sekuritas Patricia Gabriella, dalam risetnya menuliskan, pertumbuhan volume pasien industri rumah sakit pada tahun ini diprediksi cuma mencapai 16% secara year on year.
Head of Equity Trading MNC Sekuritas Medan Frankie Wijoyo Prasetio meyakini, kesadaran masyarakat akan kesehatan menjadi faktor penting pertumbuhan kinerja emiten rumah sakit, serta ditunjang naiknya penjualan obat. "Jadi, saham rumah sakit tetap menarik. Terlebih jumlah pasien naik, begitu pula emiten rumah sakit kian ekspansif untuk layanan pengobatan dan teknologi kesehatannya," imbuh dia. Frankie menyebut, menariknya prospek emiten rumah sakit terlihat dari aksi korporasi Grup Lippo yang menambah kepemilikan saham SILO serta strategi grup Astra menyerap saham HEAL yang dilepas di private placement.
WIKA Incar Proyek Rp 21 Triliun
PT Wijaya Karya Tbk (WIKA) meraih fasilitas kredit modal kerja Rp 340 miliar dari Bank Tabungan Negara (BBTN). Pinjaman itu untuk menyokong proyek Smelter Manyar di Gresik, Jawa Timur.
WIKA meraih pinjaman itu untuk keperluan pembiayaan modal kerja dalam rangka penyelesaian proyek. "Terutama pembiayaan atas pekerjaan pemancangan dan sipil area CE proyek Smelter Manyar yang berlokasi di Gresik," kata Mahendra Vijaya, Sekretaris Perusahaan PT Wijaya Karya Tbk, dalam keterbukaan informasi, Kamis (25/5). Di sisi lain, WIKA terus berupaya mengejar target kontrak baru sebesar Rp 42,57 triliun pada tahun 2022. Terkait target kontrak baru pada kuartal-kuartal ke depan, Mahendra bilang, WIKA menyasar proyek pemerintah dan BUMN yang akan ditenderkan sampai akhir tahun ini. Di saat yang sama mereka mengincar proyek di luar negeri seperti di Asia dan Timur Tengah. "Total nilai tender yang kami ikuti sampai saat ini mencapai Rp 21 triliun dan masih akan ada lagi tender yang diikuti hingga akhir tahun 2022," ujar dia, Jumat (27/5).
Dalam Dua Hari, SBR011 Sudah Laku Rp 1,52 Triliun
Surat berharga negara ritel ketiga tahun ini, yakni Saving Bond Ritel seri SBR011, laris manis. Penjualan SBR011 pada Jumat (27/5) hingga pukul 16.00 WIB sudah mencapai Rp 1,52 triliun. Perolehan tersebut memenuhi 30% dari target awal pemerintah, yakni Rp 5 triliun.
Hebatnya, penjualan tersebut hanya perlu waktu dua hari saja. Penawaran SBR011 baru dibuka pada Rabu (25/5) dan baru akan ditutup pada 16 Juni 2022.
Tins Incar Volume Produksi 33.000 Ton
PT Timah Tbk (TINS) optimistis target produksi tahun ini bakal tercapai. Emiten pelat merah ini menargetkan produksi logam timah sebanyak 33.000 ton pada 2022. Salah satu strategi untuk mengejar target produksi ini ialah dengan menambah armada kapal laut.
TINS telah menambah satu unit kapal hisap dengan investasi sekitar Rp 60 miliar. Selain itu, TINS juga menambah lima unit kapal hisap dengan skema kemitraan. Sehingga, saat ini ada 50 unit kapal hisap dan tiga unit kapal keruk yang beroperasi.
TINS juga masih melanjutkan sejumlah proyek, salah satunya smelter ausmelt. Hingga saat ini, kemajuan ausmelt milik TINS sudah mencapai 93%. Ardianto menyebut, saat ini proses sudah sampai pada commissioning peralatan dan sudah dilakukan self running. "Operasional ditargetkan pada semester kedua 2022, namun kami kejar di kuartal ketiga 2022," sambung dia.
Alwin Albar, Direktur Pengembangan Usaha TINS, menyebut, smelter ini memiliki kapasitas 40.000 ton per tahun. Tingkat utilisasi akan mencapai 50% dari kapasitas pada tahun pertama. Pada tahun kedua, tingkat utilisasi akan bertambah menjadi 75%. Kapasitas penuh akan tercapai pada tahun ketiga.
PKPU Anak Usaha Kelar, WSKT Siap Gelar Rights Issue
PT Waskita Karya Tbk (WSKT) akan melakukan penambahan modal dengan hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD) atau rights issue pada semester II-2022. Manajemen WSKT menargetkan aksi korporasi ini dapat terlaksana Juli 2022. SVP Corporate Secretary WKST Novianto Ari Nugroho menyampaikan, rights issue akan dieksekusi setelah emiten ini menuntaskan proses penundaan kewajiban pembayaran utang (PKPU) anak usahanya, PT Waskita Beton Precast Tbk (WSBP). "PKPU ini menjadi semacam salah satu syarat untuk bisa melaksanakan rights issue," ucap Novianto, Rabu (25/5). Rights issue ini memberi tambahan dana segar bagi WSKT. Pemerintah juga telah menyetujui rencana penyertaan modal negara (PMN) sebesar Rp 3 triliun.
Diwarnai Sentimen Suku Bunga
Pergerakan saham perbankan pekan ini bakal diwarnai sentimen kebijakan Bank Indonesia (BI) terkait suku bunga. Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) pekan ini akan memutuskan kebijakan moneter ke depan.
Analis melihat ada peluang yang cukup lebar bagi BI untuk menaikkan suku bunga. Meski begitu, Analis Kiwoom Sekuritas Rizky Khaerunnisa memperkirakan, suku bunga acuan masih akan dipertahankan di level 3,50%, meskipun saat ini level inflasi cukup tinggi.
Pilihan Editor
-
Emiten Baja Terpapar Pembangunan IKN
24 Jan 2023 -
Cuaca Ekstrem Masih Berlanjut Sepekan Lagi
10 Oct 2022









