;
Tags

Market

( 126 )

Emiten Tekstil Ditopang Hedging Alami

Ayutyas 08 Apr 2020 Bisnis Indonesia, 6 April 2020

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terus melandai dalam sebulan terakhir, dari Rp14.113 per dolar AS pada 4 Maret 2020 menjadi Rp16.430 akhir pekan lalu. Secara year to date, rupiah melemah 18,49%. Meski demikian, pendapatan ekspor menjadi natural hedge atau lindung nilai alami bagi sejumlah emiten tekstil Tanah Air dalam menghadapi pelemahan nilai tukar rupiah.

Hal ini sebagaimana dikonfirmasi Direktur Utama PT Trisula International Tbk. (TRIS) Kris S Widjojo, Corporate Communication PT Sri Rejeki Isman Tbk. (SRIL) Joy Citradewi serta Wakil Direktur Utama PT Pan Brothers Tbk. (PBRX) Anne Patricia Sutanto di tempat terpisah. Ketiganya menyampaikan pendapat senada bahwa penurunan nilai tukar rupiah ini tidak akan berdampak signifikan meski senantiasa mewaspadai pergerakan nilai tukar rupiah terhadap berbagai mata uang lainnya.

Sekitar 70% penjualan TRIS ke pihak adalah penjualan ekspor dengan mengantongi penjualan bersih Rp687 miliar berdasarkan laporan keuangan kuartal III/2019, kontribusi paling besar adalah nilai ekspor kepada pihak ketiga senilai Rp423,80 miliar. Berdasarkan laporan keuangan tahunan 2019, SRIL melaporkan penjualan US$1,18 miliar, tumbuh 14,30% dari US$1,03 miliar periode 2018. Kontribusi penjualan terbesar berasal dari ekspor US$704,88 juta pada 2019. Joy mengatakan perseroan sejauh ini masih menjadi net exporter.

Begitu juga dengan PBRX yang sebagian besar pendapatannya dalam denominasi dolar AS. Di lain sisi, PBRX memiliki rencana untuk melakukan pembiayaan kembali (Refinancing) fasilitas modal kerja senilai US$138 juta yang akan jatuh tempo 2021 menjadi lebih panjang sampai dengan 2023, fasilitas ini diperkirakan akan berasal dari enam perbankan.

Moody's Investors Service baru-baru ini menurunkan outlook PBRX dari stabil menjadi negatif dikarenakan rencana Refinancing di tengah kondisi yang menantang dan meningkatnya gejolak global serta regional. Saldo kas PBRX senilai US$64 juta per kuartal III/2019 dinilai akan cukup menutupi kebutuhan kas operasional, pengeluaran modal yang direncanakan, dan pembayaran utang jangka pendek serta dividen yang diproyeksikan selama 12 bulan-18 bulan ke depan. Namun di perkirakan tidak cukup untuk menutupi fasilitas kredit bergulir senilai US$138 juta yang jatuh tempo Februari 2021. Meski demikian, Anne menyebut penjelasan Moody's hanya dipakai sebagai persyaratan karena saat ini perseroan tidak memiliki isu permasalahan arus kas.

Dampak Pelemahan Rupiah terhadap United Tractors

Ayutyas 06 Apr 2020 Investor Daily, 2 April 2020

Penurunan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat dan harga minyak dunia bakal berdampak positif terhadap kerja PT United Tractors Tbk (UNTR) tahun ini di sektor pertambangan dan alat berat. Stefanus Darmagiri, analis danareksa senada dengan Analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Emma A Fauni dan Hariyanto Wijaya, mengatakan pelemahan nilai tukar rupiah akan mendongkrak margin keuntungan kotor perseroan tahun ini. Sebesar 70% pendapatan perseroan berada dalam mata uang USD. Sedangkan beban pokok penjualan hanya mencapai 45% dalam bentuk USD dari total beban pokok penjualan.

Terkait bisnis pertambangan emas, volume penjualan UNTR diperkirakan akan turun menjadi 370 ribu oz tahun ini, dibandingkan pencapaian tahun lalu mencapai 411 ribu oz. Danareksa Sekuritas mempertahankan rekomendasi beli saham UNTR dengan target harga direvisi turun dari Rp 28.000 menjadi Rp 23.000. Mirae Asset Sekuritas menaikkan rekomendasi saham UNTR menjadi beli dengan target harga Rp 20.000. Hal ini menggambarkan kemampuan perseroan untuk meraih keuntungan di tengah pelemahan nilai tukar rupiah.

Target harga tersebut mempertimbangkan penurunan laba bersih perseroan menjadi Rp 10,44 triliun tahun ini dibandingkan realisasi tahun lalu senilai Rp 11,32 triliun. Penjualan perseroan juga diperkirakan turun dari Rp 84,43 triliun menjadi Rp 81,15 triliun. Sebelumnya, Investor Relations United Tractors, Ari Setiawan, mengatakan telah menyiapkan capex sebesar USD 450 juta tahun ini yang akan dibagi USD 300 juta untuk Pama Group dan USD 100 juta akan dimanfaatkan untuk tambang emas Martabe. Sisanya akan digunakan untuk pembelian mesin konstruksi dan Acset. Sedangkan penjualan alat berat tahun 2020 ditargetkan mencapai 2.900 unit.

Instrumen Investasi : SBN Ritel Ancam Deposito

Admin 30 Nov 2018 Bisnis Indonesia
pemangkasan pajak obligasi jauh lebih rendah dibandingkan dengan pajak deposito, membuat banyak nasabah prioritas mengalihkan dananya dari deposito ke SBN. Hal tersebut membuat likuiditas perbankan sedikit mengetat.

Bank Mandiri Jual 40% Saham MAGI ke AXA Asia

Admin 26 Nov 2018 Investor Daily
PT Bank Mandiri Tbk telah menjual sebanyak 40% saham PT Mandiri Axa General Insurance (MAGI) kepada mitra strategisnya PT AXA Asia. Penjualan tesebut membuat laporan keuangan MAGI tidak lagi dikonsolidasikan dalam Bank Mandiri.

Insentif Pajak Obligasi di Reksa Dana diharapkan Berlanjut Hingga 2030

Admin 26 Nov 2018 Investor Daily
Insentif pajak penghasilan (PPh) obligasi sebesar 5% pada produk reksa dana diharapkan berlanjut hingga tahun 2030. Sementara itu berdasarkan peraturan pemerintah nomor 100/PP/2013, PPh atas Obligasi reksa dana akan dinaikan menjadi 10% mulai tahun 2021. Hingga saat ini industri reksa dana masih membutuhkan dukungan oemerintah salah satunya berupa insentif pajak.

Megaproyek ADHI dan WIKA Jalan Terus

Admin 23 Nov 2018 Bisnis Indonesia
Nilai pekerjaan LRT Jabodetabek ADHI Rp 22,8 triliun. WIKA memiliki 38% saham PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia. Proyek kereta cepat Jakarta-Bandung yang menghubungkan stasiun halim, karawang,walini dan tegalluar menelan total investasi Us$ 6,07 miliar.