Market
( 126 )Sigap Merangkul Debitur Kakap
PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) diyakini memiliki outlook menarik tahun 2022 ini. Ini pula yang menyebabkan bank pelat merah ini masuk radar buruan investor pasar modal.
Analis Maybank Sekuritas Indonesia Rahmi Marina dalam riset 22 Maret menulis, BBNI merupakan bank dengan pertumbuhan kinerja signifikan sejak tahun 2015. Kunci perbaikan fundamental BBNI adalah perbaikan current account dengan kenaikan pangsa pasar dari 9% di 2015 menjadi 15% pada akhir 2021.
"Hal ini menjadikan BBNI sebagai saham gainer terbesar di antara peers. Hal tersebut membuat BBNI punya funding cost terendah di sektor ini dan jadi keunggulan untuk mengamankan debitur berkualitas," tulis Rahmi.
Hingga Maret, Pefindo Raih Mandat Rp 66,78 Triliun
Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) mengantongi mandat pemeringkatan surat utang senilai Rp 66,78 triliun hingga akhir Maret 2022. Mandat tersebut berasal dari 45 perusahaan BUMN dan non BUMN.
Industri multifinance masih mendominasi rencana penerbitan obligasi, yakni Rp 14,73 triliun. Selain itu ada sektor industri pulp and paper senilai Rp 6,8 triliun. Lalu ada sektor perbankan Rp 6,7 triliun, telekomunikasi Rp 5,6 triliun dan sektor pertambangan Rp 4,5 triliun.
Dari jenis penerbitan surat utang, Pefindo banyak memeringkat jenis penawaran umum berkelanjutan (PUB) , senilai Rp 19,75 triliun. Lalu obligasi konvensional
Rp 15,45 triliun dan surat utang syariah (sukuk) Rp 8,28 triliun.
MGRO Incar Omzet Rp 12 Triliun
Kenaikan harga minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) turut mengerek kinerja keuangan PT Mahkota Group Tbk (MGRO) di sepanjang tahun lalu. Manajemen MGRO pun ingin melanjutkan pertumbuhan bisnis pada tahun ini.
Saat ini harga CPO di Bursa Malaysia sudah menyentuh RM 6.463 per ton. Harga tersebut sudah melonjak 74% dalam setahun terakhir. Melihat tren harga CPO masih berjalan di level atas, Mahkota Group menargetkan total pendapatan di sepanjang tahun ini mencapai Rp 12 triliun, atau meningkat 64,16% year on year (yoy).
Waspada, Valuasi BBCA Mulai Mahal
Pemulihan ekonomi mendorong kinerja PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) pada tahun ini. Hanya saja, potensi kenaikan inflasi dan suku bunga acuan harus diwaspadai, karena bisa menghambat kinerja BBCA.
Kepala Riset Henan Putihrai Sekuritas Robertus Hardy meyakini, kinerja BBCA pada kuartal I-2022 ini masih akan solid dan tumbuh positif. Menurut dia, relaksasi PPKM yang semakin luas serta pulihnya aktivitas ekonomi akan ikut mengangkat kinerja para debitur BBCA. “Secara umum, perbaikan aktivitas bisnis para debitur inilah yang akan mendorong kinerja BBCA sepanjang tahun ini,” kata Robertus, Senin (18/4).
Saham Klub Rp 100 Triliun Bertambah
Saham big cap dengan kapitalisasi pasar di atas Rp 100 triliun terus bertambah. Per Senin (18/4), ada 18 emiten dengan nilai kapitalisasi pasar di atas Rp 100 triliun.
Selain PT Goto Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) yang baru saja IPO, PT Adaro Energy Indonesia Tbk (ADRO) dan PT Adaro Minerals Indonesia Tbk (ADMR) juga menjadi penghuni baru daftar saham big caps. Saham PT United Tractors Tbk (UNTR) juga kembali masuk jajaran market cap Rp 100 triliun.
2021, CTRA Kantongi Laba Bersih Rp 1,8 Triliun
PT Ciputra Development Tbk (CTRA) mencatat kinerja positif sepanjang 2021. Laba bersih emiten propeti ini tumbuh 31,06% yoy menjadi RP 1,78 triliun. Realisasi kinerja CTRA sejalan proyeksi CGS CIMB Sekuritas. Analisis CGS CIMB Sekuritas Aurelia Barus dalam riset memperkirakan jika pendapatan dan laba bersih CTRA tahun ini bisa mencapai Rp 9,31 triliun dan Rp 1,78 triliun.
Pebisnis Minyak Cuan dari Jual Lahan
PT AKR Corporindo Tbk (AkRA) akan diuntungkan oleh berbagai segmen bisnisnya tahun ini. Pemulihan ekonomi akan membuat penjualan lahan industri di tahun ini meningkat, setelah pada tahun lalu sedikit lebih rendah. Tak hanya itu, AKRA juga akan menuai dari sektor pertambangan. Pada tahun lalu, AKRA sukses membukukan pendapat sebesar 45,1% jadi Rp 25,71 triliun. Peningkatan pendapatan terjadi cukup pesat di kuartal IV -2021. Kepala Riset Henan Putihrai Sekuritas Robertus Yanuar Hardy mengatakan, realisasi laba bersih AKRA memenuhi 100,6% dari proyek mereka. Robertus memperkirakan, penjualan lahan industri JIIPE AKRA meningkat jadi 40 hektare (ha) dari sebelumnya hanya 14,1 ha. Tahun ini, AKRA memiliki 1.000 ha land bank, di mana 340 ha telah dikembangkan dan siap dijual.
Diuji Daya Beli Yang Belum Pulih
Emiten konsumer primer (consumer non-cyclical) belum kompak mencatatkan kenaikan kinerja di tahun 2021 lalu, baik pendapatan maupun laba dibanding tahun 2020. Harga saham-saham sektor ini pun belum semuanya ikut semringah. Datangnya bulan suci Ramadan yang berlanjut pada hari raya Idul Fitri dinilai bakal menjadi angin segar bagi emiten konsumer dan ritel. Analis Kanaka Hita Solvera Andhika Cipta Labora melihat, kinerja emiten konsumer di tahun lalu masih tertahan. Analis MNC Sekuritas Herditya Wicaksana juga memprediksi, terbukanya lagi pintu mudik dan kegiatan keagamaan bisa mengangkat kinerja emiten sektor ini, meski masih cenderung selektif. Sementara Analis Panin Sekuritas William Hartanto mengingatkan, prospek kinerja emiten konsumer masih tergantung pada harga produk dan daya beli masyarakat.
Di sisi lain, analis Henan Putihrai Sekuritas Liza Camelia Suryanata mengingatkan, kenaikan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) menjadi 11% masih akan terasa oleh sejumlah sektor. Daya beli konsumen juga masih tertekan akibat harga minyak goreng. Sedangkan kenaikan harga komoditas seperti CPO menambah beban bahan baku produsen barang konsumer.Musim Berbagi Laba, Waspada Jebakan Deviden
Sejumlah emiten bersiap menebar dividen untuk para pemegang saham. Nilai dividen tahun buku 2021 diperkirakan lebih baik, ketimbang tahun sebelumnya karena emiten mulai mencetak perbaikan laba bersih. Timothy Wijaya Analis Panin Sekuritas menyebut, sektor pertambangan diprediksi akan membagikan dividen tinggi sebagai efek melesatnya laba bersih karena kenaikan harga komoditas.
Di sisi lain, Investment Specialist Mirae Asset Sekuritas Rifqi Ramadhan memperkirakan, pembagian dividen emiten sektor barang konsumsi akan sedikit berkurang, baik dari yield maupun pembayarannya. Karena sektor ini masih dipenuhi sentimen negatif yang mempengaruhi kinerja. Saat memilih saham pembagi dividen, investor harus cukup jeli agar tak terjebak dalam dividend trap. Menurut Financial Expert Ajaib Sekuritas Yazid Muamar, dividend trap adalah kondisi harga saham naik karena banyak yang mengejar yield dividen, tapi kemudian terkoreksi tajam pasca pembagian dividen. Karena itu, Yazid menyarankan investor mencermati tingkat fluktuasi, likuiditas, dan berapa persentase potensi penurunan saat ex date.
Konsumsi Naik, Ayam Makin Laku
Pemulihan ekonomi setelah pandemi mereda meningkatkan daya beli masyarakat. Emiten barang konsumsi seperti PT Widodo Makmur Unggas Tbk (WMUU) turut mendapat sentimen positif dari daya beli masyarakat yang meningkat. Apalagi, jelang bulan Ramadan dan hari raya Idul Fitri. Analis Samuel Sekuritas Muhammad Farras Farhan mengatakan, WMUU mayoritas pendapatannya disumbang oleh penjualan karkas.
Senada, Analis Kiwoom Sekuritas Indonesia Abdul Aziz juga memproyeksikan masih ada potensi bagi WMUU untuk mencatatkan kinerja positif di sepanjang tahun ini. Abdul mengamati daya beli masyarakat saat ini sudah mulai pulih.
Selain itu, investor perlu juga memperhatikan bagaimana tingkat penyebaran Covid-19 yang mungkin sewaktu-waktu dapat kembali meluas dan kembali menekan daya beli masyarakat.
Pilihan Editor
-
Alarm Inflasi Mengancam Sektor Retail
11 Oct 2022









