Market
( 126 )Valbury Asia Futures Targetkan Transaksi Naik 10% di Tahun Ini
Berharap mengulang sukses di tahun-tahun sebelumnya, Valbury Asia Futures yakin transaksinya masih akan naik tahun ini. Tahun 2022, Valbury sukses mencatatkan kenaikan transaksi hingga 71,2% menjadi 1.715.119 lot di tahun 2022. Pada tahun 2021, Valbury Asia Futures mencatatkan transaksi sebanyak 493.340 lot.
Direktur PT Valbury Asia FutureS (VAF) David Gunawan mengatakan, kenaikan transaksi itu merupakan capaian gabungan dari seluruh anak perusahaan Valbury.
David bilang tahun ini menargetkan nilai transaksi akan naik 10%.
Research & Education Coordinator Valbury Asia Futures Nanang Wahyudin menjelaskan, produk yang paling banyak ditransaksikan di VAF tahun lalu adalah valas dan emas komoditas. Kedua produk itu menjadi favorit pada tahun 2022 karena ada volatilitas yang cukup besar.
Untuk mencapai target tersebut, Head of Marcomm VAF Caroline Haryono menyebut, pihaknya akan menerapkan sejumlah strategi. Pertama, meningkatkan layanan VAF dengan fitur terbaru. Pada tahun 2022, VAF meluncurkan aplikasi trading Valbury. Tahun 2023, VAF meluncurkan fitur chat di aplikasi Valbury untuk menangani semua kendala nasabah secara realtime. Kedua, VAF akan lebih gencar branding di sosial media. Ketiga, akan melakukan literasi keuangan.
Harga Komoditas Menuklik, Saham Konsumer Masih Ciamik
Kinerja emiten sektor barang konsumer diprediksi mempunyai outlook cerah hingga 2023 mendatang. Salah satu penopangnya, mulai melandainya harga sejumlah komoditas yang jadi bahan baku industri konsumer.
Analis Samuel Sekuritas Indonesia Pebe Peresia menilai, penurunan harga komoditas, seperti harga gandum dan minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO), akan berdampak positif terhadap kinerja emiten barang konsumsi.
Dari beberapa emiten
consumer goods
yang ada dalam cakupan analisis Samuel Sekuritas, Pebe melihat, PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP) dan PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) akan dapat keuntungan besar dari penurunan harga komoditas.
Kinerja Kuartal III-2022 Moncer, PSSI Kejar Pertumbuhan di 2023
PT Pelita Samudera Shipping Tbk (PSSI) optimistis, pertumbuhan kinerja di tahun 2023 masih akan positif. Optimisme ini tercermin dari pencapaian laba bersih PSSI di kuartal III-2022 yang masih moncer.
Di periode tersebut, PSSI mencetak pertumbuhan pendapatan 14,11% secara tahunan menjadi US$ 85,98 juta. Ini ditopang meningkatnya pendapatan sewa berjangka, terutama dari segmen kapal tunda dan tongkang (TNB), serta kapal kargo curah (MV).
Hingga kuartal III-2022, total volume angkutan PSSI mencapai 22,4 juta metrik ton lebih. Kinclongnya pendapatan mendongkrak laba bersih PSSI 114,82% secara tahunan jadi US$ 33,1 juta di kuartal III-2022 dari US$ 15,4 juta.
Iriawan Ibarat, Direktur Utama Pelita Samudera Shipping, memprediksi, pendapatan PSSI di sepanjang tahun ini akan tumbuh 5% dibandingkan 2021. Pada akhir 2021, pendapatan PSSI mencapai US$ 108,73 juta.
Kunjungan Pusat Perbelanjaan Akan Capai 90% Tahun Ini
JAKARTA, ID – Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) optimistis tingkat kunjungan pusat perbelanjaan nasional bisa mencapai rata-rata 90% pada tahun ini, menyusul kinerja ekonomi Indonesia kuartal III-2022 yang mampu tumbuh hingga 5,72%. Libur Natal dan tahun baru (Nataru) juga diyakini bakal menjadi faktor pengungkit tingkat kunjungan dan penjualan di pusat perbelanjaan beberapa bulan mendatang. Ketua Umum APPBI Alphonzus Widjaya menerangkan, tingkat kunjungan ke pusat perbelanjaan dan daya beli masyarakat telah berangsur membaik dan terus tumbuh sejak Ramadan yang lalu, meski sempat terganggu akibat ketidakpastian global. Faktor eksternal ini telah mengakibatkan kenaikan biaya energi yang berdampak pada daya beli masyarakat kelas menengah bawah. Namun demikian, APPBI berpendapat, dampak tersebut tidak akan berlangsung terlalu lama karena pemerintah telah banyak mengambil langkah antisipatif, salah satunya dengan mendistribusikan berbagai bantuan sosial (bansos) seperti bantuan langsung tunai (BLT), bantuan subsidi upah (BSu), dan bantuan sosial lainnya untuk menopang daya beli masyarakat agar tidak terpuruk terlalu dalam. (Yetede)
Kunjungan Pusat Perbelanjaan Akan Capai 90% Tahun Ini
JAKARTA, ID – Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) optimistis tingkat kunjungan pusat perbelanjaan nasional bisa mencapai rata-rata 90% pada tahun ini, menyusul kinerja ekonomi Indonesia kuartal III-2022 yang mampu tumbuh hingga 5,72%. Libur Natal dan tahun baru (Nataru) juga diyakini bakal menjadi faktor pengungkit tingkat kunjungan dan penjualan di pusat perbelanjaan beberapa bulan mendatang. Ketua Umum APPBI Alphonzus Widjaya menerangkan, tingkat kunjungan ke pusat perbelanjaan dan daya beli masyarakat telah berangsur membaik dan terus tumbuh sejak Ramadan yang lalu, meski sempat terganggu akibat ketidakpastian global. Faktor eksternal ini telah mengakibatkan kenaikan biaya energi yang berdampak pada daya beli masyarakat kelas menengah bawah. Namun demikian, APPBI berpendapat, dampak tersebut tidak akan berlangsung terlalu lama karena pemerintah telah banyak mengambil langkah antisipatif, salah satunya dengan mendistribusikan berbagai bantuan sosial (bansos) seperti bantuan langsung tunai (BLT), bantuan subsidi upah (BSu), dan bantuan sosial lainnya untuk menopang daya beli masyarakat agar tidak terpuruk terlalu dalam. (Yetede)
Efek Merger, Laba Bersih ISAT Turun 36,4%
Emiten telekomunikasi PT Indosat Tbk (ISAT) alias Indosat Ooredoo Hutchison (IOH) mencetak kinerja negatif pada kuartal III-2022.Laba bersih ISAT hanya sebesar Rp 3,69 triliun, turun 36,4% secara tahunan dari Rp 5,8 triliun di kuartal III-2021.
Penurunan laba bersih dipicu membengkaknya beban operasional, beban depresiasi dan amortisasi. Selain itu, biaya finansial juga melonjak, sebagai dampak dari merger ISAT dan PT Hutchison 3 Indonesia.
Meski laba bersih terpapar efek merger ISAT dan Hutchison 3, aksi korporasi ini berhasil mendorong pertumbuhan jumlah pelanggan ISAT sebesar 58,3% menjadi 98,6 juta di kuartal III-2022.
Kinerja Emiten Teknologi Dibayangi Inflasi & Daya Beli
Satu per satu emiten sektor teknologi sudah merilis kinerja di semester I tahun ini. Terbaru adalah emiten yang acap disebut saham sejuta umat lantaran saham beredarnya dalam jumlah besar yakni PT Goto Gojek Tokopedia Tbk (GOTO).
Sampai semester I-2022, pendapatan bruto GOTO naik 49% secara tahunan atau year on year mencapai Rp 10,7 triliun dari Rp 7,19 triliun (proforma). Sementara nilai transaksi bruto atau gross transaction value (GTV) naik 42% mencapai Rp 290,5 triliun.
Direktur Keuangan Grup GOTO Jacky Lo dalam rilis (30/8) bilang, tingkat belanja per pengguna tumbuh 17% secara tahunan menjadi penopang.
Dampaknya, margin kontribusi atau nilai pendapatan setelah dikurangi berbagai biaya variabel naik 47 bps. Meski begitu, GOTO belum berhasil menekan kerugian bersih yang kini mencapai Rp 13,65 triliun. Angka ini membengkak 117,36% secara tahunan.
Analis Sucor Sekuritas Paulus Jimmy melihat, realisasi kinerja GOTO masih di bawah proyeksi dia. "GTV sedikit di bawah ekspektasi kami. Kabar baiknya net take rate dari tiap bisnis GOTO tampak naik secara kuartalan," ujar dia.
Dia kecewa karena rugi bersih GOTO justru membengkak, padahal GTV dan pendapatan bruto GOTO naik. "Ke depan sentimen makro ekonomi masih menantang," ujar dia. Antara lain daya beli, harga BBM dan inflasi. Maka, Paulus masih memilih BUKA dengan target Rp 830.
Pesona Baru dari Bisnis Non Emas
Ekspansi PT Merdeka Copper Gold Tbk lewat aksi akuisisi membetot perhatian investor. Aksi ini menopang produksi emas, emiten bersandi saham MDKA ini yang sedang menurun.
Salah satu akuisisi yang dilancarkan MDKA adalah pembelian 55,67% saham PT Hamparan Logistik Nusantara (HPN) melalui anak usahanya, PT Batutua Tembaga Abadi. Selain akuisisi tambang nikel, MDKA juga bermitra dengan Hong Kong Brunp Catl Co. Ltd, pemasok terbesar baterai kendaraan listrik di dunia.
Analis Korea Investment Sekuritas Indonesia Edward Tanuwijaya dalam riset 17 Juni menulis, aksi akuisisi MDKA senilai US$ 693 juta bagi aset nikel tersebut, berpotensi menghasilkan keuntungan hingga US$ 2,7 miliar ke depannya. Akuisisi itu juga berpotensi memberikan kontribusi kas dengan initial return 10% per tahun, untuk dua tahun pertama karena smelter Cahaya Smelter Indonesia (CSI) dan Bintang Smelter Indonesia (BSI) sudah beroperasi sejak 2020.
Laris Manis, Penjualan SBR011 Mencapai Rp 13,91 Triliun
Obligasi ritel SBR011 laris manis jadi buruan investor. Pemerintah berhasil menjual SBR011 senilai Rp 13,91 triliun, lebih tinggi dari target awal Rp 5 triliun.
Nominal tersebut jauh lebih tinggi dibanding nilai permintaan seri SBR010. Saat itu, penjualannya sebesar Rp 7,5 triliun. Tingginya animo masyarakat membuat mitra distribusi SBR011 berhasil membukukan penjualan di atas target yang ditetapkan.
General Manager Divisi Wealth Management Bank Negara Indonesia (BNI) Henny Eugenia mengungkapkan, hingga akhir pemesanan, penjualan SBR011 di BNI mencapai Rp 1,15 triliun. Jumlah tersebut oversubscribed 2,3 kali dibanding target semula, yaitu Rp 500 miliar.
SBR011 laris karena risiko kredit kecil. Obligasi ritel ini juga memiliki fitur kupon floating with floor.
Asing Sell Net Saham dan SBN Rp 6,75 Triliun
Bank Indonesia (BI) mencatat akan modal asing keluar (capital outflow) mencapai Rp7,34 triliun selama 13-16 Juni 2022. Pencariannya, asing mencetak penjualan bersih (Net sell) Rp 6,75 triliun di pasar surat berharga negara (SBN) dan net sell Rp590 miliar di pasar saham. Sejalan dengan itu, premi credit default swap (CDS) Indonesia lima tahun naik ke level 137,03 basis poin (bps) per 16 Juni 2022 dari 117,31 bps 10 Juni 2022. Berdasarkan data setelmen hingga Juni 2022 (year on date/ytd), nonresiden alias pemodal asing membukukan net sell Rp96,49 triliun di pasar SBN dan beli bersih (net buy) Rp 70 triliun di pasar saham. Kepala Departemen,63, sedangkan yeild Komunikasi RI Erwin Haryono menyatakan, rupiah ditutup melemah di level (bid) Rp14.765 per dollar AS pada Kamis (16/6). Selanjutnya, yield SBN 10 tahun naik ke level 103, sedangkan yield US Treasury 10 tahun naik ke level 3,195%. Selanjutnya, Jumat (17/6) rupiah dibuka melemah di level (bid) Rp14.820 per dollar AS. Alhasil, yield SBN 10 tahun naik di level 7,39%. (Yetede)
Pilihan Editor
-
Terus Dorong Mutu Investasi
25 Jan 2023 -
Proyek MRT East-West Dikebut
24 Jan 2023








