Bencana
( 266 )DAMPAK GEMPA TAIWAN : Pengusaha Waspadai Rantai Pasok
Gempa bumi dengan magnitudo 7,2 skala richter di Taiwan membuat pelaku industri di Tanah Air waswas terhadap keandalan rantai pasok manufaktur di dalam negeri, karena mayoritas mesin yang digunakan pengusaha berasal dari Negeri Formosa. Ketua Umum Gabungan Asosiasi Perusahaan Pengerjaan Logam dan Mesin Indonesia (Gamma) Dadang Asikin mengatakan bahwa hingga saat ini pelaku manufaktur nasional masih mengandalkan mesin-mesin yang diimpor dari Taiwan.
Adapun, sejumlah produk utama yang diimpor Indonesia dari Taiwan adalah mesin listrik, mesin boiler, mesin pengemasan, mesin rajutan, hingga pemintalan fi lamen. Menurutnya, industri tekstil dan produk tekstil paling banyak menggunakan mesin asal Taiwan, karena kualitas produk asal negara tersebut relatif lebih baik dibandingkan dengan China, meskipun harganya masih lebih tinggi.
Di sisi lain, Deputy of General Secretary Asosiasi Permebelan dan Kerajinan Indonesia (Asmindo) Indrawan mengatakan bahwa pihaknya masih belum merasakan hambatan rantai pasok yang disebabkan oleh gempa bumi terbesar di Taiwan dalam 25 tahun terakhir.
Hal yang sama juga sempat dikatakan oleh Sekretaris Jenderal Asosiasi Industri Olefi n Aromatik, dan Plastik Indonesia (Inaplas) Fajar Budiono yang menyebut bahwa dampak gempa Taiwan tidak begitu signifi kan terhadap bahan baku maupun barang jadi plastik yang diimpor Indonesia.
Menurut Fajar, wilayah selatan, seperti Tainan, Kaohsiung, dan lainnya tidak terkena dampak gempa bumi yang signifi kan, maka tidak akan berpengaruh terhadap rantai pasok, termasuk untuk suku cadang permesinan.
Insiden Gudang Amunisi Jadi Momentum Evaluasi
Terbakarnya salah satu unit gudang di kompleks
Gudang Amunisi Daerah Komando Daerah Militer Jaya di Ciangsana, Bogor, Jabar, menjadi
momentum untuk mengevaluasi secara menyeluruh keberadaan gudang
amunisi militer. Pasalnya, saat ini di sekitar
kawasan itu tumbuh permukiman warga. Pengawasan terhadap penataan ruang kawasan
tempat kompleks militer berada, termasuk gudang amunisi, perlu menjadi
perhatian agar asas perlindungan bagi warga tetap terpenuhi. Anggota Komisi I
DPR dari Fraksi PDI-P, TB Hasanuddin, mengatakan, Gudang Amunisi Daerah
(Gudmurah) Kodam Jaya yang mulai dioperasikan pada 1982 pada mulanya jauh dari
permukiman warga.
”Sekarang (kawasan di sekitar Gudmurah) sudah
jadi perumahan,” ucapnya saat dihubungi dari Jakarta, Minggu (31/3). Menurut
Hasanuddin, syarat mutlak gudang amunisi adalah berada jauh dari permukiman
masyarakat. Jika amunisi yang disimpan seberat 5 kg, radius bahayanya berkisar
2-3 km, berarti jarak gudang amunisi dengan wilayah permukiman setidaknya 5 km.
Melihat kondisi kompleks Gudmurah Kodam Jaya yang kian dikepung permukiman,
Hasanuddin menilai perlu dipertimbangkan untuk memindahkan gudang amunisi ke lokasi
lain yang lebih aman. Meski bukan perkara mudah, hal itu perlu dipertimbangkan secara
serius. (Yoga)
2.495 Keluarga di Jatim Terdampak Gempa Bawean
Rentetan gempa bumi yang terjadi di Laut Jawa di sebelah
barat Pulau Bawean, Kabupaten Gresik, Jatim, berdampak kepada sedikitnya 2.495
keluarga di sejumlah kota/kabupaten di Jatim. Gresik menjadi wilayah dengan
jumlah keluarga dan infrastruktur terdampak paling banyak akibat gempa
tersebut. Berdasarkan laporan Pusat Pengendalian Operasi Badan Nasional
Penanggulangan Bencana (BNPB), hingga Sabtu (23/3) pukul 14.00 WIB, tercatat
2.495 keluarga terdampak. Dari jumlah tersebut, 2.473 keluarga atau 99 % berada
di Kabupaten Gresik.
Sisanya tersebar di Tuban, Lamongan, Surabaya, Pamekasan, dan
Sidoarjo. Untuk infrastruktur, khusus di Gresik, tercatat 304 rumah warga rusak
berat, 835 unit rusak sedang, dan 1.334 rumah rusak ringan. Selain itu, 11
fasilitas pendidikan rusak sedang dan 39 fasilitas pendidikan lainnya rusak
ringan. BNPB juga mendata 7 fasilitas ibadah rusak berat, 8 unit rusak sedang,
dan 72 unit rusak ringan. Delapan gedung perkantoran turut rusak akibat gempa
tersebut. Rentetan gempa itu terjadi sejak Jumat (22/3) pukul 11.22.
Gempa pertama bermagnitudo 6 dengan kedalaman 10 km.
Lokasinya 132 km ditimur laut Kabupaten Tuban, Jatim, atau sekitar 30 km dari
pesisir barat Pulau Bawean. Sampai Jumat tengah malam, tercatat 84 gempa
susulan, dua di antaranya bermagnitudo 5,3 dan 6,5. Berdasarkan data BMKG, pada
Sabtu (23/3) sejak pukul 00.12 sampai pukul 07.49, terjadi 10 kali gempa
tektonik di barat Pulau Bawean. Gempa-gempa itu terdata bermagnitudo 3,3-4,1. Sumbernya
di kedalaman 8-14 km dengan lokasi 119- 67 km di timur laut Tuban atau di barat
Pulau Bawean. ”Kami trauma, sampai kapan berakhir, ya, Pak?” ujar Riyan Adi, warga Sawah Mulia, Kecamatan
Sangkapura, Pulau Bawean. (Yoga)
Waspadai Cuaca Ekstrem Jabodetabek
Wilayah Jabodetabek masih berpotensi dilanda cuaca ekstrem
hingga 18 Maret 2024. Warga perlu waspada terhadap dampak hujan disertai kilat
dan angin kencang yang mungkin terjadi. Berdasarkan penjelasan Deputi Bidang
Meteorologi BMKG Guswanto, Jumat (15/3) kondisi itu dipicu aktivitas
Madden-Julian Oscillation serta fenomena gelombang Kelvin dan Rossby Equatorial.
Kemudian, adanya tiga bibit siklon tropis, yaitu bibit siklon tropis 91S, 94S,
dan 93P, yang berada di sekitar Samudra Hindia selatan Jawa, Laut Timor, dan
Laut Australia menunjukkan pengaruh terhadap wilayah Indonesia bagian selatan.
Kombinasi fenomena tersebut diperkirakan menimbulkan potensi hujan dengan
intensitas sedang-lebat yang disertai kilat/angin kencang di sejumlah wilayah
Indonesia, termasuk Jabodetabek.
”Hasil analisis terkini, penurunan potensi intensitas hujan di
Jabodetabek akan terjadi mulai 17 Maret 2024,” kata Guswanto.”BPBD DKI
mencatat, genangan saat ini terjadi di 13 RT atau 0,042 persen dari 30.772 RT
di wilayah Jakarta,” kata Kepala Pelaksana BPBD DKI Jakarta Isnawa Adji. Banjir
disebabkan hujan dengan intensitas sedang hingga lebat yang mengguyur Jakarta
dan sekitarnya sejak Kamis (14/3). Sementara banjir di wilayah Kota Semarang
dan sekitarnya mulai surut pada Jumat (15/3) sore. Meski demikian, masih ada
permukiman yang terendam banjir sehingga menyebabkan adanya sekitar 300
pengungsi. ”Alhamdulillah, mulai sore ini banjir sudah surut dan bisa dilalui
kereta api dengan kecepatan terbatas sehingga perjalanan kereta api mulai
kembali normal,” kata Franoto Wibowo dari Humas Daerah Operasi 4 Semarang,
Jumat. (Yoga)
Bencana Merata, Kenali Risiko Lingkungan
Warga yang tinggal di kawasan langganan banjir, daerah aliran
sungai, dan perbukitan wajib waspada selama satu hingga dua pekan ke depan.
Cuaca ekstrem selama beberapa hari ke depan membuat warga yang tinggal di daerah-daerah
itu berisiko dilanda banjir dan tanah longsor. ”Kalau siang hari, lihat saja ke
luar rumah. Kalau pandangan dalam jarak 100 meter ke depan tidak jelas, berarti
intensitas hujannya sudah 30 milimeter per jam. Kalau malam, pakai senter. Jika
itu terjadi, segera evakuasi mandiri,” kata Kepala Pusat Data, Informasi, dan
Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari, Kamis (14/3). Setelah evakuasi,warga
harus tetap berdiam di tempat aman sekurangnya dua jam meski hujan mereda,
untuk memberi waktu berjalannya air hujan yang biasanya mendatangkan banjir. Misalnya,
air dari Bendungan Katulampa baru akan sampai di daerah perkotaan Jakarta berkisar
4-6 jam.
”Teknologi sudah pasti dibutuhkan. Namun, pada kondisi
tertentu, kita harus bisa mengambil keputusan sendiri dan itu harus cepat,” ujar
Abdul. Dalam kondisi cuaca ekstrem seperti saat ini, memperhatikan kondisi
daerah masing-masing amat penting. Terlebih, bencana seperti banjir telah
terjadi di banyak tempat. Di Semarang, Jateng, sebagian permukiman masih
digenangi banjir pada Kamis (14/3). ”Banjir di jalan-jalan sudah mulai surut,
tetapi di permukiman belum,” kata Kabid Penanganan Darurat Badan BPBD Jateng
Muhamad Chomsul. Sejauh ini, BPBD Jateng sudah mengevakuasi warga terdampak.
”BPBD juga mendirikan dapur umum yang dipusatkan di masjid Balai Kota
Semarang,” ujarnya. (Yoga)
Waspadai Cuaca Ekstrem Beberapa Hari ke Depan
BMKG memperkirakan terjadinya cuaca ekstrem di sejumlah wilayah
di Tanah Air beberapa hari ke depan. Angin kencang disertai hujan dengan
intensitas ringan-lebat serta gelombang laut tinggi berpotensi terjadi dan
berisiko memicu bencana hidrometeorologi. Masyarakat diimbau mewaspadainya. Di
NTB, Stasiun Meteorologi Zainuddin Abdul Madjid (ZAM) memprediksi cuaca ekstrem
berlangsung di NTB hingga akhir pecan ini. Masyarakat diimbau mewaspadai hujan
disertai angina kencang hingga gelombang tinggi. Kepala Stasiun Meteorologi ZAM
Satria Topan Primadi, Rabu (13/3) mengatakan, curah hujan bisa terjadi dengan intensitas
sedang hingga lebat disertai petir dan angin kencang. ”Berpotensi terjadi di seluruh
wilayah NTB, 10-16 Maret 2024,” ujarnya. Kondisi itu bisa terjadi pagi hingga
dini hari, yakni mulai dari Lombok Utara, Mataram, Lombok Barat, Lombok Tengah,
Lombok Timur, Sumbawa, Sumbawa Barat, Bima, Kota Bima, dan Dompu.
Selain hujan disertai petir dan angin kencang, BMKG Stasiun
Meteorologi ZAM memprediksi potensi gelombang tinggi pada periode itu. Gelombang
dengan tinggi mencapai 2,5-4 meter berpotensi terjadi di Selat Lombok bagian
selatan, Selat Alas bagian selatan, dan Selat Sape bagian selatan. Adapun
gelombang 4-6 meter berpotensiterjadi di Samudra Hindia, selatan NTB. Di
Malang, Jatim, prakirawan BMKG Stasiun Klimatologi Malang, Firda Amalia M, mengatakan,
hingga kini dinamika atmosfer mendukung untuk terjadinya cuaca ekstrem. ”Selain
itu, saat ini juga ada bibit siklon yang berada di selatan Pulau Jawa. Ini bisa
meningkatkan cuaca ekstrem hingga seminggu ke depan berupa hujan lebat disertai
petir dan angin kencang serta gelombang tinggi di perairan selatan Jawa,”
ujarnya. Di Sultra, hujan dengan intensitas sangat tinggi masih berpotensi
terjadi di Kendari dan sejumlah daerah lain di Sultra. Masyarakat diharapkan
mewaspadai banjir dan longsor selama sepekan ke depan. ”Selama seminggu ke
depan, (curah) hujan masih akan tinggi. Kondisi ini diprediksi terjadi di
Kendari, sejumlah daerah di daratan Sultra, dan beberapa di kepulauan,” kata Kepala
Stasiun Maritim BMKG Kendari Sugeng Widarko. (Yoga)
Prioritaskan Kebutuhan Dasar Korban di Sumbar
Daerah terdampak banjir dan longsor di Sumbar diminta memprioritaskan
kebutuhan dasar masyarakat pada masa tanggap darurat bencana. Pendataan
infrastruktur yang rusak juga perlu disegerakan agar bisa lekas diperbaiki.
Kepala BNPB Letjen Suharyanto menyampaikan hal itu, Senin (11/3) dalam rakor bersama
Pemprov Sumbar dan kepala atau perwakilan lima daerah yang menetapkan masa tanggap
darurat atau siaga darurat bencana banjir dan longsor. Hujan sangat lebat sejak
Kamis (7/3) sore memicu banjir dan longsor di Sumbar pada Jumat. Bencana itu
terjadi di 12 wilayah, yakni KotaPadang, Kabupaten Pesisir Selatan, Kabupaten
Padang Pariaman, Kabupaten Pasaman Barat, Kabupaten Agam, Kabupaten Pasaman,
Kabupaten Limapuluh Kota, Kabupaten Kepulauan Mentawai, Kota Pariaman, Kabupaten
Solok, Kota Solok, dan Kota Sawahlunto.
Akibat bencana itu, hingga Senin (11/3) malam, 26 orang meninggal
dunia dan 6 lainnya masih dicari. Rinciannya, 23 korban ditemukan di Pesisir Selatan
dan 3 korban lainnya di Padang Pariaman. Data BNPB per 10 Maret 2024
menyebutkan, banjir dan longsor itu juga menyebabkan 871 rumah rusak berat, 139
rumah rusak sedang, dan 593 rumah rusak ringan. Selain itu, 51 rumah ibadah
terdampak, 23 jembatan rusak, 2 irigasi rusak, 28 sekolah terdampak, 13 jalan terdampak,
5.550 hektar lahan terdampak, 7 fasilitas umum/kantor terdampak, 1 sarana kesehatan
terdampak, dan 1.960 hewan ternak terdampak. Menurut Kepala Pusat Meteorologi
Publik BMKG Andri Ramdhani, intensitas hujan di Kota Padang dan sebagian wilayah
Sumbar ini kemungkinan merupakan yang tertinggi di Indonesia.
Dalam rakor itu, BNPB juga menyerahkan dana siap pakai Rp
1,75 miliar kepada pemprov dan lima daerah terdampak serta instansi terkait tanggap
darurat bencana. Selain itu, ada bantuan berupa dukungan logistik dan
peralatan. Gubernur Sumbar Mahyeldi mengatakan, Pemprov Sumbar telah menetapkan
masa tanggap darurat selama dua pekan. Selama itu, pemda fokus memenuhi
kebutuhan dasar masyarakat terdampak bencana. ”Kami sudah mendirikan
dapur-dapur umum melalui dinas sosial,” ujarnya. Terkait dengan relokasi sekitar
100 rumah di Kampung Langgai, Mahyeldi membenarkan. Pihaknya sedang mendata di
lapangan. Permukiman terdampak mesti direlokasi karena berada di pinggir
sungai. Adapun jalan yang sempat terputus di Pesisir Selatan, katanya, sudah
bisa dilalui. (Yoga)
El Nino Melemah, tetapi Dampaknya Menguat
Februari hingga awal Maret biasanya ditandai dengan hujan
lebat di Desa Waibau, Flores Timur, NTT. Namun, tahun ini hanya sesekali turun hujan
dalam durasi singkat sehingga padi ladang dan jagung yang baru ditanam di awal
Januari 2024 mulai layu. ”Biasanya hari-hari seperti ini banyak hujan angin. Namun,
saat ini sangat kering, seperti sudah masuk kemarau. Sudah lebih dari seminggu
ini belum hujan sama sekali,” kata Matias Raja Koten (62), Kepala Suku Koten Keka
dari Desa Waibau, Kecamatan Tanjung Bunga, Flores Timur, yang ditemui pada hari
Rabu (6/3). ”Kalau minggu-minggu ini masih tidak ada hujan, ada kemungkinan
tanaman kami akan mati. Kalaupun bertahan, pasti hasil panen akan anjlok.
Apalagi, saat ini banyak hama ulat yang menyerang jagung,” katanya.
Kepala Dusun III, Desa Waibau, Harto Brino (28) mengatakan,
musim hujan 2023/2014 datang terlambat. Biasanya bulan November para petani
sudah tanam padi dan paling terlambat bulan Desember. Namun, hujan kali ini
baru mulai turun bulan Januari. ”Saat padi baru mulai tumbuh, sekarang sudah kering
lagi sehingga banyak tanaman yang mati,” katanya. Menurut Harto, pada bulan Februari
hingga Maret biasanya menjadi puncak musim hujan di wilayahnya. ”Namun, sekarang,
untuk air minum saja, kami susah (mendapatkannya). Selain beli beras yang
mahal, kami sekarang harus beli air,” tuturnya. Menurut Sekjen WMO Celeste
Saulo, El Nino yang terus berlanjut, meskipun lebih lemah, dan perkiraan suhu
permukaan laut di atas normal di sebagian besar lautan global diperkirakan
menyebabkan suhu di atas normal di hampir seluruh wilayah daratan dalam tiga
bulan ke depan.
Kondisi ini diperkirakan memengaruhi pola curah hujan regional.
Sebagaimana terjadi pada masa sebelumnya, dampak El Nino di Indonesia terutama
juga dirasakan setahun setelahnya. Kadis Pertanian Flores Timur Sebas Sina
Kleden memperkirakan penurunan produksi jagung di Flores Timur pada musim panen
Maret-April berkurang lebih dari 50 %. Menurut Sebas, ancaman gagal panen
jagung juga dilaporkan di kabupaten lain di NTT. ”Tahun ini akan sangat berat
bagi masyarakat NTT karena harga beras juga masih sangat tinggi. Harga jagung
juga meningkat karena pasokannya kurang,” katanya. Saat ini harga beras di
Waibau mencapai Rp 17.000 per kg, sedang jagung giling mencapai Rp 15.000 per
kg. ”Kalau harga beras dan jagung terus meningkat seperti sekarang, kemungkinan
kami akan kembali masuk hutan untuk mencari umbi-umbi hutan, biji galam, atau
kenou (sejenis palem), dan biji asam,” tuturnya. (Yoga)
Nestapa Petani dalam Cekaman Anomali Iklim
Para petani padi di Tanah Air terus berjuang di tengah
ketidakpastian cuaca dan anomali iklim. Kemarau dan hujan tak tentu datangnya.
Namun, tak sedikit di antara mereka yang menjadi semakin rentan, kebanjiran saat
hujan dan kekeringan saat kemarau. Hujan deras mengguyur Desa Cangkring B,
Kecamatan Karanganyar, Kabupaten Demak, Jateng, Sabtu (24/2). Kendati hujan belum
reda, Tumini (57) melangkahkan kaki menuju ke sawahnya. Siang itu, ia bersama
suaminya bermaksud memanen padi yang terendam banjir selama 16 hari. Sebulan
sebelumnya, padi-padi yang ditanam di lahan sekitar 3.600 meter persegi itu
sudah laku dibeli pengepul dengan harga Rp 5 juta. ”Tak pernah mengira (padi)
akan rusak gara-gara banjir. (Uang) Yang seharusnya dibayar hilang terbawa
banjir,” ujarnya. Gabah itu akan ia ambil untuk konsumsi sendiri. ”Busuk yo wis
ben (ya biar), mau bagaimana lagi? Kalau mau dijual juga tidak akan laku,” kata
Tumini.
Tanaman padi seluas 2.000 meter persegi milik Ahmad Sudirman
(44), warga Desa Cangkring B, juga gagal panen akibat banjir. Dari total
sekitar 1,5 ton gabah yang dia panen, lebih dari separuhnya dalam kondisi
busuk. Ia memutuskan menjual murah gabah yang belum busuk. ”Gabah bagus, bisa
laku Rp 8.000 per kg. Namun, kalau ada yang menawar Rp 6.000 per kg, saya langsung
lepas,” kata Ahmad. Pada Minggu (25/2) siang, matahari bersinar terik. ”Saya
sedih melihat gabah-gabah saya jadi seperti ini,” kata Sumikah (38), warga Desa
Lambangan, Kecamataan Undaan, Kabupaten Kudus. Empat tahun terakhir, panen
Sumikah tidak maksimal karena banjir dan kekeringan. ”Kalau kemarau, susah air.
Harus keluar uang untuk memompa air dari sungai ke sawah. Hasil penjualan gabah
Mungkin tidak akan cukup untuk menambal kerugian yang saya tanggung. Kalau
dihitung, saya merugi Rp 20 juta,” kata Sumikah.
”Saat ini dalam proses pengusulan untuk bantuan ganti rugi,”
ujar Kepala Balai Perlindungan Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan Dinas
Pertanian dan Perkebunan Jateng Francisca Herwati Prarastyani, Kamis (29/2). Menurut
dia, para petani yang terdampak dan puso bakal mendapatkan bantuan benih.
Kendati demikian, jumlah benih akan ditentukan oleh Kementan. Selain bantuan
benih, petani yang ikut program Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP) berhak mendapatkan
ganti rugi. ”Iuran AUTP itu tergolong murah, yakni Rp 36.000 per hektar per
musim tanam. Kalau misal puso, gagal panen, yang ikut (program AUTP) dapat Rp 6
juta per hektar. Lumayan daripada tidak dapat ganti sama sekali,” ujarnya. (Yoga)
Menjemput Bantuan Berujung Kematian
Pilihan Editor
-
Digitalisasi Keuangan Daerah
26 Jul 2022 -
Paradoks Ekonomi Biru
09 Aug 2022









