;

El Nino Melemah, tetapi Dampaknya Menguat

Lingkungan Hidup Yoga 07 Mar 2024 Kompas
El Nino Melemah,
tetapi Dampaknya
Menguat

Februari hingga awal Maret biasanya ditandai dengan hujan lebat di Desa Waibau, Flores Timur, NTT. Namun, tahun ini hanya sesekali turun hujan dalam durasi singkat sehingga padi ladang dan jagung yang baru ditanam di awal Januari 2024 mulai layu. ”Biasanya hari-hari seperti ini banyak hujan angin. Namun, saat ini sangat kering, seperti sudah masuk kemarau. Sudah lebih dari seminggu ini belum hujan sama sekali,” kata Matias Raja Koten (62), Kepala Suku Koten Keka dari Desa Waibau, Kecamatan Tanjung Bunga, Flores Timur, yang ditemui pada hari Rabu (6/3). ”Kalau minggu-minggu ini masih tidak ada hujan, ada kemungkinan tanaman kami akan mati. Kalaupun bertahan, pasti hasil panen akan anjlok. Apalagi, saat ini banyak hama ulat yang menyerang jagung,” katanya.

Kepala Dusun III, Desa Waibau, Harto Brino (28) mengatakan, musim hujan 2023/2014 datang terlambat. Biasanya bulan November para petani sudah tanam padi dan paling terlambat bulan Desember. Namun, hujan kali ini baru mulai turun bulan Januari. ”Saat padi baru mulai tumbuh, sekarang sudah kering lagi sehingga banyak tanaman yang mati,” katanya. Menurut Harto, pada bulan Februari hingga Maret biasanya menjadi puncak musim hujan di wilayahnya. ”Namun, sekarang, untuk air minum saja, kami susah (mendapatkannya). Selain beli beras yang mahal, kami sekarang harus beli air,” tuturnya. Menurut Sekjen WMO Celeste Saulo, El Nino yang terus berlanjut, meskipun lebih lemah, dan perkiraan suhu permukaan laut di atas normal di sebagian besar lautan global diperkirakan menyebabkan suhu di atas normal di hampir seluruh wilayah daratan dalam tiga bulan ke depan.

Kondisi ini diperkirakan memengaruhi pola curah hujan regional. Sebagaimana terjadi pada masa sebelumnya, dampak El Nino di Indonesia terutama juga dirasakan setahun setelahnya. Kadis Pertanian Flores Timur Sebas Sina Kleden memperkirakan penurunan produksi jagung di Flores Timur pada musim panen Maret-April berkurang lebih dari 50 %. Menurut Sebas, ancaman gagal panen jagung juga dilaporkan di kabupaten lain di NTT. ”Tahun ini akan sangat berat bagi masyarakat NTT karena harga beras juga masih sangat tinggi. Harga jagung juga meningkat karena pasokannya kurang,” katanya. Saat ini harga beras di Waibau mencapai Rp 17.000 per kg, sedang jagung giling mencapai Rp 15.000 per kg. ”Kalau harga beras dan jagung terus meningkat seperti sekarang, kemungkinan kami akan kembali masuk hutan untuk mencari umbi-umbi hutan, biji galam, atau kenou (sejenis palem), dan biji asam,” tuturnya. (Yoga)

Download Aplikasi Labirin :