Nestapa Petani dalam Cekaman Anomali Iklim
Para petani padi di Tanah Air terus berjuang di tengah
ketidakpastian cuaca dan anomali iklim. Kemarau dan hujan tak tentu datangnya.
Namun, tak sedikit di antara mereka yang menjadi semakin rentan, kebanjiran saat
hujan dan kekeringan saat kemarau. Hujan deras mengguyur Desa Cangkring B,
Kecamatan Karanganyar, Kabupaten Demak, Jateng, Sabtu (24/2). Kendati hujan belum
reda, Tumini (57) melangkahkan kaki menuju ke sawahnya. Siang itu, ia bersama
suaminya bermaksud memanen padi yang terendam banjir selama 16 hari. Sebulan
sebelumnya, padi-padi yang ditanam di lahan sekitar 3.600 meter persegi itu
sudah laku dibeli pengepul dengan harga Rp 5 juta. ”Tak pernah mengira (padi)
akan rusak gara-gara banjir. (Uang) Yang seharusnya dibayar hilang terbawa
banjir,” ujarnya. Gabah itu akan ia ambil untuk konsumsi sendiri. ”Busuk yo wis
ben (ya biar), mau bagaimana lagi? Kalau mau dijual juga tidak akan laku,” kata
Tumini.
Tanaman padi seluas 2.000 meter persegi milik Ahmad Sudirman
(44), warga Desa Cangkring B, juga gagal panen akibat banjir. Dari total
sekitar 1,5 ton gabah yang dia panen, lebih dari separuhnya dalam kondisi
busuk. Ia memutuskan menjual murah gabah yang belum busuk. ”Gabah bagus, bisa
laku Rp 8.000 per kg. Namun, kalau ada yang menawar Rp 6.000 per kg, saya langsung
lepas,” kata Ahmad. Pada Minggu (25/2) siang, matahari bersinar terik. ”Saya
sedih melihat gabah-gabah saya jadi seperti ini,” kata Sumikah (38), warga Desa
Lambangan, Kecamataan Undaan, Kabupaten Kudus. Empat tahun terakhir, panen
Sumikah tidak maksimal karena banjir dan kekeringan. ”Kalau kemarau, susah air.
Harus keluar uang untuk memompa air dari sungai ke sawah. Hasil penjualan gabah
Mungkin tidak akan cukup untuk menambal kerugian yang saya tanggung. Kalau
dihitung, saya merugi Rp 20 juta,” kata Sumikah.
”Saat ini dalam proses pengusulan untuk bantuan ganti rugi,”
ujar Kepala Balai Perlindungan Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan Dinas
Pertanian dan Perkebunan Jateng Francisca Herwati Prarastyani, Kamis (29/2). Menurut
dia, para petani yang terdampak dan puso bakal mendapatkan bantuan benih.
Kendati demikian, jumlah benih akan ditentukan oleh Kementan. Selain bantuan
benih, petani yang ikut program Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP) berhak mendapatkan
ganti rugi. ”Iuran AUTP itu tergolong murah, yakni Rp 36.000 per hektar per
musim tanam. Kalau misal puso, gagal panen, yang ikut (program AUTP) dapat Rp 6
juta per hektar. Lumayan daripada tidak dapat ganti sama sekali,” ujarnya. (Yoga)
Postingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023