Bencana
( 266 )Erupsi Gunung Marapi Telan 20 Korban, Tiga Masih Hilang
Jumlah korban tewas akibat erupsi Gunung Marapi di wilayah Kabupaten
Agam dan Kabupaten Tanah Datar, Sumbar, mencapai 20 orang. Hingga Selasa (5/12)
malam, tiga orang lainnya yang hilang masih dicari oleh tim SAR gabungan. Kepala
Kantor SAR Kelas A Padang Abdul Malik di Agam, Selasa (5/12), mengatakan, hingga
pukul 20.00, sebanyak 20 orang dipastikan tewas. Lima jenazah yang dievakuasi
pada Senin (4/12) sudah teridentifikasi. Adapun 15 jenazah lain yang dievakuasi
pada Selasa masih diidentifikasi. Dengan demikian, sebanyak 72 orang dari 75
pendaki telah dievakuasi. Dari jumlah itu, 52 orang selamat dan beberapa di
antaranya mengalami luka-luka. Tim SAR gabungan selanjutnya menunggu hasil identifikasi
dari tim DVI Polda Sumbar di RSUD dr Achmad Mochtar Bukittinggi.
Data itu akan dicocokkan dengan data pendaki yang tercatat
di BKSDA Sumbar sebagai pengelola Taman Wisata Alam Gunung Marapi. Di RSUD dr Achmad
Mochtar, Selasa malam, puluhan keluarga korban menunggu hasil identifikasi.
Jenazah yang sudah diketahui identitasnya diserahkan dan dibawa pulang keluarga
dengan ambulans. Pencarian korban diwarnai hujan abu di sekitar Gunung Marapi,
selain erupsi susulan dan kabut. Sementara pada malam hari, hujan turun dengan
deras. ”Hujan abu beberapa kali terjadi sejak erupsi Marapi, Minggu (3/12).
Sebelumnya juga disertai pasir, sekarang hanya abu halus,” kata Nun (70),
pedagang pisang di Jalan Simpang Atas Ngarai, Bukit tinggi. Kepala Pos
Pengamatan Gunung Api Marapi Ahmad Rifandi mengatakan, pada Selasa, pukul 00.00
hingga pukul 18.00, tercatat enam kali letusan dan 108 kali embusan dari kawah Marapi.
(Yoga)
El Nino dan Implikasi Ekonomi
Sejak 1980, hanya pernah terjadi tiga kali El Nino kuat yang sering juga disebut dengan super El Nino atau El Nino ekstrem secara ilmiah (Santoso et al., 2017; Cai et al., 2020). Oleh prakirawan cuaca di Amerika Serikat, untuk memudahkan pemahaman publik, El Nino kuat yang bertahan lama juga diperkenalkan dengan istilah El Nino Godzilla, sosok monster fiktif imajinatif dalam film layar lebar besutan Hollywood. Kata Godzilla sebagai monster yang disematkan untuk menggambarkan karakter El Nino kuat inilah yang saya ubah menjadi Gorila sebagai bahasa yang lebih mudah dipahami oleh publik di Indonesia. Perilaku Godzilla atau Gorila yang secara powerful dapat melipatgandakan kekuatannya kembali setelah melampaui tahapan yang tenang dan dikira telah terjadi pelemahan atau peluruhan inilah salah satu yang menjadi dasar penyebutan istilah Godzilla/Gorila El Nino pada kasus 2015—2016. Istilah Gorila yang sama saja dengan Godzilla ini digunakan untuk publik Indonesia agar lebih mudah memahami karakter El Nino kuat tersebut.
Untuk diketahui, data fluktuasi harian El Nino 3.4 selama September—Oktober 2023 yang dikaji oleh BRIN dari berbagai sumber data global telah mencapai 2C. Selain itu, dengan merujuk pada data klimatologis 1961—1990, anomali suhu permukaan laut di Pasifik timur telah pernah mencapai 3,5C dan kini 2,4C (per 5 November 2023), yang menunjukkan terdapat stok panas di laut (heat ocean budget) yang powerful untuk diadveksikan atau ditransfer menuju barat sehingga pemanasan di Samudra Pasifik dapat memanjang dan meluas.
Berdasarkan riset, setiap kejadian El Nino kuat berimplikasi terhadap perlambatan ekonomi global hingga 5 tahun berikutnya.
Peneliti juga telah melakukan proyeksi hingga 2100 terhadap dampak El Nino menggunakan skenario tinggi perubahan iklim dan menunjukkan penurunan ekonomi global US$33 triliun dapat terjadi dengan mempertimbangkan tahun-tahun terjadinya El Nino. Kajian lain bahkan mengkuantifikasi perlambatan dapat mencapai US$84 triliun jika memperhitungkan dampak 5 tahun berikutnya pada setiap kejadian El Nino.
Fakta lain dari hasil model proyeksi yang kami jalankan juga menunjukkan bahwa hingga 2030, frekuensi terjadinya El Nino mencapai 2—3 kali sementara La Nina diproyeksikan terjadi sekali. Hal ini dapat dipahami sebagai bagian dari cara Samudra Pasifik mengalami proses kesetimbangan setelah 2—3 tahun mengalami La Nina yang berkepanjangan. Hal ini juga sekaligus mengonfirmasi fase kering bagi Indonesia yang membutuhkan mitigasi dari berbagai pihak.
Muhadjir Effendy Cari Solusi Atasi Krisis Pangan di Papua
Kemenko Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK) menyerahkan
sejumlah bantuan di Kabupaten Yahukimo, Papua Pegunungan, sebagai tindak lanjut
penanganan bencana yang terjadi. Selain penyerahan bantuan, kunjungan ini untuk
berkoordinasi dengan pemda setempat mencari solusi menyeluruh permasalahan krisis
pangan yang kerap terjadi di Papua. ”Kunjungan hari ini sebagai tindak lanjut.
Sebelumnya pemerintah pusat dan daerah telah menyalurkan bantuan di lokasi
kelaparan. Sekarang yang terpenting
mencari solusi agar kasus seperti ini tidak terulang lagi,” kata Menko PMK Muhadjir
Effendy saat menyalurkan bantuan di Distrik Dekai, ibu kota Kabupaten Yahukimo,
Jumat (10/11). Dalam beberapa bulan terakhir, sejumlah daerah di Yahukimo
dilanda bencana, seperti longsor dan kelaparan, akibat cuaca ekstrem. Hal ini menyebabkan
sebagian besar masyarakat mengalami krisis pangan. Salah satu yang cukup disorot
adalah musibah kelaparan yang mengakibatkan kematian massal di Distrik Amuma.
Bupati Yahukimo Didimus Yahuli mengatakan ”Saat ini (isu
kelaparan) sudah tertangani. Kebutuhan pangan masyarakat sudah kembali
tercukupi”. Di rumah jabatan Bupati Yahukimo, rombongan Kementerian PMK dan
dari kementerian ataupun badan negara lainnya menyerahkan bantuan bahan pokok,
pakaian, obat-obatan, serta uang tunai Rp 1 miliar sebagai dukungan operasional
penanganan kebencanaan. ”Fokus kami sekarang adalah menangani krisis pangannya karena
ini terus berulang di sejumlah wilayah di Papua. Kami sudah berkoordinasi menyiapkan
gudang (pangan) di sejumlah titik. Tempat paling ideal itu dekat bandara. Jika
ada bencana, langsung bisa disalurkan,” ujar Muhadjir. Di sisi lain, kunjungan
ini sekaligus untuk mencari solusi jangka panjang untuk penanganan yang tengah
dikoordinasikan dengan lintas kementerian, lembaga, dan pemda setempat. Rencananya,
pemerintah menyiapkan sejumlah strategi, mulai dari pengembangan varietas lokal
yang lebih tahan iklim hingga penyuluhan soal teknologi tepat guna yang dibutuhkan
untuk pengolahan bahan pangan agar lebih awet. (Yoga)
Musim Hujan Datang, Apa El Nino Hilang
Krisis Iklim Ancam Pangan
Perubahan iklim yang terjadi secara global mengancam
ketahanan pangan dan ketahanan air, termasuk di Indonesia. Pemerintah mengambil
langkah untuk mengatasi persoalan tersebut. Hal itu diungkapkan Menteri PPN/Kepala
Bappenas, Suharso Monoarfa saat membuka Konferensi Tahunan Sustainable Development
Goals (SDGs) 2023 di Yogyakarta, Senin (6/11). ”Ancaman perubahan iklim berdampak
pada kelangkaan air serta penurunan produktivitas pertanian,” ujarnya.
Indonesia mengalami penurunan curah hujan tahunan 1-4 % pada 2020-2034 dari kondisi
periode 1995-2010. Hal ini berimplikasi pada kejadian kekeringan, berkurangnya
ketersediaan air, bahkan bisa memicu konflik kebutuhan air.Produksi padi juga
berpotensi menurun.
Menurut Suharso, pergeseran musim dan puncak hujan menyebabkan
metode tanam berubah dan memengaruhi produksi. Berdasarkan data Bappenas, perubahan
iklim berpotensi menurunkan produksi padi Indonesia 1,13 juta-1,89 juta ton. Lahan
pertanian seluas 2.256 hektar sawah pun terancam kekeringan. Di sisi lain,
kondisi ketahanan pangan Indonesia, ditilik dari tingkat konsumsi pangan rumah
tangga, memburuk.Angka ketidakcukupan konsumsi pangan pada 2022 naik menjadi 10,21
% dari 8,49 % pada tahun 2021. Peningkatan ini terjadi pada kelompok penduduk
dengan tingkat pengeluaran 40 % terbawah, terutama kelompok rentan seperti warga
lanjut usia. Adapun prevalensi stunting atau tengkes menurun secara konstan
dalam 10 tahun. (Yoga)
Ancaman El Nino pada Satwa Liar
Awasi Dampak Pergeseran EL-Nino Terhadap Stabilitas Inflasi
Bantuan Terus Didistribusikan
”Upaya ini untukmendukung pemda mengatasi permasalahan kelaparan yang disebabkan oleh cuaca ekstrem dan berbagai faktor lainnya,” kata Mathius. Sementara itu, Kemensos menyalurkan bantuan sejak Jumat (20/10). Total bantuan yang telah disalurkan selama beberapa hari itu mencapai 11,7 ton. Bantuan tersebut berupa makanan, pakaian, tenda, hingga kebutuhan anak-anak dan bayi. Pemkab Yahukimo turun ke lokasi
Kelaparan di Tanah Papua
Warga Kabupaten Yahukimo,
Provinsi Papua Pegunungan, didera kasus kelaparan. Puluhan orang meninggal.
Saatnya solusi komprehensif diambil. Harian Kompas edisi Rabu (25/10)
melaporkan di berita utama, sebanyak 23 orang meninggal di Distrik Amuma, Kabupaten
Yahukimo, sejak Agustus 2023. Wakil Bupati Yahukimo Esau Miram masih menunggu
data resmi dari perwakilan distrik sehingga belum bisa memastikan penyebab kematian
warga karena kelaparan atau penyebab lain. Untuk mencegah dampak kelaparan,
bantuan empat ton beras disalurkan. Namun, di kabupaten tersebut curah hujan
sedang tinggi sehingga tanaman pangan lokal, seperti umbi-umbian, gagal panen.
Kondisi ini menyebabkan warga kehilangan sumber pangan dan kelaparan.
Dalam catatan berita
harian Kompas, kelaparan di Tanah Papua pertama kali diberitakan pada 3
November 1977, di sekitar Telaga Wissel, Kabupaten Paniai. Kondisi ini dipicu banjir
dari luapan danau dan merendam kebun umbi-umbian milik warga. Kejadian
kelaparan terus berulang di sejumlah kabupaten. Menteri Koordinator Bidang
Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Muhadjir Effendy pernah menjanjikan membangun
lumbung pangan di Kabupaten Puncak, Provinsi Papua Tengah. Lumbung pangan itu
dibangun untuk mengantisipasi kasus kelaparan yang sering terjadi ketika cuaca ekstrem.
Program lumbung pangan ini kita harapkan tidak semata-mata dilakukan untuk
mengembangkan tanaman padi seperti dilakukan di daerah lain. Penelitian dan
pengembangan tanaman lokal, seperti umbi-umbian dan tanaman lokal lain yang
tahan cuaca ekstrem, perlu menjadi perhatian pemerintah. (Yoga)
Lumbung Pangan Mandiri Jadi Solusi
Bencana kelaparan akibat
cuaca ekstrem terus terjadi di Papua. Masyarakat kerap kehabisan persediaan
makanan karena sistem pertanian yang rentan terdampak cuaca ekstrem. Lumbung
pangan mandiri yang dibangun oleh masyarakat dinilai menjadi salah satu
solusinya. Laporan kelaparan terbaru terjadi di Distrik Amuma, Kabupaten
Yahukimo, Papua Pegunungan. Sekitar 12.000 warga di 13 kampung terdampak kelaparan
pada Agustus-Oktober 2023. Puluhan orang dilaporkan meninggal akibat kelaparan
ini. Dalam peristiwa itu, masyarakat kehabisan stok makanan karena gagal panen
akibat curah hujan tinggi. Terkait hal ini, Wakil Presiden Ma’ruf Amin
mengatakan, pemerintah terus mencermati laporan kelaparan di Yahukimo.
”Ya, kan, melihat di sana
itu makanan pokoknya apa. Kalau seperti kemarin di Papua Tengah itu, kan,
makanan pokok mereka ubi, akan kita siapkan infrastrukturnya supaya tanaman ubi
tidak mengalami hambatan karena cuaca, karena kekurangan air atau karena apa,” ujar
Wapres setelah meresmikan proyek milik Citra Borneo Indah Group di Mercure
Hotel Pangkalan Bun, Kabupaten Kotawaringin Barat, Kalteng, Rabu (25/10). Pemerintah,
lanjut Wapres, juga akan mengirim bantuan ke Yahukimo. ”Jangka panjang kita
tentu akan menyiapkan makanan-makanan pokok yang ada di sana, apakah ubi apa
sagu akan kita rencanakan. Selain beras kalau selatan Papua, kan, lumbung
beras. Jadi, saya akan terus mengawasi penyiapan jangka panjang supaya enggak terjadi
kekurangan makan di beberapa daerah,” ujarnya. (Yoga)
Pilihan Editor
-
Kisruh Labuan Bajo Merusak Citra
04 Aug 2022 -
Masih Saja Marak, Satgas Tutup 100 Pinjol Ilegal
01 Aug 2022 -
ANCAMAN KRISIS : RI Pacu Diversifikasi Pangan
10 Aug 2022 -
HARGA PANGAN, Fenomena ”Lunchflation”
29 Jul 2022 -
Digitalisasi Keuangan Daerah
26 Jul 2022









