Bencana
( 266 )Jalur KA Track Butuh Perhatian Khusus
Tabrakan Kereta Akibat Miskomunikasi
TABRAKAN KERETA : Pelajaran Berharga dari Cicalengka
Ciiiittt, duoaarrr!!Suara berdecit, yang diikuti suara keras seperti bom meledak itu mengejutkan warga Cicalengka, Bandung, Jumat (5/1/2024), sekira pukul 06.03 WIB, KA Turangga bertabrakan dengan KA Commuterline Bandung Raya.“Pokoknya tadi pagi saya lagi di dalam, terdengar suara seperti decitan, terus ada kaya suara bom,” ungkap Dede (53) warga Babakan DKA, Cikuya, Cicalengka, Kabupaten Bandung, Jumat (5/1). Semula ia menduga suara decitan dari jalur kereta api adalah suara batu atau koin yang kerap disimpan warga yang iseng di jalur kereta.
Juru Bicara Kementerian Perhubungan Adita Irawati menuturkan insiden tersebut melibatkan KA Turangga (KA Plb 65A) dengan KA Commuterline Bandung Raya (KA 350) di Cikuya, Cicalengka, pada lintas Cicalengka-Haurpugur KM 181+700.KA Turangga membawa 287 orang, adapun KA Commuterline sebanyak 191 penumpang. Tidak ada korban jiwa dari penumpang. Namun, 4 orang petugas meninggal dunia, yakni masinis, asisten masinis, pramugara, dan security.
Joni memastikan KAI akan memberikan kompensasi bagi penumpang terdampak, sesuai Permenhub Nomor PM 63 Tahun 2019 tentang Standar Pelayanan Minimum Angkutan Orang dengan Kereta Api.Adapun Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) mengambil langkah cepat dengan menurunkan tim investigasi ke lokasi kejadian. “Investigasi berlangsung 4 hari, terhitung mulai 5 Januari 2024,” jelas Ketua KNKT Soerjanto Tjahjono.
Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi mengatakan kecelakaan ini menjadi pelajaran mahal bagi seluruh pemangku kepentingan. Dia berharap insiden ini dapat menjadi pemicu untuk meningkatkan keamanan dan pelayanan.“Marilah kita bersama-sama memperbaiki apa yang menjadi layanan kita semuanya,” jelas Budi Karya di Jakarta, Jumat (5/1).Berdasarkan data Dirjen Perkeretaapian, jumlah kecelakaan kereta api cenderung menurun sejak beberapa tahun terakhir. Tahun ini sampai dengan September, tercatat 7 kecelakaan. Adapun pada 2022 sebanyak 13 kecelakaan.
Pemerintah Menjamin Stok Makanan Cukup
Erupsi Gunung Lewotobi Laki-laki di Kabupaten Flores Timur, NTT,
memasuki hari ke-13 pada Kamis (4/1/2024). Demi keselamatan warga, perkampungan
di dekat puncak gunung berketinggian 1.584 meter di atas permukaan laut itu
diminta agar dikosongkan sementara. Jumlah pengungsi lebih dari 3.000 orang
tersebar di sejumlah titik. Pemerintah menjamin ketersediaan makanan bagi para
pengungsi. Bantuan dari berbagai pihak juga terus berdatangan. Ketua Pos
Pemantauan Gunung Lewotobi Laki-laki Herman Yosef mengatakan, asap masih
terlihat keluar dari kawah gunung. ”Asap condong ke barat dan barat daya,”
katanya, kemarin. Dibandingkan erupsi pertama pada 23 Desember 2023 dan 2
Januari 2024, sebaran abu semakin berkurang.
Namun, gempa vulkanik yang terus terjadi membuka peluang
erupsi masih akan berlanjut. Gempa vulkanik juga terjadi di Gunung Lewotobi
Perempuan yang disebut kembaran dari Gunung Lewotobi Laki-laki, yang terpaut
jarak kurang dari satu kilometer.” Bupati Flores Timur Doris Alexander Rihi
mengatakan, “Jumlah pengungsi lebih dari 3.000 orang,” mereka berasal dari dua kecamatan,
yakni Wulanggitang dan Ile Bura. Mereka mengungsi ke sejumlah kantor pemerintah
dan gedung sekolah. Tim penanggulangan bencana, lanjut Doris, mendirikan dapur
umum untuk para pengungsi. Sebanyak 100 ton beras milik pemerintah tersedia untuk
kebutuhan makanan. ”Untuk bahan makanan, tidak perlu khawatir. Pemerintah akan
berupaya memenuhi kebutuhan pengungsi. Mari mengungsi ke tempat yang aman,”
ucapnya. (Yoga)
Teka-teki Tersangka Smelter Maut Morowali
Kebakaran Smelter di Morowali Terindikasi Pidana
Belum Efektif Atasi Masalah Beras
Kemenperin Turunkan Skandal Daihatsu
Lalai Keselamatan Berujung Kecelakaan
Alarm Bencana Pangan di NTT
Tingkat konsumsi beras masyarakat NTT tahun 2022 mencapai
117,189 kg per kapita per tahun, melampaui rata-rata nasional. Tingginya
kebutuhan itu tidak dapat dipenuhi produksi beras di NTT. Upaya swasembada
melalui program lumbung pangan pun belum mampu mengurangi ketergantungan. Data
Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan di NTT menyebutkan, produksi beras di
daerah itu 430.948,5 ton pada tahun 2022, sedang kebutuhannya 642.367,53 ton.
Dari tahun ke tahun, selalu dibutuhkan pasokan dari luar untuk menambal
kekurangan tersebut. Ketika daerah pemasok mengalami gagal panen atau pengirimannya
terlambat akibat cuaca buruk, masyarakat NTT kelabakan. Seperti awal tahun
2023, NTT mengalami krisis beras akibat kurangnya pasokan dari luar. Krisis
beras menjadi salah satu peristiwa menonjol di NTT sepanjang tahun ini. Akibat
kelangkaan itu, harga beras kualitas medium yang biasa Rp 13.000 per kg melonjak
hingga Rp 18.000 per kg. Warga panik. Banyak rumah tangga, terutama kalangan
menengah ke bawah, mengurangi jatah makan beras dari semula tiga kali sehari menjadi
dua hingga satu kali.
Kenaikan harga beras terjadi ketika daya beli masyarakat NTT
belum pulih. Pandemi Covid-19, badai Seroja, dan serangan virus demam babi Afrika
memukul ekonomi masyarakat NTT. Krisis beras yang datang dengan mudah
menumbangkan ketahanan mereka. Lewat Perum Bulog, operasi pasar digelar di
sejumlah tempat. Dengan harga jual Rp 9.000 per kg atau separuh harga tertinggi
di masyarakat, langkah ini sangat membantu. Namun, jatah pembeliannya tergolong
sedikit, yakni 5 kg per keluarga. Di Kota Kupang, antrean memperebutkan jatah
beras murah berlangsung di sejumlah titik. Di bawah terik matahari, mereka
menunggu selama berjam-jam untuk mendapatkan kupon pembelian. Bahkan, ada yang
sampai pingsan sehingga harus dibawa ke rumah sakit. Krisis teratasi setelah
kiriman beras bantuan dari pemerintah pusat tiba dan beras yang dipasok
pedagang mulai masuk. ”Sebagian besar beras yang berada di pasar NTT berasal
dari Jatim dan Sulsel,” ucap Melky Bano (56), pedagang beras di Kota Kupang, Senin
(11/12).
Padahal praktik pertanian lahan kering terbukti membuat
masyarakat mandiri secara pangan. Pada Agustus 2023, Kompas menemukan
keberhasilan praktik itu ketika datang ke komunitas masyarakat adat suku Boti
di Kabupaten Timor Tengah Selatan. Mereka nyaris tidak kekurangan makanan. Sepanjang
tahun, mereka mengonsumsi padi dari ladang tadah hujan, jagung, umbi-umbian,
kacang-kacangan, dan berbagai jenis pangan lokal. Berbagai tanaman pangan itu ditanam
secara tumpang sari di dalam lahan tadah hujan. Raja Boti, Usif Nama Benu, menyebutkan,
makanan mereka tersedia hingga musim panen berikutnya. Ketika banyak daerah di
NTT mengalami rawan pangan, masyarakat suku Boti masih berkecukupan. Sepanjang sejarah
komunitas itu ada, belum pernah terjadi kelaparan. Usif juga secara tegas
menolak bantuan beras pemerintah seperti dalam program beras miskin atau
raskin, agar bantuan itu diberikan kepada mereka yang membutuhkan, ujarnya
dalam bahasa daerah Dawan. (Yoga)
Pilihan Editor
-
Paradoks Ekonomi Biru
09 Aug 2022 -
ANCAMAN KRISIS : RI Pacu Diversifikasi Pangan
10 Aug 2022









